Arema Menikmati Pekerjaan Barunya

30 December 2025

Pagi itu matahari bersinar lembut di balik tirai jendela kamar kos yang mungil.

Cahaya keemasan menyelinap masuk, menimpa wajah Arema yang sedang bersiap-siap. Tubuhnya terasa segar habis mandi.

Ia mengenakan kemeja putih polos dan celana hitam panjang, seragam sederhana yang diwajibkan oleh toko tempatnya bekerja.

Cermin kecil di pojok kamar memantulkan sosoknya yang tampak lebih segar dari hari-hari sebelumnya.

Ia mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda, merapikan sedikit bedak di pipi, dan memandang dirinya sendiri dengan senyum tipis.

"Mulai hari ini, aku harus kuat. Aku harus bisa apa-apa sendiri tanpa siapa pun, gak boleh mikirin cowok gak jelas itu," gumamnya pelan.

Ia memasukkan dompet kecil dan bekal roti ke dalam tas, lalu keluar dari kamar kos.

Suara ayam berkokok masih terdengar samar di kejauhan, dan udara pagi yang sejuk membuat langkahnya terasa ringan.

Jalan kecil di depan kos ramai oleh aktivitas orang yang berangkat kerja dan pedagang yang baru membuka lapak.

Beberapa menit kemudian, Arema tiba di toko pakaian tempatnya bekerja.

Papan bertuliskan 'Fashion Indah' terpampang jelas di depan toko berwarna krem itu. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk.

"Pagi, Mbak Rema," sapa seorang gadis berambut sebahu yang sedang menata baju di rak.

"Pagi juga," jawab Arema sambil tersenyum.

Ia mengenali wajah itu. Nita, pegawai yang kemarin membantunya berkeliling saat pertama kali wawancara kerja.

Nita mendekat, wajahnya ramah dan suaranya ceria. "Rumah kamu mana, Mbak?"

"Di desa sebelah, tapi aku kos di gang belakang pasar," jawab Arema sambil menata beberapa lipatan celana di meja display. "Lumayan deket, jalan kaki juga sampai."

"Wah enak dong. Aku di seberang jalan besar, agak jauh, jadi tiap pagi mesti naik motor," kata Nita sambil tertawa kecil.

Arema pun terkekeh ....

"Kamu kos sendiri?"

"Iya," jawab Arema singkat.

Nita menatapnya dengan pandangan iba tapi tak ingin menyinggung.

Ia menepuk bahu Arema pelan. "Semangat ya. Di sini enak kok, bosnya baik. Kalau kamu rajin, nanti dapet bonus tambahan tiap akhir bulan. Lumayan buat nabung."

Arema tersenyum tulus. "Makasih ya, Mbak Nit. Seneng deh dapet teman kerja yang ramah kayak kamu."

Hari itu berjalan lancar. Pembeli datang silih berganti.

Arema melayani mereka dengan sopan dan sabar, walau tubuhnya terasa letih karena belum terbiasa berdiri seharian.

Sesekali Nita menyemangatinya atau mengajaknya bercanda ringan.

"Eh, itu pelanggan cerewet, hati-hati ya," bisik Nita, membuat Arema hampir tertawa.

Menjelang siang, Arema berdiri di dekat kasir, memandangi keramaian pasar dari balik kaca toko.

Ada rasa tenang di hatinya, seolah kesibukan ini sedikit mengobati luka lama yang masih perih.

Namun, jauh di tempat lain, ada seseorang yang juga tengah memikirkan dirinya, seseorang yang pernah menjadi pusat dunianya.

**

Sementara di pasar tradisional yang ramai, Bu Ida berjalan pelan di antara kios sayur. Ia hendak belanja sayur.

Sebelum berangkat kerja, wanita paruh baya itu memasak untuk makan anaknya di rumah.

Ia mengenakan daster panjang dan membawa keranjang belanja di tangan.

Helaan napasnya berat setelah semalaman tak bisa tidur memikirkan perkataan Rino tentang kehamilan Vheronika.

"Bu, tempenya satu, sayur bayemnya satu ikat," katanya pada pedagang sayur.

Pedagang itu mengambilkan pesanan sambil tersenyum ramah. "Ini, Bu Ida. Bayemnya masih segar."

Saat Bu Ida hendak membayar, terdengar suara dari samping. "Lho, Bu Ida?"

