Energi Hawa Iblis yang menyelimuti Fang An seketika meledak ketika sebuah pedang datang menusuk ke dalam. Fang An yang sebelumnya terbang di atas langsung terjatuh ke bawah. Seseorang segera meloncat ke atas terbang di atas awan, lalu merangkul Fang An dengan cepat agar tidak terjatuh ke bawah.
“Nona Shui Hu?!” Ketiga bersaudara Gong kompak terkejut saat melihat Shui Hu datang merangkul Fang An.
Satu lagi seorang wanita berlari ke arah mereka dengan terengah-engah.
“Nona Ming Lan?!” Ketiga bersaudara Gong kembali dibuat terkejut dengan kedatangan Ming Lan.
Shui Hu segera menurunkan Fang An, dan menidurkannya di tanah. Namun, Ming Lan mencegahnya. Shui Hu bertanya terlebih dahulu apa alasannya, Ming Lan hanya memberitahunya dengan singkat, kalau tanah si kampung ini cukup berbahaya. Jika meletakan Fang An sekarang, energi hawa iblis akan kembali datang berkumpul menyelimuti Fang An.
“Kalau begitu kita harus pergi ke mana?” tanya Gong Zhong sembari mengambil alih Fang An dari rangkulan Shui Hu.
Gong Shi datang membantu Gong Zhong untuk memapah Fang An yang masih belum sadarkan diri.
“Kita harus pergi jauh dari kampung ini. Setidaknya tidak ada energi hawa iblis di sekitar,” jawab Ming Lan sembari melirik ke sekitar kampung.
Gong Sun tahu harus membawa mereka ke mana. Ia meminta mereka untuk mengikutinya dari belakang. Ia membawa mereka ke salah satu paviliun milik Fang An di luar kota Dongfang, lebih tepatnya di perbatasan dengan kota Zhengdao.
Mereka menempuh waktu selama 30 menit untuk sampai di Paviliun Kedamaian Milik Dunia. Terlihat sebuah bangunan dari kayu menjulang tinggi serta berdiri dengan gagah. Walaupun luar bangunannya terlihat mewah, tetapi di dalamnya penuh dengan debu, karena pavilun ini satu-satunya paviliun yang belum pernah dikunjungi oleh Fang An. Hal ini, membuat Shui Hu dan Ming Lan terpaksa membersihkan salah satu kamar untuk ditempati Fang An.
Sebelum Shui Hu dan Ming Lan masuk ke dalam paviliun, Gong Zhong bertanya pada Ming Lan. “Bagaimana tempat di sini, Ming Lan?” tanyanya dengan nada datar.
Ming Lan melihat-lihat sebentar sekeliling paviliun, lalu memperlihatkan senyumannya yang membuat gigi putihnya terlihat menyala, lalu menganggukkan kepalanya sebagai respon dari pertanyaan Gong Zhong.
Ketika masuk ke dalam kamar, bau menyengat serta debu di mana-mana membuat Shui Hu dan Ming Lan buru-buru menutup hidungnya masing-masing. Shui Hu meminta Ming Lan untuk keluar, biarkan dirinya sendiri yang membersihkan kamar ini.
“Kau yakin, Shui Hu? Kamar ini cukup besar loh.”
Shui Hu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. “Sudah tenang saja, beri aku waktu lima menit.”
Setelah Ming Lan keluar, Shui Hu mulai merapalkan sebuah mantra. Kedua bibirnya bergerak dengan cepat mengucapkan sebuah mantra, lalu kedua tangannya bergerak membentuk berbagai jenis gerakan, hingga menyisakan tangan kanannya, mengangkatnya ke atas lalu sebuah cahaya merah muncul di atas jari telunjuk dan jari tengah, lalu Shui Hu mengarahkan tangan kananya pada sebuah ranjang.
Dalam sekejap ranjang yang sebelumnya berantakan dan penuh dengan debu berubah menjadi rapi dan berkilau. Selain itu, seisi kamar juga ikut berubah. Kemudian Shui Hu menyuruh Ming Lan membawa Fang An ke dalam. Ming Lan menyuruh Gong Zhong dan Gong Shi membawanya ke dalam kamar.
“Gong Sun mana?” Ming Lan bertanya-tanya, karena sejak keluar dari kamar dirinya tak melihat Gong Sun sama sekali.
