Rino duduk di teras rumahnya yang sempit, menatap kosong ke arah jalanan yang lengang. Angin sore berembus pelan, membuat ujung daun pisang di halaman tetangganya bergoyang.
Di tangannya masih tergenggam bungkus rokok yang belum dibuka.
Ia mendesah berat, kepalanya penuh sesak oleh pikiran yang berputar-putar tanpa henti.
"Vhero kayaknya udah gak perawan," gumamnya lirih, suara itu hampir tertelan oleh gemerisik angin.
Ia menatap ke tanah, seolah di sanalah jawabannya tersembunyi. "Waktu aku gituan sama dia, aku gak ngerasain sempit. Gak keluar darah juga."
Rino menepuk jidatnya keras-keras. "Jangan-jangan … dia hamil sama orang lain, tapi aku yang disuruh tanggung jawab karena orang yang hamilin dia kabur!"
Ia mencengkeram rambutnya frustasi. "Arrgh! Goblok banget sih aku! Ketipu! Ketipu mentah-mentah!"
Ia berdiri, mondar-mandir di depan rumah. Emosinya campur aduk. Antara marah pada dirinya sendiri dan benci pada Vheronika yang mungkin memanfaatkannya.
Dalam hatinya, ia menyesal telah begitu mudah terbujuk oleh pesona perempuan itu.
Semua bermula dari aplikasi hitam sialan itu, tempat yang mempertemukannya dengan kehancuran.
Sementara itu, di sebuah kamar kos sempit di pinggir kota, Vheronika duduk di depan cermin sambil memulas lipstik merah darah di bibirnya. Ia tersenyum kecil, senyum kemenangan.
"Cowok bego," bisiknya, menatap pantulan dirinya sendiri. "Semua sama aja, gampang dikibulin asal dikasih rayuan dan dikit sentuhan."
Ia menyisir rambut panjangnya yang bergelombang. Ingatannya melayang jauh, kembali ke malam beberapa bulan lalu, malam yang mengubah hidupnya.
**
Malam itu, lampu kelap-kelip diskotik menyorot wajah-wajah yang tenggelam dalam alkohol dan musik keras.
Vheronika, dengan gaun hitam ketat dan mata yang sayu, duduk di pojokan bar sambil meneguk minuman kerasnya.
"Hidupku kosong," katanya waktu itu pada bartender. "Gak ada yang peduli."
Ia meneguk minuman lagi, kepalanya sudah mulai ringan ketika seorang pria menghampirinya. Wajahnya tampan, rambutnya rapi, memakai kemeja biru muda yang memperlihatkan aroma lelaki mapan.
"Hai, sendirian?" tanya pria itu dengan senyum ramah.
Vheronika menoleh, memandang dari ujung kaki hingga kepala pria itu. "Kalau iya, kenapa?" jawabnya genit.
"Aku juga sendirian. Boleh duduk?"
Ia mengangguk pelan. "Nama kamu siapa?"
"Nurdin," jawab pria itu sambil mengulurkan tangan. "Kamu?"
"Vhero."
Sejak pertemuan itu, hubungan mereka berkembang cepat. Mereka bertukar nomor, saling berkirim pesan tiap malam.
Awalnya hanya basa-basi, lama-lama jadi obrolan intim, lalu pertemuan demi pertemuan.
Hingga pada malam yang lain, Vheronika mengikuti ajakan Nurdin ke sebuah hotel di pusat kota.
Di kamar itu, antara kesadaran dan mabuk, mereka tenggelam dalam pelukan yang melampaui batas.
"Ah, Mas, enak banget. Terus," desahnya pelan.
Nurdin menggoyangkan pedangnya yang menancap di sarang Vheronika.
Vheronika menggeliat keenakan. "Terus, Mas!" Desahan lirih pun berubah menjadi keras dari bibir gadis berkulit sawo matang, tidak peduli terdengar orang lain.
Hingga akhirnya mereka memuntahkan lahar panas bersama.
**
Setelah itu, hubungan mereka berlanjut. Setiap minggu, Nurdin datang, membawakan bunga atau uang.
Tapi semua berhenti mendadak ketika Vheronika menyadari dirinya terlambat datang bulan.
Ia menelepon Nurdin dengan suara gemetar. "Mas, aku hamil." Suaranya lirih tapi jelas.
Di seberang, Nurdin terdiam lama. "Apa?"
"Aku terlambat dua minggu. Aku udah periksa, hasilnya positif."
Nurdin menarik napas panjang. "Kamu gak bercanda, kan?"
"Mana mungkin aku bercanda soal ginian!"
"Vher, aku udah punya istri dan anak," ucap Nurdin akhirnya, pelan tapi menghantam keras ke telinga Vheronika.
