Jangan Sia-siakan Air Matamu

Penulis MrBroken
30 December 2025

Seorang laki-laki yang memiliki kaki panjang melangkah dengan cepat mengejar wanita yang berlari sambil meneteskan air mata ke tanah. Hanya dalam beberapa langkah yang cepat, sang laki-laki berhasil menarik tangan sang wanita, membuatnya berhenti berlari, tetapi tak menghentikan tangisannya yang terus mengeluarkan air mata. Ia buru-buru menutup wajahnya yang sudah dibasahi air mata, tidak ingin terlihat malu di depan laki-laki yang ia sukai secara diam-diam.

“Kau tidak apa-apa, Shui Hu?” Fang An bertanya dengan nada lembut, tak seperti biasanya selalu bicara dengan nada datar tanpa ekspresi sama sekali.

Shui Hu hanya menggelengkan kepalanya tanpa membuka mulutnya sama sekali.

Fang An hanya bisa menghela nafas, tangan kanannya mengusap-usap pungggunnya untuk menenangkannya. “Sudah jangan menangis lagi. Sekarang kau ingin melakukan apa?”

Tiba-tiba suara gerutu keluar dari perut Shui Hu. Ya, dia lapar, sangat lapar hingga ingin memakan semua makanan yang ada di kota Dongfang. Namun, biasanya jika dalam keadaan sedih dirinya hanya ingin memakan satu makanan favoritnya.

“Kau lapar? Ingin makan?” Fang An kembali bertanya sembari berusaha melihat wajah Shui Hu.

Shui Hu berusaha menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan, tidak ingin Fang An melihat wajah jeleknya.

Fang An kembali bertanya kedua kalinya dengan pertanyaan yang sama. Shui Hu hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon tanpa membuka mulutnya sama sekali.

Tanpa basa-basi lagi, Fang An langsung membawa Shui Hu ke sebuah kedai di pinggir jalan. Kedai tersebut menjual berbagaii macam sate, tetapi Shui Hu berhenti melangkah, menggelengkan kepalanya tidak ingin makan sate. Lagi-lagi Fang An menghela nafas, lalu menyuruh untuk membuka bibirnya, dan mengatakan padanya ia ingin makan apa sekarang.

Shui Hu langsung memutar tubuhnya, melangkah dengan cepat tanpa menjawab pertanyaan Fang An. Fang An dengan seribu kesabarannya, ia kembali menghela nafasnya dan melangkah mengikuti Shui Hu dari belakang.

Fang An dan Shui Hu tiba di sebuah restoran besar. Fang An menelan ludahnya sendiri saat melihat tempat di depannya, terkejut bukan main. Terkejut bukan karena tempatnya besar, tetapi hampir di semua titik dipenuhi oleh makanan pedas hingga membuat matanya sedikit perih.

“Kau yakin ini makan ini?” Fang An bertanya mencoba meyakinkan Shui Hu, kalau dia tidak salah tempat.

Shui Hu dengan senyum sumringah menganggukkan kepalanya, lalu membuka mulutnya untuk berkata, “Iya, aku ingin makan ini, Sup Malatang Super Pedas.”

Fang An hanya bisa pasrah, salah sendiri ingin menenangkan orang yang sedih, tetapi malah membuat diri sendiri menderita. Segala sesuatu selalu ada konsekuensinya.

Tanpa menunggu lama-lama, Shui Hu mengambil tempat duduk di paling pojok, karena hanya itu satu-satunya tempat yang tersisa dari sekian banyak tempat duduk. Fang An mengikuti Shui Hu, lalu duduk di sampingnya.

“Satu Sup Malatang Super Pedas dua!” Teriak Shui Hu sembari mengangkat tangannya.

Fang An buru-buru meminta Shui Hu memesan satu saja, karena dia sama sekali tidak suka pedas.

“Kata siapa untuk dirimu? Dua-duanya untuk dirikuu sendiri,” jawab Shui Hu sembari mengambil sebuah sumpit, lalu membersihkannya. “Kalau kau tidak suka pedas, pesan saja ke sana, di situ ada daftar menunya,” lanjutnya sembari menunjuk ke arah kasir restoran.

“Tidak-tidak, nggak usah. Aku cukup menemani dirimu makan saja,” jawab Fang An dibarengi dengan senyum paksa.