Gong Zhong segera menjawab dengan cepat, “Oh, dia? Seperti biasa selalu pergi untuk memperhatikan lingkungan sekitar, demi keamanan kita.”
Ming Lan hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon.
Setelah menidurkan Fang An di ranjang, Ming Lan segera memeriksa denyut nadinya. Dia merasakan kulitnya yang begitu halus, eh, tidak dia merasakan denyut nadinya Fang An sedikit berdetak, tetapi energi di dalam tubuhnya seperti dalam keadaan kacau, tak beraturan sama sekali. Rasanya seperti energi Yin dan Yang saling bertabrakan, tak bisa saling melengkapi satu sama lain.
Ming Lan meminta Gong Zhong menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, dia sama sekali tidak tahu. Hanya Gong Sun yang mengetahuinya.
“Sebenarnya Fang An saat itu baik-baik saja, tetapi setelah melihat sepucuk kertas, entah kenapa tiba-tiba tubuhnya mematung tak bergerak sama sekali. Rasanya terlihat seperti kehilangan nyawa dalam sekejap,” jawab Gong Sun yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Ia baru saja memeriksa lingkungan sekitar.
Ming Lan meminta Gong Sun untuk memperlihatkan sepucuk surat yang diberikan kepada Fang An. Gong Sun hanya menggelengkan kepalanya, karena sepucuk suratnya habis di tangan Fang An.
“Aku tebak, kemungkinan isi surat itu menunjukkan ke arah siapa yang membakar kampung halaman kalian. Oleh sebab itu, Fang An terkejut, tetapi aku tidak tahu kenapa dia bisa menarik seluruh energi hawa iblis ke dalam tubuhnya,” jelas Ming Lan sesuai dengan dugaannya.
“Kau yakin, Ming Lan?” tanya Shui Hu penasaran sembari melirik ke arah Fang An yang terlihat nyenyak dalam tidurnya.
“Ini hanya dugaanku saja.”
Gong Zhong kemudian teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu, ketika Fang An mengamuk mengalahkan siluman kabut, kejadiannya sama persis. Setelah mendengarkan cerita dari Gong Zhong, Ming Lan merasa harus ada seseorang yang bisa memasuki pusat spiritual Fang An.
“Hah?! Pusat spiritual Fang An? Apa maksudmu?” Gong Zhong sama sekali tidak tahu. Begitu juga dengan dua saudara Gong lainnya.
“Pusat spiritual, yaitu sumber kekuatan Fang An di dalam tubuhnya. Semua kekuatan Fang An itu tersimpan di dalam pusat spiritualnya.” Shui Hu mencoba menjelaskannya sedikit. “Bagaimana cara masuknya, Ming Lan?” lanjutnya bertanya.
Ming Lan tersenyum bergantian melirik ke arah Shui Hu, Gong Zhong, dan Gong Sun, lalu menggelengkan kepalanya, dan dengan polos menjawab, “Tidak tahu.”
Kompak seluruh orang yang berada di dalam kamar menepuk jidatnya masing-masing.
Kemudian Ming Lan mengeluarkan sebuah buku besar dari dalam tas sihirnya, meminta teman-temannya untuk memberinya waktu membaca buku warisan gurunya. Gong Sun meminta Ming Lan agar tidak lama-lama, khawatir terjadi apa-apa pada Fang An.
“Tenang saja. Dia baik-baik saja. Hanya energi di dalam tubuhnya yang sedang kacau balau,” ucap Ming Lan menenangkan Gong Sun.
Ming Lan kemudian keluar dari kamar, mencari tempat agar bisa membaca buku dengan tenang. Gong Zhong dan Gong Shi pergi keluar untuk mencari makanan di dalam hutan. Gong Sun dan Shui Hu tetap berada di dalam kamar untuk menjaga Fang An.
Rasa penasaran terus menyelimuti pikirannya. Gong Sun bertanya pada Shui Hu kenapa bisa sampai ke kampung Yunshan dengan cepat. Dan kenapa ingin pergi ke kampung Yushan.
“Apakah ayahmu tahu, kalau kau pergi ke sini?”
Shui Hu sedikit kewalahan karena pertanyaan bertubi-tubi dari Gong Sun. “Kau ingin aku menjawab pertanyaan mana dulu?” tanyanya sembari tetap melirik ke arah Fang An.
“Kalau begitu jawab ini dulu, Apakah ayahmu tahu kau datang ke sini?”