Sore menjelang malam. Rumah besar keluarga Santo tampak megah dari luar, berdiri kokoh dengan pagar tinggi dan taman yang tertata rapi. Namun di dalamnya, suasana tidak sehangat tampilan luar itu.
Di ruang tengah, Vheronika bersantai di kursi goyang sambil menonton televisi. Di tangannya, segelas jus jeruk hampir tak tersentuh, sementara di depannya sinetron favorit sedang tayang dengan volume cukup keras.
"Non Vhero, sudah sore, ayo mandi dulu. Air hangatnya sudah siap." Suara lembut Upik, pembantu rumah tangga yang sudah puluhan tahun bekerja di rumah itu, terdengar dari arah dapur.
Upik adalah sosok sederhana, namun sabar luar biasa menghadapi kelakuan majikannya yang satu ini.
"Ah, nanti aja, Mbak. Filmnya lagi seru." Vheronika menjawab tanpa menoleh, pandangannya tetap terpaku pada layar televisi.
Upik menarik napas panjang. "Tapi Non, nanti kalau malam ada tamu mami belum mandi, malu, loh."
"Ya udah, nanti!" jawab Vheronika ketus.
Ia menggoyangkan kursi lebih cepat, seperti menandakan ia tak ingin diganggu.
Dari ruang tengah, Lidya, ibunya, mendengar percakapan itu. Ia tengah menunduk di meja kerja, menjahit potongan kain berwarna emerald yang akan dijadikan gaun untuk klien penting.
"Vhero, mandi! Kamu itu dari tadi cuma duduk, makan, nonton, tidur, keluyuran nggak jelas." tegurnya tanpa mengangkat kepala.
"Ah, Mami, aku capek. Pengen santai."
Lidya mendesah, meletakkan jarumnya. "Justru kamu itu harus punya kegiatan. Mami sama Papi kerja banting tulang biar kamu bisa hidup nyaman, bukan biar kamu jadi pemalas."
Namun Vheronika seolah tuli. Ia berdiri dari kursi goyang dan menghampiri ibunya sambil tersenyum manja. "Mi, bagi duit dong."
Lidya mengerutkan kening. "Lho, kemarin kamu baru minta tiga juta. Sekarang sudah habis?"
"Ya abislah, Mi. Aku tabung kok. Sekarang mau ke mall beli baju. Ada model baru, bagus banget, limited edition."
"Baju kamu udah numpuk sampai lemari gak bisa ditutup."
Nada Lidya mulai tegas, tapi ia tahu membantah anaknya hanya buang energi. Vheronika selalu menang dengan cara merengek.
"Ayolah, Mi. Masa Mami pelit sih sama anak sendiri. Cuma lima juta doang kok."
Ia memeluk lengan ibunya, pura-pura manja. Lidya menatap wajah anak semata wayangnya itu, cantik, memang, tapi juga keras kepala, manja, dan sulit diatur.
Akhirnya Lidya menghela napas panjang. "Ya sudah. Tapi janji, jangan boros. Itu Mami transfer lima juta."
Ia mengetik cepat di ponselnya, dan tak sampai satu menit kemudian notifikasi masuk di ponsel Vheronika.
"Makasih, Mami tersayang!" seru Vheronika sambil mencium pipi ibunya sekilas lalu melesat menuju kamarnya.
Begitu pintu tertutup, senyumnya berubah jadi licik. "Lima juta, lumayan buat malam ini," gumamnya pelan.
Upik yang di dapur melirik, menggeleng kecil. “Duh, Non satu itu gak bisa disuruh santai di rumah. Uangnya Mami sama Papinya dikuras terus."
Tak lama kemudian, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Lima belas menit berlalu, Vheronika keluar dengan rambut basah, wangi parfum mahal menyelimuti seluruh ruangan.
Ia mengenakan dress mini berwarna merah marun, tas kecil bermerk di bahunya, dan sepatu hak tinggi yang membuat langkahnya berderak-derak di lantai marmer.
"Non, mau ke mana?" tanya Upik dengan nada cemas.
"Main, Mbak. Jangan tungguin, aku pulang malam."
Tanpa menunggu jawaban, Vheronika keluar dari rumah, menyalakan motor Beat merahnya, lalu melaju cepat meninggalkan halaman.
