Ibunda Rino Marah Besar

30 December 2025

Setelah pergulatan hebat, kedua insan itu terkulai lemas tak berdaya di ruang tamu, tanpa sempat mengenakan pakaian mereka.

Langit sore menampakkan rona jingga keemasan. Sinar mentari yang menembus jendela ruang tamu membuat debu-debu kecil di udara terlihat berkilau.

Di ruangan itu, dua sosok manusia tertidur pulas di atas sofa panjang yang sempit. Rino bersandar di sandaran kursi, sementara kepala Vheronika bertumpu di bahunya. Di lantai, masih berserakan baju mereka berdua.

Rino terlelap dengan napas berat, wajahnya tampak lelah. Sementara Vheronika tidur dalam posisi setengah meringkuk, bibirnya sedikit terbuka, napasnya tenang.

Entah sejak kapan mereka tertidur, tapi keheningan rumah itu membuat waktu seolah berhenti.

Hingga akhirnya terdengar suara langkah kaki di teras. Kunci berputar di pintu depan. Suara khas itu disusul oleh derit engsel.

Klik ....

Pintu terbuka, dan muncullah sosok perempuan paruh baya dengan kerudung lusuh dan tas besar di tangan.

Wajahnya terlihat letih setelah seharian mencuci di rumah orang. Itulah Bu Ida, ibu Rino.

Saat matanya tertuju ke ruang tamu, langkahnya langsung terhenti, wanita paruh baya itu hampir saja pingsan.

"Ya ampun, kalian ini apa-apaan?!” serunya kaget, setengah berteriak.

Rino dan Vheronika tersentak bangun bersamaan.

"Aduh," pekik Rino, langsung duduk tegak. Ia mengucek mata, masih separuh sadar.

Setelah sadar sepenuhnya, Rino cepat-cepat mengenakan pakaiannya.

Begitupun dengan Vheronika, ia buru-buru menegakkan tubuhnya setelah mengenakan bajunya. Rambutnya berantakan, lipstiknya sedikit luntur.

Ia menatap Bu Ida dengan wajah gugup. "Eh, aku ketiduran, Bu," katanya tergagap.

Rino menimpali, "Aku juga, Bu. Sumpah, tadi cuma ngobrol, terus ketiduran."

Bu Ida memandangi keduanya dengan mata membulat. Tangannya bergetar menahan emosi.

"Ngobrol?" suaranya meninggi. "Kalian berbuat mesum di sini sampai ketiduran bareng begitu? Kamu pikir, ini perbuatan terpuji? Kalau tetangga sampai tahu, apa kata mereka?"

Rino menunduk, tak berani menatap ibunya. Ia tahu benar betapa ketatnya Bu Ida dalam urusan sopan santun dan kehormatan.

"Bu, maaf, aku bener-bener khilaf." Rino mencoba menenangkan.

Tapi Bu Ida sudah kehilangan kesabaran. "Rino, kamu itu laki-laki! Masa gak bisa jaga diri? Dan kamu, Neng," katanya tajam pada Vheronika, "berbuat mesum di rumah orang seenaknya. Nggak punya malu apa?"

Vheronika hanya tersenyum tipis. Alih-alih merasa bersalah, ia malah menatap Bu Ida dengan tenang, bahkan sedikit menantang. "Maaf, Bu. Saya gak bermaksud bikin salah. Saya cuma ke sini mau ngobrol sama Rino, tapi malah kebablasan."

Nada bicaranya terdengar enteng, bahkan disertai tawa kecil di ujung kalimat.

Bu Ida makin berang. "Ya Allah, anak ini! Bukannya minta maaf beneran, malah nyengir-nyengir begitu!"

Vheronika berdiri, merapikan pakaiannya. Ia tersenyum manis, tapi jelas senyum itu tidak tulus.

"Aku pulang dulu, Bu. Hehe," ucapnya singkat, lalu bergegas keluar tanpa menunggu respon Bu Ida.

Bu Ida mendengus keras, kedua tangannya bersedekap di dada. "Hem, anak gak ada adabnya," gumamnya kesal sambil menatap pintu yang baru saja tertutup.

Ia menoleh ke arah Rino yang masih berdiri kaku di tempatnya. Wajah anak laki-lakinya itu memancarkan rasa bersalah, tapi juga kebingungan.

