Pagi itu, matahari menyorot lembut melalui kaca etalase toko pakaian tempat Arema bekerja. Deretan manekin berdiri tegak di depan, mengenakan gaun dan kemeja berbagai warna.
Arema mengenakan seragam berwarna krem muda. Rambutnya dikuncir rapi ke belakang, wajahnya tampak lelah namun tetap berusaha ramah seperti biasa.
Ia baru saja selesai menata tumpukan jeans di rak tengah saat suara bel di pintu toko berbunyi, tanda ada pelanggan masuk.
"Selamat pagi, silakan," sapa Arema dengan senyum profesional.
Toko sudah mulai ramai. Beberapa pelanggan terlihat sedang memilih baju, ada juga yang sibuk mencoba ukuran di kamar pas.
Arema berjalan bolak-balik dari satu rak ke rak lain, membantu pengunjung mencari ukuran dan warna yang mereka mau.
Sesekali ia melirik jam di pergelangan tangan, baru pukul sembilan lewat lima belas, masih panjang hari ini.
Tak lama kemudian, seorang pelanggan perempuan melangkah masuk. Wajahnya agak tertutup masker, tapi matanya terlihat familiar.
Perempuan itu mendekat ke bagian rak celana. Suaranya terdengar lembut tapi jelas.
"Permisi, mbak, ada celana jeans kodok gak ya buat cewek? Warna abu?"
Arema spontan menoleh, matanya melebar begitu melihat wajah di balik masker itu. Ia sempat terpaku sesaat, mencoba memastikan apakah ia tidak salah lihat.
Begitu perempuan itu menurunkan maskernya sedikit, Arema langsung berseru.
"Wini!"
Perempuan itu pun ikut terkejut. "Lho, Rema? Kamu kerja di sini? Aku kira kamu masih jualan martabak kayak dulu. Pantes aja kemarin waktu aku mau beli martabak di tempat kamu kok tutup."
Arema tersenyum kecut. "Iya, udah nggak jualan lagi. Sekarang kerja di sini aja, Wini. Kamu sendiri dari mana? Kok bisa nyasar ke toko ini?"
"Aku lagi cari celana kodok buat kerja, nyari ke mana-mana gak dapet yang pas. Eh, nemunya malah di sini. Gak nyangka bakal ketemu kamu," jawab Wini dengan tawa kecil.
Arema ikut tertawa ringan. "Dunia sempit, ya. Tunggu bentar, aku cariin dulu celana yang kamu maksud."
Arema pun bergegas ke bagian rak belakang, menunduk sambil memilah-milah tumpukan celana.
Tangannya lincah, tapi dalam hati, ada rasa campur aduk. Ia tak menyangka akan bertemu teman lamanya di tempat kerja barunya.
Rasanya seperti masa lalu yang tiba-tiba datang lagi setelah lama menghilang.
"Hmm," gumam Arema pelan sambil menarik satu potong celana dari gantungan. "Ada nih, tapi warnanya item, gak ada abu."
Wini berjalan mendekat. "Wah, ya udah deh, gak apa-apa. Yang penting model kodok, aku udah cari keliling dari tadi gak nemu-nemu."
Arema tersenyum, "Iya, ini modelnya mirip yang kamu maksud. Bahannya juga halus, gak gampang melar."
Ia pun melipat celana itu rapi, memasukkannya ke dalam plastik bening dengan logo toko di bagian depan.
Wini melihat-lihat sekitar sambil berkata, "Bagus juga toko ini, ya. Banyak pilihannya. Kamu betah kerja di sini?"
"Lumayan," jawab Arema sambil menempelkan label harga ke plastik belanja. "Capek sih, tapi ya harus dijalanin. Daripada nganggur."
Wini tertawa. "Hehehe iya, yang penting halal dan ada penghasilan. Tapi, jujur, aku kaget loh, dulu kamu semangat banget jualan martabak. Enak lagi martabak kamu, aku sering beli."
Arema tersenyum kecut. "Iya, dulu. Tapi keadaan berubah, Win. Sekarang udah nggak bisa lagi kayak dulu."
