Ketika hati sudah bertekad, disitulah tubuh akan terus bergerak untuk menggapai impian, walaupun dia harus babak belur, karena hati tak pernah berbohong.
Di tengah gelapnya langit, hujan lebat, serta petir yang terus menyambar, tak membuat Shui Hu goyah sama sekali. Dengan kondisi penuh luka, wajahnya masih memperlihatkan senyuman manis seperti biasanya, hingga akhirnya kedua tangannya berhasil memeluk tubuh Fang An dengan erat.
Fang An yang masih setengah sadar berada di bawah kendali bunga Xing Lin, memberontak berusaha melepaskan pelukan hangat yang diberikan oleh Shui Hu.
Setelah perjuangan menghadapi petir, kali ini Shui Hu terus berjuang melawan pemberontakan Fang An yang belum sepenuhnya sadar diri. Tubuhnya menolak pelukan hangat dari orang, ia hanya ingin kekuatan abadi untuk membalas dendam orang yang telah membakar kampung Yunshan.
“Aarrrghhhh!!!!!” Suara teriakan yang begitu keras keluar dari mulut Fang An. Kedua tangannya terus berusaha mendorong Shui Hu ke depan, tetapi Shui Hu terus memegang erat tubuhnya sembari memanggil namanya berkali-kali.
“Fang An! Ini aku, Shui Hu!” Shui Hu tak menyerah untuk terus memanggil nama Fang An berkali-kali, hingga akhirnya Shui Hu memanggilnya dengan nama lain. “An an, i-ini aku, Sh-shui Hu,” lirihnya dengan nada pelan setelah tubuhnya tak bisa menahan hawa panas dari dalam tubuh Fang An.
Ketika nama panggilan An an keluar dari bibir Shui Hu dengan pelan, perlahan kesadaran Fang An mulai kembali. Rasa terkejut terukir di wajahnya saat melihat Shui Hu memeluk dirinya, lalu kondisi di dalam pusat spiritualnya kacau balau bak diserang badai berhari-hari. Dengan nada pelan, mulutnya memanggil nama Shui Hu. Shui Hu hanya balas tersenyum sembari menahan rasa sakit, sebelum akhirnya menghilang dari pelukannya.
“Shui Hu!” teriak Fang An memanggil namanya, tetapi hasilnya sia-sia karena kesadaran Shui Hu sudah kembali ke tubuh aslinya di muka bumi.
Kemudian Fang An merasakan dua kekuatan mengalir di dalam tubuhnya. Setengah tubuhnya mengalir energi spiritual, sedangkan setengah tubuhnya lagi mengalir energi hawa iblis. Namun, Fang An memaksa seluruh energi spiritualnya untuk mengalir ke seluruh tubuhnya, dan menyegel energi hawa iblis.
Sebuah suara tiba-tiba menggema memberitahu Fang An. “Kau tidak akan bisa menyegel energi hawa iblismu, Fang An,” ucapannya.
“Apa?! Apa maksudmu?! Dan siapa kau?!” Fang An terus mengangkat matanya ke langit, mencari tahu dari mana sumber suara itu.
“Kau tidak perlu tahu siapa aku. Kau hanya perlu tahu, kalau Bunga Xing Lin sudah menyatu dengan tubuhnya. Jadi, kau tidak bisa menyegel energi hawa iblis. Kau hanya bisa menyembunyikannya saja,” ucapnya memberitahu, lalu tiba-tiba langit berubah menjadi cerah berwarna biru serta awan putih perlahan berdatangan.
Rumput-rumput perlahan mulai tumbuh di semua area, hingga gunung berapi yang awalnya hanya lereng kini terlihat seperti pegunungan. Namun, hanya satu gunung yang tidak berubah sama sekali, yaitu gunung tua tempat Bunga Xing Lin mekar.
Setelah kondisi pusat spiritualnya berubah, tiba-tiba Fang An merasakan pusing luar biasa. Rasanya kepala seperti bergoyang diombang-ambing ombak, otak membesar seperti mau meledak, dan penglihatannya yang perlahan samar-samar buram hingga kondisi sekitarnya hanya terlihat gelap.
Apa yang terjadi padaku?, Fang An bertanya pada diri sendiri dalam dunia gelapnya. Tubuhnya terasa berat seperti ada benda yang menimpanya. Kedua tangan dan kakinya sama sekali tak bisa bergerak seperti diikat oleh sebuah tali. Tiba-tiba sebuah cahaya membuat silau kedua matanya.
