Kembali Bertemu Rino

30 December 2025

Sore itu, matahari perlahan tenggelam di balik deretan bangunan pasar.

Langit memerah, pertanda malam sebentar lagi datang. Arema berjalan pelan di trotoar sempit, menenteng tas kecil.

Tubuhnya terasa letih, tapi hatinya sedikit lega karena mulai bisa mandiri tanpa bergantung pada siapa pun.

Ia tersenyum kecil saat melihat beberapa anak kecil bermain kejar-kejaran di pinggir jalan. "Mereka bahagia banget ya, gak perlu mikirin hidup serumit ini," gumamnya lirih.

Langkahnya terus beriring dengan suara sandal yang menyeret pelan di aspal.

Ia melewati warung gorengan langganannya, membeli dua potong tahu isi dan segelas es teh. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan menuju kos.

Namun tanpa ia sadari, seseorang sedang memperhatikannya dari kejauhan.

Rino. Pria itu duduk di atas motor bututnya di pinggir jalan, matanya tak lepas dari sosok Arema yang tampak begitu sederhana namun tetap anggun di matanya.

"Lho, Rema ngapain di sini? Kemarin juga aku ketemu dia di sini," gumamnya heran.

Ia menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam, seakan mencoba menenangkan perasaan yang campur aduk di dadanya. "Apa dia kerja di sini sekarang?" lanjutnya, menatap ke arah Arema yang mulai berbelok ke gang kecil.

Rasa penasaran mengalahkan logikanya. Rino pun mengikuti Arema dari jauh, menjaga jarak agar tidak ketahuan.

Ia memperhatikan setiap langkahnya hingga akhirnya tahu di mana Arema tinggal.

Sebuah rumah kos sederhana di belakang warung makan, dengan tembok yang mulai kusam dan halaman sempit dipenuhi jemuran.

"Dia kos di sini rupanya," gumam Rino pelan. "Berarti dia benar-benar ninggalin rumah, ninggalin semuanya, termasuk aku."

Ada sesal yang mulai menyelinap di hatinya. Wajah Arema terbayang, wajah yang dulu selalu menunggunya pulang, membuatkan makan, bahkan rela menahan lapar demi dirinya.

Semua itu kini terasa jauh dan dingin. Ia menatap pintu kamar kos yang perlahan ditutup Arema.

Tanpa berpikir panjang, Rino turun dari motornya dan menghampiri. Begitu pintu hampir tertutup, tangannya cepat menahan gagang pintu.

"Rema!" seru Rino cepat.

Arema tersentak kaget. "Rino?!" serunya dengan mata melebar. "Kamu ngapain di sini? Jangan bilang kalo kamu mata-matain aku?"

Rino mengangkat kedua tangannya, mencoba menenangkan. "Enggak, aku cuma pengen bicara sebentar. Tolong, aku butuh penjelasan."

"Gak ada yang perlu dijelasin, Rin. Udah cukup." Arema hendak menutup pintu, tapi Rino menahannya lagi.

"Rema, tolong. Aku janji cuma sebentar aja."

Arema mendengus kesal. "Ini kos cewek, cowok gak boleh masuk. Kalau ketahuan, aku bisa diusir."

Namun Rino, seperti biasanya, keras kepala. Ia menatap sekeliling memastikan tak ada orang, lalu dengan cepat menyelonong masuk sebelum Arema sempat mencegah.

Ia duduk di pinggir kasur yang rapi dengan sprei bermotif bunga biru.

"Rino! Kamu tuh gimana sih, gak ngerti aturan?" gerutu Arema, meletakkan tasnya di meja kecil.

Rino tidak menjawab. Pandangannya tertuju pada wajah Arema yang tampak lebih pucat, tapi tetap memancarkan keteguhan yang ia rindukan.

"Kamu dari mana? Kok sendiri aja? Mana pacar baru kamu?" sindir Arema, mencoba menutupi kegugupan.

Rino mendengus. "Udah deh jangan mulai lagi."

Arema pun terdiam ....

