Bertemu Rino

30 December 2025

Pagi menjemput kota dengan langit yang masih diselimuti kabut tipis.

Arema membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa pegal setelah semalam tidur tanpa posisi yang nyaman.

Ia menatap sekeliling kamar kos yang sederhana itu, dindingnya pucat, tirainya lusuh, tapi entah kenapa hari ini terasa sedikit lebih terang daripada kemarin.

Ponselnya masih diam di atas meja kecil. Ia tahu di dalamnya ada pesan dari Rino, tapi ia enggan membuka.

Pesan itu seperti duri yang menunggu untuk kembali menyakiti hatinya. Dengan helaan napas panjang, Arema memejamkan mata.

"Cukup, Rema. Jangan buka. Jangan lagi berharap pada seseorang yang udah jelas ngecewain kamu,” gumamnya lirih.

Ia pun menekan tombol power, mematikan ponselnya sepenuhnya.

Setelah itu, Arema menenggelamkan diri ke dalam bantal, berusaha menidurkan lagi pikirannya yang masih penuh beban.

Dalam lelah, matanya perlahan terpejam, dan akhirnya ia tertidur kembali, kali ini lebih dalam dan tenang.

Ketika matahari sudah mulai naik, Arema terbangun. Ia bangkit perlahan, lalu menuju kamar mandi di ujung lorong kos.

Setelah mencuci muka dan mandi, ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang menempel di dinding.

Wajahnya masih sembab, tapi sorot matanya sudah sedikit berbeda, ada keteguhan di sana.

"Mulai hari ini aku gak mau nangis lagi," ucapnya, menatap bayangannya sendiri. "Aku harus kerja, harus mandiri."

Ia merapikan rambutnya, memakai bedak tipis dan lip balm seadanya.

Setelah itu, ia mengenakan blus polos dan celana panjang, lalu mengambil tas kecil berisi dompet dan dokumen pribadi.

Arema keluar kamar kos. Udara pagi menyapa lembut, dan suara kehidupan kota kecil mulai terdengar motor berlalu lalang, suara pedagang sayur, dan anak-anak yang bersiap ke sekolah.

Ia berjalan perlahan ke arah pasar, berharap bisa menemukan pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri.

Langkahnya berhenti di beberapa toko. Ia bertanya sopan, "Permisi, Bu, apa butuh karyawan?"

Namun jawaban yang diterima hampir selalu sama, "Belum, Dek. Coba bulan depan."

Meski kecewa, Arema tidak menyerah. Ia terus berjalan, menelusuri deretan toko pakaian, toko bahan kue, bahkan warung makan.

Hingga akhirnya, di salah satu toko pakaian besar, seorang perempuan setengah baya menatapnya sambil memeriksa berkas lamaran sederhana yang Arema bawa.

"Kamu bisa mulai kerja besok," kata perempuan itu akhirnya. "Gajinya gak besar, tapi dapat makan siang. Tugasmu bantu jaga toko."

Arema terdiam sejenak, lalu tersenyum lega. "Saya mau, Bu. Terima kasih banyak."

Setelah menerima pengarahan singkat, ia keluar dari toko dengan hati yang terasa ringan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir.

Angin siang berhembus lembut, membuat rambutnya sedikit berantakan. Tapi Arema tidak peduli. Ia berjalan menyusuri trotoar dengan langkah mantap.

Namun, di tengah perjalanan pulang ke kos, sebuah suara yang sangat familiar membuat langkahnya seketika terhenti.

"Rema!"

Tubuh Arema menegang. Ia menoleh spontan, dan di seberang jalan, berdiri sosok yang selama ini ia coba lupakan. Rino.

Rino tampak lebih kurus, rambutnya berantakan, wajahnya lesu. Kaos yang dikenakannya lusuh, tapi sorot matanya tetap sama, penuh rasa bersalah dan kebingungan.

Arema ingin segera berbalik dan pergi, tapi baru satu langkah kakinya diangkat, Rino sudah lebih dulu menyeberang dan meraih tangannya.

"Rema, tunggu! Kita harus bicara," ucapnya dengan nada memohon.

Arema menepis tangannya kasar. "Lepasin, Rin. Gak ada yang perlu dibicarain lagi. Aku udah tahu semuanya."

Rino terdiam, keningnya berkerut. "Maksud kamu?"

Arema menatapnya tajam. "Kamu selingkuh sama Vhero, dan dia hamil. Aku denger sendiri, Rin. Aku ke rumah kamu waktu itu. Aku denger semuanya dari mulut kamu dan dia."

Rino terperanjat. Ia menatap Arema tak percaya. "Jadi, kamu denger semuanya?"

