Blokir Saja

30 December 2025

Dua hari telah berlalu sejak kejadian aneh di pasar itu. Namun bagi Arema, semuanya masih terasa janggal.

Seolah bayangan seseorang yang mempermainkannya terus menghantui pikirannya.

Ia sudah mencoba melupakan, tapi setiap kali membuka ponsel, perasaan was-was itu kembali menyeruak tanpa diundang.

Hari-harinya di toko pakaian pun terasa berat. Biasanya Arema dikenal sebagai karyawan rajin dan ceria, tapi dua hari terakhir wajahnya tampak sayu.

Kadang ia melamun di depan pakaian, sampai ditegur oleh Bu Sinta, pemilik toko.

"Rema, kamu nggak apa-apa? Dari kemarin kelihatan pucat lho," tanya Bu Sinta.

Arema tersenyum kecut. "Nggak apa-apa, Bu, cuma kurang tidur saja."

Padahal dalam hati, pikirannya terus berputar, kenapa nomor itu bisa tahu namaku, tahu tentang Rino, tahu tentang masa laluku?

Sore itu hujan turun deras. Arema pulang dengan payung biru yang baru ia beli beberapa hari yang lalu.

Di sepanjang jalan, lampu-lampu toko memantul di genangan air, menambah kesan sendu di matanya.

Ia berjalan cepat menembus derasnya hujan, ingin segera sampai di kosnya.

Begitu sampai, ia meletakkan tasnya dan mengganti baju. Saat ia hendak menyesap teh hangat yang ia beli tadi, ponselnya berbunyi. Notifikasi pesan dari nomor baru yang tak dikenal.

Dengan sedikit rasa curiga, ia membuka pesan itu.

"Heh, kamu gak usah kecakepan deh. Rino tuh lebih milih aku daripada kamu, dan tolong kamu jangan ganggu Rino lagi. Aku sama dia gak lama lagi mau nikah."

Arema menatap layar itu lama sekali. Jemarinya bergetar. Dada terasa sesak, dan tubuhnya seolah kehilangan tenaga.

Kalimat itu seperti menampar wajahnya berkali-kali.

Ia tidak butuh waktu lama untuk tahu siapa pengirimnya. "Vhero," bisiknya dengan nada getir.

Matanya mulai memanas, bulir air bening menetes tanpa sadar. Ia terdiam, hanya menatap layar itu sambil berusaha menenangkan diri.

Tapi semakin dibaca, semakin terasa luka lama terbuka lagi.

Ia mengingat semua yang telah terjadi antara dirinya dan Rino, bagaimana dulu mereka saling mendukung, saling memahami, hingga akhirnya semua hancur karena kehadiran Vhero.

Dan kini, setelah ia berusaha bangkit, setelah mencoba menerima kenyataan, perempuan itu muncul lagi, kali ini untuk menghinanya.

Tangannya mengepal kuat. "Silakan ambil Rino. Tapi aku pastikan kamu gak bakal bahagia sama dia," batinnya.

Wajahnya berubah dingin. Ia menghapus air matanya, menatap bayangan dirinya di kaca jendela yang basah oleh hujan.

"Sakit hatiku bakal bikin kamu sama jabang bayi kamu sengsara," batinnya lagi, lirih tapi penuh dendam.

Ia tak tahu dari mana datang kekuatan itu, mungkin dari rasa terhina, atau dari luka yang terlalu dalam.

Tapi saat itu Arema sadar, hatinya sudah berubah. Ia tidak lagi sama seperti perempuan lembut yang dulu hanya bisa menangis ketika disakiti.

Namun, meski marah dan terluka, ia tetap memilih untuk tidak menanggapi.

"Aku males ngurusin orang gak penting," katanya pelan.

Ia membuka pesan itu sekali lagi, memastikan tak ada yang terlewat. Setelah yakin, ia menekan tombol blokir.

"Cukup," ujarnya, lalu meletakkan ponsel di meja.

Tapi meski nomor itu sudah diblokir, kata-kata dari pesan tadi tetap bergema di kepalanya. Malam itu ia sulit tidur.

