Plak!
Suara tamparan itu bergema di udara sore yang pengap. Affany, seorang pemuda kurus dengan wajah pucat dan pakaian lusuh, terhuyung ke tanah berdebu. Darah segar merembes dari sudut bibirnya. Di hadapannya, seorang oknum polisi berseragam berdiri tegap dengan wajah penuh arogansi. Tatapan matanya dingin, seolah kepuasan muncul dari tamparan barusan.
“Kurang ajar kau, apa maksudmu datang ke sini?” geram polisi itu. Suaranya keras, memecah hiruk pikuk pasar yang terletak tak jauh dari kantor pemerintahan daerah.
Affany mencoba bangkit, tangannya gemetar menahan sakit di pipi. Tatapannya sayu, tapi matanya menyala oleh perasaan terhina. “Aku hanya ingin tahu, kemana uang pajak kami, Pak? Ibu-ibu di kampungku kelaparan. Anak-anak tak sekolah karena bangku kelas hancur. Sementara kalian duduk di gedung megah.”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tamparan kedua mendarat. Lebih keras. Orang-orang di sekitar pasar yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa bergidik, sebagian pura-pura tidak melihat, sebagian lagi memalingkan wajah. Tak ada yang berani menolong.
“Diam kau! Manusia macammu hanya tahu minta, minta dan minta. Tahu apa tentang uang negara? Kerja sana! Kalau kau mau uang,” bentak si polisi, menekankan sepatu botnya ke dada Affany yang kini rebah.
Udara sore terasa semakin sesak. Affany menatap langit yang berwarna kelabu, seolah matahari pun enggan bersinar di tanah yang penuh ketidakadilan ini. Ia ingin berteriak, tapi suara itu tertahan di tenggorokannya, tertutup rasa takut yang telah mengakar di hati rakyat kecil sepertinya.
Malam itu, Affany pulang dengan langkah terseok. Di rumah gubuknya, ibunya sudah menunggu dengan wajah cemas. Wanita renta itu segera menghampiri, mengusap wajah putranya yang bengkak.
“Ya Allah, Nak, kenapa lagi wajahmu? Siapa yang menyakitimu?” suara ibunya bergetar.
Affany tersenyum getir. “Tak usah khawatir, Bu. Hanya aparat yang tak senang mendengar rakyat kecil bertanya. Mereka bilang aku lancang dan tak tahu diri.”
Sang ibu menitikkan air mata. Ia tahu benar, sejak kecil Affany punya hati yang berani, tapi keberanian itu kini menjadi kutukan.
Di meja makan reyot hanya ada nasi basi dan garam. Affany menatapnya lama, lalu duduk. “Bu, besok kita tak usah beli beras dulu. Aku akan coba kerja lagi di pasar. Entah jadi kuli angkut atau apa pun.”
Sang ibu tak berkata-kata. Ia hanya menatap wajah putranya, wajah seorang pemuda yang dipaksa dewasa terlalu cepat oleh penderitaan.
Beberapa hari kemudian, Affany bersama warga kampung diundang untuk menghadiri sebuah acara sosialisasi dari anggota dewan. Gedung tempat acara itu digelar megah, berpendingin ruangan dengan lampu kristal bergemerlapan.
Di depan panggung, seorang anggota dewan berdiri sambil tersenyum manis, menjanjikan pembangunan jalan, sekolah, hingga bantuan sembako. Kata-katanya manis, suaranya lantang, membuat hadirin sesaat lupa pada kenyataan pahit.
Namun, Affany tak bisa menahan getir. Ia tahu janji itu hanya tinggal janji. Sudah bertahun-tahun ia mendengar kata-kata serupa, tapi kampungnya tetap tenggelam dalam lumpur kemiskinan.
Sementara itu, di parkiran gedung, berderet mobil mewah berkilau milik para pejabat. Beberapa bahkan baru keluar dari dealer, dengan plat nomor khusus. Affany menggertakkan giginya. “Semua ini dari pajak kami,” gumamnya lirih.
Suatu hari, Affany memberanikan diri berbicara dalam forum desa yang dihadiri pejabat daerah.
“Tuan, kami sudah membayar pajak setiap tahun. Kami rela menjual hasil panen dengan harga murah, rela makan seadanya, hanya agar kewajiban kami terpenuhi, tapi kenapa sekolah anak-anak kami roboh? Kenapa puskesmas tak punya obat? Ke mana uang itu?”