Wini terdiam sejenak, menatap Arema dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Tapi ia menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menyerahkan uang tunai ke kasir.
"Ini, ya, Win, totalnya seratus delapan puluh ribu," kata Arema sambil menghitung uang kembalian. "Makasih ya udah belanja di sini."
"Makasi juga, Rema. Eh, kamu berarti ngelaju, ya?"
Arema menatapnya sambil tersenyum. "Enggak, aku kos deket sini. Kalo ngelaju tiap hari capek banget, bisa-bisa gak kuat."
"Oh, pantes," sahut Wini. "Ya udah, kapan-kapan aku main ke kos kamu, ya. Udah lama banget kita gak ngobrol."
Arema tertawa kecil. "Boleh banget, tapi aku pulang jam lima sore. Biasanya langsung rebahan abis kerja, capek banget berdiri seharian."
"Nanti aku chat kamu, ya. Nomer kamu masih aktif kan?" tanya Wini sambil mendekap plastik belanjaannya.
"Masih kok, belum ganti," jawab Arema.
"Ya udah, nanti aku kabarin. Seneng banget bisa ketemu kamu lagi," kata Wini sambil melambaikan tangan sebelum keluar dari toko.
Begitu Wini pergi, Arema menarik napas panjang. Ia duduk sejenak di kursi kecil dekat meja kasir, menatap punggung Wini yang semakin menjauh di balik pintu kaca.
Dalam hatinya, rasa hangat menyelimuti. Setelah sekian lama hidup terasa hampa dan penuh tekanan, hari ini sedikit lebih ringan.
Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat. Tak lama kemudian, pelanggan lain masuk silih berganti, dan Arema kembali sibuk.
Ia berdiri di depan rak baju wanita, menyusun ulang pakaian yang berantakan akibat pengunjung yang mencoba-coba ukuran.
"Rema, tolong bantu bagian fitting room, ya!" teriak rekan kerjanya, Sinta, dari ujung ruangan.
"Iya, bentar!" jawab Arema cepat. Ia pun berjalan tergesa ke ruang pas, membantu seorang pelanggan yang kesulitan menutup resleting dress.
"Gak muat ya, Mbak?" tanya Arema sopan.
"Iya nih, kayaknya harus ukuran L deh," jawab pelanggan itu dengan wajah memerah.
Arema tersenyum ramah. "Baik, saya carikan yang ukurannya L, tunggu sebentar, ya."
Selesai membantu pelanggan itu, Arema kembali ke kasir. Ia merasa tubuhnya mulai pegal, tapi tetap berusaha menahan diri untuk tidak mengeluh.
Ia menatap sekitar, melihat tumpukan baju yang sudah rapi. Sekilas, ia teringat masa-masa ketika dirinya masih berdiri di pinggir jalan menjual martabak bersama tenda kecilnya, penuh semangat walau diterpa angin malam.
Kini, semuanya berbeda. Tak ada lagi wajan besar, bau manis adonan martabak, atau suara anak-anak kecil yang memesan sambil tertawa.
Sebagai gantinya, ada lampu putih toko, rak-rak penuh pakaian, dan suara musik lembut yang diputar sepanjang hari.
Saat jam menunjukkan pukul satu siang, jam istirahat pun tiba.
Arema mengambil bekal nasi yang ia bawa dari kos, duduk di ruang kecil belakang toko. Sinta ikut duduk di sebelahnya sambil membuka bungkus mie goreng.
Arema mendapat uang makan dari toko, namun ia memilih membawa bekal sendiri yang lebih murah, dengan begitu, uang makan dari toko bisa ia tabung.
"Eh, tadi aku liat kamu ngobrol sama pelanggan, kayak kenal gitu," kata Sinta sambil mengunyah.
"Iya, itu temen lama. Namanya Wini. Satu desa," jawab Arema sambil menyuap nasi.
"Oh gitu. Wah, seru juga ya bisa ketemu temen lama di tempat kerja," ujar Sinta. "Aku udah dua tahun kerja di sini belum pernah ketemu orang yang aku kenal."