Diskotik “Galaxy Lounge” malam itu ramai. Lampu-lampu berwarna biru dan ungu bergantian menyorot para pengunjung yang menari mengikuti dentuman musik DJ.
Vheronika memasuki ruangan dengan percaya diri, menyapa bartender yang sudah mengenalnya.
"Whisky, dua gelas. Satu buat aku, satu nanti buat temenku."
"Seperti biasa, Non Vhero."
Bartender itu tersenyum, sudah hafal kebiasaan perempuan muda itu.
Vheronika duduk di kursi bar, memainkan rambut panjangnya, memandangi keramaian di sekeliling.
Beberapa lelaki melirik ke arahnya, namun ia acuh. Pikirannya sedang tertuju pada seseorang. Rino.
Ia mengeluarkan ponsel, mengetik pesan ....
"Sayang, aku di Galaxy Lounge. Datang, ya. Aku kangen."
Lalu ia menekan tombol kirim. Sekitar setengah jam kemudian, Rino datang dengan wajah lelah.
Dari caranya berjalan, jelas ia masih kebingungan dengan hidupnya sendiri.
Vheronika langsung menyambut dengan senyum lebar.
"Nih minum dulu, Rin. Biar relax, jangan tegang terus." Ia menyodorkan gelas whisky yang sudah disiapkannya.
Rino menerima, meneguk tanpa banyak bicara. Malam itu, minuman demi minuman bergantian masuk ke tubuh mereka.
Musik makin keras, suasana makin kabur. Rino tertawa tanpa sebab, sementara Vheronika bersandar di bahunya, berpura-pura manja padahal matanya menyimpan banyak rencana.
Sekitar tengah malam, mereka keluar dari diskotik. Vheronika yang sudah separuh mabuk menyandarkan kepala di bahu Rino.
"Kita ke hotel aja yuk. Aku capek." Rino mengangguk tanpa berpikir panjang. Mereka pun menuju hotel tak jauh dari sana.
Begitu sampai di kamar, Rino langsung rebah di kasur. Sementara Vheronika masih sempat memesan dua botol minuman tambahan lewat layanan kamar.
Setelah beberapa tegukan, Rino benar-benar tak sadarkan diri. Ia tertidur lelap dengan posisi terlentang, ponselnya tergeletak di meja tanpa kunci layar.
"Cowok bego, masih aja gak jaga privasi," gumam Vheronika.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponsel itu beberapa detik. Rasa penasaran menguasai dirinya. Dengan hati-hati, ia mengambil ponsel itu dan membuka aplikasi pesan.
Deretan nama muncul. Salah satunya membuat jantungnya berdegup cepat. Arema.
"Hah, jadi ini cewek yang katanya mantan dia?" Ia mengetuk pesan itu. Dalam sekejap, layar menampilkan percakapan panjang yang sudah lama tak aktif.
Rin, kamu berubah. Kamu gak kayak dulu lagi. Rema, aku masih sayang sama kamu, sumpah. Sayang, tapi kamu selingkuh sama cewek lain? Itu sayang namanya?
Vheronika membaca cepat setiap barisnya. Senyum sinis tersungging di bibirnya.
"Ternyata dia masih sayang sama mantannya, ya? Pantes kadang pas sama aku, pikirannya kayak ngelantur."
Ia meletakkan ponsel sebentar, lalu menatap wajah Rino yang terlelap. "Dasar cowok murahan. Dapet aku aja udah beruntung, malah masih inget sama cewek miskin itu."
Namun bukannya marah, sebuah ide gila muncul di kepalanya. Ia mengambil ponselnya sendiri, menyalin nomor Arema dari kontak Rino ke dalam daftar kontak barunya.
"Kita lihat, cewek itu kayak apa sih. Katanya polos, katanya baik. Aku mau buktiin sendiri, kayak apa perempuan yang bisa bikin Rino segitu galau."
Setelah memastikan semua aman, Vheronika menaruh ponsel Rino kembali ke tempat semula.
Ia berbaring di sebelahnya, menatap langit-langit kamar sambil tersenyum penuh perhitungan. Dalam hati, ia sudah menyusun rencana baru untuk membuat kehidupan Arema berantakan.