Ruangan mendadak hening. Warga lain saling pandang, sebagian bangga, sebagian besar dari mereka takut.
Pejabat yang duduk di depan tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara penuh basa-basi, “Anak muda, kau harus sabar. Pembangunan butuh waktu. Uang negara sudah dialokasikan dengan baik.”
“Dialokasikan ke mana?!” suara Affany meninggi. “Ke mobil-mobil mewah kalian? Ke jam tangan emas kalian? Sementara anak-anak di kampungku harus belajar di lantai tanah?!”
Seisi ruangan bergemuruh. Beberapa warga mulai bersorak kecil, tapi sorakan itu cepat padam ketika aparat keamanan masuk dan menyeret Affany keluar.
Di luar, hujan turun deras. Tubuh Affany basah kuyup saat ia dilempar begitu saja ke tanah. Salah satu aparat menunduk ke wajahnya dan berbisik sinis.
“Kau sudah melangkahi batas. Hati-hati, nyawa murah seperti milikmu bisa hilang tanpa jejak.”
Hari-hari berikutnya, Affany semakin terasing. Banyak warga yang diam-diam memujinya karena berani bersuara, tapi tak ada yang berani berdiri bersamanya. Mereka takut.
Namun, di balik rasa takut itu, bara kecil mulai tumbuh. Orang-orang mulai berbisik di warung kopi, di sawah dan di pinggir jalan. Tentang uang pajak yang habis di meja judi, di pesta dansa, di rekening luar negeri para pejabat.
Kabar itu seperti api kecil yang menjalar di hutan kering. Tak terlihat, tapi membakar.
Affany duduk di bawah pohon bambu di tepi sungai suatu sore, tatapannya kosong. Seorang pemuda sebaya menghampirinya. Namanya Raka, teman lamanya.
“Fan, kau gila berteriak di depan pejabat, tapi aku salut. Kau mengucapkan apa yang kami semua pendam.”
Affany menoleh, matanya berkaca-kaca. “Aku lelah, Rak. Bukan hanya lapar karena tak makan, tapi lapar akan keadilan. Lapar akan rasa dihargai sebagai manusia.”
Raka menggenggam bahunya erat. “Kalau begitu, jangan berhenti. Mungkin kita bisa buat suara kita lebih besar.”
Di sebuah rumah kosong di pinggir kota, beberapa pemuda berkumpul. Mereka adalah petani, buruh, pedagang kecil, mahasiswa, semua wajah lelah yang muak dengan janji palsu.
Affany berdiri di depan mereka. Ia tak lagi sekadar pemuda miskin. Kini matanya menyala dengan api baru.
“Kita sudah terlalu lama dibungkam. Pajak kita habis untuk mereka yang duduk di kursi empuk, sementara kita hanya diberi janji basi. Saatnya kita menuntut. Bukan dengan senjata, tapi dengan keberanian. Jika seribu mulut bicara, tak akan bisa mereka tampar satu per satu.”
Ruangan itu bergemuruh oleh semangat. Untuk pertama kalinya, rakyat kecil itu merasa punya suara.
Namun, di luar sana mata-mata aparat sudah mengintai. Nama Affany perlahan masuk daftar hitam.
Beberapa minggu kemudian, aksi damai pun direncanakan. Ratusan orang turun ke jalan, membawa poster dengan tulisan 'Uang pajak untuk rakyat, bukan untuk perut tikus'.
Affany berdiri di depan barisan, suaranya lantang meski tubuhnya kurus. “Kami bukan pengkhianat bangsa! Kami hanya menuntut hak kami. Kami ingin sekolah untuk anak-anak kami, obat untuk orang tua kami, jalan untuk sawah kami!”
Namun, barisan aparat telah menunggu. Perisai, pentungan, gas air mata.
Bentrok tak terelakkan. Jeritan rakyat bercampur dengan suara tembakan peringatan. Tubuh-tubuh terjatuh, darah membasahi aspal.
Affany berlari menolong seorang ibu yang pingsan karena gas air mata. Saat itu, sebuah pentungan menghantam punggungnya. Dunia berputar, pandangannya gelap.
Di tengah kesadaran yang memudar, ia mendengar suara salah satu aparat berbisik, “Tangkap dia hidup-hidup. Dia terlalu berbahaya kalau dibiarkan bebas.”