Ia hanya bisa menatap langit-langit kamarnya sambil memikirkan Rino.

Apakah benar Rino mau menikah dengan Vhero? Atau semua cuma ulah cewek itu lagi? Kenapa Rino gak pernah menjelaskan apa pun padaku?

Pikirannya semakin kacau. Ia ingin menelpon Rino, tapi gengsinya menahan.

Di sisi lain, ia juga takut mendengar jawaban yang mungkin akan menghancurkannya lebih dalam lagi.

Ia menarik selimut dan memejamkan mata, berharap esok hari bisa lebih baik.

Tapi nyatanya, bahkan dalam mimpi pun, bayangan Vhero dan Rino datang menghantui.

Sementara itu, di sebuah rumah mewah di kawasan elit kota, Vheronika duduk di depan cermin riasnya. Wajahnya tampak puas, bibirnya tersenyum licik. Ia baru saja menutup ponselnya setelah mengirim pesan tadi.

"Lihat aja, Rema," katanya sambil menyisir rambutnya yang panjang. "Aku bakal pastiin kamu gak bisa dekatin Rino lagi, bahkan cuma lewat pesan pun gak."

Ia menatap pantulan dirinya di cermin. "Lagipula, kamu pikir Rino bisa kembali ke kamu? Hah! Kalian berdua beda dunia!"

Gelak tawa kecil keluar dari bibirnya. Ia mengenakan lipstik merah, merapikan eyeliner-nya, lalu bangkit menuju ranjang.

Di atas meja, terdapat foto polaroid dirinya dan Rino yang ia ambil diam-diam saat Rino tidur di hotel beberapa waktu lalu.

Vheronika mengusap foto itu dengan jari, menatap wajah Rino yang terlihat polos.

"Kamu cuma perlu sedikit waktu buat sadar, Rin. Aku yang terbaik buat kamu," gumamnya penuh percaya diri.

Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa takut kecil yang tak mau ia akui.

Rasa cemas kalau Rino benar-benar menjauh darinya. Karena sejak malam di hotel itu, Rino jarang sekali menghubunginya.

Bahkan pesan-pesannya sering tak dibalas.

"Dasar cowok aneh," desisnya kesal.

Ia lalu meraih ponselnya dan menulis pesan lain kepada nomor Rino.

"Sayang, kamu kenapa gak kabarin aku sih? Aku kangen loh. Kita kan udah janji mau ketemu."

Namun pesan itu hanya dibaca, tak dibalas.

Vheronika menggigit bibir bawahnya, marah bercampur gengsi. "Berani banget dia cuekin aku."

Ia menendang kursi di dekat meja rias. Suaranya keras sampai membuat Upik, pembantu di rumah itu, datang tergesa.

"Non, ada apa?"

"Gak usah ikut campur! Keluar!" bentaknya kasar.

Upik hanya bisa menunduk, lalu berjalan pelan keluar kamar.

Ia sudah terbiasa menghadapi amarah majikannya itu. Tapi kali ini, wajah Vhero tampak lebih menyeramkan dari biasanya.

Begitu pintu tertutup, Vheronika kembali duduk dan mengambil cermin kecil. Tatapan matanya tajam.

"Kalau Rino gak mau datang ke aku, ya aku yang bakal datengin dia."

Di sisi lain, Rino sedang duduk di kamar. Ia baru saja pulang dari rumah temannya.

Di tangannya, ada ponsel yang menunjukkan notifikasi pesan dari Vhero. Tapi ia tidak membukanya.

Pikirannya masih kacau, terutama sejak tahu bahwa Vhero telah membohongi Arema dengan berpura-pura jadi ibunya.

Ia masih belum percaya bahwa perempuan yang dulu terlihat manja itu bisa selicik itu.

"Kenapa harus sampai segitunya, Vher," gumamnya pelan.

Rino membuka jendela kamarnya, menatap hujan yang masih turun. Hatinya sesak.

Ia mencoba menghubungi Arema beberapa kali sejak malam kejadian, tapi tidak pernah mendapat balasan.

"Dia pasti udah salah paham lagi," desahnya. Ia memijat pelipisnya, lalu menatap langit. "Padahal aku cuma pengen semuanya selesai dengan baik."

