Bunda Arema Panik

30 December 2025

Sore itu, langit terlihat muram. Awan kelabu menggantung rendah, seolah menandakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Salma mondar-mandir di ruang tamu rumahnya.

Wajahnya pucat, napasnya tidak teratur, matanya sesekali melirik ke arah jam dinding yang berdetak keras di ruang tamu.

Jarum jam menunjukkan pukul lima sore. Sejak pagi, Arema tidak keluar dari kamar.

Tidak terdengar suara apa pun dari dalam sana, tidak langkah kaki, tidak suara televisi, bahkan tidak bunyi air dari kamar mandi.

Salma memegang dadanya yang berdebar. Perasaan was-was menggelayuti hatinya. Ia sudah berkali-kali mengetuk pintu kamar anak gadisnya itu, tapi tak pernah dijawab.

"Remaaaa!" panggilnya untuk kesekian kalinya, nada suaranya meninggi karena cemas. "Nak, buka pintunya, makan dulu. Dari tadi Bunda ketuk-ketuk gak dibuka."

Namun, tetap saja sunyi. Hanya suara kipas angin dari ruang tengah yang terus berputar.

Salma menelan ludah, lalu menatap pintu kamar Arema yang tertutup rapat. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras.

"Remaaaa, kamu denger Bunda nggak? Ini udah sore lho, kamu gak keluar dari pagi. Kamu sakit, Nak?"

Masih tak ada jawaban.

Wajah Salma mulai panik. Ia lalu berlari kecil ke arah dapur, memanggil suaminya yang sedang duduk di kursi bambu sambil memainkan ponsel.

"Yah!" serunya dengan nada tinggi.

Wawan menoleh pelan, keningnya berkerut melihat wajah istrinya yang panik. "Kenapa sih, Bun? Kok kayak dikejar setan aja mukanya?"

Salma menggigit bibirnya, lalu menarik napas panjang. "Yah, dari pagi Arema gak keluar kamar, aku ketok berkali-kali nggak dijawab, nggak ada suara sama sekali. Aku takut dia kenapa-napa, Yah."

Wawan menghela napas malas. "Bun, sudahlah, kamu itu panikan banget. Kan si Arema emang biasa kayak gitu, suka ngurung diri di kamar."

"Tapi ini beda, Yah!" seru Salma sambil menunjuk jam dinding.

"Lihat, sekarang udah jam lima sore! Dari pagi belum keluar sama sekali, nggak makan, nggak minum. Aku telpon juga nggak diangkat. Gimana kalau dia pingsan di dalam?"

Wawan mendecak pelan, tapi melihat wajah istrinya yang hampir menangis, ia akhirnya berdiri juga. "Ya sudah, ya sudah. Aku coba lihat."

Mereka berjalan berdua ke kamar Arema. Pintu kayu itu terlihat terlalu tenang untuk sesuatu yang mencurigakan.

Salma mengetuk sekali lagi. "Remaaaa, Bunda sama Ayah nih. Tolong buka pintunya, Nak. Kalau kamu lagi marah, nggak apa-apa, tapi buka dulu. Bunda cuma mau lihat kamu."

Sunyi.

Salma menatap Wawan dengan wajah penuh kekhawatiran. "Yah, aku makin takut. Coba dobrak aja deh. Aku nggak tenang kalau nggak lihat dia."

Wawan memegangi gagang pintu, memutarnya pelan. Kunci masih menutup rapat. Ia menatap istrinya sebentar, lalu menghela napas. "Ya sudah, minggir dulu."

Dengan satu hentakan kuat, bruk! pintu itu terbuka lebar setelah didobrak.

Salma spontan menjerit pelan. "Ya Allah."

Namun, bukan karena ada hal menakutkan di sana, melainkan karena kamar itu kosong.

Tempat tidur rapi, selimut terlipat di ujung ranjang. Tas kecil milik Arema tidak ada di gantungan, begitu juga beberapa pakaian yang biasa tergantung di belakang pintu.

Wawan dan Salma saling berpandangan. Seketika wajah Salma memucat. "Kemana dia, Yah?"

