Fang An bersama tiga bersaudara Gong melangkah dengan cepat menuju kampung halaman. Perjalanan kali ini jauh lebih cepat dari biasanya, karena selama perjalanan mereka tak pernah beristirahat sama sekali. Sehinggga perjalanan dari Kota Dongfang menuju Kampung Yunshan hanya memakan waktu sekitar satu jam dari sebelumnya yang bisa memakan waktu selama tiga jam.
Satu kilometer lagi mereka sudah sampai di gerbang pintu Kampung Yunshan. Namun, tak seperti biasanya, hari ini keadaan sekitar kampung cukup sepi dan hening. Aktivitas makhluk hidup hampir tidak kelihatan sama sekali. Padahal hari ini cuaca terlihat cerah dengan cahaya sinar matahari yang hangat.
“Ketua apakah ini benar-benar kampung kita?” Tanya Gong Zhong merasa ada yang aneh dengan keadaan sektar.
Gong Shi dan Gong Sun memperhatikan sekeliling masing-masing, benar-benar sepi dan hening. Hanya terlihat beberapa pohon menari terbawa angin. Dan hampir tidak ada suara hewan yang terdengar sama sekali.
Fang An menyadari sekitar kampung terasa aneh. Walaupun kampung halamannya diselimuti oleh ribuan pohon, tetapi tak selalu sepi seperti hari ini. Biasanya beberapa orang berlalu lalang melakukan aktivitasnya masing-masing.
Fang An segera memberikan perintah pada Gong Sun untuk terlebih dahulu menuju kampung, dia bersama dua bersaudara Gong lainnya akan memeriksa keadaan sekitar. Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, Gong Sun langsung menghilang dalam sekejap.
Fang meminta Gong Zhong berjalan di depan, sedangkan Gong Shi berjalan di belakangnya. “Beritahu jika ada gerakan yang aneh,” ucap Fang An mengingatkan keduanya. Kedua bersaudara Gong kompak menjawab siap.
Tanah yang biasa selalu terlihat halus, kini terlihat kusam dengan beberapa jejak kaki yang masih terlihat jelas. Beberapa daun kecil terlihat sobek dan jatuh dari pohonnya. Bagaimana ini bisa terjadi? Padahal hari ini tidak ada hujan sama sekali, Fang An kali ini merasa yakin, ada yang tidak beres dengan kampung halaman mereka.
“Cepak! Kita harus bergegas ke kampung!” ucap Fang An dengan tegas sambil berlari.
Gong Zhong dan Gong Shi mengikutinya dari belakang.
Dengan perasaan khawatir, Fang An berusaha untuk tetap berpikir positif. Tak ingin memikirkan apa yang tak seharusnya ia pikirkan. Namun, apa yang kita harapkan terkadanng tak pernah terjadi. Perlahan Fang An meneteskan air matanya, keinginannya bertolak belakang dengan apa yang terjadi di lapangan.
Kedua bersaudara Gong menjatuhkan lututnya masing-masing. Kedua matanya masing-masing mulai berkaca-kaca. Gong Zhong berusaha menutup mulutnya, tak percaya apa yang terjadi pada kampung halaman. Gong Shi menggelengkan kepalanya, lalu memukul tanah dengan keras, mengumpat dirinya sendiri dalam hati karena tak bisa melindungi kampung halaman dengan baik.
Kampung Yunshan yang merupakan kampung halaman bagi mereka, kini hanya tinggal nama. Semua kenangan indah, kini habis terbakar oleh si jago merah. Tak ada yang tersisa sama sekali, hanya menyisakan abu dari kayu-kayu yang habis terbakar. Tak ada rumah yang berdiri tegak, kini hanya tersisa sama rata dengan tanah. Tak ada manusia dan siluman yang beraktivitas seperti biasanya, kini hanya tersisa beberapa tengkorak yang habis terbakar oleh si jago merah.
Suara tangisan pecah dalam sekejap. Namun, Fang An tetap berdiri tegak, menahan air matanya keluar. Menelan ludahnya, menggigit lidahnya, lalu melangkah pelan memasuki kampung halaman.
Seseorang berjalan dengan pelan, tangan kanannya membawa sepucuk surat yang hampir terbakar habis. Ia berjalan sembari menuduk, tidak ingin memperlihatkan air matanya pada sang ketua, Gong Sun dengan tangan gemetar memberikan sepucuk surat tersebut pada Fang An.