Affany hilang.
Keesokan paginya, kampung Affany geger. Pemuda itu tak pulang. Ibunya menunggu di pintu gubuk hingga matahari terbit, tapi yang datang hanya kabar burung, bahwa ia dibawa ke tempat yang tak diketahui.
Raka dan teman-temannya mencoba mencari, tapi tak ada jejak. Semua saksi bungkam, takut pada ancaman.
Namun, bisikan tentang keberanian Affany semakin meluas. Dari pasar ke pasar, dari sawah ke sawah, nama Affany mulai disebut-sebut sebagai simbol perlawanan.
Di sebuah gedung mewah, para pejabat duduk tenang, minum anggur mahal sambil tertawa. Mereka mengira satu pemuda miskin bisa membungkam ribuan mulut, tapi mereka salah.
Karena setiap luka yang ditinggalkan Affany, justru menjadi bara yang siap membakar.
Dan di suatu tempat gelap, Affany terbangun dengan tangan terikat, wajahnya lebam dan suara kasar terdengar dari balik bayangan.
“Selamat datang di neraka, bocah miskin. Kau pikir kau bisa melawan sistem ini?”
Di sebuah ruangan berlapis marmer mahal, meja bundar panjang dipenuhi makanan mewah: daging impor, anggur merah, hingga cerutu dengan aroma tajam. Di balik pintu tertutup rapat itu, para anggota dewan duduk melingkar. Wajah-wajah mereka mengilap diterpa cahaya lampu kristal, tangan mereka berhias cincin emas.
“Pajak tahun ini berhasil kita kumpulkan dengan angka fantastis,” ujar seorang pria berkacamata tebal, salah satu ketua komisi keuangan. Ia menepuk meja dengan puas. “Rakyat itu benar-benar patuh. Bahkan yang tinggal di gubuk reyot pun rela menjual sawahnya demi membayar.”
Tawa pecah. Gelak yang terdengar seperti ejekan terhadap jutaan perut lapar di luar sana.
Seorang anggota dewan wanita dengan gaun elegan menambahkan, “tapi kita harus cerdas. Tak bisa semua dana langsung kita nikmati. Harus ada jalur cuci uang. Kita bisa pakai proyek fiktif, dana infrastruktur atau program pendidikan yang tak pernah terealisasi. Nanti tinggal kita laporkan semua berjalan baik.”
“Benar,” sahut yang lain. “Kita akan buat laporan renovasi sekolah. Padahal gedung sekolah itu masih roboh, tapi di kertas, semua sempurna.”
Mereka bersulang, menikmati keindahan ilusi yang diciptakan di atas penderitaan rakyat.
Namun, di balik tirai, seorang pelayan hotel yang kebetulan masuk untuk mengganti minuman mencuri dengar. Tangan pelayan itu bergetar saat ia meletakkan botol anggur. Ia tahu, kalau pun ia melapor, tak ada yang berani menyentuh orang-orang di meja itu, tapi hatinya menjerit, karena ia juga punya anak yang belajar di kelas tanpa kursi.
Sementara itu, jauh di kampung, rakyat terus berjuang.
Raka, sahabat Affany, kini harus bekerja tiga kali lipat untuk menghidupi ibunya yang sakit. Pagi hari ia jadi kuli bangunan, siang hari ia narik gerobak di pasar, malamnya ia masih membantu tetangga menanam sayur. Semua demi satu hal, menyisihkan uang untuk pajak tahunan.
“Apa gunanya kita bayar, Rak? Mereka toh, menghabiskan semua untuk diri mereka,” kata seorang pemuda lain di ladang.
Raka menghela napas panjang. “Kalau tak bayar, kita dianggap pembangkang. Bisa dipenjara. Bisa disiksa seperti Affany. Lebih baik kita tahan lapar, asal mereka tak punya alasan menyeret kita.”
Di ladang kering itu, para petani bekerja di bawah terik matahari. Punggung mereka membungkuk, kulit mereka menghitam. Setiap biji padi yang ditanam adalah harapan, meski mereka tahu hasilnya lebih banyak jatuh ke perut pejabat ketimbang ke piring sendiri.
Di pasar, seorang ibu menjual sayur layu dengan harga murah. “Ini semua demi bayar pajak kios, Nak,” katanya lirih kepada putrinya yang masih kecil. “Kalau tidak, kios kita akan disegel.”