Namun di sudut pikirannya, ada rasa bersalah yang makin lama makin menyesakkan.

Rino sadar bahwa semua ini berawal dari dirinya, dari kesalahannya sendiri yang dulu memilih bermain-main dengan Vhero.

"Kalau aja waktu itu aku gak salah langkah, mungkin sekarang semuanya gak begini." bisiknya penuh penyesalan.

Ia kemudian menatap layar ponselnya lagi, membuka pesan dari Vhero yang belum dibaca. Setelah ragu sejenak, ia membukanya juga.

"Sayang, kamu kenapa gak kabarin aku sih? Aku kangen loh. Kita kan udah janji mau ketemu."

Rino mendengus, lalu mengetik cepat. "Vhero, tolong berhenti ngirim pesan kayak gini. Aku lagi pengen sendiri."

Pesan terkirim. Tak lama, balasan datang. "Sendiri? Atau kamu lagi mikirin mantan kamu itu?"

Rino mengerutkan dahi. Ia tahu arah pembicaraan ini tak akan baik.

Ia memilih tidak membalas lagi. Namun di dalam hati, amarah dan kecewa semakin menumpuk.

Rino mematikan ponselnya dan berbaring. Tapi matanya tetap terbuka menatap langit-langit kamar.

Dalam hati, hanya ada satu nama yang masih berputar. Arema.

Malam semakin larut.

Di tempat berbeda, Arema duduk di depan jendela kamarnya sambil memeluk lutut.

Hujan sudah reda, tapi suara tetesan air di atap masih terdengar pelan.

"Rino … semoga kamu sadar siapa yang tulus sama kamu," bisiknya perlahan.

Ia lalu mematikan lampu, membaringkan diri, dan mencoba memejamkan mata.

Namun jauh di lubuk hatinya, ada firasat buruk. Entah kenapa, malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.

Dan di tempat lain, Vheronika menatap layar ponselnya sambil tersenyum miring.

"Main cantik, Rem, ini baru permulaan."Dua hari telah berlalu sejak kejadian aneh di pasar itu. Namun bagi Arema, semuanya masih terasa janggal.

Seolah bayangan seseorang yang mempermainkannya terus menghantui pikirannya.

Ia sudah mencoba melupakan, tapi setiap kali membuka ponsel, perasaan was-was itu kembali menyeruak tanpa diundang.

Hari-harinya di toko pakaian pun terasa berat. Biasanya Arema dikenal sebagai karyawan rajin dan ceria, tapi dua hari terakhir wajahnya tampak sayu.

Kadang ia melamun di depan pakaian, sampai ditegur oleh Bu Sinta, pemilik toko.

"Rema, kamu nggak apa-apa? Dari kemarin kelihatan pucat lho," tanya Bu Sinta.

Arema tersenyum kecut. "Nggak apa-apa, Bu, cuma kurang tidur saja."

Padahal dalam hati, pikirannya terus berputar, kenapa nomor itu bisa tahu namaku, tahu tentang Rino, tahu tentang masa laluku?

Sore itu hujan turun deras. Arema pulang dengan payung biru yang baru ia beli beberapa hari yang lalu.

Di sepanjang jalan, lampu-lampu toko memantul di genangan air, menambah kesan sendu di matanya.

Ia berjalan cepat menembus derasnya hujan, ingin segera sampai di kosnya.

Begitu sampai, ia meletakkan tasnya dan mengganti baju. Saat ia hendak menyesap teh hangat yang ia beli tadi, ponselnya berbunyi. Notifikasi pesan dari nomor baru yang tak dikenal.

Dengan sedikit rasa curiga, ia membuka pesan itu.

"Heh, kamu gak usah kecakepan deh. Rino tuh lebih milih aku daripada kamu, dan tolong kamu jangan ganggu Rino lagi. Aku sama dia gak lama lagi mau nikah."

Arema menatap layar itu lama sekali. Jemarinya bergetar. Dada terasa sesak, dan tubuhnya seolah kehilangan tenaga.