Arema hanya mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia merasa campur aduk.
Wini datang tiba-tiba, dan entah kenapa, kehadirannya menimbulkan rasa hangat sekaligus khawatir.
Setelah istirahat, Arema kembali bekerja. Siang itu, toko makin ramai.
Banyak pelanggan datang karena sedang ada promo akhir bulan.
Arema melayani pembeli dengan sabar, walau keringat mulai menetes di pelipisnya.
"Rema, yang rak baju baru udah datang!" seru supervisor toko.
"Oke, Mbak!" jawabnya sambil menuju tumpukan kardus di dekat pintu belakang.
Ia membuka kardus, menata satu per satu pakaian baru ke gantungan. Tangannya cepat, tapi pikirannya sesekali melayang.
Saat senja mulai turun, toko perlahan sepi. Lampu gantung di langit-langit memantulkan cahaya hangat.
Arema menatap jam tangan, pukul lima kurang sepuluh. Ia mulai merapikan meja kasir, menutup log buku penjualan, lalu mengganti label harga yang salah cetak.
Ketika akhirnya jam menunjukkan pukul lima, ia menghela napas lega. "Akhirnya selesai juga."
Ia melepas seragam, menggantinya dengan baju santai, lalu mengambil tas kecilnya. Di luar, langit berubah jingga keunguan.
Udara sore itu terasa sejuk, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arema tersenyum kecil, senyum yang tulus, bukan senyum kerja.
Pikirannya kembali pada Wini. Teman lamanya itu mungkin tidak tahu betapa berat kehidupan yang sedang ia jalani sekarang.
Tapi entah kenapa, hanya dengan bertemu Wini sebentar saja, Arema merasa ada secercah semangat baru yang tumbuh di dalam dirinya.
Ia melangkah keluar dari toko dengan langkah pelan, melewati trotoar yang ramai, menatap senja yang perlahan tenggelam di balik deretan gedung. Dalam hati, ia berbisik lirih, "Mungkin ini awal yang baik." Pagi itu, matahari menyorot lembut melalui kaca etalase toko pakaian tempat Arema bekerja. Deretan manekin berdiri tegak di depan, mengenakan gaun dan kemeja berbagai warna.
Arema mengenakan seragam berwarna krem muda. Rambutnya dikuncir rapi ke belakang, wajahnya tampak lelah namun tetap berusaha ramah seperti biasa.
Ia baru saja selesai menata tumpukan jeans di rak tengah saat suara bel di pintu toko berbunyi, tanda ada pelanggan masuk.
"Selamat pagi, silakan," sapa Arema dengan senyum profesional.
Toko sudah mulai ramai. Beberapa pelanggan terlihat sedang memilih baju, ada juga yang sibuk mencoba ukuran di kamar pas.
Arema berjalan bolak-balik dari satu rak ke rak lain, membantu pengunjung mencari ukuran dan warna yang mereka mau.
Sesekali ia melirik jam di pergelangan tangan, baru pukul sembilan lewat lima belas, masih panjang hari ini.
Tak lama kemudian, seorang pelanggan perempuan melangkah masuk. Wajahnya agak tertutup masker, tapi matanya terlihat familiar.
Perempuan itu mendekat ke bagian rak celana. Suaranya terdengar lembut tapi jelas.
"Permisi, mbak, ada celana jeans kodok gak ya buat cewek? Warna abu?"
Arema spontan menoleh, matanya melebar begitu melihat wajah di balik masker itu. Ia sempat terpaku sesaat, mencoba memastikan apakah ia tidak salah lihat.
Begitu perempuan itu menurunkan maskernya sedikit, Arema langsung berseru.
"Wini!"
Perempuan itu pun ikut terkejut. "Lho, Rema? Kamu kerja di sini? Aku kira kamu masih jualan martabak kayak dulu. Pantes aja kemarin waktu aku mau beli martabak di tempat kamu kok tutup."
Arema tersenyum kecut. "Iya, udah nggak jualan lagi. Sekarang kerja di sini aja, Wini. Kamu sendiri dari mana? Kok bisa nyasar ke toko ini?"
