Vhero Menuntut

30 December 2025

Sore itu, suasana di rumah Rino terasa pengap. Angin dari jendela hanya berhembus pelan, tidak cukup untuk menyingkirkan hawa panas yang menyelimuti ruang tamu kecil itu.

Di atas meja, ada segelas kopi yang sudah mulai dingin. Dan belum tersentuh sejak tadi.

Rino duduk di kursi reyot dekat jendela, menatap kosong ke arah halaman. Wajahnya muram, rambutnya berantakan, dan kaos lusuh yang dikenakannya terlihat seperti belum diganti berhari-hari.

Di luar, suara ayam berkokok sesekali memecah keheningan.

Pintu rumahnya berderit pelan. Dari sana, muncul sosok perempuan dengan rambut panjang ikal mengenakan blus putih dan celana jeans ketat. Vheronika.

Gadis itu melangkah masuk tanpa permisi, seolah rumah itu sudah miliknya. Ia menaruh tas kecil di kursi dan langsung duduk di hadapan Rino.

Wajahnya tampak tegas, tapi di matanya tersimpan keresahan yang sulit disembunyikan.

"Mas," panggilnya pelan tapi tegas.

Rino menoleh sekilas, kemudian menunduk lagi. "Apa?"

"Kita harus ngomong serius."

"Udah berapa kali kamu ngomong gitu?" jawab Rino datar tanpa menatapnya.

Vheronika menggigit bibirnya. "Mas, gimana? Aku nunggu jawaban kamu. Aku gak bisa kayak gini terus. Aku lagi hamil anak kamu, Mas."

Suasana hening sejenak. Hanya terdengar detak jam dinding tua di ruangan itu.

Rino menatap Vheronika dengan mata yang lelah. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa semua ini terlalu cepat, bahwa ia bahkan baru mengenal gadis itu belum sebulan.

Tapi bibirnya seolah beku, kata-kata itu tidak bisa keluar.

"Vher, aku udah bilang, aku belum siap," katanya pelan.

"Belum siap?" Suara Vheronika meninggi. "Mas, kamu pikir aku main-main? Aku ini lagi hamil! Aku butuh kepastian. Mau sampai kapan kamu kayak gini?"

Rino mengusap wajahnya kasar, lalu berdiri, berjalan mondar-mandir di ruang sempit itu.

"Aku gak punya kerjaan tetap. Sekarang aja aku nganggur. Aku aja bingung mau makan apa besok, gimana mau nikah, Vher?"

"Tapi aku udah bilang sama orang tuaku!" sergah Vheronika cepat. "Mereka mau biayain semua biaya nikah kita. Mas cuma tinggal datang ke rumah, ngomong baik-baik sama Papa Mama. Udah, selesai."

Rino menatapnya lama. Kata-kata gadis itu terdengar begitu mudah, seolah pernikahan hanyalah urusan uang dan restu.

Tapi bagi Rino, tidak sesederhana itu. Ia duduk lagi, menatap kosong ke arah lantai. Kepalanya penuh oleh kenangan yang datang bertubi-tubi, awal mula semuanya terjadi.

Semua bermula dari sebuah aplikasi berlogo hitam di ponselnya.

Sebuah aplikasi tempat orang-orang asing saling bertemu, berbagi foto, bercanda, bahkan mencari pelarian. Saat itu, Rino tengah bosan.

Hubungannya dengan Arema sedang renggang, sering bertengkar karena hal-hal kecil. Ia merasa jenuh, dan pikirannya dipenuhi keinginan untuk mencari sesuatu yang baru.

Ia menelusuri beranda aplikasi itu, melihat banyak foto perempuan dengan berbagai pose. Hingga matanya berhenti pada satu profil.

Seorang gadis berambut ikal dengan senyum menggoda dan bio singkat bertuliskan ....

"No drama, just fun."

"Cantik banget," gumamnya kala itu. Tanpa pikir panjang, ia pun menekan tombol follow.

Tak disangka, hanya beberapa menit kemudian gadis itu follow back. Hatinya berdebar. Ia membuka profil Vheronika, lalu mulai mengirim pesan.