"Apa?!" Vheronika berteriak di tengah malam. "Kamu bilang kamu lajang!"
"Aku gak bisa tanggung jawab, maaf." Nurdin mengalihkan pembicaraan.
"Dasar pengecut!" teriaknya.
Tapi sambungan sudah terputus. Sejak malam itu, Nurdin menghilang, nomornya tidak bisa dihubungi, semua akun media sosialnya lenyap. Dunia seakan runtuh di depan mata Vheronika.
Ia mencari Nurdin ke diskotik tempat mereka biasa bertemu, tapi nihil. Pria itu lenyap seperti bayangan.
Beberapa minggu kemudian, saat kandungannya berusia dua bulan, Vheronika membuka aplikasi hitam itu lagi. Di situlah ia bertemu dengan Rino, cowok polos yang masih menjadi hubungan dengan pacarnya, Arema.
Namun Vheronika belum mengetahui hal itu.
Gadis itu tersenyum tipis mengingatnya. "Rino gampang banget dibodohin."
Malam pertama mereka kenal, Vheronika langsung tahu bagaimana cara memainkan perasaannya. Dengan sedikit rayuan, sedikit cerita sedih, Rino luluh.
"Mas, aku kesepian. Aku pengin dipeluk," begitu katanya waktu itu.
Dan benar saja, Rino datang menjemputnya malam itu juga. Mereka bertemu, ngobrol, lalu berlanjut ke hotel. Semua berjalan sesuai rencana Vheronika.
Keesokan harinya, Rino duduk di kursi kayu ruang tamu. Wajahnya lelah, matanya sembab karena kurang tidur.
Ia belum tahu harus bersikap bagaimana pada Vheronika. Dalam hati, ia yakin gadis itu tidak sepenuhnya jujur. Tapi mulutnya berat untuk menuduh.
Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Vheronika masuk dengan langkah ringan, senyum manis terlukis di wajahnya.
"Mas," sapanya ceria.
Rino terkejut, hampir menjatuhkan gelas air yang dipegangnya. "Kamu ngagetin aja, Vher. Gak ketuk pintu dulu."
"Ah, kan udah biasa,$ jawab Vheronika santai. "Lagian gak ada siapa-siapa juga di rumah ini, kan?"
"Ada apa?" tanya Rino datar.
Vheronika mengulurkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke arah Rino.
"Mas, ini buat pegangan kamu."
Rino menatap uang itu, matanya langsung berbinar. Ia memang sedang butuh uang.
Tapi gengsinya membuatnya berpura-pura menolak.
"Kamu ngapain sih repot-repot begini?" katanya dengan suara dibuat rendah.
"Udah ambil aja, Mas. Aku ikhlas kok."
Rino menelan ludah. Uang itu lumayan banyak, mungkin sejuta lebih. Ia akhirnya mengambilnya juga.
"Wah, lumayan juga," batinnya. "Dari pada Arema, gak pernah kasih apa-apa."
Ia menyelipkan uang itu ke saku celananya. "Makasih ya, Vher."
Vheronika tersenyum menggoda. Ia lalu berjalan mendekat dan duduk di pangkuan Rino.
"Mas," bisiknya lembut, "aku sayang kamu."
Rino kaget, tubuhnya menegang seketika. "Vher, jangan gitu. Nanti ada yang lihat."
"Siapa yang mau lihat? Ibunya Mas aja belum pulang. Santai aja," ujarnya sambil melingkarkan lengannya di leher Rino.
Aroma parfum Vheronika menyeruak, membuat pikiran Rino berantakan.
Di satu sisi, ia marah karena merasa dimanfaatkan, tapi di sisi lain, godaan di hadapannya terlalu sulit ditolak.
"Mas ...." suara Vheronika semakin lembut, "kita kan mau nikah. Gak apa-apa kan kalau aku manja sama calon suamiku?"
Rino menatapnya dalam diam. Ia tidak tahu lagi mana yang benar, mana yang salah. Semua logika seolah lenyap ketika tatapan mata mereka bertemu.
Namun di dalam hatinya, ada rasa bersalah yang menusuk. Ia teringat Arema, wajah polosnya, tangisnya ketika tahu Rino selingkuh.
Rino menutup matanya sejenak. "Aku udah rusak,” batinnya.
Vheronika mencium pipinya pelan. "Udah, jangan mikirin yang lain. Sekarang cuma aku yang di sini buat kamu."
Seketika, Rino merasa seperti terperangkap. Semua yang ia lakukan terasa salah, tapi entah kenapa, ia terus melangkah lebih dalam ke arah yang sama.