"Aku lagi cari celana kodok buat kerja, nyari ke mana-mana gak dapet yang pas. Eh, nemunya malah di sini. Gak nyangka bakal ketemu kamu," jawab Wini dengan tawa kecil.
Arema ikut tertawa ringan. "Dunia sempit, ya. Tunggu bentar, aku cariin dulu celana yang kamu maksud."
Arema pun bergegas ke bagian rak belakang, menunduk sambil memilah-milah tumpukan celana.
Tangannya lincah, tapi dalam hati, ada rasa campur aduk. Ia tak menyangka akan bertemu teman lamanya di tempat kerja barunya.
Rasanya seperti masa lalu yang tiba-tiba datang lagi setelah lama menghilang.
"Hmm," gumam Arema pelan sambil menarik satu potong celana dari gantungan. "Ada nih, tapi warnanya item, gak ada abu."
Wini berjalan mendekat. "Wah, ya udah deh, gak apa-apa. Yang penting model kodok, aku udah cari keliling dari tadi gak nemu-nemu."
Arema tersenyum, "Iya, ini modelnya mirip yang kamu maksud. Bahannya juga halus, gak gampang melar."
Ia pun melipat celana itu rapi, memasukkannya ke dalam plastik bening dengan logo toko di bagian depan.
Wini melihat-lihat sekitar sambil berkata, "Bagus juga toko ini, ya. Banyak pilihannya. Kamu betah kerja di sini?"
"Lumayan," jawab Arema sambil menempelkan label harga ke plastik belanja. "Capek sih, tapi ya harus dijalanin. Daripada nganggur."
Wini tertawa. "Hehehe iya, yang penting halal dan ada penghasilan. Tapi, jujur, aku kaget loh, dulu kamu semangat banget jualan martabak. Enak lagi martabak kamu, aku sering beli."
Arema tersenyum kecut. "Iya, dulu. Tapi keadaan berubah, Win. Sekarang udah nggak bisa lagi kayak dulu."
Wini terdiam sejenak, menatap Arema dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Tapi ia menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menyerahkan uang tunai ke kasir.
"Ini, ya, Win, totalnya seratus delapan puluh ribu," kata Arema sambil menghitung uang kembalian. "Makasih ya udah belanja di sini."
"Makasi juga, Rema. Eh, kamu berarti ngelaju, ya?"
Arema menatapnya sambil tersenyum. "Enggak, aku kos deket sini. Kalo ngelaju tiap hari capek banget, bisa-bisa gak kuat."
"Oh, pantes," sahut Wini. "Ya udah, kapan-kapan aku main ke kos kamu, ya. Udah lama banget kita gak ngobrol."
Arema tertawa kecil. "Boleh banget, tapi aku pulang jam lima sore. Biasanya langsung rebahan abis kerja, capek banget berdiri seharian."
"Nanti aku chat kamu, ya. Nomer kamu masih aktif kan?" tanya Wini sambil mendekap plastik belanjaannya.
"Masih kok, belum ganti," jawab Arema.
"Ya udah, nanti aku kabarin. Seneng banget bisa ketemu kamu lagi," kata Wini sambil melambaikan tangan sebelum keluar dari toko.
Begitu Wini pergi, Arema menarik napas panjang. Ia duduk sejenak di kursi kecil dekat meja kasir, menatap punggung Wini yang semakin menjauh di balik pintu kaca.
Dalam hatinya, rasa hangat menyelimuti. Setelah sekian lama hidup terasa hampa dan penuh tekanan, hari ini sedikit lebih ringan.
Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat. Tak lama kemudian, pelanggan lain masuk silih berganti, dan Arema kembali sibuk.
Ia berdiri di depan rak baju wanita, menyusun ulang pakaian yang berantakan akibat pengunjung yang mencoba-coba ukuran.
"Rema, tolong bantu bagian fitting room, ya!" teriak rekan kerjanya, Sinta, dari ujung ruangan.