Mata sang putri berair. Ia ingin sekolah, tapi bukunya habis untuk dibeli beras.
Kembali ke ruang dewan, pembahasan semakin licin.
“Kita harus jaga citra,” kata pria berkacamata itu. “Tahun depan ada pemilihan. Rakyat harus percaya kita peduli. Jadi, sebagian dana akan kita alokasikan ke acara amal, pembagian sembako murahan, panggung musik rakyat. Itu saja sudah cukup membuat mereka bersorak.”
“Bagus,” sahut yang lain. “Dan jangan lupa media. Bayar wartawan untuk tulis berita indah. Tampilkan foto kita tersenyum sambil menggendong anak kecil kurus. Publik akan terharu. Mereka tak perlu tahu bahwa uang untuk beli sembako itu hanya sisa dari miliaran yang kita telan.”
Tawa kembali menggema. Gelas anggur saling beradu.
Salah satu anggota yang lebih muda tampak ragu. Ia berbisik pelan, “tap kalau ada rakyat yang terus menuntut? Seperti pemuda bernama Affany yang sempat berani bicara?”
Sejenak ruangan itu hening. Wajah-wajah tua berkerut dengan tatapan tajam.
“Dia sudah ditangani. Jangan khawatir,” kata seorang dengan suara dingin. “Orang-orang seperti itu hanya perlu dipatahkan semangatnya. Kalau tidak dengan ancaman, ya dengan cara lain.”
Malam di kampung terasa berat. Raka dan beberapa pemuda duduk melingkar di bawah lampu minyak. Mereka masih membicarakan hilangnya Affany.
“Kalau dia benar dibawa aparat, berarti dia korban berikutnya,” gumam salah satu.
Raka mengepalkan tangan. “Kalau begitu, kita tak boleh berhenti. Justru sekarang kita harus bersuara lebih keras. Kalau tidak, Affany ditangkap sia-sia.”
“Dengan apa? Kita tak punya senjata, tak punya panggung.”
“Dengan keberanian. Dengan mulut kita. Dengan tulisan, cerita dengan apa pun yang bisa membuka mata hati orang lain.”
Meski banyak yang ragu, bara kecil mulai tumbuh. Suara rakyat memang pelan, tapi sekali mengalir, sulit dihentikan.
Di balik gedung dewan, para pejabat kini sibuk merancang strategi baru, mencuci uang pajak lewat perusahaan cangkang, menaruhnya di rekening luar negeri, lalu mengembalikannya dalam bentuk investasi bodong.
“Kalau ada audit?” tanya seorang.
“Kita sudah punya orang dalam di lembaga pengawas. Semua laporan aman,” jawab yang lain sambil tersenyum.
Namun, kabar mulai bocor. Bisikan tentang skema licik itu menyebar lewat sopir pribadi, pelayan hotel, sekretaris, hingga satpam. Rakyat jelata tak tahu detailnya, tapi mereka mulai sadar uang yang mereka bayar dengan keringat dan air mata tak pernah benar-benar kembali.
Di pasar, di ladang, di warung kopi, obrolan rakyat kini selalu sama. Sebuah pajak, dewan dan pengkhianatan.
Malam itu, Raka berjalan pulang melewati jalan setapak. Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depannya. Dua pria bertubuh tegap turun, menatapnya dengan dingin.
“Kau banyak bicara, Raka,” kata salah satu. “Hentikan atau nasibmu akan sama seperti Affany.”
Raka terdiam. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Namun, di balik rasa takut, ia merasakan sesuatu menyala dalam dadanya.
Jika benar Affany ditangkap karena bersuara, maka diam hanya akan membuat penguasa semakin berkuasa.
Malam itu, Raka berjanji pada dirinya sendiri, ia akan melanjutkan langkah Affany, meski harus menukar nyawanya.
Jauh di ruang megah gedung dewan, para pejabat kembali bersulang, buta pada bara yang diam-diam tumbuh di luar sana bara yang suatu hari bisa berubah menjadi api besar yang melahap kursi-kursi mereka.
Tubuh Affany terikat di kursi besi berkarat. Lampu kuning menggantung di atas kepalanya, berayun-ayun seperti sumbu yang hampir padam. Ruangan itu lembab, bau karat bercampur darah.
Setiap hari, ia dipukul, ditendang, ditanyai. “Siapa yang mendukungmu? Siapa yang menyuruhmu bicara di forum itu?” tanya para aparat yang bergantian masuk.
