Sore hari menjelang magrib, langit mulai berwarna jingga. Sinar mentari yang meredup memantul di atap-atap kios pasar yang mulai sepi.
Para pedagang menutup dagangan mereka, sebagian sudah pulang, sebagian lagi membereskan sisa jualan sambil mengobrol ringan.
Di tengah kesibukan itu, Arema tampak melangkah tergesa menuju ujung pasar, tepat di seberang terminal kecil yang biasanya ramai oleh angkot.
Ia mengenakan blus sederhana berwarna krem dan celana panjang hitam.
Rambutnya diikat seadanya, wajahnya tampak lelah setelah seharian bekerja di toko pakaian. Namun, di matanya masih ada semangat dan sedikit rasa canggung, karena sore itu ia akan menemui seseorang yang ia yakini adalah ibu dari mantan kekasihnya, Rino.
Sebelum sampai di titik yang dijanjikan, ia sempat mengirim pesan. "Bu, aku sudah di pasar. Di pojok seberang terminal ya, nunggu di kursi."
Pesan terkirim dengan centang dua. Arema pun duduk sambil memainkan ujung tasnya.
Namun, di kejauhan, tanpa ia sadari, sepasang mata sedang mengawasinya dari balik motor maticnya yang terparkir tidak jauh dari sana.
Itu adalah Vheronika.
Dengan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya dan rambut panjang tergerai, ia tampak angkuh memandangi Arema dari jauh.
"Ternyata itu mantannya Rino," gumamnya pelan dengan nada sinis.
Matanya menelusuri sosok Arema dari atas sampai bawah. "Biasa aja, malah kelihatan cupu. Masih cantikan aku seribu kali lipat."
Ia menegakkan duduknya dan memutar matanya kesal. Sebenarnya, niat awalnya adalah untuk menakuti Arema, ingin membuatnya tidak nyaman, atau sekadar melihat seperti apa wajah perempuan yang pernah mengisi hati Rino.
Tapi begitu melihat kenyataan, rasa cemburu dan dendam di hatinya malah semakin tumbuh.
Namun entah kenapa, di sisi lain, ada juga rasa puas. "Pantes aja Rino gampang aku rebut, ceweknya lemah kayak gitu," batinnya sambil tertawa kecil.
Ia memutuskan tak perlu menemui Arema. Ia ingin membuat gadis itu kebingungan.
Biar saja menunggu lama di tempat itu, biar penasaran dan merasa bodoh karena sudah percaya pada pesan palsunya.
Vheronika menstater motornya lalu pergi begitu saja meninggalkan lokasi.
Sementara itu, satu jam berlalu, Arema masih duduk di tempat yang sama.
Ia menatap layar ponselnya yang tak kunjung menerima balasan. "Katanya minta ketemuan, kok nggak ada respon ya?" gumamnya.
Ia menulis pesan lagi. "Bu, saya udah di sini. Tunggu di mana ya?"
Namun, pesan itu tetap hanya bercentang dua, tidak dibalas. Ia mencoba menelpon nomor itu, tapi terdengar suara operator, "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."
Hening sesaat ....
Arema menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Ah, mungkin Bu Ida lagi sibuk. Tapi aneh banget, masa ngajak ketemu terus gak nongol?"
Rasa curiga mulai muncul di hatinya. Tapi ia bukan tipe orang yang langsung berpikir buruk. Akhirnya, setelah menunggu lebih dari setengah jam lagi, ia memutuskan untuk pulang.
Sambil berjalan ke arah halte, ia kembali menatap layar ponselnya dan mengetik pesan terakhir. "Bu, saya pulang dulu ya. Maaf kalau tadi saya salah tempat."
Namun tetap tak ada balasan.
Di rumah kontrakannya yang sederhana, Arema masih kepikiran tentang hal itu.
Malam makin larut, tapi pikirannya belum tenang. Ia lalu membuka kembali percakapan dengan nomor tak dikenal itu.
Semua percakapan ia screenshot, dari awal hingga akhir.
"Kayaknya aku harus kasih tau Rino aja deh. Siapa tahu beneran ibunya, tapi kok rasanya aneh," batinnya.
Ia pun membuka chat Rino, lalu mengirim semua screenshot tersebut. Tak lupa, ia mengetik pesan ....
"Katanya ibu kamu mau ketemu aku, tapi gak ada respon. Apa benar ini nomor ibu kamu?"
Beberapa menit kemudian, Rino membaca pesan itu. Ia tertegun. Begitu melihat nomor pengirim yang ada di screenshot, matanya langsung membelalak.
"Lho, ini kan nomor Vhero," batinnya kaget.
Ia memandang layar ponselnya cukup lama. Wajahnya tegang, tangannya mengepal.