Wawan masuk ke kamar, memeriksa sekeliling. Ia melihat meja kecil di pojokan, ada secarik kertas di atasnya, tapi kosong tak ada tulisan apa pun.

Ia memeriksa lemari, lalu jendela. "Bunda, jendelanya nggak dibuka, nggak ada tanda-tanda orang manjat keluar. Tapi lihat nih," katanya sambil menunjukkan kunci pintu yang tidak ada di lubang kuncinya. "Kuncinya dia bawa. Berarti dia memang pergi dari pagi."

Salma memegang dadanya. "Astaghfirullah, dia pergi kemana, Yah? Kenapa nggak pamit? Gimana kalau dia kenapa-napa?"

"Bunda yang sabar, tenang dulu," ucap Wawan mencoba menenangkan.

"Paling dia ngambek gara-gara semalam. Kamu kan sempat ngomel. Ya mungkin dia lagi males ketemu kita aja."

"Tapi masa dari pagi nggak pulang-pulang? Ini sudah mau magrib, Yah! Aku takut, aku gak bisa tenang kalau belum tahu dia di mana!" seru Salma sambil mulai terisak.

Wawan menepuk bahu istrinya lembut. "Sudahlah, Bunda. Jangan panik. Dia sudah gede, sudah bisa mikir. Paling numpang di rumah temennya. Kita tunggu aja dulu."

"Tapi, tapi aku kenal Arema, Yah," ujar Salma pelan tapi penuh tekanan. "Dia bukan tipe anak yang pergi tanpa pamit."

Wawan menarik napas panjang. "Ya sudah deh, begini saja. Nanti habis magrib aku coba tanya ke temen-temennya. Kamu juga coba telpon lagi, siapa tahu nanti diangkat."

Salma mengangguk, meski air matanya mulai menetes. Ia menatap ranjang kosong itu lama, seolah berharap dari balik udara ada sosok Arema muncul dan berkata. Aku di sini, Bun.

Tapi yang terdengar hanya suara kipas angin tua di sudut kamar.

Maghrib datang, Salma masih duduk di ruang tamu memegang ponselnya. Berkali-kali ia menekan nomor Arema, tapi yang terdengar hanya nada tunggu, kemudian suara mesin menjawab ....

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.

"Kenapa nggak aktif terus," gumamnya sambil memegang ponsel.

Setelah beberapa kali mencoba, Salma akhirnya menghubungi teman dekat Arema yang beberapa kali main ke rumah.

"Halo, nak? Ini Bundanya Arema. Arema di rumah kamu, nggak?"

Suara di seberang terdengar kaget. "Hah? Enggak, Tante. Memang kenapa? Bukannya dia di rumah?"

"Dari pagi nggak kelihatan, Sayang. HP-nya nggak aktif juga. Tante kira mungkin dia main ke rumah kamu.”

"Enggak, Tante. Semalam sih aku chat dia, tapi cuma dibaca. Sejak tadi pagi juga nggak balas."

Salma makin panik. "Ya Allah, jadi dia di mana sekarang?"

Teman Arema ikut cemas. "Gimana kalau aku bantu cari, Tante? Aku coba hubungin teman-teman Arema lain, ya."

"Iya, Nak. Tolong banget ya. Tante sudah nggak tenang dari tadi."

Setelah menutup telepon, Salma menatap kosong ke arah pintu kamar anaknya yang terbuka lebar. Pintu itu seperti saksi bisu bahwa ada sesuatu yang hilang dari rumah itu hari ini.

Ketika Wawan pulang dari masjid, ia mendapati istrinya duduk lemas di kursi. Gimana, Bun? Udah bisa dihubungin?"

Salma menggeleng pelan. "Enggak, Yah. Nggak aktif. Temennya juga bilang nggak tahu apa-apa. Aku takut, Yah. Takut dia kenapa-kenapa.”

Wawan duduk di sebelahnya, menepuk pelan tangan istrinya. "Bunda jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Mungkin dia cuma butuh waktu sendiri. Anak sekarang kan gitu, kalau stres dikit langsung pengen pergi."

"Tapi kenapa nggak pamit?" tangis Salma pecah lagi. "Aku nyesel, Yah. Aku nyesel marahin dia semalam. Aku cuma pengen dia berubah, bukan malah pergi kayak gini."