Namun, Affany tak menjawab. Mulutnya pecah, matanya bengkak, tapi ia memilih diam.
Pada malam ketujuh, ketika penjaga lengah, ia mendengar percakapan di balik pintu. Dua orang aparat berbisik.
“Dewan mau semua bukti dimusnahkan. Termasuk bocah ini."
"Mereka sudah terlalu jauh. Kau tahu laporan itu? Ada data rekening, ada nama perusahaan cangkang. Kalau sampai bocor, habislah mereka.”
“Makanya bocah ini harus hilang. Satu nyawa untuk menyelamatkan seratus kursi.”
Kata-kata itu menusuk telinga Affany. Ia sadar, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar tamparan dan ancaman. Ada bukti. Ada kebenaran dan jika ia bisa keluar, ia bisa membawanya ke dunia luar.
Di ruang rapat dewan, suasana mendidih.
“Dana proyek fiktif hampir terendus! Ada media kecil yang berani menulis!” seru seorang anggota muda, wajahnya pucat.
Pria berkacamata tebal, sang ketua komisi, mengetuk meja keras. “Tenang. Kita punya kendali atas media besar. Berita itu akan tenggelam.”
“Bagaimana dengan bocah miskin itu, Affany? Katanya dia tahu sesuatu.”
Ruangan seketika sunyi. Seorang wanita bergaun elegan menyalakan rokok, asapnya berputar di udara. “Tenang saja. Dia hanya rakyat jelata. Tak ada yang akan percaya pada kata-katanya.”
Namun, seorang pria di sudut meja tersenyum samar. Ia berbeda dari yang lain. Dalam hati kecilnya, ia tahu, tak semua rahasia bisa dibungkam.
Sementara itu, di kampung, rakyat semakin tercekik. Pajak kios naik. Pajak ladang naik. Pajak kendaraan, pajak sampah, pajak udara semua dipungut tanpa ampun.
Raka kini bekerja hampir tanpa tidur. Tangan kasarnya penuh luka, tapi ia tetap menyerahkan uang ke kantor pajak desa.
“Untuk apa kau terus bayar, Nak?” tanya ibunya yang sakit.
“Karena kalau tidak, mereka akan menutup rumah ini, Bu.”
Air mata ibunya jatuh. Bagaimana mungkin negara yang seharusnya melindungi rakyatnya justru menjadi pemangsa?
Di pasar, seorang pedagang kecil ditarik paksa karena belum bayar retribusi. Ia menjerit, anaknya menangis. Orang-orang hanya bisa menunduk, takut nasib yang sama.
Namun, di tengah kepasrahan itu, suara-suara kecil mulai terdengar. Bisikan tentang kebusukan dewan. Bisikan tentang keberanian Affany.
Suatu malam, seorang aparat yang menjaga Affany diam-diam mendekat. Ia masih muda, wajahnya penuh keraguan.
“Aku tak tahan melihatmu disiksa,” bisiknya. “Aku juga punya adik seumurmu, hidup di kampung yang sama miskinnya. Aku tahu mereka semua maling. Aku bisa bantu kau keluar, tapi dengan satu syarat, bawa pesan ini.”
Ia menyelipkan amplop lusuh ke saku baju Affany. “Di dalamnya ada salinan laporan transfer uang. Nama-nama besar. Bukti pencucian. Kalau kau berhasil keluar, tunjukkan pada rakyat. Biar mereka tahu siapa musuh sebenarnya.”
Affany menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ada celah harapan.
Malam gelap tanpa bulan. Affany berhasil kabur lewat saluran air kotor, tubuhnya penuh lumpur dan darah. Dengan sisa tenaga, ia berlari ke arah kampung.
Raka dan beberapa pemuda terkejut melihatnya datang terhuyung. Mereka segera membawanya masuk ke rumah kecil.
“Fan! Kau hidup! Apa yang mereka lakukan padamu?” teriak Raka.
Affany terbatuk, lalu mengeluarkan amplop itu. “Ini, bukti. Mereka bukan hanya mencuri pajak. Mereka mencuci uang lewat proyek fiktif. Mereka menyakiti kita semua dengan senyum manis di televisi.”
Pemuda-pemuda itu membuka amplop. Nama-nama pejabat terpampang jelas, angka transfer miliaran mengalir ke luar negeri.