Vheronika mendekatkan bibir ranumnya ke bibir Rino. Rino menelan ludah, mereka pun saling melumat bibir.Rino duduk di teras rumahnya yang sempit, menatap kosong ke arah jalanan yang lengang. Angin sore berembus pelan, membuat ujung daun pisang di halaman tetangganya bergoyang.
Di tangannya masih tergenggam bungkus rokok yang belum dibuka.
Ia mendesah berat, kepalanya penuh sesak oleh pikiran yang berputar-putar tanpa henti.
"Vhero kayaknya udah gak perawan," gumamnya lirih, suara itu hampir tertelan oleh gemerisik angin.
Ia menatap ke tanah, seolah di sanalah jawabannya tersembunyi. "Waktu aku gituan sama dia, aku gak ngerasain sempit. Gak keluar darah juga."
Rino menepuk jidatnya keras-keras. "Jangan-jangan … dia hamil sama orang lain, tapi aku yang disuruh tanggung jawab karena orang yang hamilin dia kabur!"
Ia mencengkeram rambutnya frustasi. "Arrgh! Goblok banget sih aku! Ketipu! Ketipu mentah-mentah!"
Ia berdiri, mondar-mandir di depan rumah. Emosinya campur aduk. Antara marah pada dirinya sendiri dan benci pada Vheronika yang mungkin memanfaatkannya.
Dalam hatinya, ia menyesal telah begitu mudah terbujuk oleh pesona perempuan itu.
Semua bermula dari aplikasi hitam sialan itu, tempat yang mempertemukannya dengan kehancuran.
Sementara itu, di sebuah kamar kos sempit di pinggir kota, Vheronika duduk di depan cermin sambil memulas lipstik merah darah di bibirnya. Ia tersenyum kecil, senyum kemenangan.
"Cowok bego," bisiknya, menatap pantulan dirinya sendiri. "Semua sama aja, gampang dikibulin asal dikasih rayuan dan dikit sentuhan."
Ia menyisir rambut panjangnya yang bergelombang. Ingatannya melayang jauh, kembali ke malam beberapa bulan lalu, malam yang mengubah hidupnya.
**
Malam itu, lampu kelap-kelip diskotik menyorot wajah-wajah yang tenggelam dalam alkohol dan musik keras.
Vheronika, dengan gaun hitam ketat dan mata yang sayu, duduk di pojokan bar sambil meneguk minuman kerasnya.
"Hidupku kosong," katanya waktu itu pada bartender. "Gak ada yang peduli."
Ia meneguk minuman lagi, kepalanya sudah mulai ringan ketika seorang pria menghampirinya. Wajahnya tampan, rambutnya rapi, memakai kemeja biru muda yang memperlihatkan aroma lelaki mapan.
"Hai, sendirian?" tanya pria itu dengan senyum ramah.
Vheronika menoleh, memandang dari ujung kaki hingga kepala pria itu. "Kalau iya, kenapa?" jawabnya genit.
"Aku juga sendirian. Boleh duduk?"
Ia mengangguk pelan. "Nama kamu siapa?"
"Nurdin," jawab pria itu sambil mengulurkan tangan. "Kamu?"
"Vhero."
Sejak pertemuan itu, hubungan mereka berkembang cepat. Mereka bertukar nomor, saling berkirim pesan tiap malam.
Awalnya hanya basa-basi, lama-lama jadi obrolan intim, lalu pertemuan demi pertemuan.
Hingga pada malam yang lain, Vheronika mengikuti ajakan Nurdin ke sebuah hotel di pusat kota.
Di kamar itu, antara kesadaran dan mabuk, mereka tenggelam dalam pelukan yang melampaui batas.
"Ah, Mas, enak banget. Terus," desahnya pelan.
Nurdin menggoyangkan pedangnya yang menancap di sarang Vheronika.
Vheronika menggeliat keenakan. "Terus, Mas!" Desahan lirih pun berubah menjadi keras dari bibir gadis berkulit sawo matang, tidak peduli terdengar orang lain.
Hingga akhirnya mereka memuntahkan lahar panas bersama.
**
Setelah itu, hubungan mereka berlanjut. Setiap minggu, Nurdin datang, membawakan bunga atau uang.
Tapi semua berhenti mendadak ketika Vheronika menyadari dirinya terlambat datang bulan.
Ia menelepon Nurdin dengan suara gemetar. "Mas, aku hamil." Suaranya lirih tapi jelas.
Di seberang, Nurdin terdiam lama. "Apa?"
"Aku terlambat dua minggu. Aku udah periksa, hasilnya positif."
Nurdin menarik napas panjang. "Kamu gak bercanda, kan?"
"Mana mungkin aku bercanda soal ginian!"
"Vher, aku udah punya istri dan anak," ucap Nurdin akhirnya, pelan tapi menghantam keras ke telinga Vheronika.