"Ya!" Suara Arema meninggi, nadanya bergetar karena emosi.

"Aku denger semuanya, Rin! Gimana kamu janji mau tanggung jawab, gimana kamu nyebut-nyebut nama dia dengan santai, seolah gak pernah ada aku!"

Rino terdiam lama. Wajahnya memucat. "Rema, ini gak kayak yang kamu bayangin."

Arema tertawa getir. "Gak kayak yang aku bayangin? Apa kamu mau bilang semua itu cuma salah paham? Kamu pikir aku sebodoh itu?"

"Dengerin dulu aku, Rema!" Rino menatapnya dengan mata memohon.

"Vhero ... dia bilang hamil anak aku, tapi aku sendiri belum yakin! Aku kenal dia belum sampai sebulan! Gimana mungkin dia bisa hamil secepat itu? Katanya udah dua bulan, sedangkan aku kenal belum ada sebulan."

Arema memelototinya. "Tapi kamu udah tidur sama dia, kan? Ngaku aja!"

Rino menunduk, wajahnya penuh rasa malu. "Iya, tapi cuma sekali, Rema. Aku khilaf."

"Sekali pun cukup buat bikin aku muak, Rin." Suara Arema serak, matanya mulai berkaca-kaca.

"Kamu tau gak? Selama ini aku percaya kamu. Aku bela kamu di depan orang tua, aku tahan semua omongan orang. Dan ini balasan kamu?"

"Rema, tolong percaya aku. Aku juga bingung, aku gak tahu harus gimana. Aku belum siap nikah, kerjaan aku juga gak tetap. Kadang ada muatan sayur, kadang gak ada. Aku lagi nyari cara keluar dari masalah ini," ucap Rino dengan nada panik.

Arema menggeleng pelan, matanya menatap kosong ke jalan. "Itu bukan urusan aku, Rin. Kamu yang berbuat. Kalau dia beneran hamil anak kamu, ya tanggung jawab. Nikahin dia. Jangan biarin anak itu lahir tanpa ayah. Kasihan nanti jadi anak haram."

"Tapi aku ...." Rino terdiam, suaranya tercekat. "Aku belum siap, Rema. Aku gak punya apa-apa."

Arema mendadak menatapnya tajam. "Terus kamu pikir, aku mau bantu biaya nikah kamu sama cewek lain?"

Rino hanya diam, menatap Arema yang mulai menangis lagi. Tangannya ingin menyentuh bahu gadis itu, tapi Arema mundur beberapa langkah.

"Udahlah, Rin. Aku udah capek. Aku udah gak mau dengerin alasan kamu lagi. Dulu aku pikir kamu bakal jadi laki-laki yang bisa jagain aku, tapi ternyata aku salah besar."

"Rema, aku nyesel."

"Penyesalan kamu gak akan ubah apa-apa," potong Arema cepat. "Kamu udah milih jalan kamu sendiri. Sekarang biarin aku jalan di jalanku juga."

Suasana hening sesaat. Hanya suara kendaraan lalu lalang di jalan yang memecah kebisuan mereka.

Rino akhirnya menunduk, menghela napas panjang. "Baiklah, kalau itu maumu. Tapi aku masih sayang kamu, Rema. Aku cuma pengen kamu tahu itu."

Arema menatapnya lama, sebelum akhirnya berucap lirih, "Cinta kamu gak ada artinya lagi, Rin. Udah hancur sejak kamu bohongin aku."

Rino menatapnya sekali lagi, lalu perlahan melangkah pergi. Setiap langkahnya terasa berat, tapi ia tahu tak ada yang bisa diperbaiki lagi.

Arema berdiri mematung di tepi trotoar, menatap punggung Rino yang menjauh. Hatanya sesak. Ia memejamkan mata, berharap rasa sakit itu berhenti, tapi air matanya tetap mengalir deras.

Dalam hatinya, ia berbisik pelan, "Rin, sampe kapan pun aku tetep gak ikhlas. Aku bohong kalo aku bilang ikhlas."

Ia menghapus air matanya dengan cepat, lalu berbalik arah, berjalan pulang ke kos dengan langkah gontai.

Di kepalanya, suara Rino masih bergema, tapi ia tahu kali ini, tidak ada lagi jalan untuk kembali.

Langit mulai mendung, angin sore berhembus dingin. Arema menatap ke langit, membiarkan angin meniup rambutnya.

Di balik air mata itu, terselip tekad baru, ia akan bangkit, meski tanpa cinta, meski dengan hati yang robek.

Namun jauh di belakang sana, Rino berhenti melangkah dan menatap arah kepergian Arema. Ia menunduk, lalu berbisik pada dirinya sendiri,

"Tuhan, apa aku salah langkah?"Pagi menjemput kota dengan langit yang masih diselimuti kabut tipis.