"Rema, aku beneran pengen ngomong baik-baik. Aku bingung sekarang," ucap Rino akhirnya, nada suaranya melemah.

"Bingung? Tentang apa lagi? Tentang cewek yang kamu hamilin itu?" Arema menatapnya tajam, tapi dalam tatapan itu ada sisa luka yang belum kering.

Rino menunduk, mengusap tengkuknya gelisah. "Aku curiga, kayaknya Vhero itu gak hamil anakku."

Arema terdiam sesaat, lalu mengerutkan kening. "Maksud kamu?"

Rino menghela napas panjang. "Aku baru sadar. Waktu aku gituan sama dia, aku ngerasa aneh. Kayakmya dia udah gak perawan lagi. Terus aku mikir, masa iya baru kenal dua minggu udah bisa hamil? Rasanya gak masuk akal."

Arema menatap Rino tanpa ekspresi, lalu mengalihkan pandangannya ke lantai. "Kalo gitu, kenapa gak kamu buktiin aja? Periksa ke dokter bareng dia."

"Aku udah ajak, tapi dia selalu ngeles. Sekarang malah maksa aku nikah. Aku bingung, Rema. Aku ngerasa dijebak," bohong Rino.

Arema menghela napas panjang. "Itu urusan kamu, Rin. Aku udah gak mau ikut campur lagi. Aku capek, ngerti gak? Dulu kamu ninggalin aku tanpa mikir perasaanku, sekarang kamu datang lagi buat curhat soal cewek lain."

"Tapi aku masih sayang kamu," ucap Rino lirih.

Arema terdiam. Kata-kata itu bagai pisau yang menusuk perlahan. Ia ingin marah, tapi hatinya bergetar mendengarnya. "Udahlah, Rin. Kata sayang dari kamu udah gak ada artinya lagi."

Rino menatap dalam. "Aku serius, Rema. Aku gak bisa berhenti mikirin kamu. Tiap malam aku kebayang muka kamu, suara kamu, juga caramu marah pun aku kangenin."

Arema memalingkan wajah, menahan air mata yang mulai menggenang. "Jangan buat aku bimbang lagi. Aku udah berusaha buat ngelupain semuanya. Aku pengen hidup tenang."

"Tapi aku gak tenang kalau gak ngomong ini,” desak Rino.

"Aku salah, aku tau. Tapi aku juga korban, Rema. Aku dijebak, aku beneran gak nyangka dia hamil. Aku belum siap nikah."

Arema diam mendengarkan ucapan Rino ....

"Kalo aja aku punya uang, pasti aku beli obat penggugur kandungan," lanjut Rino.

Arema menatapnya lama. Di dalam hati, perasaan campur aduk antara benci, kasihan, dan cinta yang belum padam. Ia tahu Rino salah besar, tapi bagian kecil di hatinya masih ingin menolongnya.

"Besok kalau aku gajian, aku kasih kamu uang," katanya pelan.

Rino mendongak, matanya berbinar. "Serius, Rema?"

"Cuma buat beli obat yang kamu bilang itu. Tapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Abis itu kamu tinggalin Vhero."

Rino menunduk. "Iya, aku janji."

Namun di balik kata-katanya, ada senyum tipis yang tak sempat Arema lihat.

Rino tahu betul, selama masih bisa memanfaatkan perasaan Arema, ia tak akan melepaskannya.

Arema terdiam lama, menatap ke arah jendela kecil yang menghadap langit senja. "Sejuta, gajiku cuma sejuta delapan ratus. Bayar kos dua ratus. Kalau aku kasih sejuta buat Rino, sisa enam ratus. Tapi gak papa, aku masih punya simpenan dikit," batinnya.

Rino menatapnya penuh harap. "Rema, makasih ya. Kamu selalu baik."

Arema memejamkan mata sebentar, menahan getaran di dadanya. Ia benci dirinya sendiri karena masih peduli.

Tapi entah kenapa, tiap kali menatap wajah Rino, semua logika terasa runtuh.