Rino: "Hai, aku liat profil kamu. Lucu banget senyumnya."

Vhero: "Serius? Kamu juga lumayan. Dari mana nih?"

Rino: "Dari Jawa. Kamu?"

Vhero: "Sama dong, cuma beda kecamatan kali."

Percakapan ringan itu berlanjut. Hari demi hari, mereka makin akrab. Rino merasa nyaman berbicara dengan Vheronika.

Gadis itu pintar menanggapi, tahu kapan harus bercanda, kapan harus serius. Tak butuh waktu lama sampai mereka saling bertukar nomor aplikasi hijau.

Setiap malam, Vheronika selalu muncul dengan pesan manis.

"Mas udah makan?"

"Jangan begadang, nanti sakit."

"Kalau aku deket, pasti aku buatin kopi buat Mas."

Hal-hal sederhana itu membuat Rino terlena. Ia mulai membandingkan Vheronika dengan Arema.

Dalam pikirannya, Arema terlalu manja, terlalu emosional, terlalu mudah menangis. Sedangkan Vheronika ... dewasa, berani, dan perhatian.

Sampai suatu malam, Vheronika mengajaknya bertemu.

"Mas, ketemuan yuk. Aku pengen tahu kamu beneran kayak di chat apa cuma halu doang."

Rino awalnya ragu. Tapi rasa penasarannya terlalu besar. Mereka akhirnya janjian di sebuah kafe kecil di tengah kota.

Saat Vheronika datang, Rino nyaris tidak percaya. Gadis itu jauh lebih cantik dari fotonya. Kulitnya berwarna coklat bak sawo matang, tubuhnya ramping, dan caranya berbicara lembut namun penuh percaya diri.

Sore itu mereka mengobrol lama. Tentang pekerjaan, tentang hidup, bahkan tentang cinta.

Rino tertawa banyak hari itu, hal yang sudah lama tidak ia rasakan sejak hubungannya dengan Arema mulai merenggang.

Setelah beberapa kali bertemu, hubungan mereka makin intens. Sampai akhirnya, malam itu terjadi.

Rino menutup matanya, mencoba menyingkirkan bayangan yang terus muncul di kepalanya.

Malam itu, mereka baru saja menonton film dan makan malam di luar. Vheronika tiba-tiba berkata dengan nada menggoda,

"Mas, aku bosen kalau langsung pulang. Temenin aku sebentar, yuk. Aku pengen ngobrol di tempat tenang."

Ia kemudian membawa Rino ke sebuah hotel kecil di pinggiran kota. Rino sempat menolak, tapi Vheronika hanya tersenyum.

"Udah, aku yang bayar. Kamu gak usah mikir macem-macem. Aku cuma pengen ngobrol."

Namun malam itu, obrolan mereka berubah menjadi hal lain.

Sentuhan, tatapan, dan akhirnya mereka melewati batas yang seharusnya tidak mereka lewati. Mereka melakukan hubungan layaknya suami istri.

Sejak malam itu, Rino tidak pernah tenang. Ia merasa bersalah, terutama pada Arema.

Tapi di sisi lain, Vheronika terus menekan, menuntut perhatian, bahkan sesekali mengancam.

"Mas, kamu gak boleh ninggalin aku. Aku udah ngasih semuanya ke kamu."

Dan kini, setelah beberapa minggu berlalu, gadis itu datang dengan kabar kehamilan.

"Mas, kamu dengerin aku gak?" Suara Vheronika memecah lamunan Rino.

Rino menatapnya lemah. "Aku denger, Vher. Tapi tolong kasih aku waktu. Aku gak mau ngelakuin sesuatu cuma karena terpaksa."

"Terpaksa?" Suara Vheronika meninggi lagi. "Kamu pikir aku seneng begini? Kamu pikir gampang bilang ke orang tua kalau aku hamil di luar nikah? Sekarang aku cuma butuh kamu tanggung jawab. Udah itu aja!"