"Ibu minta satu hal, Rin." Suara Bu Ida mulai melembut, tapi tatapannya tetap tajam. "Kamu jauhin dia. Sekarang juga. Ibu nggak suka perempuan kayak gitu."

Rino terdiam. Ia menghela napas panjang. "Bu, Vhero itu cuma salah paham aja. Dia orangnya emang agak blak-blakan, tapi gak seburuk itu kok."

Bu Ida mendengus pelan. "Kamu masih saja bela dia. Rin, denger ya, Ibu udah hidup lama di dunia ini. Ibu bisa bedain mana perempuan baik-baik. Ibu nggak suka caranya. Dari awal Ibu lihat, ibu sudah nggak suka."

Rino menunduk dalam. Kata-kata ibunya menancap seperti paku. Ia tahu Bu Ida jarang salah menilai orang, tapi hatinya terlanjur compang-camping.

"Ibu malah lebih suka sama Arema," lanjut Bu Ida lirih. "Anak itu sopan, alim, dan nggak neko-neko. Ibu yakin dia pantas buat kamu."

Nama Arema membuat dada Rino terasa nyeri. Wajah gadis itu kembali terlintas di benaknya, senyumnya, caranya bicara lembut, bahkan tatapan kecewa terakhir kali mereka bertemu.

"Rema," bisiknya lirih.

"Ya, Rema," kata Bu Ida pelan, mendekat dan menepuk bahu Rino.

"Dia perempuan yang bisa bikin hidup kamu tenang, bukan ribet kayak si Vhero itu. Kamu pikir sendiri deh, Rin. Kalau dari awal saja udah bikin masalah, gimana nanti kalau kamu beneran nikah sama dia?"

Rino diam membisu. Di satu sisi, hatinya masih merasa terikat dengan Vheronika, mungkin bukan cinta, tapi rasa tanggung jawab yang dipaksakan.

Di sisi lain, suara ibunya terdengar seperti suara hati nuraninya sendiri.

"Aku bingung, Bu, kan aku udah bilang kalo Vhero hamil anakku.”

Bu Ida menatap anaknya dengan tajam. "Rin, Ibu ini sudah capek kerja banting tulang, harapannya cuma satu, kamu jadi orang baik. Tapi kenapa malah begini? Lagian ibu nggak yakin kalau dia hamil anak kamu."

Air mata menetes di pipi wanita itu. Ia menutup wajahnya dengan tangan, bahunya bergetar.

"Bu." Rino mendekat, berusaha menenangkan.

"Jangan sentuh Ibu dulu," katanya dengan suara parau.

"Ibu nggak marah karena kamu jatuh cinta, tapi karena kamu salah pilih. Perempuan itu, Rin, Ibu bisa lihat, dia bukan tipe yang bisa diajak hidup sederhana. Dia bakal nyusahin kamu suatu saat nanti."

"Ibu ...."

"Kalau emang dia hamil, biar Ibu yang bantu carikan jalan keluarnya. Tapi jangan langsung nikah. Jangan mau dipaksa tanggung jawab kalau belum pasti itu anak kamu."

Setelah berkata demikian, Bu Ida segera berlalu.

Rino menatap ibunya dalam diam. Kata-kata itu menamparnya keras.

Ia ingin percaya pada Vheronika, tapi hatinya ragu. Ia juga ingin memperbaiki segalanya, tapi entah harus mulai dari mana.

"Apa bener ya anak Vhero itu hasil hubungan murni sama aku?" batinnya.

Sore itu terasa panjang. Matahari perlahan turun, meninggalkan semburat merah di langit barat. Bu Ida duduk di kursi rotan, wajahnya masih sendu. Sementara Rino memilih berdiri di luar rumah, memandangi jalan sepi di depan sana.

Ia menatap langit, lalu bergumam lirih, "Rema, apa kamu masih inget aku?"

Dalam hati, ia tahu, semua ini berawal dari satu kesalahan besar. Dan semakin ia mencoba memperbaikinya, semakin dalam ia terperangkap.

Di dalam kamar, Bu Ida menangis terisak. Ia meratapi nasibnya.

Rino, anak semata wayangnya yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang, tidak menyangka kalau tumbuh besar selalu membuat ibunya menangis.

