Perlahan matahari mulai mengasingkan dirinya dari permukaan bumi. Bulan bersiap untuk menggantikannya memberikan cahaya untuk makhluk hidup di permukaan bumi. Langit tampak terlihat merah kuning, awan berjajar rapih membentuk berbagai macam pola, serta angin yang berhembus dengan santai, dan beberapa burung mulai mencari tempat teduh untuk beristirahat, mereka bersiap menyambut kedatangan bulan, sang pemberi cahaya di malam hari.
Sudah lebih dari tiga jam, Shui Hu dan Gong Sun berada di dalam kamar menunggu Fang An sadar. Selama dua jam sebelumnya, Shui Hu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya dengan Ming Lan, setelah kepergian mereka dari Kota Dongfang.
Gong Sun hanya mengangguk sebagai respon dari cerita Shui Hu. Menggelengkan kepalanya, tak pernah menyangka kalau Jiangxi ternyata bukan ayang kandung Shui Hu. Kalau begitu siapa ayah kandungnya?, segala pikiran mulai bergelut di dalam otaknya. Selama Shui Hu bercerita, ia sama sekali tak pernah menyebutkan nama Le Yu He. Hal ini, membuat rasa penasaran Gong Sun bergejolak di dalam pikirannya.
Ketika keheningan terjadi di dalam kamar yang berukuran sedang, tiba-tiba suara batuk keluar dari mulut Fang An. Namun, Fang An sama sekali tidak bangun, ia hanya batuk saja, lalu kembali tidur menuju alam mimpi. Shui Hu buru-buru memanggil Ming Lan. Tak lama kemudian Ming Lan muncul dari balik pintu.
Ming Lan kembali memeriksa denyut nadi Fang An. Ia menutup kedua matanya, menyuruh dua orang di depannya untuk diam. Tangan kanannya merasakan aliran energi di dalam tubuh Fang An masih dalam keadaan kacau. Beruntung Ming Lan sudah membaca buku warisan dari gurunya selama kurang lebih tiga jam, sehingga sekarang dia tahu apa yang harus ia lakukan.
“Aliran energi di dalamnya masih kacau. Kita harus segera menghentikannya,” ucap Ming Lan dengan tenang sembari terus memegang tangan kanan Fang An untuk memeriksa keadaan denyut nadinya.
“Sekarang kau tahu caranya?” Gong Sun bertanya setelah teringat, kalau sebelumnya Ming Lan membaca buku untuk menyembuhkan Fang An.
Ming Lan menganggukkan kepalanya. Ia menjelaskan satu-satu cara sekarang adalah memasuki pusat spiritual Fang An. Di dalam pusat spiritualnya, Fang An pasti masih bergelut dengan hatinya. Dia pasti kebingungan diantara dua plihan sulit.
“Kalau kenapa kita tidak masuk sekarang juga.” Shui Hu tampak ingin sekali melihat Fang An kembali sadar.
Ming Lan menggelengkan kepalanya, lalu berkata, “Tapi rasanya sulit.”
Shui Hu dan Gong Sun kompak bertanya, “Kenapa?”
Kemudian Ming Lan sedikit menjelaskan beberapa cara agar bisa memasuki ke dalam pusat spiritual Fang An.
Cara pertama, orang yang ingin memasuki pusat spiritual orang lain harus berada satu tingkat di atas sang pemilik pusat spiritual, atau orang tersebut sudah mencapai kekuatan tingkat Jing atau tingkat esensi.
Jika cara pertama tidak bisa, maka cara kedua adalah orang yang ingin memasuki pusat spiritual harus memiliki energi spiritual yang sama dengan sang pemilik pusat spiritual, tetapi syarat ini akan menguras energi spiritual setidaknya membuat kita pingsan selama satu hari.
Setelah mendengarkan dua cara yang dijelaskan oleh Ming Lan, Shui Hu langsung berdiri tanpa ragu-ragu sembari berkata, “Kalau begitu, kita lakukan cara yang kedua saja. Sebelumnya Fang An pernah membagi energi spiritualnya padaku, mungkin cara ini akan berhasil.”
“Kau yakin, Shui Hu?” Tanya Ming Lan sembari menatap Shui Hu, mendeteksi apakah Shui Hu sudah yakin atau belum.
Shui Hu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, tanda sudah yakin. Walaupun harus sedikit berkorban, demi menyelamatkan orang yang disukai dia harus melakukannya.
“Kalau begitu kita bersiap-siap malam ini,” ucap Ming Lan sambil berdiri, lalu melangkah keluar kamar.
“Kenapa tidak sekarang saja?”