Kalimat itu seperti menampar wajahnya berkali-kali.

Ia tidak butuh waktu lama untuk tahu siapa pengirimnya. "Vhero," bisiknya dengan nada getir.

Matanya mulai memanas, bulir air bening menetes tanpa sadar. Ia terdiam, hanya menatap layar itu sambil berusaha menenangkan diri.

Tapi semakin dibaca, semakin terasa luka lama terbuka lagi.

Ia mengingat semua yang telah terjadi antara dirinya dan Rino, bagaimana dulu mereka saling mendukung, saling memahami, hingga akhirnya semua hancur karena kehadiran Vhero.

Dan kini, setelah ia berusaha bangkit, setelah mencoba menerima kenyataan, perempuan itu muncul lagi, kali ini untuk menghinanya.

Tangannya mengepal kuat. "Silakan ambil Rino. Tapi aku pastikan kamu gak bakal bahagia sama dia," batinnya.

Wajahnya berubah dingin. Ia menghapus air matanya, menatap bayangan dirinya di kaca jendela yang basah oleh hujan.

"Sakit hatiku bakal bikin kamu sama jabang bayi kamu sengsara," batinnya lagi, lirih tapi penuh dendam.

Ia tak tahu dari mana datang kekuatan itu, mungkin dari rasa terhina, atau dari luka yang terlalu dalam.

Tapi saat itu Arema sadar, hatinya sudah berubah. Ia tidak lagi sama seperti perempuan lembut yang dulu hanya bisa menangis ketika disakiti.

Namun, meski marah dan terluka, ia tetap memilih untuk tidak menanggapi.

"Aku males ngurusin orang gak penting," katanya pelan.

Ia membuka pesan itu sekali lagi, memastikan tak ada yang terlewat. Setelah yakin, ia menekan tombol blokir.

"Cukup," ujarnya, lalu meletakkan ponsel di meja.

Tapi meski nomor itu sudah diblokir, kata-kata dari pesan tadi tetap bergema di kepalanya. Malam itu ia sulit tidur.

Ia hanya bisa menatap langit-langit kamarnya sambil memikirkan Rino.

Apakah benar Rino mau menikah dengan Vhero? Atau semua cuma ulah cewek itu lagi? Kenapa Rino gak pernah menjelaskan apa pun padaku?

Pikirannya semakin kacau. Ia ingin menelpon Rino, tapi gengsinya menahan.

Di sisi lain, ia juga takut mendengar jawaban yang mungkin akan menghancurkannya lebih dalam lagi.

Ia menarik selimut dan memejamkan mata, berharap esok hari bisa lebih baik.

Tapi nyatanya, bahkan dalam mimpi pun, bayangan Vhero dan Rino datang menghantui.

Sementara itu, di sebuah rumah mewah di kawasan elit kota, Vheronika duduk di depan cermin riasnya. Wajahnya tampak puas, bibirnya tersenyum licik. Ia baru saja menutup ponselnya setelah mengirim pesan tadi.

"Lihat aja, Rema," katanya sambil menyisir rambutnya yang panjang. "Aku bakal pastiin kamu gak bisa dekatin Rino lagi, bahkan cuma lewat pesan pun gak."

Ia menatap pantulan dirinya di cermin. "Lagipula, kamu pikir Rino bisa kembali ke kamu? Hah! Kalian berdua beda dunia!"

Gelak tawa kecil keluar dari bibirnya. Ia mengenakan lipstik merah, merapikan eyeliner-nya, lalu bangkit menuju ranjang.

Di atas meja, terdapat foto polaroid dirinya dan Rino yang ia ambil diam-diam saat Rino tidur di hotel beberapa waktu lalu.

Vheronika mengusap foto itu dengan jari, menatap wajah Rino yang terlihat polos.

"Kamu cuma perlu sedikit waktu buat sadar, Rin. Aku yang terbaik buat kamu," gumamnya penuh percaya diri.

Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa takut kecil yang tak mau ia akui.

Rasa cemas kalau Rino benar-benar menjauh darinya. Karena sejak malam di hotel itu, Rino jarang sekali menghubunginya.

