“Shui Hu! Cepat minta maaf sama Kak Yu He,” suara keras layaknya membentak keluar dari mulut Jiangxi untuk sang putri.
Shui Hu menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak ingin meminta maaf sama orang kejam. “Aku tidak mau minta maaf sama pembunuh!” Jawabnya sambil memutar tubuhnya membelakangi Yu He.
Fang An tak bisa ikut campur, untuk saat ini dirinya hanya bisa mengamati dan bertindak sesuai situasi. Dibalik punggung Shui Hu, Yu He menyembunyikan senyum sinis. Tak ada siapa pun yang menyadarinya, kecuali Fang An. Akan tetapi siapa sangka, Shui Hu juga menyadarinya beberapa menit kemudian, lewat pantulan sebuah benda emas berkilau yang berada di depannya.
Tak bisa berlama-lama di ruangan ini, Fang An meminta izin untuk keluar menyusul Ming Lan untuk bertanya. Jiangxi mempersilahkan Fang An untuk keluar, tetapi menahan Shui Hu agar tetap diam di tempat sebelum meminta maaf. Namun, Shui Hu bersikeras tidak ingin meminta maaf sekali.
Sebelum melangkah melewati Shui Hu, Fang An memberikan sebuah kode untuk bertemu di suatu tempat pada Shui Hu lewat tangan kanannya. Shui Hu menganggukkan kepalanya.
Fang An akhirnya bisa menghirup udara segar yang alami, setelah sebelumnya bercampur aduk menghisap udara kotor di dalam ruangan. Kedua matanya melirik ke segala arah, mencari sesuatu yang mencurigakan. Hasilnya sama sekali tak ada yang aneh, semuanya tampak terlihat seperti semula.
Beberapa kamar dan paviliun berdiri kokoh, bunga-bunga bermekaran dengan segar, dan halaman tempat berwarna hijau dengan rumput-rumput alaminya.
Seseorang bersiul sebanyak lima kali, menandakan agar segera bertemu dengannya di luar kediaman. Fang An yang mendengar siulan tersebut segera bergerak ke halaman belakang kediaman Keluarga Li. Kedua kakinya melangkah dengan cepat, meninggalkan kamar pribadi Jiangxi dalam sekejap.
Shui Hu tetap bersikeras tidak ingin meminta maaf.
Jiangxi mencoba membela Yu He. “Tindakan kakakmu sudah benar, Hu’er. Jika Paman Fu tidak segera dibunuh, nanti bakal ada Ming Lan yang kedua. Apakah kau ingin terjadi hal seperti itu lagi?” ucapnya dengan nada lembut.
“Tapi apakah nyawa manusia serendah itu? Bisa seenaknya kita ambil. Apakah nyawa manusia tidak penting sama sekali? Kenapa kita tidak melaporkan kejadiannya pada pemerintahan saja?” Shui Hu merespon dengan melontarkan pertanyaan bertubi-tubi tanpa melirik ke arah sang ayah.
“Tentu saja nyawa manusia sangat penting, bahkan sangat tinggi harganya. Namun, tindakan-.” Ucapan Jiangxi tiba-tiba berhenti saat sang putri melirik ke arahnya.
“Namun apa?!” Shui Hu bertanya dengan nada tinggi, kedua matanya menatap tajam sang ayah.
Hubungan harmonis selama bertahun-tahun, tiba-tiba runtuh dalam sekejap. Layaknya bangunan tinggi yang jatuh tersambar petir. Shui Hu merasa sakit hati, hingga membuat hatinya hancur seperti kaca, tak bisa diperbaiki dalam sekejap, hingga tak bisa diperbaiki lagi. Bisa-bisanya seorang ayah membela orang asing, dibandingkan dengan anak kandungnya sendiri. Kenapa semua ini bisa terjadi?
Kemudian Shui Hu melirik ke arah Yu He, sang kakak yang sudah dia kagumi selama bertahun-tahun, hingga bermimpi bisa menikahinya di masa depan. Namun, apa yang terjadi sekarang, membuat imajinasinya hancur dalam sekejap, menyalahkan diri sendiri, karena terlalu berharap tinggi pada orang yang tidak tepat.
Dengan mulut bergetar, Shui Hu mencoba mengucapkan sesuatu pada Yu He. “Du-dulu Kak Yu He bil-bilang, kalau nyawa manusia itu sangat penting, bahkan le-lebih mulia dibandingkan dengan mutiara, tapi yang ku lihat hari ini? Tepat di depan mataku sendiri, melihat sang kakak yang menjunjung tinggi manusia, tapi da-dalam sekejap merendahkan nyawa manusia sampai-sampai mem ….” Kedua matanya mulai berkaca-kaca, hingga tak mampu mengucapkan kalimat berikutnya.