“Aku lapar Shui Hu. Kita harus mengisi energi di dalam perut terlebih dahulu.”
Kedua bibir Shui Hu hanya membentuk huruf o sebagai respon dari ucapan Ming Lan. Gong Sun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua wanita cantik di depannya.
Gong Zhong dan Gong Shi sudah mempersiapkan makanan sederhana di dapur paviliun. Gong Zhong memasak daging rusa hasil buruan Gong Shi. Tak lupa ia juga mamasak beberapa sayuran dan buah hasil petikannya sendiri di dalam hutan. Demi bisa menyelamatkan Fang An, semuanya melahap habis makanan yang sudah disiapkan hingga menyisakan piringnya saja.
Hanya dalam waktu satu jam, mereka menghabiskan semua makanannya. Tanpa menunggu lama-lama, semuanya bersiap-siap di tengah-tengah paviliun. Gong Zhong dan Gong Shi memapah Fang An ke tengah-tengah paviliun. Keduanya menyenderkan Fang An di sebuah kursi, lalu mengambil kursi lain dengan posisi lawan arah.
Ming Lan menyuruh Shui Hu untuk duduk di kursi di depan Fang An, lalu menyuruhnya untuk menempelkan dahinya ke dahii Fang An. Dan menyuruhnya untuk mengikuti kata-katanya sembari memejamkan kedua matanya.
Perlahan Shui Hu merasakan tubuhnya seperti melayang di atas awan. Tubuhnya terasa ringan hingga membuatnya bisa bergerak bebas semaunya. Beberapa kali, ia mencoba mempratikan beberapa kuda-kuda pedang yang sulit sebelumnya, tetapi sekarang rasanya seperti mudah sekali bahkan tanpa memegang pedang sakali.
Tiba-tiba dia mendengar suara terikan seorang laki-laki. Barulah Shui Hu segera membuka kedua matanya. Dam … Pemandangan yang mengerikan terjadi tepat di depan matanya. Gunung-gunung terus meletus tanpa henti. Larva panas terus mengalir menggantikan sungai jernih. Tumbuh-tumbuhan di sekitar dalam sekejap habis di lahap air lahar.
A-apakah ini pusat spiritual milik Fang An?, Shui Hu merasa tidak percaya. Orang sebaik Fang An, ternyata di dalam hatinya dia sangat menderita. Bahkan langit di dalam pusat spiritualnya pun dipenuhi oleh hujan petir dengan kegelapan yang tak pernah berhenti.
Kedua matanya terbelalak saat melihat seorang laki-laki berteriak kesakitan tepat di depan matanya. Matanya perlahan berkaca-kaca saat melihat seorang laki-laki memegang kepalanya. Rasa sakit, bingung, dan putus asa terjadi dalam dirinya. Dia terus berteriak kesakitan dengan kedua tangan memegang erat kepalanya, hingga mengacak-ngacak rambutnya. Sesekali Fang An menghancurkan sebuah gunung menggunakan kekuatan yang berasal dari hawa iblis. Setelah itu, kembali berteriak kesakitan.
Shui Hu bergegas mendekatinya, tetapi tiba-tiba petir menyambarnya hingga membuatnya terpental ke tanah, yang membuat tubuh di luar pusat spiritualnya memuntahkan darah segar dari mulutnya. Tak ingin menyerah begitu saja, Shui Hu terus berusaha menerobos sambaran petir satu demi satu untuk mendekati Fang An.
“Fang An kau yakin tidak memilihku? Kekuatanku bisa menghancurkan dunia, bahkan bisa membantu balas dendam terhadap orang yang menghancurkan kampung halamanmu!”
“Fang An yakinlah, balas dendam tak akan menyelesaikan segalanya. Balas dendam hanya akan membuat masalah menjadi rumit.”
Ketika mendengar dua suara tersebut, Fang An terus berteriak kesakitan, menyuruh keduanya berhenti bicara dengan lantang.
Setelah penuh perjuangan, dengan tubuh dipenuhi oleh luka, hingga kedua bibirnya bergetar, Shui Hu akhirnya mendekati Fang An.
Melihat seorang wanita di depannya, Fang An semakin tidak terkendali. “Kau! Enyahlah dari depanku! Cepat!” ucapnya dengn lantang yang membuat hati Shui Hu terasa tertusuk jarum.
Shui Hu menggelengkan kepalanya. Dirinya sama sekali tidak ingin menghilang dari pandangan Fang An. Perlahan kedua kakinya melangkah dengan terpincang-pincang. Terus mendekati Fang An, walaupun petir tak berhenti menyambarnya.