Rino mengusap wajahnya lagi. "Aku gak bilang aku gak tanggung jawab, Vher. Tapi kamu juga harus ngerti posisi aku. Aku gak punya tabungan, kerja aja gak jelas. Aku gak mau nikah cuma buat nutupin aib."

Vheronika berdiri, menatapnya tajam. "Mas, jangan ngomong kayak gitu. Kamu pikir aku mau malu sendirian? Kalau kamu gak tanggung jawab, aku bakal bilang ke semua orang. Aku punya bukti kok kalau kita udah tidur bareng. Aku punya fotonya."

Wajah Rino seketika memucat. "Kamu mau ngapain, Vher?"

Gadis itu menatapnya dengan tatapan licik yang tak lagi sama seperti dulu. "Aku gak sebodoh itu, Mas. Aku simpan semua, jaga-jaga kalau kamu kabur."

Rino tertegun. Dalam hatinya, ia mulai menyesali semua yang terjadi.

Ia tak menyangka gadis yang dulu terlihat manis dan perhatian ternyata menyimpan sisi lain yang mengerikan.

"Vher, kamu tega banget," ucapnya lirih.

"Bukan aku yang tega, Mas," jawab Vheronika dingin. "Kamu yang mulai semuanya. Sekarang kamu harus tanggung jawab."

Ia lalu mengambil tasnya dan berdiri. "Besok aku tunggu kamu ke rumah. Kalau gak datang, aku bakal cari kamu ke mana pun."

Pintu ditutup keras. Rino terdiam di tempat, napasnya berat, dadanya sesak.

Ia menjatuhkan diri di kursi, menatap kosong ke arah gelas kopi yang kini benar-benar dingin. Pikirannya berputar cepat tentang Arema yang ia sakiti, tentang ibunya yang pasti kecewa, dan tentang Vheronika yang kini mengancam hidupnya.

Ia menatap ponselnya di meja, menggenggamnya erat. Ada dorongan kuat untuk mengetik pesan pada Arema, meminta maaf atas semua kebodohan yang ia lakukan. Tapi jari-jarinya tak bergerak.

"Semua udah terlambat," bisiknya pelan.Sore itu, suasana di rumah Rino terasa pengap. Angin dari jendela hanya berhembus pelan, tidak cukup untuk menyingkirkan hawa panas yang menyelimuti ruang tamu kecil itu.

Di atas meja, ada segelas kopi yang sudah mulai dingin. Dan belum tersentuh sejak tadi.

Rino duduk di kursi reyot dekat jendela, menatap kosong ke arah halaman. Wajahnya muram, rambutnya berantakan, dan kaos lusuh yang dikenakannya terlihat seperti belum diganti berhari-hari.

Di luar, suara ayam berkokok sesekali memecah keheningan.

Pintu rumahnya berderit pelan. Dari sana, muncul sosok perempuan dengan rambut panjang ikal mengenakan blus putih dan celana jeans ketat. Vheronika.

Gadis itu melangkah masuk tanpa permisi, seolah rumah itu sudah miliknya. Ia menaruh tas kecil di kursi dan langsung duduk di hadapan Rino.

Wajahnya tampak tegas, tapi di matanya tersimpan keresahan yang sulit disembunyikan.

"Mas," panggilnya pelan tapi tegas.

Rino menoleh sekilas, kemudian menunduk lagi. "Apa?"

"Kita harus ngomong serius."

"Udah berapa kali kamu ngomong gitu?" jawab Rino datar tanpa menatapnya.

Vheronika menggigit bibirnya. "Mas, gimana? Aku nunggu jawaban kamu. Aku gak bisa kayak gini terus. Aku lagi hamil anak kamu, Mas."

Suasana hening sejenak. Hanya terdengar detak jam dinding tua di ruangan itu.

Rino menatap Vheronika dengan mata yang lelah. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa semua ini terlalu cepat, bahwa ia bahkan baru mengenal gadis itu belum sebulan.

Tapi bibirnya seolah beku, kata-kata itu tidak bisa keluar.

"Vher, aku udah bilang, aku belum siap," katanya pelan.