Keesokan harinya, cahaya matahari menembus tirai kamar.
Rino menggeliat, kepalanya berat dan pusing. Ia melihat Vheronika masih tertidur di sebelahnya, wajahnya terlihat damai namun menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia pahami.
"Semalam aku minum banyak banget. Kenapa sih aku mau-maunya kesini," batinnya pelan.
Sementara itu, di sisi lain kamar, Vheronika perlahan membuka mata. Ia menatap Rino sekilas, tersenyum pura-pura lembut.
"Pagi sayang," sapanya.
"Pagi," jawab Rino datar.
"Kamu mau sarapan dulu gak? Aku panggil room service."
"Gak usah, aku pulang aja. Ada urusan." Rino langsung bangun, mengambil jaket dan ponselnya lalu bergegas pergi.
Ia tidak menyadari apa yang dilakukan Vheronika semalam.
Begitu pintu tertutup, Vheronika langsung duduk dan menyalakan ponselnya.
Ia membuka pesan baru, mengetik dengan gaya yang sangat berbeda, tenang dan sopan.
"Halo, Arema, ini ibunya Rino. Bisa minta waktunya sebentar? Ibu ingin bicara dengan kamu tentang sesuatu yang penting."
Ia menatap tulisan itu sejenak, lalu tersenyum puas sebelum menekan tombol kirim.
Beberapa menit kemudian, layar ponselnya bergetar. Balasan dari Arema masuk ....
"Iya Bu, saya Arema. Ada apa ya? Kalau nggak keberatan, besok sore saja Bu, saya kerja sampai jam lima. Kita bisa ketemu di pasar besar ya, saya bisa nunggu di sana."
Vheronika menatap layar itu dengan mata berkilat penuh kemenangan. "Pasar besar, ya? Bagus. Nanti kita lihat siapa yang menang di permainan ini."
Ia mengetik balasan singkat ....
"Oke, sampai ketemu besok sore, Nak."
Setelah pesan terkirim, Vheronika mematikan ponselnya dan tertawa kecil. Sore menjelang malam. Rumah besar keluarga Santo tampak megah dari luar, berdiri kokoh dengan pagar tinggi dan taman yang tertata rapi. Namun di dalamnya, suasana tidak sehangat tampilan luar itu.
Di ruang tengah, Vheronika bersantai di kursi goyang sambil menonton televisi. Di tangannya, segelas jus jeruk hampir tak tersentuh, sementara di depannya sinetron favorit sedang tayang dengan volume cukup keras.
"Non Vhero, sudah sore, ayo mandi dulu. Air hangatnya sudah siap." Suara lembut Upik, pembantu rumah tangga yang sudah puluhan tahun bekerja di rumah itu, terdengar dari arah dapur.
Upik adalah sosok sederhana, namun sabar luar biasa menghadapi kelakuan majikannya yang satu ini.
"Ah, nanti aja, Mbak. Filmnya lagi seru." Vheronika menjawab tanpa menoleh, pandangannya tetap terpaku pada layar televisi.
Upik menarik napas panjang. "Tapi Non, nanti kalau malam ada tamu mami belum mandi, malu, loh."
"Ya udah, nanti!" jawab Vheronika ketus.
Ia menggoyangkan kursi lebih cepat, seperti menandakan ia tak ingin diganggu.
Dari ruang tengah, Lidya, ibunya, mendengar percakapan itu. Ia tengah menunduk di meja kerja, menjahit potongan kain berwarna emerald yang akan dijadikan gaun untuk klien penting.
"Vhero, mandi! Kamu itu dari tadi cuma duduk, makan, nonton, tidur, keluyuran nggak jelas." tegurnya tanpa mengangkat kepala.
"Ah, Mami, aku capek. Pengen santai."
Lidya mendesah, meletakkan jarumnya. "Justru kamu itu harus punya kegiatan. Mami sama Papi kerja banting tulang biar kamu bisa hidup nyaman, bukan biar kamu jadi pemalas."
Namun Vheronika seolah tuli. Ia berdiri dari kursi goyang dan menghampiri ibunya sambil tersenyum manja. "Mi, bagi duit dong."
