Rino Frustasi

30 December 2025

Rino benar-benar tak menyangka bahwa dirinya akan salah menyebut nama. Semua terjadi begitu cepat, dan detik itu juga, dunia seolah berhenti berputar.

"Eh, maksudku, Rema," ucapnya terbata, wajahnya pucat, pandangannya langsung ke arah Arema yang kini berdiri kaku di depan pintu kamar kos.

Suara itu, nama yang terucap pertama kali masih menggema di telinga Arema. 'Vher."

Satu kata itu saja sudah cukup membuat hatinya kembali retak.

"Jelas-jelas kamu manggil aku Vher!" Suara Arema bergetar, tapi matanya tajam penuh kekecewaan.

"Aku bukan Vhero ya! Udah, sekarang kamu pergi dari kosku, jangan ganggu aku lagi!"

Rino mendekat setengah langkah, berusaha menenangkan. "Rema, aku beneran keliru. Aku nggak sengaja. Wajar kan kalau salah nyebut nama?"

Arema menatapnya tak percaya. "Keliru, kamu bilang? Rin, tahu gak? Dari dulu kamu selalu bilang nggak sengaja buat semua hal yang kamu lakuin. Kamu nyakitin aku nggak sengaja. Kamu selingkuh nggak sengaja. Sekarang salah nyebut nama perempuan itu, dan lagi-lagi nggak sengaja!" suaranya meninggi, napasnya tersengal karena emosi.

Arema pun memakai kembali pakaiannya, hatinya dongkol, gairah pun hilang.

Rino menunduk, merasa bersalah tapi juga frustrasi. "Aku cuma keceplosan, Rema. Kamu tau sendiri, pikiranku lagi berantakan."

Arema menyeringai sinis. "Iya, aku tau. Berantakan karena cewek itu, kan? Karena kamu gak bisa lepas dari Vheronika. Kamu pikir aku gak tau? Dari awal kamu dateng ke sini, bukan karena aku, tapi karena kamu pengen nyari pembenaran buat diri kamu sendiri!”

"Rema, aku dateng ke sini karena aku butuh kamu."

"Bukan karena cinta," potong Arema cepat.

"Tapi karena kamu butuh aku buat bantu kamu keluar dari masalahmu. Jangan salah artikan rasa iba aku jadi cinta, Rin. Aku kasihan sama kamu, tapi bukan berarti aku mau jadi pelampiasanmu."

Hening sesaat ....

Keduanya terdiam, saling bertukar tatap yang dingin dan penuh luka.

Di luar, suara anak-anak bermain terdengar samar, kontras dengan suasana hati yang mencekam di dalam kamar kos itu.

Rino menarik napas panjang. "Aku salah, aku ngaku. Tapi jangan usir aku kayak gini, Rema."

Arema menggigit bibirnya, menahan air mata yang mulai menggenang. Ia tahu kalau ia tak segera mengusir pria itu, hatinya mungkin akan goyah lagi.

"Rin, pulang sekarang juga. Atau aku teriak," ujarnya tegas, suaranya nyaris serak.

"Rema, aku ...."

"Pergi!" bentaknya kali ini lebih keras.

Rino terpaku beberapa detik, tapi akhirnya menunduk.

Ia berjalan keluar dengan langkah gontai, menutup pintu perlahan tanpa berani menoleh lagi.

Arema berdiri terpaku di tempat, tubuhnya gemetar menahan perasaan yang campur aduk.

Begitu pintu tertutup rapat, air matanya akhirnya jatuh.

"Kenapa sih kamu selalu bikin aku ngerasa bodoh, Rin," bisiknya lirih.

Ia berjalan ke tepi kasur, menjatuhkan diri dan menutupi wajah dengan kedua tangan. Tangisnya pecah, pelan tapi menyakitkan.

Sementara di luar sana, Rino menaiki motornya dengan wajah kusut.

Angin sore berembus membawa aroma debu dan asap kendaraan, tapi yang terasa di dadanya hanya sesak.

Pria itu menyalakan mesin motornya menyalakan mesin, tapi tangannya gemetar.

"Bego banget sih aku, ngapain coba pake salah nyebut nama?" umpatnya sendiri sambil mengacak rambut. "Udah minta maaf, malah tambah rempong. Sial!”

Pandangannya kosong ke arah jalanan yang mulai ramai. Bayangan wajah Arema masih jelas di benaknya, marah, kecewa, tapi cantik seperti dulu.

"Padahal aku cuma mau minta maaf, bukan malah nyakitin dia lagi," gumamnya pelan.

Ia menarik napas panjang lalu melajukan motornya pelan menuju rumah dengan pikiran berantakan.