"Ngapain sih dia ngaku-ngaku jadi ibuku segala. Astaga, Vhero," gumamnya geram.
Ia segera mengetik balasan untuk Arema. "Rema, itu nomernya blokir aja. Itu bukan nomer ibuku, dan ibuku gak punya hape."
Arema bingung. "Terus ini nomer siapa, Rin?"
Rino menghela napas panjang. Ia menatap layar ponselnya dengan wajah gusar. Ia ingin jujur, tapi juga takut masalah jadi panjang. Akhirnya ia membalas singkat saja.
"Gak tau, pokoknya bukan ibuku."
Namun setelah pesan terkirim, rasa gelisah itu tak hilang. Ia mematikan ponsel dan duduk di tepi ranjang. Kepalanya terasa berat.
"Dari mana Vhero dapet nomor Rema?" pikirnya.
Ia mencoba memutar kembali ingatannya, saat ia dan Vhero berada di hotel.
Ia ingat betul malam itu. Vheronika menelponnya dan mengajak bertemu di sebuah tempat.
Saat itu Rino memang sedang jenuh, pikirannya kacau setelah dimarahi ibunya dan bertengkar dengan Arema.
Di hotel itu, lampu redup, musik lembut terdengar samar dari bar di bawah.
Vheronika duduk di tepi ranjang, mengenakan dress hitam ketat. Di tangannya, segelas minuman berwarna keemasan.
"Nih, minum dulu sayang, biar relax," katanya waktu itu.
Rino, yang sudah kehilangan semangat dan sedang mencari pelarian, menurut saja.
Ia menenggak minuman itu tanpa curiga. Rasanya pahit, tapi hangat di tenggorokan.
Tak butuh waktu lama sebelum kepalanya terasa ringan dan pandangannya kabur.
Yang terakhir ia ingat hanyalah suara tawa lembut Vhero sebelum semuanya gelap.
Keesokan paginya, ia bangun dengan kepala pening dan tubuh lemas.
Vhero masih tidur di sebelahnya, sementara ponselnya tergeletak di meja samping ranjang.
Ia tak menyadari apa pun aneh saat itu, ia pikir malam itu hanya berakhir di situ.
Namun sekarang, potongan-potongan ingatan itu kembali menghantam kepalanya.
"Jangan-jangan waktu aku mabok, dia buka hapeku?" pikirnya dengan wajah pucat.
Ia langsung berdiri dari tempat tidur dan berjalan mondar-mandir di kamar.
"Ya Tuhan, bego banget sih aku. Gimana kalau dia sempat lihat isi chatku sama Rema?"
Pikirannya semakin kalut. Ia mengacak rambutnya, menendang kursi di depannya.
"Pantes aja dia tahu nomor Rema! Jadi waktu aku mabuk, dia salin nomor itu!"
Rino menghantam dinding dengan tangan kanannya, menahan amarah.
Ia tak menyangka perempuan yang semula hanya ia anggap teman pelarian bisa berbuat sejauh itu membohongi mantannya, berpura-pura jadi ibunya, bahkan membuat fitnah di antara mereka.
"Vher, kenapa sih kamu harus kayak gini?" bisiknya dengan nada getir.
Sementara itu, di rumah mewah keluarga Lidya dan Santo, Vheronika sedang tiduran santai di kamarnya yang luas.
Ia memainkan rambutnya sambil tersenyum puas melihat layar ponsel.
Ia menatap pesan terakhir yang dikirim Arema sore tadi, pesan yang tak ia balas.
"Kasian ya, nungguin orang yang gak bakal dateng," katanya sambil tertawa kecil.
Ia lalu menutup ponselnya dan melemparnya ke atas kasur. Dalam pikirannya, rencana berikutnya sudah disusun.
"Sekarang aku udah tau mukanya, gaya bicaranya, bahkan nomor hapenya. Kita lihat sampai sejauh mana dia masih berani ganggu aku dan Rino."
Ia tertawa lagi, tawa sinis yang penuh keangkuhan.
Di sisi lain, Rino masih duduk di kamar dengan wajah muram. Ia memikirkan langkah selanjutnya. Apakah ia harus menemui Vhero dan menegurnya? Atau lebih baik diam dan menjauh saja?
Namun yang jelas, malam itu ia tak bisa tidur. Pikiran tentang kelicikan Vhero dan rasa bersalah pada Arema terus menghantui benaknya.
Di matanya, bayangan Arema muncul kembali, senyumnya, kesederhanaannya, dan bagaimana ia selalu memahami Rino saat tak ada seorang pun yang mau mendengarkan.