Arema membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa pegal setelah semalam tidur tanpa posisi yang nyaman.

Ia menatap sekeliling kamar kos yang sederhana itu, dindingnya pucat, tirainya lusuh, tapi entah kenapa hari ini terasa sedikit lebih terang daripada kemarin.

Ponselnya masih diam di atas meja kecil. Ia tahu di dalamnya ada pesan dari Rino, tapi ia enggan membuka.

Pesan itu seperti duri yang menunggu untuk kembali menyakiti hatinya. Dengan helaan napas panjang, Arema memejamkan mata.

"Cukup, Rema. Jangan buka. Jangan lagi berharap pada seseorang yang udah jelas ngecewain kamu,” gumamnya lirih.

Ia pun menekan tombol power, mematikan ponselnya sepenuhnya.

Setelah itu, Arema menenggelamkan diri ke dalam bantal, berusaha menidurkan lagi pikirannya yang masih penuh beban.

Dalam lelah, matanya perlahan terpejam, dan akhirnya ia tertidur kembali, kali ini lebih dalam dan tenang.

Ketika matahari sudah mulai naik, Arema terbangun. Ia bangkit perlahan, lalu menuju kamar mandi di ujung lorong kos.

Setelah mencuci muka dan mandi, ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang menempel di dinding.

Wajahnya masih sembab, tapi sorot matanya sudah sedikit berbeda, ada keteguhan di sana.

"Mulai hari ini aku gak mau nangis lagi," ucapnya, menatap bayangannya sendiri. "Aku harus kerja, harus mandiri."

Ia merapikan rambutnya, memakai bedak tipis dan lip balm seadanya.

Setelah itu, ia mengenakan blus polos dan celana panjang, lalu mengambil tas kecil berisi dompet dan dokumen pribadi.

Arema keluar kamar kos. Udara pagi menyapa lembut, dan suara kehidupan kota kecil mulai terdengar motor berlalu lalang, suara pedagang sayur, dan anak-anak yang bersiap ke sekolah.

Ia berjalan perlahan ke arah pasar, berharap bisa menemukan pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri.

Langkahnya berhenti di beberapa toko. Ia bertanya sopan, "Permisi, Bu, apa butuh karyawan?"

Namun jawaban yang diterima hampir selalu sama, "Belum, Dek. Coba bulan depan."

Meski kecewa, Arema tidak menyerah. Ia terus berjalan, menelusuri deretan toko pakaian, toko bahan kue, bahkan warung makan.

Hingga akhirnya, di salah satu toko pakaian besar, seorang perempuan setengah baya menatapnya sambil memeriksa berkas lamaran sederhana yang Arema bawa.

"Kamu bisa mulai kerja besok," kata perempuan itu akhirnya. "Gajinya gak besar, tapi dapat makan siang. Tugasmu bantu jaga toko."

Arema terdiam sejenak, lalu tersenyum lega. "Saya mau, Bu. Terima kasih banyak."

Setelah menerima pengarahan singkat, ia keluar dari toko dengan hati yang terasa ringan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir.

Angin siang berhembus lembut, membuat rambutnya sedikit berantakan. Tapi Arema tidak peduli. Ia berjalan menyusuri trotoar dengan langkah mantap.

Namun, di tengah perjalanan pulang ke kos, sebuah suara yang sangat familiar membuat langkahnya seketika terhenti.

"Rema!"

Tubuh Arema menegang. Ia menoleh spontan, dan di seberang jalan, berdiri sosok yang selama ini ia coba lupakan. Rino.

Rino tampak lebih kurus, rambutnya berantakan, wajahnya lesu. Kaos yang dikenakannya lusuh, tapi sorot matanya tetap sama, penuh rasa bersalah dan kebingungan.

Arema ingin segera berbalik dan pergi, tapi baru satu langkah kakinya diangkat, Rino sudah lebih dulu menyeberang dan meraih tangannya.

"Rema, tunggu! Kita harus bicara," ucapnya dengan nada memohon.

Arema menepis tangannya kasar. "Lepasin, Rin. Gak ada yang perlu dibicarain lagi. Aku udah tahu semuanya."

Rino terdiam, keningnya berkerut. "Maksud kamu?"

Arema menatapnya tajam. "Kamu selingkuh sama Vhero, dan dia hamil. Aku denger sendiri, Rin. Aku ke rumah kamu waktu itu. Aku denger semuanya dari mulut kamu dan dia."

Rino terperanjat. Ia menatap Arema tak percaya. "Jadi, kamu denger semuanya?"

"Ya!" Suara Arema meninggi, nadanya bergetar karena emosi.