Salma menatap suaminya. "Kita cari dia, Yah. Malam ini juga."

Wawan menghela napas, menatap langit di luar jendela yang mulai gelap. "Bun, sekarang sudah malam. Kita nggak tahu dia ke mana. Mending besok pagi kita lapor ke Pak RT dulu. Kalau nggak ada kabar, baru ke kantor polisi."

Salma menggeleng kuat. "Enggak! Aku nggak bisa tidur kalau nggak tahu anakku di mana. Aku mau nyari malam ini juga. Tolong, Yah."

Wawan akhirnya mengangguk. "Ya sudah, ganti baju dulu. Aku ambil motor."

Beberapa menit kemudian, mereka sudah melaju menyusuri jalanan kota kecil itu.

Lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal basah sisa hujan sore tadi.

Salma memeluk erat pinggang suaminya di atas motor, matanya menatap kanan kiri, berharap melihat sosok anaknya di setiap sudut jalan.

Mereka berhenti di warung dekat pasar, bertanya pada beberapa orang.

"Permisi, Pak. Tadi siang lihat anak perempuan tinggi, rambut panjang, pakai baju biru muda?"

"Hmm, sepertinya nggak, Bu,” jawab seorang penjual nasi goreng.

Salma langsung menatap suaminya. "Yah, ke terminal yuk."

Mereka pun melanjutkan perjalanan ke arah terminal. Namun, sesampainya di sana, yang mereka temukan hanya deretan bus yang parkir dan beberapa sopir yang sedang merokok sambil bercanda.

Salma turun dari motor, menatap ke sekeliling. "Remaaaa...! Nak, kamu di mana?" panggilnya dengan suara parau.

Wawan menatap istrinya dengan iba. Ia menepuk pundak Salma pelan. "Sudah, Bun. Ayo pulang dulu. Besok pagi kita cari lagi. Mungkin aja dia beneran nginep di rumah temennya."

Salma mengangguk, meski matanya masih mencari ke segala arah, seolah enggan menyerah.Sore itu, langit terlihat muram. Awan kelabu menggantung rendah, seolah menandakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Salma mondar-mandir di ruang tamu rumahnya.

Wajahnya pucat, napasnya tidak teratur, matanya sesekali melirik ke arah jam dinding yang berdetak keras di ruang tamu.

Jarum jam menunjukkan pukul lima sore. Sejak pagi, Arema tidak keluar dari kamar.

Tidak terdengar suara apa pun dari dalam sana, tidak langkah kaki, tidak suara televisi, bahkan tidak bunyi air dari kamar mandi.

Salma memegang dadanya yang berdebar. Perasaan was-was menggelayuti hatinya. Ia sudah berkali-kali mengetuk pintu kamar anak gadisnya itu, tapi tak pernah dijawab.

"Remaaaa!" panggilnya untuk kesekian kalinya, nada suaranya meninggi karena cemas. "Nak, buka pintunya, makan dulu. Dari tadi Bunda ketuk-ketuk gak dibuka."

Namun, tetap saja sunyi. Hanya suara kipas angin dari ruang tengah yang terus berputar.

Salma menelan ludah, lalu menatap pintu kamar Arema yang tertutup rapat. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras.

"Remaaaa, kamu denger Bunda nggak? Ini udah sore lho, kamu gak keluar dari pagi. Kamu sakit, Nak?"

Masih tak ada jawaban.

Wajah Salma mulai panik. Ia lalu berlari kecil ke arah dapur, memanggil suaminya yang sedang duduk di kursi bambu sambil memainkan ponsel.

"Yah!" serunya dengan nada tinggi.

Wawan menoleh pelan, keningnya berkerut melihat wajah istrinya yang panik. "Kenapa sih, Bun? Kok kayak dikejar setan aja mukanya?"

Salma menggigit bibirnya, lalu menarik napas panjang. "Yah, dari pagi Arema gak keluar kamar, aku ketok berkali-kali nggak dijawab, nggak ada suara sama sekali. Aku takut dia kenapa-napa, Yah."