Hening menyelimuti kamar kos kecil itu. Hanya suara kipas angin berputar pelan, menambah keheningan yang canggung.

"Udah sore. Kamu pulang sana," ucap Arema akhirnya.

Namun tiba-tiba Rino menyosor bibir Arema, kemudian melumatnya pelan.

Arema, yang masih memiliki rasa itu, pun kaget tapi menikmatinya. Ia diam dan pasrah.

Rino terus melumat bibir Arema, perlahan tangannya turun dan meremas dua buah kenyal.

"Mhhh ...." Arema mendesah lirih.

Kemudian Rino menghentikan aktifitasnya, ia memutar tubuh Arema hingga membelakangi dirinya.

Rino mengecupi leher jenjang milik Arema. Sembari kedua tangannya meremas kedua buah kenyal Arema.

Arema memejamkan mata, tubuhnya menggelinjang keenakan. "Rin," lirihnya.

Rino hanya diam, dan tangan satunya perlahan turun menyelinap ke dalam celana Arema. Ia meremas area sensitif di sana.

Arema terus menggeliat, merasakan sensasi nikmat yang diciptakan Rino. Memainkan klitoris Arema, memutarnya sedikit ditekan.

Kemudian Rino menanggalkan seluruh pakaian yang melekat pada tubuh Arema.

"Rin, kamu gila," bisik Arema.

"Ssstt ... nikmati aja," balas Rino pelan.

Rino menidurkan tubuh Arema di atas kasur, kemudian pria itu mengangkat kedua kaki Arema dan meletakkan di atas punggungnya.

Rino menghisap klitoris Arema, membuat Arema mendasah lirih, gadis itu menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya.

Rino terus menghisap mainannya, pinggul Arema bergoyang naik turun sambil menjepitkan kedua pahanya ke kepala Rino.

"Rin, udah, aku gak tahan mau keluar," bisik Arema lagi.

"Keluarin, Vher," lirih Rino.

Arema membeku seketika, ia pun terduduk. "Vher?"Sore itu, matahari perlahan tenggelam di balik deretan bangunan pasar.

Langit memerah, pertanda malam sebentar lagi datang. Arema berjalan pelan di trotoar sempit, menenteng tas kecil.

Tubuhnya terasa letih, tapi hatinya sedikit lega karena mulai bisa mandiri tanpa bergantung pada siapa pun.

Ia tersenyum kecil saat melihat beberapa anak kecil bermain kejar-kejaran di pinggir jalan. "Mereka bahagia banget ya, gak perlu mikirin hidup serumit ini," gumamnya lirih.

Langkahnya terus beriring dengan suara sandal yang menyeret pelan di aspal.

Ia melewati warung gorengan langganannya, membeli dua potong tahu isi dan segelas es teh. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan menuju kos.

Namun tanpa ia sadari, seseorang sedang memperhatikannya dari kejauhan.

Rino. Pria itu duduk di atas motor bututnya di pinggir jalan, matanya tak lepas dari sosok Arema yang tampak begitu sederhana namun tetap anggun di matanya.

"Lho, Rema ngapain di sini? Kemarin juga aku ketemu dia di sini," gumamnya heran.

Ia menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam, seakan mencoba menenangkan perasaan yang campur aduk di dadanya. "Apa dia kerja di sini sekarang?" lanjutnya, menatap ke arah Arema yang mulai berbelok ke gang kecil.

Rasa penasaran mengalahkan logikanya. Rino pun mengikuti Arema dari jauh, menjaga jarak agar tidak ketahuan.

Ia memperhatikan setiap langkahnya hingga akhirnya tahu di mana Arema tinggal.

Sebuah rumah kos sederhana di belakang warung makan, dengan tembok yang mulai kusam dan halaman sempit dipenuhi jemuran.

"Dia kos di sini rupanya," gumam Rino pelan. "Berarti dia benar-benar ninggalin rumah, ninggalin semuanya, termasuk aku."