“Fang An!”
“Fang An!”
Beberapa orang yang ada di dalam kamar terus memanggil nama Fang An. Ming Lan terus melakukan pemulihan pada tubuhnya. Cahaya yang membuat silau kedua mata Fang An, ternyata itu cahaya penyembuhan dari Ming Lan. Ming Lan melihat kepala Fang An bergerak ke kanan-kiri seperti kebingungan.
“Dia sudah sadar!” ucap Ming Lan dengan girang.
Tiga bersaudara Gong mulai berkaca-kaca saat melihat ketua mereka mulai sadar.
“Si-silau sekali,” sebuah suara lirih keluar dari mulut Fang An dengan pelan.
Ming Lan segera menghentikan pemulihan tubuhnya, lalu bertanya pada Fang An dengan nada pelan. “Kau sudah sadar, Fang An?” tanyanya sambil mendekatkan mulutnya di samping telinga Fang An.
Fang An menganggukkan kepalanya pelan-pelan. Kedua matanya kini kembali melihat cahaya dunia. Melihat ada beberapa benda asing di sekitarnya, melihat ruangan sedar yang terbuat dari kayu, hingga melihat tiga bersaudara Gong yang merupakan sahabat karibnya sejak lama.
“A-apa yang terjadi padaku?” tanya Fang An dengan suara pelan.
Gong Zhong ingin menjawab pertanyaan sang ketua, tetapi Ming Lan segera menjawab.
“Jangan bertanya apa pun. Lebih baik sekarang kau istirahat terlebih dahulu. Setelah sembuh baru kita bicara lagi lebih jelas,” jawabnya sembari berdiri di samping Fang An.
Tiba-tiba Fang An teringat dengan Shui Hu yang telah memeluknya di dalam pusat spiritual. “Huhu di mana?” tanyanya, membuat semua orang terperangah diam.
“Maksudmu, Shui Hu?” Ming Lan mencoba memastikan.
Fang An menganggukkan kepalanya.
“Shui Hu sedang tidur di kamarnya. Tenang saja. Kau istirahat dulu hingga sembuh. Besok Shui Hu akan melihatmu,” ucap Ming Lan dengan rasa bersalah, karena dia tak memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada Shui Hu.
Setelah itu, Fang An tiba-tiba terlempar ke alam mimpi dalam sekejap. Ming Lan dan tiga bersaudara Gong keluar dari kamar dengan langkah pelan, membiarkan Fang An beristirahat agar cepat pulih kembali.
Ketika semua orang berada di tengah paviliun. Gong Zhong mendekati Ming Lan untuk bertanya. Gong Sun berusaha untuk mencegahnya, tetapi Ming Lan sama sekali tak mempermasalahkannya.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada Shui Hu?”
Ming Lan mengambil nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dalam satu kali tarikan.
“Bukannya, kau bilang orang yang memasuki pusat spiritual orang lain tak akan terjadi apa-apa selain luka dalam. Kenapa Shui Hu bisa dipenuhi banyak luka?”
Ming Lan memutar tubuhnya ke arah Gong Zhong, melemparkan senyuman manis padanya. Otaknya berusaha keras mencari kata-kata yang mudah dicerna oleh seorang Gong Zhong.
“Aku tidak kenapa bisa terjadi hal seperti. Hal yang bisa ku pastikan, kemungkinan pusat spiritual Fang An berada di luar dugaan kita. Aku tidak tahu bagaimana Shui Hu bisa terluka, tetapi yang pasti ada yang salah dengan pusat spiritual Fang An. Hanya itu yang bisa ku jawab.”
“Apa mungkin Shui Hu terkena sebuah penolakan dari energi hawa iblis seperti katamu sebelumnya.” Tiba-tiba Gong Zhong menyahut berusaha ikut ke dalam pembicaraan.
Ming Lan hanya mengangkat kedua bahunya, sama sekali tak tahu. Sebab jika terkena penolakan oleh energi hawa iblis, seharusnya Shui Hu hanya terluka bagian dalam saja, tetapi ini tubuhnya terkena banyak luka. Bahkan lukanya sangat unik, dan tak diketahui kekuatan seperti apa yang bisa membuatnya terkena luka seperti ini.