Mereka terdiam. Lalu salah satu berbisik, “Kita harus sebarkan ini.”
Kabar itu menyebar seperti badai. Salinan dokumen itu diperbanyak, difoto, disebar lewat ponsel murah, ditempel di dinding pasar.
Warga yang semula diam kini mulai marah. Mereka berteriak di jalan-jalan, menggedor pintu kantor pajak desa. “Kami tak mau bayar untuk perut tikus!”
Di televisi, para pejabat tetap tersenyum, menyangkal semua tuduhan. “Itu hanya fitnah. Hoaks. Jangan percaya berita liar.”
Namun, rakyat yang lapar tak lagi bisa dibohongi dengan kata-kata manis. Mereka punya bukti. Mereka punya luka dan luka itu kini berubah jadi senjata.
Demonstrasi meletus di berbagai kota. Rakyat turun dengan poster bertuliskan. “Kami Membayar, Kalian Mencuri”.
Gas air mata ditembakkan, pentungan diayunkan, darah kembali berceceran di jalanan, tapi kali ini, rakyat tak mundur. Mereka bertahan. Mereka bernyanyi, mereka menjeritkan nama-nama pejabat yang tertulis di dokumen itu.
Raka berdiri di barisan depan, tubuhnya gemetar, tapi matanya menyala. Di sampingnya, Affany meski lemah tetap mengangkat poster dengan tangan bergetar.
“Kalian bisa menampar kami,” teriaknya lantang, “tapi kalian tak bisa menampar kebenaran!”
Sorak-sorai menggema. Rakyat menemukan suaranya kembali.
Di gedung dewan, kepanikan melanda.
“Bagaimana mungkin dokumen itu bocor?!” teriak ketua komisi.
“Siapa pengkhianatnya?!”
Mereka saling menuduh, saling teriak. Retakan mulai terlihat di wajah-wajah yang biasanya penuh percaya diri.
Salah satu dari mereka membanting kursi. “Kalau kita tak hentikan ini sekarang, rakyat akan menyalakan api lebih besar! Kita bisa tumbang!”
Wanita bergaun elegan itu menghela napas, suaranya dingin. “Kalau begitu, padamkan apinya sebelum membakar semuanya. Singkirkan anak itu. Singkirkan siapa pun yang tahu.”
Malam itu, aparat bersenjata kembali menyerbu kampung. Mereka membakar rumah, menembak udara, mencari Affany dan dokumen aslinya.
Jerit rakyat menggema. Anak-anak menangis, wanita berlari, pria mencoba melawan dengan tangan kosong.
Di tengah kekacauan itu, Affany berlari bersama Raka, membawa sisa dokumen di dalam tas plastik. Mereka tahu, kalau bukti ini hilang, semua pengorbanan sia-sia.
Tembok api membakar di belakang mereka, tapi langkah mereka tak berhenti.
Fajar menyingsing. Asap hitam membubung ke langit, menutup cahaya matahari.
Affany berdiri di tepi jembatan, tubuhnya penuh luka. Di tangannya, dokumen itu masih tergenggam erat.
Raka menatapnya dengan wajah putus asa. “Fan, mereka semakin dekat. Kalau kita jatuh sekarang, semua habis!”
Affany menatap langit yang memerah oleh api dan darah. Dengan suara parau, ia berkata, “Kalau aku tumbang, pastikan rakyat tetap tahu kebenarannya. Jangan biarkan mereka lupa siapa yang sebenarnya menghancurkan negeri ini.”
Langkah sepatu berat terdengar mendekat. Aparat bersenjata mengepung, senjata diarahkan.
Rakyat mulai berkumpul di seberang jembatan, wajah-wajah marah, mata-mata penuh api. Mereka menatap Affany, menatap dokumen di tangannya.
Seketika, teriakan menggema. "Kami tak takut lagi!”
Suara itu pecah, mengguncang udara, membuat aparat tertegun.
Saat itu, sebelum peluru pertama ditembakkan, sebelum api benar-benar melahap langit, cerita berhenti.
TAMAT.
Karena jawabannya ada di tangan kita.
Apakah kita akan tetap diam atau ikut bersuara?
Apakah kita akan biarkan pejabat terus mencuri atau kita akan peduli?
Apakah kita akan membiarkan luka membusuk atau kita akan menjadikannya bara yang membakar jalan menuju keadilan?