"Aku denger semuanya, Rin! Gimana kamu janji mau tanggung jawab, gimana kamu nyebut-nyebut nama dia dengan santai, seolah gak pernah ada aku!"

Rino terdiam lama. Wajahnya memucat. "Rema, ini gak kayak yang kamu bayangin."

Arema tertawa getir. "Gak kayak yang aku bayangin? Apa kamu mau bilang semua itu cuma salah paham? Kamu pikir aku sebodoh itu?"

"Dengerin dulu aku, Rema!" Rino menatapnya dengan mata memohon.

"Vhero ... dia bilang hamil anak aku, tapi aku sendiri belum yakin! Aku kenal dia belum sampai sebulan! Gimana mungkin dia bisa hamil secepat itu? Katanya udah dua bulan, sedangkan aku kenal belum ada sebulan."

Arema memelototinya. "Tapi kamu udah tidur sama dia, kan? Ngaku aja!"

Rino menunduk, wajahnya penuh rasa malu. "Iya, tapi cuma sekali, Rema. Aku khilaf."

"Sekali pun cukup buat bikin aku muak, Rin." Suara Arema serak, matanya mulai berkaca-kaca.

"Kamu tau gak? Selama ini aku percaya kamu. Aku bela kamu di depan orang tua, aku tahan semua omongan orang. Dan ini balasan kamu?"

"Rema, tolong percaya aku. Aku juga bingung, aku gak tahu harus gimana. Aku belum siap nikah, kerjaan aku juga gak tetap. Kadang ada muatan sayur, kadang gak ada. Aku lagi nyari cara keluar dari masalah ini," ucap Rino dengan nada panik.

Arema menggeleng pelan, matanya menatap kosong ke jalan. "Itu bukan urusan aku, Rin. Kamu yang berbuat. Kalau dia beneran hamil anak kamu, ya tanggung jawab. Nikahin dia. Jangan biarin anak itu lahir tanpa ayah. Kasihan nanti jadi anak haram."

"Tapi aku ...." Rino terdiam, suaranya tercekat. "Aku belum siap, Rema. Aku gak punya apa-apa."

Arema mendadak menatapnya tajam. "Terus kamu pikir, aku mau bantu biaya nikah kamu sama cewek lain?"

Rino hanya diam, menatap Arema yang mulai menangis lagi. Tangannya ingin menyentuh bahu gadis itu, tapi Arema mundur beberapa langkah.

"Udahlah, Rin. Aku udah capek. Aku udah gak mau dengerin alasan kamu lagi. Dulu aku pikir kamu bakal jadi laki-laki yang bisa jagain aku, tapi ternyata aku salah besar."

"Rema, aku nyesel."

"Penyesalan kamu gak akan ubah apa-apa," potong Arema cepat. "Kamu udah milih jalan kamu sendiri. Sekarang biarin aku jalan di jalanku juga."

Suasana hening sesaat. Hanya suara kendaraan lalu lalang di jalan yang memecah kebisuan mereka.

Rino akhirnya menunduk, menghela napas panjang. "Baiklah, kalau itu maumu. Tapi aku masih sayang kamu, Rema. Aku cuma pengen kamu tahu itu."

Arema menatapnya lama, sebelum akhirnya berucap lirih, "Cinta kamu gak ada artinya lagi, Rin. Udah hancur sejak kamu bohongin aku."

Rino menatapnya sekali lagi, lalu perlahan melangkah pergi. Setiap langkahnya terasa berat, tapi ia tahu tak ada yang bisa diperbaiki lagi.

Arema berdiri mematung di tepi trotoar, menatap punggung Rino yang menjauh. Hatanya sesak. Ia memejamkan mata, berharap rasa sakit itu berhenti, tapi air matanya tetap mengalir deras.

Dalam hatinya, ia berbisik pelan, "Rin, sampe kapan pun aku tetep gak ikhlas. Aku bohong kalo aku bilang ikhlas."

Ia menghapus air matanya dengan cepat, lalu berbalik arah, berjalan pulang ke kos dengan langkah gontai.

Di kepalanya, suara Rino masih bergema, tapi ia tahu kali ini, tidak ada lagi jalan untuk kembali.

Langit mulai mendung, angin sore berhembus dingin. Arema menatap ke langit, membiarkan angin meniup rambutnya.

Di balik air mata itu, terselip tekad baru, ia akan bangkit, meski tanpa cinta, meski dengan hati yang robek.

Namun jauh di belakang sana, Rino berhenti melangkah dan menatap arah kepergian Arema. Ia menunduk, lalu berbisik pada dirinya sendiri,

"Tuhan, apa aku salah langkah?"