"Apa?!" Vheronika berteriak di tengah malam. "Kamu bilang kamu lajang!"
"Aku gak bisa tanggung jawab, maaf." Nurdin mengalihkan pembicaraan.
"Dasar pengecut!" teriaknya.
Tapi sambungan sudah terputus. Sejak malam itu, Nurdin menghilang, nomornya tidak bisa dihubungi, semua akun media sosialnya lenyap. Dunia seakan runtuh di depan mata Vheronika.
Ia mencari Nurdin ke diskotik tempat mereka biasa bertemu, tapi nihil. Pria itu lenyap seperti bayangan.
Beberapa minggu kemudian, saat kandungannya berusia dua bulan, Vheronika membuka aplikasi hitam itu lagi. Di situlah ia bertemu dengan Rino, cowok polos yang masih menjadi hubungan dengan pacarnya, Arema.
Namun Vheronika belum mengetahui hal itu.
Gadis itu tersenyum tipis mengingatnya. "Rino gampang banget dibodohin."
Malam pertama mereka kenal, Vheronika langsung tahu bagaimana cara memainkan perasaannya. Dengan sedikit rayuan, sedikit cerita sedih, Rino luluh.
"Mas, aku kesepian. Aku pengin dipeluk," begitu katanya waktu itu.
Dan benar saja, Rino datang menjemputnya malam itu juga. Mereka bertemu, ngobrol, lalu berlanjut ke hotel. Semua berjalan sesuai rencana Vheronika.
Keesokan harinya, Rino duduk di kursi kayu ruang tamu. Wajahnya lelah, matanya sembab karena kurang tidur.
Ia belum tahu harus bersikap bagaimana pada Vheronika. Dalam hati, ia yakin gadis itu tidak sepenuhnya jujur. Tapi mulutnya berat untuk menuduh.
Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Vheronika masuk dengan langkah ringan, senyum manis terlukis di wajahnya.
"Mas," sapanya ceria.
Rino terkejut, hampir menjatuhkan gelas air yang dipegangnya. "Kamu ngagetin aja, Vher. Gak ketuk pintu dulu."
"Ah, kan udah biasa,$ jawab Vheronika santai. "Lagian gak ada siapa-siapa juga di rumah ini, kan?"
"Ada apa?" tanya Rino datar.
Vheronika mengulurkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke arah Rino.
"Mas, ini buat pegangan kamu."
Rino menatap uang itu, matanya langsung berbinar. Ia memang sedang butuh uang.
Tapi gengsinya membuatnya berpura-pura menolak.
"Kamu ngapain sih repot-repot begini?" katanya dengan suara dibuat rendah.
"Udah ambil aja, Mas. Aku ikhlas kok."
Rino menelan ludah. Uang itu lumayan banyak, mungkin sejuta lebih. Ia akhirnya mengambilnya juga.
"Wah, lumayan juga," batinnya. "Dari pada Arema, gak pernah kasih apa-apa."
Ia menyelipkan uang itu ke saku celananya. "Makasih ya, Vher."
Vheronika tersenyum menggoda. Ia lalu berjalan mendekat dan duduk di pangkuan Rino.
"Mas," bisiknya lembut, "aku sayang kamu."
Rino kaget, tubuhnya menegang seketika. "Vher, jangan gitu. Nanti ada yang lihat."
"Siapa yang mau lihat? Ibunya Mas aja belum pulang. Santai aja," ujarnya sambil melingkarkan lengannya di leher Rino.
Aroma parfum Vheronika menyeruak, membuat pikiran Rino berantakan.
Di satu sisi, ia marah karena merasa dimanfaatkan, tapi di sisi lain, godaan di hadapannya terlalu sulit ditolak.
"Mas ...." suara Vheronika semakin lembut, "kita kan mau nikah. Gak apa-apa kan kalau aku manja sama calon suamiku?"
Rino menatapnya dalam diam. Ia tidak tahu lagi mana yang benar, mana yang salah. Semua logika seolah lenyap ketika tatapan mata mereka bertemu.
Namun di dalam hatinya, ada rasa bersalah yang menusuk. Ia teringat Arema, wajah polosnya, tangisnya ketika tahu Rino selingkuh.
Rino menutup matanya sejenak. "Aku udah rusak,” batinnya.
Vheronika mencium pipinya pelan. "Udah, jangan mikirin yang lain. Sekarang cuma aku yang di sini buat kamu."
Seketika, Rino merasa seperti terperangkap. Semua yang ia lakukan terasa salah, tapi entah kenapa, ia terus melangkah lebih dalam ke arah yang sama.
Vheronika mendekatkan bibir ranumnya ke bibir Rino. Rino menelan ludah, mereka pun saling melumat bibir.