"Belum siap?" Suara Vheronika meninggi. "Mas, kamu pikir aku main-main? Aku ini lagi hamil! Aku butuh kepastian. Mau sampai kapan kamu kayak gini?"

Rino mengusap wajahnya kasar, lalu berdiri, berjalan mondar-mandir di ruang sempit itu.

"Aku gak punya kerjaan tetap. Sekarang aja aku nganggur. Aku aja bingung mau makan apa besok, gimana mau nikah, Vher?"

"Tapi aku udah bilang sama orang tuaku!" sergah Vheronika cepat. "Mereka mau biayain semua biaya nikah kita. Mas cuma tinggal datang ke rumah, ngomong baik-baik sama Papa Mama. Udah, selesai."

Rino menatapnya lama. Kata-kata gadis itu terdengar begitu mudah, seolah pernikahan hanyalah urusan uang dan restu.

Tapi bagi Rino, tidak sesederhana itu. Ia duduk lagi, menatap kosong ke arah lantai. Kepalanya penuh oleh kenangan yang datang bertubi-tubi, awal mula semuanya terjadi.

Semua bermula dari sebuah aplikasi berlogo hitam di ponselnya.

Sebuah aplikasi tempat orang-orang asing saling bertemu, berbagi foto, bercanda, bahkan mencari pelarian. Saat itu, Rino tengah bosan.

Hubungannya dengan Arema sedang renggang, sering bertengkar karena hal-hal kecil. Ia merasa jenuh, dan pikirannya dipenuhi keinginan untuk mencari sesuatu yang baru.

Ia menelusuri beranda aplikasi itu, melihat banyak foto perempuan dengan berbagai pose. Hingga matanya berhenti pada satu profil.

Seorang gadis berambut ikal dengan senyum menggoda dan bio singkat bertuliskan ....

"No drama, just fun."

"Cantik banget," gumamnya kala itu. Tanpa pikir panjang, ia pun menekan tombol follow.

Tak disangka, hanya beberapa menit kemudian gadis itu follow back. Hatinya berdebar. Ia membuka profil Vheronika, lalu mulai mengirim pesan.

Rino: "Hai, aku liat profil kamu. Lucu banget senyumnya."

Vhero: "Serius? Kamu juga lumayan. Dari mana nih?"

Rino: "Dari Jawa. Kamu?"

Vhero: "Sama dong, cuma beda kecamatan kali."

Percakapan ringan itu berlanjut. Hari demi hari, mereka makin akrab. Rino merasa nyaman berbicara dengan Vheronika.

Gadis itu pintar menanggapi, tahu kapan harus bercanda, kapan harus serius. Tak butuh waktu lama sampai mereka saling bertukar nomor aplikasi hijau.

Setiap malam, Vheronika selalu muncul dengan pesan manis.

"Mas udah makan?"

"Jangan begadang, nanti sakit."

"Kalau aku deket, pasti aku buatin kopi buat Mas."

Hal-hal sederhana itu membuat Rino terlena. Ia mulai membandingkan Vheronika dengan Arema.

Dalam pikirannya, Arema terlalu manja, terlalu emosional, terlalu mudah menangis. Sedangkan Vheronika ... dewasa, berani, dan perhatian.

Sampai suatu malam, Vheronika mengajaknya bertemu.

"Mas, ketemuan yuk. Aku pengen tahu kamu beneran kayak di chat apa cuma halu doang."

Rino awalnya ragu. Tapi rasa penasarannya terlalu besar. Mereka akhirnya janjian di sebuah kafe kecil di tengah kota.

Saat Vheronika datang, Rino nyaris tidak percaya. Gadis itu jauh lebih cantik dari fotonya. Kulitnya berwarna coklat bak sawo matang, tubuhnya ramping, dan caranya berbicara lembut namun penuh percaya diri.

Sore itu mereka mengobrol lama. Tentang pekerjaan, tentang hidup, bahkan tentang cinta.

Rino tertawa banyak hari itu, hal yang sudah lama tidak ia rasakan sejak hubungannya dengan Arema mulai merenggang.