Lidya mengerutkan kening. "Lho, kemarin kamu baru minta tiga juta. Sekarang sudah habis?"
"Ya abislah, Mi. Aku tabung kok. Sekarang mau ke mall beli baju. Ada model baru, bagus banget, limited edition."
"Baju kamu udah numpuk sampai lemari gak bisa ditutup."
Nada Lidya mulai tegas, tapi ia tahu membantah anaknya hanya buang energi. Vheronika selalu menang dengan cara merengek.
"Ayolah, Mi. Masa Mami pelit sih sama anak sendiri. Cuma lima juta doang kok."
Ia memeluk lengan ibunya, pura-pura manja. Lidya menatap wajah anak semata wayangnya itu, cantik, memang, tapi juga keras kepala, manja, dan sulit diatur.
Akhirnya Lidya menghela napas panjang. "Ya sudah. Tapi janji, jangan boros. Itu Mami transfer lima juta."
Ia mengetik cepat di ponselnya, dan tak sampai satu menit kemudian notifikasi masuk di ponsel Vheronika.
"Makasih, Mami tersayang!" seru Vheronika sambil mencium pipi ibunya sekilas lalu melesat menuju kamarnya.
Begitu pintu tertutup, senyumnya berubah jadi licik. "Lima juta, lumayan buat malam ini," gumamnya pelan.
Upik yang di dapur melirik, menggeleng kecil. “Duh, Non satu itu gak bisa disuruh santai di rumah. Uangnya Mami sama Papinya dikuras terus."
Tak lama kemudian, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Lima belas menit berlalu, Vheronika keluar dengan rambut basah, wangi parfum mahal menyelimuti seluruh ruangan.
Ia mengenakan dress mini berwarna merah marun, tas kecil bermerk di bahunya, dan sepatu hak tinggi yang membuat langkahnya berderak-derak di lantai marmer.
"Non, mau ke mana?" tanya Upik dengan nada cemas.
"Main, Mbak. Jangan tungguin, aku pulang malam."
Tanpa menunggu jawaban, Vheronika keluar dari rumah, menyalakan motor Beat merahnya, lalu melaju cepat meninggalkan halaman.
Diskotik “Galaxy Lounge” malam itu ramai. Lampu-lampu berwarna biru dan ungu bergantian menyorot para pengunjung yang menari mengikuti dentuman musik DJ.
Vheronika memasuki ruangan dengan percaya diri, menyapa bartender yang sudah mengenalnya.
"Whisky, dua gelas. Satu buat aku, satu nanti buat temenku."
"Seperti biasa, Non Vhero."
Bartender itu tersenyum, sudah hafal kebiasaan perempuan muda itu.
Vheronika duduk di kursi bar, memainkan rambut panjangnya, memandangi keramaian di sekeliling.
Beberapa lelaki melirik ke arahnya, namun ia acuh. Pikirannya sedang tertuju pada seseorang. Rino.
Ia mengeluarkan ponsel, mengetik pesan ....
"Sayang, aku di Galaxy Lounge. Datang, ya. Aku kangen."
Lalu ia menekan tombol kirim. Sekitar setengah jam kemudian, Rino datang dengan wajah lelah.
Dari caranya berjalan, jelas ia masih kebingungan dengan hidupnya sendiri.
Vheronika langsung menyambut dengan senyum lebar.
"Nih minum dulu, Rin. Biar relax, jangan tegang terus." Ia menyodorkan gelas whisky yang sudah disiapkannya.
Rino menerima, meneguk tanpa banyak bicara. Malam itu, minuman demi minuman bergantian masuk ke tubuh mereka.
Musik makin keras, suasana makin kabur. Rino tertawa tanpa sebab, sementara Vheronika bersandar di bahunya, berpura-pura manja padahal matanya menyimpan banyak rencana.
Sekitar tengah malam, mereka keluar dari diskotik. Vheronika yang sudah separuh mabuk menyandarkan kepala di bahu Rino.
"Kita ke hotel aja yuk. Aku capek." Rino mengangguk tanpa berpikir panjang. Mereka pun menuju hotel tak jauh dari sana.