"Iya, bentar!" jawab Arema cepat. Ia pun berjalan tergesa ke ruang pas, membantu seorang pelanggan yang kesulitan menutup resleting dress.
"Gak muat ya, Mbak?" tanya Arema sopan.
"Iya nih, kayaknya harus ukuran L deh," jawab pelanggan itu dengan wajah memerah.
Arema tersenyum ramah. "Baik, saya carikan yang ukurannya L, tunggu sebentar, ya."
Selesai membantu pelanggan itu, Arema kembali ke kasir. Ia merasa tubuhnya mulai pegal, tapi tetap berusaha menahan diri untuk tidak mengeluh.
Ia menatap sekitar, melihat tumpukan baju yang sudah rapi. Sekilas, ia teringat masa-masa ketika dirinya masih berdiri di pinggir jalan menjual martabak bersama tenda kecilnya, penuh semangat walau diterpa angin malam.
Kini, semuanya berbeda. Tak ada lagi wajan besar, bau manis adonan martabak, atau suara anak-anak kecil yang memesan sambil tertawa.
Sebagai gantinya, ada lampu putih toko, rak-rak penuh pakaian, dan suara musik lembut yang diputar sepanjang hari.
Saat jam menunjukkan pukul satu siang, jam istirahat pun tiba.
Arema mengambil bekal nasi yang ia bawa dari kos, duduk di ruang kecil belakang toko. Sinta ikut duduk di sebelahnya sambil membuka bungkus mie goreng.
Arema mendapat uang makan dari toko, namun ia memilih membawa bekal sendiri yang lebih murah, dengan begitu, uang makan dari toko bisa ia tabung.
"Eh, tadi aku liat kamu ngobrol sama pelanggan, kayak kenal gitu," kata Sinta sambil mengunyah.
"Iya, itu temen lama. Namanya Wini. Satu desa," jawab Arema sambil menyuap nasi.
"Oh gitu. Wah, seru juga ya bisa ketemu temen lama di tempat kerja," ujar Sinta. "Aku udah dua tahun kerja di sini belum pernah ketemu orang yang aku kenal."
Arema hanya mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia merasa campur aduk.
Wini datang tiba-tiba, dan entah kenapa, kehadirannya menimbulkan rasa hangat sekaligus khawatir.
Setelah istirahat, Arema kembali bekerja. Siang itu, toko makin ramai.
Banyak pelanggan datang karena sedang ada promo akhir bulan.
Arema melayani pembeli dengan sabar, walau keringat mulai menetes di pelipisnya.
"Rema, yang rak baju baru udah datang!" seru supervisor toko.
"Oke, Mbak!" jawabnya sambil menuju tumpukan kardus di dekat pintu belakang.
Ia membuka kardus, menata satu per satu pakaian baru ke gantungan. Tangannya cepat, tapi pikirannya sesekali melayang.
Saat senja mulai turun, toko perlahan sepi. Lampu gantung di langit-langit memantulkan cahaya hangat.
Arema menatap jam tangan, pukul lima kurang sepuluh. Ia mulai merapikan meja kasir, menutup log buku penjualan, lalu mengganti label harga yang salah cetak.
Ketika akhirnya jam menunjukkan pukul lima, ia menghela napas lega. "Akhirnya selesai juga."
Ia melepas seragam, menggantinya dengan baju santai, lalu mengambil tas kecilnya. Di luar, langit berubah jingga keunguan.
Udara sore itu terasa sejuk, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arema tersenyum kecil, senyum yang tulus, bukan senyum kerja.
Pikirannya kembali pada Wini. Teman lamanya itu mungkin tidak tahu betapa berat kehidupan yang sedang ia jalani sekarang.
Tapi entah kenapa, hanya dengan bertemu Wini sebentar saja, Arema merasa ada secercah semangat baru yang tumbuh di dalam dirinya.
Ia melangkah keluar dari toko dengan langkah pelan, melewati trotoar yang ramai, menatap senja yang perlahan tenggelam di balik deretan gedung. Dalam hati, ia berbisik lirih, "Mungkin ini awal yang baik."