Rino mogok sekolah ketika di bangku SMP kelas dua. Ia sudah malas melanjutkan. Tiap harinya ia habiskan untuk bergaul dengan anak-anak jalanan.Setelah pergulatan hebat, kedua insan itu terkulai lemas tak berdaya di ruang tamu, tanpa sempat mengenakan pakaian mereka.

Langit sore menampakkan rona jingga keemasan. Sinar mentari yang menembus jendela ruang tamu membuat debu-debu kecil di udara terlihat berkilau.

Di ruangan itu, dua sosok manusia tertidur pulas di atas sofa panjang yang sempit. Rino bersandar di sandaran kursi, sementara kepala Vheronika bertumpu di bahunya. Di lantai, masih berserakan baju mereka berdua.

Rino terlelap dengan napas berat, wajahnya tampak lelah. Sementara Vheronika tidur dalam posisi setengah meringkuk, bibirnya sedikit terbuka, napasnya tenang.

Entah sejak kapan mereka tertidur, tapi keheningan rumah itu membuat waktu seolah berhenti.

Hingga akhirnya terdengar suara langkah kaki di teras. Kunci berputar di pintu depan. Suara khas itu disusul oleh derit engsel.

Klik ....

Pintu terbuka, dan muncullah sosok perempuan paruh baya dengan kerudung lusuh dan tas besar di tangan.

Wajahnya terlihat letih setelah seharian mencuci di rumah orang. Itulah Bu Ida, ibu Rino.

Saat matanya tertuju ke ruang tamu, langkahnya langsung terhenti, wanita paruh baya itu hampir saja pingsan.

"Ya ampun, kalian ini apa-apaan?!” serunya kaget, setengah berteriak.

Rino dan Vheronika tersentak bangun bersamaan.

"Aduh," pekik Rino, langsung duduk tegak. Ia mengucek mata, masih separuh sadar.

Setelah sadar sepenuhnya, Rino cepat-cepat mengenakan pakaiannya.

Begitupun dengan Vheronika, ia buru-buru menegakkan tubuhnya setelah mengenakan bajunya. Rambutnya berantakan, lipstiknya sedikit luntur.

Ia menatap Bu Ida dengan wajah gugup. "Eh, aku ketiduran, Bu," katanya tergagap.

Rino menimpali, "Aku juga, Bu. Sumpah, tadi cuma ngobrol, terus ketiduran."

Bu Ida memandangi keduanya dengan mata membulat. Tangannya bergetar menahan emosi.

"Ngobrol?" suaranya meninggi. "Kalian berbuat mesum di sini sampai ketiduran bareng begitu? Kamu pikir, ini perbuatan terpuji? Kalau tetangga sampai tahu, apa kata mereka?"

Rino menunduk, tak berani menatap ibunya. Ia tahu benar betapa ketatnya Bu Ida dalam urusan sopan santun dan kehormatan.

"Bu, maaf, aku bener-bener khilaf." Rino mencoba menenangkan.

Tapi Bu Ida sudah kehilangan kesabaran. "Rino, kamu itu laki-laki! Masa gak bisa jaga diri? Dan kamu, Neng," katanya tajam pada Vheronika, "berbuat mesum di rumah orang seenaknya. Nggak punya malu apa?"

Vheronika hanya tersenyum tipis. Alih-alih merasa bersalah, ia malah menatap Bu Ida dengan tenang, bahkan sedikit menantang. "Maaf, Bu. Saya gak bermaksud bikin salah. Saya cuma ke sini mau ngobrol sama Rino, tapi malah kebablasan."

Nada bicaranya terdengar enteng, bahkan disertai tawa kecil di ujung kalimat.

Bu Ida makin berang. "Ya Allah, anak ini! Bukannya minta maaf beneran, malah nyengir-nyengir begitu!"

Vheronika berdiri, merapikan pakaiannya. Ia tersenyum manis, tapi jelas senyum itu tidak tulus.

"Aku pulang dulu, Bu. Hehe," ucapnya singkat, lalu bergegas keluar tanpa menunggu respon Bu Ida.

Bu Ida mendengus keras, kedua tangannya bersedekap di dada. "Hem, anak gak ada adabnya," gumamnya kesal sambil menatap pintu yang baru saja tertutup.

Ia menoleh ke arah Rino yang masih berdiri kaku di tempatnya. Wajah anak laki-lakinya itu memancarkan rasa bersalah, tapi juga kebingungan.