Hanya dalam beberapa menit, dua mangkuk besar sup malatang super pedas datang. Keduanya diletakan tepat di atas meja Shui Hu. Dengan mata berbinar-binar Shui Hu tidak sabar ingin segera memakannya.

Setelah sang pelayan mengucapkan selamat menikmati, Shui Hu langsung melahap dua sup tersebut, hingga mengeluarkan air mata dari kelopak mata. Fang An hanya bisa tersenyum sembari mengusap dadanya, berusaha menenangkan dirinya sendiri saat melihat Shui Hu.

Sup malatang super pedas selalu menjadi makanan favorit Shui Hu ketika merasa sedih. Alasannya simpel, karena dengan memakan makanan super pedas, membuat air matanya keluar, sehingga dia tidak mengeluarkan air mata karena sedih, tetapi karena terlalu menikmati makanan yang sangat enak ini. Jadi, tak ada air mata yang keluar secara percuma-cuma, hanya karena kita sedang sedih. Cukup keluarkan air mata ketika kita merasa bahagia dan senang.

Hanya butuh waktu satu jam bagi Shui Hu untuk menghabiskan dua mangkuk besar sup malatang super pedas. Fang An sudah berada di luar restoran tiga puluh menit lain, karena kedua matanya tidak tahan dengan perih yang dihasilkan dari cabai sup malatang.

Tepat setelah Shui Hu keluar dari restoran beberapa detik yang lalu, tiga bersaudara Gong datang menghampiri Fang An. Tak lupa ketiga bersaudara Gong menyapa Shui Hu. Shui Hu balas sapaan mereka dengan tersenyum manis, sesuatu yang tak dilihat oleh Fang An selama menemaninya.

Gong Zhong melaporkan pada Fang An, kalau mereka sudah melakukan apa yang dia tugaskan pada mereka bertiga. Fang An memuji tiga bersaudara Gong, karena selalu menyelesaikan misinya sesuai waktu yang ditentukan.

Fang An dengan berat hati berkata pada Shui Hu, kalau mereka akan meninggalkan kota Dongfang untuk kembali ke kampung halaman. Shui Hu agak sedikit terkejut dan sedih, terkejut karena mereka tiba-tiba sudah pergi, sedih karena orang yang dia sukai tak ada di sisinya.

“Memangnya kalian buru-buru?” tanya Shui Hu dengan suara khasnya, lembut.

Fang An menjelaskan sedikit, “Sebenarnya tidak buru-buru, tetapi kita sudah terlalu lama meninggalkan kampung halaman, karena hanya kita yang bisa menjamin keamanan kampung.”

“Apakah aku boleh ikut kalian kembali ke sana?” Tiba-tiba pertanyaan spontan keluar begitu saja dari mulut Shui Hu.

Ketiga bersaudara Gong agak sedikit syok, tetapi Fang An tahu kenapa Shui Hu ingin ikut mereka kembali.

“Jika kau ikut kami, siapa yang akan menjaga Ming Lan?” sebuah pertanyaan balik keluar dari kedua bibir Fang An. “Lebih baik kau di sini dulu, tunggu sampai Ming Lan benar-benar tenang, lalu kau boleh datang lagi ke kampung halam kami bersamanya,” lanjutnya menjelaskan alasan kenapa Shui Hu tidak bisa ikut.

Shui Hu hanya menghembuskan nafasnya, dengan berat hati dia menjawab, “Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan.”

Fang An menganggukkan kepalanya, lalu mengajak ketiga bersaudara Gong untuk pergi sekarang, pulang ke kampung halaman. Tak lupa mereka melambaikan tangannya masing-masing pada Shui Hu, sebagai tanda perpisahan sementara.

Semakin Fang An melangkah, semakin mengecil tubuhnya dari pandangan Shui Hu. Setelah tubuh Fang An benar-benar menghilang dari pandangannya, Shui Hu bergegas kembali ke kediamannya untuk menemui Ming Lan.

Berkat sup malatang super pedas, Shui Hu melupakan kejadian buruk dalam sekejap, tetapi kebenciannya terhadap Yu He tak pudar sama sekali. Dirinya sama sekali tak akan pernah melupakan kejadian pahit ini selama hidupnya.