“Shui Hu … Kak Yu He tak berubah. Hanya saja kejadian ini benar-benar tak bisa Kak Yu He abaikan begitu saja. Kenapa kita tidak melaporkan ke pemerintahan, sebab jika kita melaporkan nanti bisnis Keluarga Li akan bermasalah. Akan banyak bangsawan yang menjauhi Keluarga Li untuk berbisnis, karena reputasi yang hancur hanya karena masalah sepele.” Yu He mencoba menjelaskan dengan nada lembut.
Yu He melangkah pelan-pelan mendekati Shui Hu, tangan kanannya berusaha mengusap punggungnya, tetapi Shui Hu menepisnya dengan cepat.
“Aku tidak disentuh oleh tangan pembunuh!”
Jika itu orang biasa, ucapan Shui Hu bisa membuatnya sakit hati, tetapi Yu He sama sekali tak tertusuk. Bahkan hatinya mengatakan, dirinya bisa lebih kejam lagi jika ingin.
“Huhu, Kak Yu He sudah bilang. Kejadia ini-.”
Shui Hu memotong ucapan Yu He. “Sudah cukup, Kak Yu He. Oh, tidak, Yu He. Kau bukan kakak yang ku kenal lagi. Dan Ayah, aku sama sekali tidak ingin meminta maaf sama pembunuh ini, walaupun kau memaksa hingga mengancam, hatiku sudah bertekad. Sampai jumpa!” Shui Hu melangkahkan kedua kakinya keluar dari ruangan yang sudah dipenuhi oleh darah.
Yu He ingin menahan Shui Hu agar tidak keluar, tetapi Jiangxi menarik tangan Yu He, dia menggelengkan kepalanya, meminta Yu He agar tidak menahannya.
“Biarkan dia menenangkan diri,” ucapnya dengan nada pelan.
Yu He menganggukkan kepalanya.
Sebelum benar-benar keluar dari ruangan, Shui Hu berhenti melangkah, dengan tubuh membelakangi orang yang dia sayang, kedua bibirnya mengucapkan satu pertanyaan, “Kalian pikir bisnis lebih penting daripada nyawa manusia?” Setelah itu, dirinya benar-benar meninggalkan kamar pribadi sang ayah.
Beberapa meter dari kamar pribadi Jiangxi, Shui Hu memmpercepat langkah kakinya, kedua matanya perlahan mengeluarkan air mata mengiringi setiap langkah kakinya. Memori kenangan indah bersama sang ayah dan Yu He berputar di dalam otaknya.
Fang An sekarang berada di luar kediaman halaman belakang. Dia bertemu dengan Gong Zhong dan dua saudara Gong lainnya. Kedua telinganya, bersiap mendengarkan laporan dari para bawahannya.
Gong Zhong orang pertama yang melapor. Tugasnya mencari Ming Lan ke setiap penginapan benar-benar merepotkan, karena hampir di setiap penginapa selalu ada wanita cantik yang menyambutnya untuk menginap. Namun, hanya ada satu penginapan, di mana isinya khusus laki-laki, tak ada wanita sama sekali di sana, membuatnya menjadi penasaran dan meningkatkan rasa curiganya.
Sedang Gong Shi dan Gong Sun yang mendapatkan tugas menyelidiki di Kediaman Le Yu He, sama sekali tak melihat hal-hal mencurigakan, hingga saat menyelinap pun tak ada yang aneh, kecuali satu tempat yang dijaga sangat ketat, membuat kecurigaan terhadap Yu He semakin tinggi.
Fang An lupa belum memberitahu mereka, kalau Ming Lan sudah ketemu. Hal ini, membuat tiga bersaudara Gong kompak menepuk jidatnya masing-masing. Emang dasarnya ketua yang sudah pikun. Namun, Fang An tetap berterima kasih, karena sudah menemukan dua hal aneh dalam penyelidikan kali ini.
“Namun, kita lupa. Kita sudah terlalu lama di sini, harus segera pula. Kita tidak tahu bagaimana keadaan kampung sekarang.” Fang An tiba-tiba teringat dengan kampung halaman, karena sudah dua hari berada di kampung orang.
“Kalau begitu. Bagaimana dengan penyelidikan kita? Bukannya jadi sia-sia?” Gong Zhong bertanya dengan lemas.
Fang An mengangkat jari telunjuknya, menggerakkannya ke kanan-kiri berkali-kali. “Penyelidikan kalian sama sekali tidak sia-sia. Gong Sun kau tulis hasil penyelidikannya, dan berikan pada pemerintahan secara diam-diam, tanpa diketahui oleh siapa pun.” Fang An menjelaskan agar ketiga saudara Gong tak patah semangat dengan hasil penyelidikannya.
Tak lama kemudian, Shui Hu berlari melewati mereka tanpa menoleh sedikit pun. Fang An terkejut saat menyadarinya.
“Sepertinya Nona Shui Hu berlari sambil menangis.”