Begitu sampai di kamar, Rino langsung rebah di kasur. Sementara Vheronika masih sempat memesan dua botol minuman tambahan lewat layanan kamar.
Setelah beberapa tegukan, Rino benar-benar tak sadarkan diri. Ia tertidur lelap dengan posisi terlentang, ponselnya tergeletak di meja tanpa kunci layar.
"Cowok bego, masih aja gak jaga privasi," gumam Vheronika.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponsel itu beberapa detik. Rasa penasaran menguasai dirinya. Dengan hati-hati, ia mengambil ponsel itu dan membuka aplikasi pesan.
Deretan nama muncul. Salah satunya membuat jantungnya berdegup cepat. Arema.
"Hah, jadi ini cewek yang katanya mantan dia?" Ia mengetuk pesan itu. Dalam sekejap, layar menampilkan percakapan panjang yang sudah lama tak aktif.
Rin, kamu berubah. Kamu gak kayak dulu lagi. Rema, aku masih sayang sama kamu, sumpah. Sayang, tapi kamu selingkuh sama cewek lain? Itu sayang namanya?
Vheronika membaca cepat setiap barisnya. Senyum sinis tersungging di bibirnya.
"Ternyata dia masih sayang sama mantannya, ya? Pantes kadang pas sama aku, pikirannya kayak ngelantur."
Ia meletakkan ponsel sebentar, lalu menatap wajah Rino yang terlelap. "Dasar cowok murahan. Dapet aku aja udah beruntung, malah masih inget sama cewek miskin itu."
Namun bukannya marah, sebuah ide gila muncul di kepalanya. Ia mengambil ponselnya sendiri, menyalin nomor Arema dari kontak Rino ke dalam daftar kontak barunya.
"Kita lihat, cewek itu kayak apa sih. Katanya polos, katanya baik. Aku mau buktiin sendiri, kayak apa perempuan yang bisa bikin Rino segitu galau."
Setelah memastikan semua aman, Vheronika menaruh ponsel Rino kembali ke tempat semula.
Ia berbaring di sebelahnya, menatap langit-langit kamar sambil tersenyum penuh perhitungan. Dalam hati, ia sudah menyusun rencana baru untuk membuat kehidupan Arema berantakan.
Keesokan harinya, cahaya matahari menembus tirai kamar.
Rino menggeliat, kepalanya berat dan pusing. Ia melihat Vheronika masih tertidur di sebelahnya, wajahnya terlihat damai namun menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia pahami.
"Semalam aku minum banyak banget. Kenapa sih aku mau-maunya kesini," batinnya pelan.
Sementara itu, di sisi lain kamar, Vheronika perlahan membuka mata. Ia menatap Rino sekilas, tersenyum pura-pura lembut.
"Pagi sayang," sapanya.
"Pagi," jawab Rino datar.
"Kamu mau sarapan dulu gak? Aku panggil room service."
"Gak usah, aku pulang aja. Ada urusan." Rino langsung bangun, mengambil jaket dan ponselnya lalu bergegas pergi.
Ia tidak menyadari apa yang dilakukan Vheronika semalam.
Begitu pintu tertutup, Vheronika langsung duduk dan menyalakan ponselnya.
Ia membuka pesan baru, mengetik dengan gaya yang sangat berbeda, tenang dan sopan.
"Halo, Arema, ini ibunya Rino. Bisa minta waktunya sebentar? Ibu ingin bicara dengan kamu tentang sesuatu yang penting."
Ia menatap tulisan itu sejenak, lalu tersenyum puas sebelum menekan tombol kirim.
Beberapa menit kemudian, layar ponselnya bergetar. Balasan dari Arema masuk ....
"Iya Bu, saya Arema. Ada apa ya? Kalau nggak keberatan, besok sore saja Bu, saya kerja sampai jam lima. Kita bisa ketemu di pasar besar ya, saya bisa nunggu di sana."
Vheronika menatap layar itu dengan mata berkilat penuh kemenangan. "Pasar besar, ya? Bagus. Nanti kita lihat siapa yang menang di permainan ini."
Ia mengetik balasan singkat ....
"Oke, sampai ketemu besok sore, Nak."
Setelah pesan terkirim, Vheronika mematikan ponselnya dan tertawa kecil.