Wawan menghela napas malas. "Bun, sudahlah, kamu itu panikan banget. Kan si Arema emang biasa kayak gitu, suka ngurung diri di kamar."

"Tapi ini beda, Yah!" seru Salma sambil menunjuk jam dinding.

"Lihat, sekarang udah jam lima sore! Dari pagi belum keluar sama sekali, nggak makan, nggak minum. Aku telpon juga nggak diangkat. Gimana kalau dia pingsan di dalam?"

Wawan mendecak pelan, tapi melihat wajah istrinya yang hampir menangis, ia akhirnya berdiri juga. "Ya sudah, ya sudah. Aku coba lihat."

Mereka berjalan berdua ke kamar Arema. Pintu kayu itu terlihat terlalu tenang untuk sesuatu yang mencurigakan.

Salma mengetuk sekali lagi. "Remaaaa, Bunda sama Ayah nih. Tolong buka pintunya, Nak. Kalau kamu lagi marah, nggak apa-apa, tapi buka dulu. Bunda cuma mau lihat kamu."

Sunyi.

Salma menatap Wawan dengan wajah penuh kekhawatiran. "Yah, aku makin takut. Coba dobrak aja deh. Aku nggak tenang kalau nggak lihat dia."

Wawan memegangi gagang pintu, memutarnya pelan. Kunci masih menutup rapat. Ia menatap istrinya sebentar, lalu menghela napas. "Ya sudah, minggir dulu."

Dengan satu hentakan kuat, bruk! pintu itu terbuka lebar setelah didobrak.

Salma spontan menjerit pelan. "Ya Allah."

Namun, bukan karena ada hal menakutkan di sana, melainkan karena kamar itu kosong.

Tempat tidur rapi, selimut terlipat di ujung ranjang. Tas kecil milik Arema tidak ada di gantungan, begitu juga beberapa pakaian yang biasa tergantung di belakang pintu.

Wawan dan Salma saling berpandangan. Seketika wajah Salma memucat. "Kemana dia, Yah?"

Wawan masuk ke kamar, memeriksa sekeliling. Ia melihat meja kecil di pojokan, ada secarik kertas di atasnya, tapi kosong tak ada tulisan apa pun.

Ia memeriksa lemari, lalu jendela. "Bunda, jendelanya nggak dibuka, nggak ada tanda-tanda orang manjat keluar. Tapi lihat nih," katanya sambil menunjukkan kunci pintu yang tidak ada di lubang kuncinya. "Kuncinya dia bawa. Berarti dia memang pergi dari pagi."

Salma memegang dadanya. "Astaghfirullah, dia pergi kemana, Yah? Kenapa nggak pamit? Gimana kalau dia kenapa-napa?"

"Bunda yang sabar, tenang dulu," ucap Wawan mencoba menenangkan.

"Paling dia ngambek gara-gara semalam. Kamu kan sempat ngomel. Ya mungkin dia lagi males ketemu kita aja."

"Tapi masa dari pagi nggak pulang-pulang? Ini sudah mau magrib, Yah! Aku takut, aku gak bisa tenang kalau belum tahu dia di mana!" seru Salma sambil mulai terisak.

Wawan menepuk bahu istrinya lembut. "Sudahlah, Bunda. Jangan panik. Dia sudah gede, sudah bisa mikir. Paling numpang di rumah temennya. Kita tunggu aja dulu."

"Tapi, tapi aku kenal Arema, Yah," ujar Salma pelan tapi penuh tekanan. "Dia bukan tipe anak yang pergi tanpa pamit."

Wawan menarik napas panjang. "Ya sudah deh, begini saja. Nanti habis magrib aku coba tanya ke temen-temennya. Kamu juga coba telpon lagi, siapa tahu nanti diangkat."

Salma mengangguk, meski air matanya mulai menetes. Ia menatap ranjang kosong itu lama, seolah berharap dari balik udara ada sosok Arema muncul dan berkata. Aku di sini, Bun.

Tapi yang terdengar hanya suara kipas angin tua di sudut kamar.

Maghrib datang, Salma masih duduk di ruang tamu memegang ponselnya. Berkali-kali ia menekan nomor Arema, tapi yang terdengar hanya nada tunggu, kemudian suara mesin menjawab ....