Sepanjang jalan, pikirannya melayang-layang. Tentang Vheronika, tentang Arema, tentang dirinya sendiri yang tak pernah bisa bersikap benar.

Rino benci dirinya, tapi juga tak tahu harus mulai memperbaiki dari mana.

Sore hari, langit mulai temaram. Burung-burung berterbangan kembali ke sarang, dan di rumah sederhana itu, Bu Ida baru saja tiba dari kerja.

Ia menurunkan tas dari pundaknya, mengusap peluh di dahi, lalu menatap halaman rumah yang sepi.

"Rino?" panggilnya, tak ada jawaban.

Ia masuk ke rumah, meletakkan kantong sayur di meja dapur, lalu melihat pintu kamar Rino setengah terbuka. "Rin, kamu lagi apa?"

Rino menoleh dari ranjang, wajahnya kusut dan rambutnya acak-acakan. "Gak ngapa-ngapain, Bu," jawabnya singkat.

Bu Ida menghela napas, berjalan mendekat dan duduk di kursi di depan kamar. "Rin, Ibu mau ngomong."

Rino menegakkan badan, malas-malasan. "Ngomong apa lagi, Bu?"

"Ibu tadi ketemu Bu Rosi di pasar," kata Bu Ida membuka percakapan. "Katanya, anak perempuan yang kamu deketin itu bukan perempuan baik-baik."

Rino langsung menatap ibunya dengan dahi berkerut. "Maksudnya siapa?"

"Ya itu, si Vhero. Katanya dia sering ke diskotik, suka mabuk, pulang pagi. Ganti-ganti laki, Rin. Ibu nggak bohong, Bu Rosi sendiri yang bilang. Ibu cuma khawatir kamu makin jauh terjerumus."

Rino mengalihkan pandangan, pura-pura tidak mendengar. Ia menatap langit-langit kamar, seolah tidak peduli.

"Rin, kamu denger gak?" tegur Bu Ida, nadanya mulai meninggi.

"Iya denger," jawab Rino datar.

"Lalu kenapa kamu diam aja? Ibu ini cuma mau kamu sadar, Nak. Perempuan seperti itu nggak akan bikin hidupmu tenang. Kamu pikir dia sayang sama kamu? Enggak, Rin. Dia cuma manfaatin kamu!”

Rino berdiri mendadak, suaranya mulai meninggi. "Ibu gak ngerti apa-apa! Ibu gak tahu dia kayak gimana sebenernya!"

Bu Ida ikut berdiri, menatap anaknya dengan kecewa. "Justru karena Ibu nggak mau kamu nyesel! Sudah banyak contohnya, Rin. Perempuan model begitu nggak akan mikirin masa depan. Dia cuma mau enaknya sendiri!"

"Udah, Bu!" bentak Rino. "Aku capek denger omongan Ibu terus! Dari dulu Ibu selalu ikut campur urusanku!"

"Rino!"

Tapi Rino sudah melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras. "Males aku ngomong sama Ibu. Dia gak paham apa yang aku rasain," gerutunya dalam hati.

Ia duduk di tepi ranjang, mengacak rambutnya dengan frustrasi.

Di kepalanya, kata-kata ibunya dan wajah Arema saling bertabrakan. Antara rasa bersalah dan gengsi, antara cinta lama dan rasa penyesalan yang belum selesai.

"Kenapa semua orang nyalahin aku? Aku juga cuma manusia, punya salah," gumamnya pelan.

Ia mengambil ponsel yang tergeletak di meja, membuka pesan terakhir dari Vheronika yang bertuliskan ....

"Mas, aku kangen. Besok aku ke rumah ya."

Rino mendengus. "Datang lagi, padahal aku pengen sendiri." Ia mematikan ponsel itu, lalu merebahkan diri di ranjang.

Matanya menatap langit-langit yang retak, pikirannya kembali ke Arema.

Wajah gadis itu begitu jelas, terutama ekspresi marahnya saat tadi ia salah menyebut nama.

"Aku nyakitin dia lagi," bisiknya lirih. "Padahal aku cuma mau nebus kesalahan."

Ia memejamkan mata, mencoba tidur, tapi bayangan Arema terus menghantuinya.

Sementara di luar kamar, Bu Ida masih terduduk di ruang tamu, menatap pintu kamar anaknya yang tertutup rapat.

Ia menghela napas berat. "Ya Tuhan, bukakan mata anakku, jangan sampai dia tersesat lebih jauh," doanya dalam hati sambil mengusap dada.

Malam pun turun perlahan. Angin berembus pelan lewat jendela. Di dua tempat berbeda, Arema di kos kecilnya dan Rino di kamar sempit rumah ibunya.

Dua hati sama-sama terluka dan kehilangan arah, tanpa tahu bagaimana harus memperbaiki semuanya.