"Maaf, Rema," bisiknya lirih sebelum akhirnya terlelap dalam kegelisahan.Sore hari menjelang magrib, langit mulai berwarna jingga. Sinar mentari yang meredup memantul di atap-atap kios pasar yang mulai sepi.
Para pedagang menutup dagangan mereka, sebagian sudah pulang, sebagian lagi membereskan sisa jualan sambil mengobrol ringan.
Di tengah kesibukan itu, Arema tampak melangkah tergesa menuju ujung pasar, tepat di seberang terminal kecil yang biasanya ramai oleh angkot.
Ia mengenakan blus sederhana berwarna krem dan celana panjang hitam.
Rambutnya diikat seadanya, wajahnya tampak lelah setelah seharian bekerja di toko pakaian. Namun, di matanya masih ada semangat dan sedikit rasa canggung, karena sore itu ia akan menemui seseorang yang ia yakini adalah ibu dari mantan kekasihnya, Rino.
Sebelum sampai di titik yang dijanjikan, ia sempat mengirim pesan. "Bu, aku sudah di pasar. Di pojok seberang terminal ya, nunggu di kursi."
Pesan terkirim dengan centang dua. Arema pun duduk sambil memainkan ujung tasnya.
Namun, di kejauhan, tanpa ia sadari, sepasang mata sedang mengawasinya dari balik motor maticnya yang terparkir tidak jauh dari sana.
Itu adalah Vheronika.
Dengan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya dan rambut panjang tergerai, ia tampak angkuh memandangi Arema dari jauh.
"Ternyata itu mantannya Rino," gumamnya pelan dengan nada sinis.
Matanya menelusuri sosok Arema dari atas sampai bawah. "Biasa aja, malah kelihatan cupu. Masih cantikan aku seribu kali lipat."
Ia menegakkan duduknya dan memutar matanya kesal. Sebenarnya, niat awalnya adalah untuk menakuti Arema, ingin membuatnya tidak nyaman, atau sekadar melihat seperti apa wajah perempuan yang pernah mengisi hati Rino.
Tapi begitu melihat kenyataan, rasa cemburu dan dendam di hatinya malah semakin tumbuh.
Namun entah kenapa, di sisi lain, ada juga rasa puas. "Pantes aja Rino gampang aku rebut, ceweknya lemah kayak gitu," batinnya sambil tertawa kecil.
Ia memutuskan tak perlu menemui Arema. Ia ingin membuat gadis itu kebingungan.
Biar saja menunggu lama di tempat itu, biar penasaran dan merasa bodoh karena sudah percaya pada pesan palsunya.
Vheronika menstater motornya lalu pergi begitu saja meninggalkan lokasi.
Sementara itu, satu jam berlalu, Arema masih duduk di tempat yang sama.
Ia menatap layar ponselnya yang tak kunjung menerima balasan. "Katanya minta ketemuan, kok nggak ada respon ya?" gumamnya.
Ia menulis pesan lagi. "Bu, saya udah di sini. Tunggu di mana ya?"
Namun, pesan itu tetap hanya bercentang dua, tidak dibalas. Ia mencoba menelpon nomor itu, tapi terdengar suara operator, "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."
Hening sesaat ....
Arema menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Ah, mungkin Bu Ida lagi sibuk. Tapi aneh banget, masa ngajak ketemu terus gak nongol?"
Rasa curiga mulai muncul di hatinya. Tapi ia bukan tipe orang yang langsung berpikir buruk. Akhirnya, setelah menunggu lebih dari setengah jam lagi, ia memutuskan untuk pulang.
Sambil berjalan ke arah halte, ia kembali menatap layar ponselnya dan mengetik pesan terakhir. "Bu, saya pulang dulu ya. Maaf kalau tadi saya salah tempat."
Namun tetap tak ada balasan.
Di rumah kontrakannya yang sederhana, Arema masih kepikiran tentang hal itu.
Malam makin larut, tapi pikirannya belum tenang. Ia lalu membuka kembali percakapan dengan nomor tak dikenal itu.
Semua percakapan ia screenshot, dari awal hingga akhir.
"Kayaknya aku harus kasih tau Rino aja deh. Siapa tahu beneran ibunya, tapi kok rasanya aneh," batinnya.
Ia pun membuka chat Rino, lalu mengirim semua screenshot tersebut. Tak lupa, ia mengetik pesan ....
"Katanya ibu kamu mau ketemu aku, tapi gak ada respon. Apa benar ini nomor ibu kamu?"
Beberapa menit kemudian, Rino membaca pesan itu. Ia tertegun. Begitu melihat nomor pengirim yang ada di screenshot, matanya langsung membelalak.
"Lho, ini kan nomor Vhero," batinnya kaget.
Ia memandang layar ponselnya cukup lama. Wajahnya tegang, tangannya mengepal.