Ia menoleh. Di hadapannya berdiri seorang wanita berkerudung motif bunga, membawa tas belanja besar.

Wajahnya tersenyum ramah, namun matanya menyimpan rasa ingin tahu yang tajam.

"Eh, Bu Rosi," sapa Bu Ida, agak terkejut. "Belanja juga ya?"

"Iya, Bu. Namanya juga emak-emak, tiap pagi pasti ke pasar,” jawab Bu Rosi sambil tertawa kecil.

Namun kemudian nada suaranya berubah pelan tapi menusuk. "Eh Bu, saya mau tanya, anak ibu, si Rino, itu lagi deket sama perempuan nggak bener, ya?"

Bu Ida mengernyitkan dahi. "Maksudnya, gimana Bu?"

Bu Rosi menunduk sedikit, pura-pura berbisik tapi suaranya cukup keras untuk didengar pedagang di dekat situ. "Saya lihat kemarin lusa, Rino luntang-lantung sama perempuan desa sebelah. Dandanannya menor banget, bajunya juga aduh, terbuka semua. Bukan tipe perempuan baik-baik, Bu."

Wajah Bu Ida berubah tegang. "Perempuan desa sebelah? Siapa maksud Ibu?" Bu Ida pura-pura tidak paham.

"Katanya sih namanya Vhero," lanjut Bu Rosi cepat.

"Saya juga denger dari tetangga sana. Katanya anak itu suka keluar malam, kadang baru pulang pagi. Cowoknya ganti-ganti, Bu. Juga sering ke diskotik, minum-minum sampe mabuk."

Suasana pasar yang semula riuh mendadak terasa hening di telinga Bu Ida. Ia menatap Bu Rosi dengan wajah kaget bercampur tidak percaya.

"Ya Tuhan," ucapnya lirih.

Bu Rosi melanjutkan, suaranya penuh nada prihatin yang dibuat-buat. "Saya cuma kasihan aja, Bu. Anak ibu itu kan baik, sopan. Jangan sampe rusak gara-gara perempuan begitu. Dengar-dengar, dia sekarang nganggur ya? Kalau punya cewek bisa disepelekan."

Bu Ida menelan ludah. "I-iya, makasih ya Bu Rosi, udah ngasih tahu."

Bu Rosi mengangguk puas. "Iya Bu, saya duluan, ya, mau beli ayam di sana."

"Silakan, Bu," jawab Bu Ida pelan.

Setelah wanita itu pergi, Bu Ida berdiri lama di depan lapak sayur, menatap kosong. Pikirannya berputar cepat.

Setiap kata Bu Rosi terngiang-ngiang di kepalanya, mencabik rasa tenang yang baru saja ia temukan.

"Jangan-jangan benar dugaanku," gumamnya pelan. Ia memejamkan mata, mencoba menolak pikiran buruk yang mulai muncul.

Namun bayangan wajah Vheronika muncul begitu jelas dalam benaknya, tatapan tajam, senyum menantang, cara duduknya yang tidak sopan. Semua itu kini terasa masuk akal bagi Bu Ida.

"Ya Allah, lindungi anakku dari perempuan yang salah," doanya lirih, hampir tak terdengar di tengah hiruk pikuk pasar.

Ia berjalan pulang dengan langkah gontai, keranjang belanja bergoyang lemah di tangannya. Setiap langkah terasa berat karena pikirannya dipenuhi kecemasan.

Bagaimana kalau semua yang dikatakan Bu Rosi benar? Bagaimana kalau Rino benar-benar sudah terjerumus terlalu jauh?

Sampai di rumah, Bu Ida langsung menaruh belanjaannya di dapur dan duduk di kursi rotan tua. Pandangannya kosong ke arah dinding. Ia merasa seperti kehilangan arah.

"Aku harus gimana?" bisiknya.

Dalam hati kecilnya, ia tidak akan diam. Ia akan bicara lagi dengan Rino malam ini. Ia harus memastikan semuanya sebelum semuanya terlambat.

Sementara itu, di toko pakaian kecil di pinggir kota, Arema menutup buku penjualan dan menatap senja yang mulai turun.

Ia tersenyum kecil, hari ini berjalan lancar. Tapi entah mengapa, hatinya tiba-tiba terasa dingin, seperti ada sesuatu yang akan terjadi.Pagi itu matahari bersinar lembut di balik tirai jendela kamar kos yang mungil.