Ada sesal yang mulai menyelinap di hatinya. Wajah Arema terbayang, wajah yang dulu selalu menunggunya pulang, membuatkan makan, bahkan rela menahan lapar demi dirinya.

Semua itu kini terasa jauh dan dingin. Ia menatap pintu kamar kos yang perlahan ditutup Arema.

Tanpa berpikir panjang, Rino turun dari motornya dan menghampiri. Begitu pintu hampir tertutup, tangannya cepat menahan gagang pintu.

"Rema!" seru Rino cepat.

Arema tersentak kaget. "Rino?!" serunya dengan mata melebar. "Kamu ngapain di sini? Jangan bilang kalo kamu mata-matain aku?"

Rino mengangkat kedua tangannya, mencoba menenangkan. "Enggak, aku cuma pengen bicara sebentar. Tolong, aku butuh penjelasan."

"Gak ada yang perlu dijelasin, Rin. Udah cukup." Arema hendak menutup pintu, tapi Rino menahannya lagi.

"Rema, tolong. Aku janji cuma sebentar aja."

Arema mendengus kesal. "Ini kos cewek, cowok gak boleh masuk. Kalau ketahuan, aku bisa diusir."

Namun Rino, seperti biasanya, keras kepala. Ia menatap sekeliling memastikan tak ada orang, lalu dengan cepat menyelonong masuk sebelum Arema sempat mencegah.

Ia duduk di pinggir kasur yang rapi dengan sprei bermotif bunga biru.

"Rino! Kamu tuh gimana sih, gak ngerti aturan?" gerutu Arema, meletakkan tasnya di meja kecil.

Rino tidak menjawab. Pandangannya tertuju pada wajah Arema yang tampak lebih pucat, tapi tetap memancarkan keteguhan yang ia rindukan.

"Kamu dari mana? Kok sendiri aja? Mana pacar baru kamu?" sindir Arema, mencoba menutupi kegugupan.

Rino mendengus. "Udah deh jangan mulai lagi."

Arema pun terdiam ....

"Rema, aku beneran pengen ngomong baik-baik. Aku bingung sekarang," ucap Rino akhirnya, nada suaranya melemah.

"Bingung? Tentang apa lagi? Tentang cewek yang kamu hamilin itu?" Arema menatapnya tajam, tapi dalam tatapan itu ada sisa luka yang belum kering.

Rino menunduk, mengusap tengkuknya gelisah. "Aku curiga, kayaknya Vhero itu gak hamil anakku."

Arema terdiam sesaat, lalu mengerutkan kening. "Maksud kamu?"

Rino menghela napas panjang. "Aku baru sadar. Waktu aku gituan sama dia, aku ngerasa aneh. Kayakmya dia udah gak perawan lagi. Terus aku mikir, masa iya baru kenal dua minggu udah bisa hamil? Rasanya gak masuk akal."

Arema menatap Rino tanpa ekspresi, lalu mengalihkan pandangannya ke lantai. "Kalo gitu, kenapa gak kamu buktiin aja? Periksa ke dokter bareng dia."

"Aku udah ajak, tapi dia selalu ngeles. Sekarang malah maksa aku nikah. Aku bingung, Rema. Aku ngerasa dijebak," bohong Rino.

Arema menghela napas panjang. "Itu urusan kamu, Rin. Aku udah gak mau ikut campur lagi. Aku capek, ngerti gak? Dulu kamu ninggalin aku tanpa mikir perasaanku, sekarang kamu datang lagi buat curhat soal cewek lain."

"Tapi aku masih sayang kamu," ucap Rino lirih.

Arema terdiam. Kata-kata itu bagai pisau yang menusuk perlahan. Ia ingin marah, tapi hatinya bergetar mendengarnya. "Udahlah, Rin. Kata sayang dari kamu udah gak ada artinya lagi."

Rino menatap dalam. "Aku serius, Rema. Aku gak bisa berhenti mikirin kamu. Tiap malam aku kebayang muka kamu, suara kamu, juga caramu marah pun aku kangenin."