Bahkan pesan-pesannya sering tak dibalas.

"Dasar cowok aneh," desisnya kesal.

Ia lalu meraih ponselnya dan menulis pesan lain kepada nomor Rino.

"Sayang, kamu kenapa gak kabarin aku sih? Aku kangen loh. Kita kan udah janji mau ketemu."

Namun pesan itu hanya dibaca, tak dibalas.

Vheronika menggigit bibir bawahnya, marah bercampur gengsi. "Berani banget dia cuekin aku."

Ia menendang kursi di dekat meja rias. Suaranya keras sampai membuat Upik, pembantu di rumah itu, datang tergesa.

"Non, ada apa?"

"Gak usah ikut campur! Keluar!" bentaknya kasar.

Upik hanya bisa menunduk, lalu berjalan pelan keluar kamar.

Ia sudah terbiasa menghadapi amarah majikannya itu. Tapi kali ini, wajah Vhero tampak lebih menyeramkan dari biasanya.

Begitu pintu tertutup, Vheronika kembali duduk dan mengambil cermin kecil. Tatapan matanya tajam.

"Kalau Rino gak mau datang ke aku, ya aku yang bakal datengin dia."

Di sisi lain, Rino sedang duduk di kamar. Ia baru saja pulang dari rumah temannya.

Di tangannya, ada ponsel yang menunjukkan notifikasi pesan dari Vhero. Tapi ia tidak membukanya.

Pikirannya masih kacau, terutama sejak tahu bahwa Vhero telah membohongi Arema dengan berpura-pura jadi ibunya.

Ia masih belum percaya bahwa perempuan yang dulu terlihat manja itu bisa selicik itu.

"Kenapa harus sampai segitunya, Vher," gumamnya pelan.

Rino membuka jendela kamarnya, menatap hujan yang masih turun. Hatinya sesak.

Ia mencoba menghubungi Arema beberapa kali sejak malam kejadian, tapi tidak pernah mendapat balasan.

"Dia pasti udah salah paham lagi," desahnya. Ia memijat pelipisnya, lalu menatap langit. "Padahal aku cuma pengen semuanya selesai dengan baik."

Namun di sudut pikirannya, ada rasa bersalah yang makin lama makin menyesakkan.

Rino sadar bahwa semua ini berawal dari dirinya, dari kesalahannya sendiri yang dulu memilih bermain-main dengan Vhero.

"Kalau aja waktu itu aku gak salah langkah, mungkin sekarang semuanya gak begini." bisiknya penuh penyesalan.

Ia kemudian menatap layar ponselnya lagi, membuka pesan dari Vhero yang belum dibaca. Setelah ragu sejenak, ia membukanya juga.

"Sayang, kamu kenapa gak kabarin aku sih? Aku kangen loh. Kita kan udah janji mau ketemu."

Rino mendengus, lalu mengetik cepat. "Vhero, tolong berhenti ngirim pesan kayak gini. Aku lagi pengen sendiri."

Pesan terkirim. Tak lama, balasan datang. "Sendiri? Atau kamu lagi mikirin mantan kamu itu?"

Rino mengerutkan dahi. Ia tahu arah pembicaraan ini tak akan baik.

Ia memilih tidak membalas lagi. Namun di dalam hati, amarah dan kecewa semakin menumpuk.

Rino mematikan ponselnya dan berbaring. Tapi matanya tetap terbuka menatap langit-langit kamar.

Dalam hati, hanya ada satu nama yang masih berputar. Arema.

Malam semakin larut.

Di tempat berbeda, Arema duduk di depan jendela kamarnya sambil memeluk lutut.

Hujan sudah reda, tapi suara tetesan air di atap masih terdengar pelan.

"Rino … semoga kamu sadar siapa yang tulus sama kamu," bisiknya perlahan.

Ia lalu mematikan lampu, membaringkan diri, dan mencoba memejamkan mata.

Namun jauh di lubuk hatinya, ada firasat buruk. Entah kenapa, malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.

Dan di tempat lain, Vheronika menatap layar ponselnya sambil tersenyum miring.

"Main cantik, Rem, ini baru permulaan."