Tanpa bertanya, Fang An langsung mengambil sepucuk surat yang hampiir terbakar habis tersebut. Kedua bola matanya melirik ke arah tulisan jelek yang berada di atas kertas, mulutnya bergetar saat membacanya. Seakan tak percaya dengan isi suratnya, Fang An meremas suratnya dengan cepat.
Di dalam pusat spiritual terjadi gejolakan yang sangat dahsyat. Beberapa gunung yang ada di dalam pusat spiritual Fang An meledak hingga mengeluarkan larva panas. Bunga Xing Lin yang berada di puncak gunung tertua, dalam sekejap menarik semua energi hawa iblis masuk ke dalam dirinya, hingga membuatnya berubah menjadi warna hitam pekat sepenuhnya.
Gong Sun terkejut saat meliihat sang ketua tak bergerak sama sekali seusai membaca sepucuk surat. Tubuhnya di selimuti oleh energi hawa iblis. Kedua matanya melotot ke arah depan, mulutnya tertutup tak bergerak sama sekali.
“Ketua!” Suara keras memanggil sang ketua keluar dari mulut Gong Sun. Gong Sun terus memanggil ketuanya denagnn keras, berusaha menyadarkannya.
Di dalam pusat spiritual, Bunga Xing Lin kini mulai masuk ke dalam hati Fang An. Dalam beberapa detik kemudian, Bunga Xing Lin menyatu dengan tubuhnya. Namun, terjadi beberapa penolakan di dalam hatinya, karena di dalam hati Fang An masih tersimpan beberapa kebaikan, hal ini yang membuat Bunga Xing Lin tak bisa sepenuhnya menguasai tubuhnya, karena Bunga Xing Lin bersifat jahat.
Tubuh Fang An dalam perlahan terbang ke atas. Beberapa energi hawa iblis di sekitar mulai menyelimutinya. Gong Sun berusaha menurunkan Fang An, tetapi energi hawa iblis ini menyerangnya, membuatnya tak bisa meraih tangan sang ketua sama sekali.
Gong Zhong dan Gong Shi yang masih diselimuti oleh rasa sedih, merasakan energi hawa iblis. Keduanya kompak berjalan denagn cepat ke tempat sumber energi hawa iblis. Ketika sampai keduanya melihat Gong Sun yang tersungkur ke tanah.
“Apa yang terjadi, Gong Sun?” Gong Shi bertanya dengan panik.
Gong Zhong dengan tenang bertanya, “Apa yang terjadi, Gong Sun? Mana Ketua?”
Gong Sun berusaha menahan rasa sakit, tangan kanannya menunjuk ke atas, lalu berkata, “Ke-ketua di sana. Energi hawa iblis menyelimuti tubuhnya.”
Gong Zhong dan Gong Shi kompak terkejut, seakan tidak percaya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Gong Sun?” Gong Zhong kembali bertanya sembari memapah Gong Sun berdiri.
Gong Sun hanya menggelengkan tubuhnya. Dirinya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada sang ketua.
Suara teriak kesakita terdengar dari dalam energi hawa iblis yang berbentuk bulat. Ya, Fang An berteriak kesakitan. Tubuhnya yang memiliki energi spiritual tak terbatas, tiba-tiba energi spiritualnya merosot dalam sekejap. Hal ini terjadi karena Bunga Xing Lin menyerapnya, ia ingin menggantikan energi spiritual dengan energi hawa iblis sebagai kekuatan Fang An sepenuhnya.
Hati Fang An yang masih menyimpan kebaikan melawan seluruh sifat jahat yang di bawa oleh Bunga Xing Lin. Gejolakan yang terjadi akibat sistem tarik-menarik, membuat tubuh Fang An merasakan sakit sepuluh kali lipat.
“Aaaaaaa!!!!!!!” Suara teriakan keras kembali keluar dari mulut Fang An. Kedua tangannya mengepal dengan keras menahan seluruh rasa sakit yang di derita oleh tubuhnya.
Gong Zhong, Gong Sun, dan Gong Shi berusaha keras memikirkan cara agar Fang An kembali sadar. Mereka bertiga tidak ingin mendengar suara kesakitan dari sang ketua.
Ditengah-tengah kebingungan, tiba-tiba sebuah pedang melayang menembus energi hawa iblis.