Cahaya keemasan menyelinap masuk, menimpa wajah Arema yang sedang bersiap-siap. Tubuhnya terasa segar habis mandi.

Ia mengenakan kemeja putih polos dan celana hitam panjang, seragam sederhana yang diwajibkan oleh toko tempatnya bekerja.

Cermin kecil di pojok kamar memantulkan sosoknya yang tampak lebih segar dari hari-hari sebelumnya.

Ia mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda, merapikan sedikit bedak di pipi, dan memandang dirinya sendiri dengan senyum tipis.

"Mulai hari ini, aku harus kuat. Aku harus bisa apa-apa sendiri tanpa siapa pun, gak boleh mikirin cowok gak jelas itu," gumamnya pelan.

Ia memasukkan dompet kecil dan bekal roti ke dalam tas, lalu keluar dari kamar kos.

Suara ayam berkokok masih terdengar samar di kejauhan, dan udara pagi yang sejuk membuat langkahnya terasa ringan.

Jalan kecil di depan kos ramai oleh aktivitas orang yang berangkat kerja dan pedagang yang baru membuka lapak.

Beberapa menit kemudian, Arema tiba di toko pakaian tempatnya bekerja.

Papan bertuliskan 'Fashion Indah' terpampang jelas di depan toko berwarna krem itu. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk.

"Pagi, Mbak Rema," sapa seorang gadis berambut sebahu yang sedang menata baju di rak.

"Pagi juga," jawab Arema sambil tersenyum.

Ia mengenali wajah itu. Nita, pegawai yang kemarin membantunya berkeliling saat pertama kali wawancara kerja.

Nita mendekat, wajahnya ramah dan suaranya ceria. "Rumah kamu mana, Mbak?"

"Di desa sebelah, tapi aku kos di gang belakang pasar," jawab Arema sambil menata beberapa lipatan celana di meja display. "Lumayan deket, jalan kaki juga sampai."

"Wah enak dong. Aku di seberang jalan besar, agak jauh, jadi tiap pagi mesti naik motor," kata Nita sambil tertawa kecil.

Arema pun terkekeh ....

"Kamu kos sendiri?"

"Iya," jawab Arema singkat.

Nita menatapnya dengan pandangan iba tapi tak ingin menyinggung.

Ia menepuk bahu Arema pelan. "Semangat ya. Di sini enak kok, bosnya baik. Kalau kamu rajin, nanti dapet bonus tambahan tiap akhir bulan. Lumayan buat nabung."

Arema tersenyum tulus. "Makasih ya, Mbak Nit. Seneng deh dapet teman kerja yang ramah kayak kamu."

Hari itu berjalan lancar. Pembeli datang silih berganti.

Arema melayani mereka dengan sopan dan sabar, walau tubuhnya terasa letih karena belum terbiasa berdiri seharian.

Sesekali Nita menyemangatinya atau mengajaknya bercanda ringan.

"Eh, itu pelanggan cerewet, hati-hati ya," bisik Nita, membuat Arema hampir tertawa.

Menjelang siang, Arema berdiri di dekat kasir, memandangi keramaian pasar dari balik kaca toko.

Ada rasa tenang di hatinya, seolah kesibukan ini sedikit mengobati luka lama yang masih perih.

Namun, jauh di tempat lain, ada seseorang yang juga tengah memikirkan dirinya, seseorang yang pernah menjadi pusat dunianya.

**

Sementara di pasar tradisional yang ramai, Bu Ida berjalan pelan di antara kios sayur. Ia hendak belanja sayur.

Sebelum berangkat kerja, wanita paruh baya itu memasak untuk makan anaknya di rumah.

Ia mengenakan daster panjang dan membawa keranjang belanja di tangan.

Helaan napasnya berat setelah semalaman tak bisa tidur memikirkan perkataan Rino tentang kehamilan Vheronika.

"Bu, tempenya satu, sayur bayemnya satu ikat," katanya pada pedagang sayur.

Pedagang itu mengambilkan pesanan sambil tersenyum ramah. "Ini, Bu Ida. Bayemnya masih segar."

Saat Bu Ida hendak membayar, terdengar suara dari samping. "Lho, Bu Ida?"