Rino benar-benar tak menyangka bahwa dirinya akan salah menyebut nama. Semua terjadi begitu cepat, dan detik itu juga, dunia seolah berhenti berputar.

"Eh, maksudku, Rema," ucapnya terbata, wajahnya pucat, pandangannya langsung ke arah Arema yang kini berdiri kaku di depan pintu kamar kos.

Suara itu, nama yang terucap pertama kali masih menggema di telinga Arema. 'Vher."

Satu kata itu saja sudah cukup membuat hatinya kembali retak.

"Jelas-jelas kamu manggil aku Vher!" Suara Arema bergetar, tapi matanya tajam penuh kekecewaan.

"Aku bukan Vhero ya! Udah, sekarang kamu pergi dari kosku, jangan ganggu aku lagi!"

Rino mendekat setengah langkah, berusaha menenangkan. "Rema, aku beneran keliru. Aku nggak sengaja. Wajar kan kalau salah nyebut nama?"

Arema menatapnya tak percaya. "Keliru, kamu bilang? Rin, tahu gak? Dari dulu kamu selalu bilang nggak sengaja buat semua hal yang kamu lakuin. Kamu nyakitin aku nggak sengaja. Kamu selingkuh nggak sengaja. Sekarang salah nyebut nama perempuan itu, dan lagi-lagi nggak sengaja!" suaranya meninggi, napasnya tersengal karena emosi.

Arema pun memakai kembali pakaiannya, hatinya dongkol, gairah pun hilang.

Rino menunduk, merasa bersalah tapi juga frustrasi. "Aku cuma keceplosan, Rema. Kamu tau sendiri, pikiranku lagi berantakan."

Arema menyeringai sinis. "Iya, aku tau. Berantakan karena cewek itu, kan? Karena kamu gak bisa lepas dari Vheronika. Kamu pikir aku gak tau? Dari awal kamu dateng ke sini, bukan karena aku, tapi karena kamu pengen nyari pembenaran buat diri kamu sendiri!”

"Rema, aku dateng ke sini karena aku butuh kamu."

"Bukan karena cinta," potong Arema cepat.

"Tapi karena kamu butuh aku buat bantu kamu keluar dari masalahmu. Jangan salah artikan rasa iba aku jadi cinta, Rin. Aku kasihan sama kamu, tapi bukan berarti aku mau jadi pelampiasanmu."

Hening sesaat ....

Keduanya terdiam, saling bertukar tatap yang dingin dan penuh luka.

Di luar, suara anak-anak bermain terdengar samar, kontras dengan suasana hati yang mencekam di dalam kamar kos itu.

Rino menarik napas panjang. "Aku salah, aku ngaku. Tapi jangan usir aku kayak gini, Rema."

Arema menggigit bibirnya, menahan air mata yang mulai menggenang. Ia tahu kalau ia tak segera mengusir pria itu, hatinya mungkin akan goyah lagi.

"Rin, pulang sekarang juga. Atau aku teriak," ujarnya tegas, suaranya nyaris serak.

"Rema, aku ...."

"Pergi!" bentaknya kali ini lebih keras.

Rino terpaku beberapa detik, tapi akhirnya menunduk.

Ia berjalan keluar dengan langkah gontai, menutup pintu perlahan tanpa berani menoleh lagi.

Arema berdiri terpaku di tempat, tubuhnya gemetar menahan perasaan yang campur aduk.

Begitu pintu tertutup rapat, air matanya akhirnya jatuh.

"Kenapa sih kamu selalu bikin aku ngerasa bodoh, Rin," bisiknya lirih.

Ia berjalan ke tepi kasur, menjatuhkan diri dan menutupi wajah dengan kedua tangan. Tangisnya pecah, pelan tapi menyakitkan.

Sementara di luar sana, Rino menaiki motornya dengan wajah kusut.

Angin sore berembus membawa aroma debu dan asap kendaraan, tapi yang terasa di dadanya hanya sesak.

Pria itu menyalakan mesin motornya menyalakan mesin, tapi tangannya gemetar.

"Bego banget sih aku, ngapain coba pake salah nyebut nama?" umpatnya sendiri sambil mengacak rambut. "Udah minta maaf, malah tambah rempong. Sial!”

Pandangannya kosong ke arah jalanan yang mulai ramai. Bayangan wajah Arema masih jelas di benaknya, marah, kecewa, tapi cantik seperti dulu.

"Padahal aku cuma mau minta maaf, bukan malah nyakitin dia lagi," gumamnya pelan.

Ia menarik napas panjang lalu melajukan motornya pelan menuju rumah dengan pikiran berantakan.