"Ngapain sih dia ngaku-ngaku jadi ibuku segala. Astaga, Vhero," gumamnya geram.
Ia segera mengetik balasan untuk Arema. "Rema, itu nomernya blokir aja. Itu bukan nomer ibuku, dan ibuku gak punya hape."
Arema bingung. "Terus ini nomer siapa, Rin?"
Rino menghela napas panjang. Ia menatap layar ponselnya dengan wajah gusar. Ia ingin jujur, tapi juga takut masalah jadi panjang. Akhirnya ia membalas singkat saja.
"Gak tau, pokoknya bukan ibuku."
Namun setelah pesan terkirim, rasa gelisah itu tak hilang. Ia mematikan ponsel dan duduk di tepi ranjang. Kepalanya terasa berat.
"Dari mana Vhero dapet nomor Rema?" pikirnya.
Ia mencoba memutar kembali ingatannya, saat ia dan Vhero berada di hotel.
Ia ingat betul malam itu. Vheronika menelponnya dan mengajak bertemu di sebuah tempat.
Saat itu Rino memang sedang jenuh, pikirannya kacau setelah dimarahi ibunya dan bertengkar dengan Arema.
Di hotel itu, lampu redup, musik lembut terdengar samar dari bar di bawah.
Vheronika duduk di tepi ranjang, mengenakan dress hitam ketat. Di tangannya, segelas minuman berwarna keemasan.
"Nih, minum dulu sayang, biar relax," katanya waktu itu.
Rino, yang sudah kehilangan semangat dan sedang mencari pelarian, menurut saja.
Ia menenggak minuman itu tanpa curiga. Rasanya pahit, tapi hangat di tenggorokan.
Tak butuh waktu lama sebelum kepalanya terasa ringan dan pandangannya kabur.
Yang terakhir ia ingat hanyalah suara tawa lembut Vhero sebelum semuanya gelap.
Keesokan paginya, ia bangun dengan kepala pening dan tubuh lemas.
Vhero masih tidur di sebelahnya, sementara ponselnya tergeletak di meja samping ranjang.
Ia tak menyadari apa pun aneh saat itu, ia pikir malam itu hanya berakhir di situ.
Namun sekarang, potongan-potongan ingatan itu kembali menghantam kepalanya.
"Jangan-jangan waktu aku mabok, dia buka hapeku?" pikirnya dengan wajah pucat.
Ia langsung berdiri dari tempat tidur dan berjalan mondar-mandir di kamar.
"Ya Tuhan, bego banget sih aku. Gimana kalau dia sempat lihat isi chatku sama Rema?"
Pikirannya semakin kalut. Ia mengacak rambutnya, menendang kursi di depannya.
"Pantes aja dia tahu nomor Rema! Jadi waktu aku mabuk, dia salin nomor itu!"
Rino menghantam dinding dengan tangan kanannya, menahan amarah.
Ia tak menyangka perempuan yang semula hanya ia anggap teman pelarian bisa berbuat sejauh itu membohongi mantannya, berpura-pura jadi ibunya, bahkan membuat fitnah di antara mereka.
"Vher, kenapa sih kamu harus kayak gini?" bisiknya dengan nada getir.
Sementara itu, di rumah mewah keluarga Lidya dan Santo, Vheronika sedang tiduran santai di kamarnya yang luas.
Ia memainkan rambutnya sambil tersenyum puas melihat layar ponsel.
Ia menatap pesan terakhir yang dikirim Arema sore tadi, pesan yang tak ia balas.
"Kasian ya, nungguin orang yang gak bakal dateng," katanya sambil tertawa kecil.
Ia lalu menutup ponselnya dan melemparnya ke atas kasur. Dalam pikirannya, rencana berikutnya sudah disusun.
"Sekarang aku udah tau mukanya, gaya bicaranya, bahkan nomor hapenya. Kita lihat sampai sejauh mana dia masih berani ganggu aku dan Rino."
Ia tertawa lagi, tawa sinis yang penuh keangkuhan.
Di sisi lain, Rino masih duduk di kamar dengan wajah muram. Ia memikirkan langkah selanjutnya. Apakah ia harus menemui Vhero dan menegurnya? Atau lebih baik diam dan menjauh saja?
Namun yang jelas, malam itu ia tak bisa tidur. Pikiran tentang kelicikan Vhero dan rasa bersalah pada Arema terus menghantui benaknya.
Di matanya, bayangan Arema muncul kembali, senyumnya, kesederhanaannya, dan bagaimana ia selalu memahami Rino saat tak ada seorang pun yang mau mendengarkan.
"Maaf, Rema," bisiknya lirih sebelum akhirnya terlelap dalam kegelisahan.