Ia menoleh. Di hadapannya berdiri seorang wanita berkerudung motif bunga, membawa tas belanja besar.

Wajahnya tersenyum ramah, namun matanya menyimpan rasa ingin tahu yang tajam.

"Eh, Bu Rosi," sapa Bu Ida, agak terkejut. "Belanja juga ya?"

"Iya, Bu. Namanya juga emak-emak, tiap pagi pasti ke pasar,” jawab Bu Rosi sambil tertawa kecil.

Namun kemudian nada suaranya berubah pelan tapi menusuk. "Eh Bu, saya mau tanya, anak ibu, si Rino, itu lagi deket sama perempuan nggak bener, ya?"

Bu Ida mengernyitkan dahi. "Maksudnya, gimana Bu?"

Bu Rosi menunduk sedikit, pura-pura berbisik tapi suaranya cukup keras untuk didengar pedagang di dekat situ. "Saya lihat kemarin lusa, Rino luntang-lantung sama perempuan desa sebelah. Dandanannya menor banget, bajunya juga aduh, terbuka semua. Bukan tipe perempuan baik-baik, Bu."

Wajah Bu Ida berubah tegang. "Perempuan desa sebelah? Siapa maksud Ibu?" Bu Ida pura-pura tidak paham.

"Katanya sih namanya Vhero," lanjut Bu Rosi cepat.

"Saya juga denger dari tetangga sana. Katanya anak itu suka keluar malam, kadang baru pulang pagi. Cowoknya ganti-ganti, Bu. Juga sering ke diskotik, minum-minum sampe mabuk."

Suasana pasar yang semula riuh mendadak terasa hening di telinga Bu Ida. Ia menatap Bu Rosi dengan wajah kaget bercampur tidak percaya.

"Ya Tuhan," ucapnya lirih.

Bu Rosi melanjutkan, suaranya penuh nada prihatin yang dibuat-buat. "Saya cuma kasihan aja, Bu. Anak ibu itu kan baik, sopan. Jangan sampe rusak gara-gara perempuan begitu. Dengar-dengar, dia sekarang nganggur ya? Kalau punya cewek bisa disepelekan."

Bu Ida menelan ludah. "I-iya, makasih ya Bu Rosi, udah ngasih tahu."

Bu Rosi mengangguk puas. "Iya Bu, saya duluan, ya, mau beli ayam di sana."

"Silakan, Bu," jawab Bu Ida pelan.

Setelah wanita itu pergi, Bu Ida berdiri lama di depan lapak sayur, menatap kosong. Pikirannya berputar cepat.

Setiap kata Bu Rosi terngiang-ngiang di kepalanya, mencabik rasa tenang yang baru saja ia temukan.

"Jangan-jangan benar dugaanku," gumamnya pelan. Ia memejamkan mata, mencoba menolak pikiran buruk yang mulai muncul.

Namun bayangan wajah Vheronika muncul begitu jelas dalam benaknya, tatapan tajam, senyum menantang, cara duduknya yang tidak sopan. Semua itu kini terasa masuk akal bagi Bu Ida.

"Ya Allah, lindungi anakku dari perempuan yang salah," doanya lirih, hampir tak terdengar di tengah hiruk pikuk pasar.

Ia berjalan pulang dengan langkah gontai, keranjang belanja bergoyang lemah di tangannya. Setiap langkah terasa berat karena pikirannya dipenuhi kecemasan.

Bagaimana kalau semua yang dikatakan Bu Rosi benar? Bagaimana kalau Rino benar-benar sudah terjerumus terlalu jauh?

Sampai di rumah, Bu Ida langsung menaruh belanjaannya di dapur dan duduk di kursi rotan tua. Pandangannya kosong ke arah dinding. Ia merasa seperti kehilangan arah.

"Aku harus gimana?" bisiknya.

Dalam hati kecilnya, ia tidak akan diam. Ia akan bicara lagi dengan Rino malam ini. Ia harus memastikan semuanya sebelum semuanya terlambat.

Sementara itu, di toko pakaian kecil di pinggir kota, Arema menutup buku penjualan dan menatap senja yang mulai turun.

Ia tersenyum kecil, hari ini berjalan lancar. Tapi entah mengapa, hatinya tiba-tiba terasa dingin, seperti ada sesuatu yang akan terjadi.