Sepanjang jalan, pikirannya melayang-layang. Tentang Vheronika, tentang Arema, tentang dirinya sendiri yang tak pernah bisa bersikap benar.

Rino benci dirinya, tapi juga tak tahu harus mulai memperbaiki dari mana.

Sore hari, langit mulai temaram. Burung-burung berterbangan kembali ke sarang, dan di rumah sederhana itu, Bu Ida baru saja tiba dari kerja.

Ia menurunkan tas dari pundaknya, mengusap peluh di dahi, lalu menatap halaman rumah yang sepi.

"Rino?" panggilnya, tak ada jawaban.

Ia masuk ke rumah, meletakkan kantong sayur di meja dapur, lalu melihat pintu kamar Rino setengah terbuka. "Rin, kamu lagi apa?"

Rino menoleh dari ranjang, wajahnya kusut dan rambutnya acak-acakan. "Gak ngapa-ngapain, Bu," jawabnya singkat.

Bu Ida menghela napas, berjalan mendekat dan duduk di kursi di depan kamar. "Rin, Ibu mau ngomong."

Rino menegakkan badan, malas-malasan. "Ngomong apa lagi, Bu?"

"Ibu tadi ketemu Bu Rosi di pasar," kata Bu Ida membuka percakapan. "Katanya, anak perempuan yang kamu deketin itu bukan perempuan baik-baik."

Rino langsung menatap ibunya dengan dahi berkerut. "Maksudnya siapa?"

"Ya itu, si Vhero. Katanya dia sering ke diskotik, suka mabuk, pulang pagi. Ganti-ganti laki, Rin. Ibu nggak bohong, Bu Rosi sendiri yang bilang. Ibu cuma khawatir kamu makin jauh terjerumus."

Rino mengalihkan pandangan, pura-pura tidak mendengar. Ia menatap langit-langit kamar, seolah tidak peduli.

"Rin, kamu denger gak?" tegur Bu Ida, nadanya mulai meninggi.

"Iya denger," jawab Rino datar.

"Lalu kenapa kamu diam aja? Ibu ini cuma mau kamu sadar, Nak. Perempuan seperti itu nggak akan bikin hidupmu tenang. Kamu pikir dia sayang sama kamu? Enggak, Rin. Dia cuma manfaatin kamu!”

Rino berdiri mendadak, suaranya mulai meninggi. "Ibu gak ngerti apa-apa! Ibu gak tahu dia kayak gimana sebenernya!"

Bu Ida ikut berdiri, menatap anaknya dengan kecewa. "Justru karena Ibu nggak mau kamu nyesel! Sudah banyak contohnya, Rin. Perempuan model begitu nggak akan mikirin masa depan. Dia cuma mau enaknya sendiri!"

"Udah, Bu!" bentak Rino. "Aku capek denger omongan Ibu terus! Dari dulu Ibu selalu ikut campur urusanku!"

"Rino!"

Tapi Rino sudah melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras. "Males aku ngomong sama Ibu. Dia gak paham apa yang aku rasain," gerutunya dalam hati.

Ia duduk di tepi ranjang, mengacak rambutnya dengan frustrasi.

Di kepalanya, kata-kata ibunya dan wajah Arema saling bertabrakan. Antara rasa bersalah dan gengsi, antara cinta lama dan rasa penyesalan yang belum selesai.

"Kenapa semua orang nyalahin aku? Aku juga cuma manusia, punya salah," gumamnya pelan.

Ia mengambil ponsel yang tergeletak di meja, membuka pesan terakhir dari Vheronika yang bertuliskan ....

"Mas, aku kangen. Besok aku ke rumah ya."

Rino mendengus. "Datang lagi, padahal aku pengen sendiri." Ia mematikan ponsel itu, lalu merebahkan diri di ranjang.

Matanya menatap langit-langit yang retak, pikirannya kembali ke Arema.

Wajah gadis itu begitu jelas, terutama ekspresi marahnya saat tadi ia salah menyebut nama.

"Aku nyakitin dia lagi," bisiknya lirih. "Padahal aku cuma mau nebus kesalahan."

Ia memejamkan mata, mencoba tidur, tapi bayangan Arema terus menghantuinya.

Sementara di luar kamar, Bu Ida masih terduduk di ruang tamu, menatap pintu kamar anaknya yang tertutup rapat.

Ia menghela napas berat. "Ya Tuhan, bukakan mata anakku, jangan sampai dia tersesat lebih jauh," doanya dalam hati sambil mengusap dada.

Malam pun turun perlahan. Angin berembus pelan lewat jendela. Di dua tempat berbeda, Arema di kos kecilnya dan Rino di kamar sempit rumah ibunya.

Dua hati sama-sama terluka dan kehilangan arah, tanpa tahu bagaimana harus memperbaiki semuanya.