"Ibu minta satu hal, Rin." Suara Bu Ida mulai melembut, tapi tatapannya tetap tajam. "Kamu jauhin dia. Sekarang juga. Ibu nggak suka perempuan kayak gitu."

Rino terdiam. Ia menghela napas panjang. "Bu, Vhero itu cuma salah paham aja. Dia orangnya emang agak blak-blakan, tapi gak seburuk itu kok."

Bu Ida mendengus pelan. "Kamu masih saja bela dia. Rin, denger ya, Ibu udah hidup lama di dunia ini. Ibu bisa bedain mana perempuan baik-baik. Ibu nggak suka caranya. Dari awal Ibu lihat, ibu sudah nggak suka."

Rino menunduk dalam. Kata-kata ibunya menancap seperti paku. Ia tahu Bu Ida jarang salah menilai orang, tapi hatinya terlanjur compang-camping.

"Ibu malah lebih suka sama Arema," lanjut Bu Ida lirih. "Anak itu sopan, alim, dan nggak neko-neko. Ibu yakin dia pantas buat kamu."

Nama Arema membuat dada Rino terasa nyeri. Wajah gadis itu kembali terlintas di benaknya, senyumnya, caranya bicara lembut, bahkan tatapan kecewa terakhir kali mereka bertemu.

"Rema," bisiknya lirih.

"Ya, Rema," kata Bu Ida pelan, mendekat dan menepuk bahu Rino.

"Dia perempuan yang bisa bikin hidup kamu tenang, bukan ribet kayak si Vhero itu. Kamu pikir sendiri deh, Rin. Kalau dari awal saja udah bikin masalah, gimana nanti kalau kamu beneran nikah sama dia?"

Rino diam membisu. Di satu sisi, hatinya masih merasa terikat dengan Vheronika, mungkin bukan cinta, tapi rasa tanggung jawab yang dipaksakan.

Di sisi lain, suara ibunya terdengar seperti suara hati nuraninya sendiri.

"Aku bingung, Bu, kan aku udah bilang kalo Vhero hamil anakku.”

Bu Ida menatap anaknya dengan tajam. "Rin, Ibu ini sudah capek kerja banting tulang, harapannya cuma satu, kamu jadi orang baik. Tapi kenapa malah begini? Lagian ibu nggak yakin kalau dia hamil anak kamu."

Air mata menetes di pipi wanita itu. Ia menutup wajahnya dengan tangan, bahunya bergetar.

"Bu." Rino mendekat, berusaha menenangkan.

"Jangan sentuh Ibu dulu," katanya dengan suara parau.

"Ibu nggak marah karena kamu jatuh cinta, tapi karena kamu salah pilih. Perempuan itu, Rin, Ibu bisa lihat, dia bukan tipe yang bisa diajak hidup sederhana. Dia bakal nyusahin kamu suatu saat nanti."

"Ibu ...."

"Kalau emang dia hamil, biar Ibu yang bantu carikan jalan keluarnya. Tapi jangan langsung nikah. Jangan mau dipaksa tanggung jawab kalau belum pasti itu anak kamu."

Setelah berkata demikian, Bu Ida segera berlalu.

Rino menatap ibunya dalam diam. Kata-kata itu menamparnya keras.

Ia ingin percaya pada Vheronika, tapi hatinya ragu. Ia juga ingin memperbaiki segalanya, tapi entah harus mulai dari mana.

"Apa bener ya anak Vhero itu hasil hubungan murni sama aku?" batinnya.

Sore itu terasa panjang. Matahari perlahan turun, meninggalkan semburat merah di langit barat. Bu Ida duduk di kursi rotan, wajahnya masih sendu. Sementara Rino memilih berdiri di luar rumah, memandangi jalan sepi di depan sana.

Ia menatap langit, lalu bergumam lirih, "Rema, apa kamu masih inget aku?"

Dalam hati, ia tahu, semua ini berawal dari satu kesalahan besar. Dan semakin ia mencoba memperbaikinya, semakin dalam ia terperangkap.

Di dalam kamar, Bu Ida menangis terisak. Ia meratapi nasibnya.

Rino, anak semata wayangnya yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang, tidak menyangka kalau tumbuh besar selalu membuat ibunya menangis.

Rino mogok sekolah ketika di bangku SMP kelas dua. Ia sudah malas melanjutkan. Tiap harinya ia habiskan untuk bergaul dengan anak-anak jalanan.