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.

"Kenapa nggak aktif terus," gumamnya sambil memegang ponsel.

Setelah beberapa kali mencoba, Salma akhirnya menghubungi teman dekat Arema yang beberapa kali main ke rumah.

"Halo, nak? Ini Bundanya Arema. Arema di rumah kamu, nggak?"

Suara di seberang terdengar kaget. "Hah? Enggak, Tante. Memang kenapa? Bukannya dia di rumah?"

"Dari pagi nggak kelihatan, Sayang. HP-nya nggak aktif juga. Tante kira mungkin dia main ke rumah kamu.”

"Enggak, Tante. Semalam sih aku chat dia, tapi cuma dibaca. Sejak tadi pagi juga nggak balas."

Salma makin panik. "Ya Allah, jadi dia di mana sekarang?"

Teman Arema ikut cemas. "Gimana kalau aku bantu cari, Tante? Aku coba hubungin teman-teman Arema lain, ya."

"Iya, Nak. Tolong banget ya. Tante sudah nggak tenang dari tadi."

Setelah menutup telepon, Salma menatap kosong ke arah pintu kamar anaknya yang terbuka lebar. Pintu itu seperti saksi bisu bahwa ada sesuatu yang hilang dari rumah itu hari ini.

Ketika Wawan pulang dari masjid, ia mendapati istrinya duduk lemas di kursi. Gimana, Bun? Udah bisa dihubungin?"

Salma menggeleng pelan. "Enggak, Yah. Nggak aktif. Temennya juga bilang nggak tahu apa-apa. Aku takut, Yah. Takut dia kenapa-kenapa.”

Wawan duduk di sebelahnya, menepuk pelan tangan istrinya. "Bunda jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Mungkin dia cuma butuh waktu sendiri. Anak sekarang kan gitu, kalau stres dikit langsung pengen pergi."

"Tapi kenapa nggak pamit?" tangis Salma pecah lagi. "Aku nyesel, Yah. Aku nyesel marahin dia semalam. Aku cuma pengen dia berubah, bukan malah pergi kayak gini."

Salma menatap suaminya. "Kita cari dia, Yah. Malam ini juga."

Wawan menghela napas, menatap langit di luar jendela yang mulai gelap. "Bun, sekarang sudah malam. Kita nggak tahu dia ke mana. Mending besok pagi kita lapor ke Pak RT dulu. Kalau nggak ada kabar, baru ke kantor polisi."

Salma menggeleng kuat. "Enggak! Aku nggak bisa tidur kalau nggak tahu anakku di mana. Aku mau nyari malam ini juga. Tolong, Yah."

Wawan akhirnya mengangguk. "Ya sudah, ganti baju dulu. Aku ambil motor."

Beberapa menit kemudian, mereka sudah melaju menyusuri jalanan kota kecil itu.

Lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal basah sisa hujan sore tadi.

Salma memeluk erat pinggang suaminya di atas motor, matanya menatap kanan kiri, berharap melihat sosok anaknya di setiap sudut jalan.

Mereka berhenti di warung dekat pasar, bertanya pada beberapa orang.

"Permisi, Pak. Tadi siang lihat anak perempuan tinggi, rambut panjang, pakai baju biru muda?"

"Hmm, sepertinya nggak, Bu,” jawab seorang penjual nasi goreng.

Salma langsung menatap suaminya. "Yah, ke terminal yuk."

Mereka pun melanjutkan perjalanan ke arah terminal. Namun, sesampainya di sana, yang mereka temukan hanya deretan bus yang parkir dan beberapa sopir yang sedang merokok sambil bercanda.

Salma turun dari motor, menatap ke sekeliling. "Remaaaa...! Nak, kamu di mana?" panggilnya dengan suara parau.

Wawan menatap istrinya dengan iba. Ia menepuk pundak Salma pelan. "Sudah, Bun. Ayo pulang dulu. Besok pagi kita cari lagi. Mungkin aja dia beneran nginep di rumah temennya."

Salma mengangguk, meski matanya masih mencari ke segala arah, seolah enggan menyerah.