Arema memalingkan wajah, menahan air mata yang mulai menggenang. "Jangan buat aku bimbang lagi. Aku udah berusaha buat ngelupain semuanya. Aku pengen hidup tenang."

"Tapi aku gak tenang kalau gak ngomong ini,” desak Rino.

"Aku salah, aku tau. Tapi aku juga korban, Rema. Aku dijebak, aku beneran gak nyangka dia hamil. Aku belum siap nikah."

Arema diam mendengarkan ucapan Rino ....

"Kalo aja aku punya uang, pasti aku beli obat penggugur kandungan," lanjut Rino.

Arema menatapnya lama. Di dalam hati, perasaan campur aduk antara benci, kasihan, dan cinta yang belum padam. Ia tahu Rino salah besar, tapi bagian kecil di hatinya masih ingin menolongnya.

"Besok kalau aku gajian, aku kasih kamu uang," katanya pelan.

Rino mendongak, matanya berbinar. "Serius, Rema?"

"Cuma buat beli obat yang kamu bilang itu. Tapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Abis itu kamu tinggalin Vhero."

Rino menunduk. "Iya, aku janji."

Namun di balik kata-katanya, ada senyum tipis yang tak sempat Arema lihat.

Rino tahu betul, selama masih bisa memanfaatkan perasaan Arema, ia tak akan melepaskannya.

Arema terdiam lama, menatap ke arah jendela kecil yang menghadap langit senja. "Sejuta, gajiku cuma sejuta delapan ratus. Bayar kos dua ratus. Kalau aku kasih sejuta buat Rino, sisa enam ratus. Tapi gak papa, aku masih punya simpenan dikit," batinnya.

Rino menatapnya penuh harap. "Rema, makasih ya. Kamu selalu baik."

Arema memejamkan mata sebentar, menahan getaran di dadanya. Ia benci dirinya sendiri karena masih peduli.

Tapi entah kenapa, tiap kali menatap wajah Rino, semua logika terasa runtuh.

Hening menyelimuti kamar kos kecil itu. Hanya suara kipas angin berputar pelan, menambah keheningan yang canggung.

"Udah sore. Kamu pulang sana," ucap Arema akhirnya.

Namun tiba-tiba Rino menyosor bibir Arema, kemudian melumatnya pelan.

Arema, yang masih memiliki rasa itu, pun kaget tapi menikmatinya. Ia diam dan pasrah.

Rino terus melumat bibir Arema, perlahan tangannya turun dan meremas dua buah kenyal.

"Mhhh ...." Arema mendesah lirih.

Kemudian Rino menghentikan aktifitasnya, ia memutar tubuh Arema hingga membelakangi dirinya.

Rino mengecupi leher jenjang milik Arema. Sembari kedua tangannya meremas kedua buah kenyal Arema.

Arema memejamkan mata, tubuhnya menggelinjang keenakan. "Rin," lirihnya.

Rino hanya diam, dan tangan satunya perlahan turun menyelinap ke dalam celana Arema. Ia meremas area sensitif di sana.

Arema terus menggeliat, merasakan sensasi nikmat yang diciptakan Rino. Memainkan klitoris Arema, memutarnya sedikit ditekan.

Kemudian Rino menanggalkan seluruh pakaian yang melekat pada tubuh Arema.

"Rin, kamu gila," bisik Arema.

"Ssstt ... nikmati aja," balas Rino pelan.

Rino menidurkan tubuh Arema di atas kasur, kemudian pria itu mengangkat kedua kaki Arema dan meletakkan di atas punggungnya.

Rino menghisap klitoris Arema, membuat Arema mendasah lirih, gadis itu menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya.

Rino terus menghisap mainannya, pinggul Arema bergoyang naik turun sambil menjepitkan kedua pahanya ke kepala Rino.

"Rin, udah, aku gak tahan mau keluar," bisik Arema lagi.

"Keluarin, Vher," lirih Rino.

Arema membeku seketika, ia pun terduduk. "Vher?"