Setelah beberapa kali bertemu, hubungan mereka makin intens. Sampai akhirnya, malam itu terjadi.

Rino menutup matanya, mencoba menyingkirkan bayangan yang terus muncul di kepalanya.

Malam itu, mereka baru saja menonton film dan makan malam di luar. Vheronika tiba-tiba berkata dengan nada menggoda,

"Mas, aku bosen kalau langsung pulang. Temenin aku sebentar, yuk. Aku pengen ngobrol di tempat tenang."

Ia kemudian membawa Rino ke sebuah hotel kecil di pinggiran kota. Rino sempat menolak, tapi Vheronika hanya tersenyum.

"Udah, aku yang bayar. Kamu gak usah mikir macem-macem. Aku cuma pengen ngobrol."

Namun malam itu, obrolan mereka berubah menjadi hal lain.

Sentuhan, tatapan, dan akhirnya mereka melewati batas yang seharusnya tidak mereka lewati. Mereka melakukan hubungan layaknya suami istri.

Sejak malam itu, Rino tidak pernah tenang. Ia merasa bersalah, terutama pada Arema.

Tapi di sisi lain, Vheronika terus menekan, menuntut perhatian, bahkan sesekali mengancam.

"Mas, kamu gak boleh ninggalin aku. Aku udah ngasih semuanya ke kamu."

Dan kini, setelah beberapa minggu berlalu, gadis itu datang dengan kabar kehamilan.

"Mas, kamu dengerin aku gak?" Suara Vheronika memecah lamunan Rino.

Rino menatapnya lemah. "Aku denger, Vher. Tapi tolong kasih aku waktu. Aku gak mau ngelakuin sesuatu cuma karena terpaksa."

"Terpaksa?" Suara Vheronika meninggi lagi. "Kamu pikir aku seneng begini? Kamu pikir gampang bilang ke orang tua kalau aku hamil di luar nikah? Sekarang aku cuma butuh kamu tanggung jawab. Udah itu aja!"

Rino mengusap wajahnya lagi. "Aku gak bilang aku gak tanggung jawab, Vher. Tapi kamu juga harus ngerti posisi aku. Aku gak punya tabungan, kerja aja gak jelas. Aku gak mau nikah cuma buat nutupin aib."

Vheronika berdiri, menatapnya tajam. "Mas, jangan ngomong kayak gitu. Kamu pikir aku mau malu sendirian? Kalau kamu gak tanggung jawab, aku bakal bilang ke semua orang. Aku punya bukti kok kalau kita udah tidur bareng. Aku punya fotonya."

Wajah Rino seketika memucat. "Kamu mau ngapain, Vher?"

Gadis itu menatapnya dengan tatapan licik yang tak lagi sama seperti dulu. "Aku gak sebodoh itu, Mas. Aku simpan semua, jaga-jaga kalau kamu kabur."

Rino tertegun. Dalam hatinya, ia mulai menyesali semua yang terjadi.

Ia tak menyangka gadis yang dulu terlihat manis dan perhatian ternyata menyimpan sisi lain yang mengerikan.

"Vher, kamu tega banget," ucapnya lirih.

"Bukan aku yang tega, Mas," jawab Vheronika dingin. "Kamu yang mulai semuanya. Sekarang kamu harus tanggung jawab."

Ia lalu mengambil tasnya dan berdiri. "Besok aku tunggu kamu ke rumah. Kalau gak datang, aku bakal cari kamu ke mana pun."

Pintu ditutup keras. Rino terdiam di tempat, napasnya berat, dadanya sesak.

Ia menjatuhkan diri di kursi, menatap kosong ke arah gelas kopi yang kini benar-benar dingin. Pikirannya berputar cepat tentang Arema yang ia sakiti, tentang ibunya yang pasti kecewa, dan tentang Vheronika yang kini mengancam hidupnya.

Ia menatap ponselnya di meja, menggenggamnya erat. Ada dorongan kuat untuk mengetik pesan pada Arema, meminta maaf atas semua kebodohan yang ia lakukan. Tapi jari-jarinya tak bergerak.

"Semua udah terlambat," bisiknya pelan.