Kesibukan Di Bawah Langit

Penulis MrBroken
30 December 2025

Aula Kebajikan dan Ketentraman …

Di bawah gedung aula yang begitu megah dan luas, seorang master berdiri sendirian di tengah-tengah tiga master di bawah naungan Serikat Alam Spiritual. Kepalanya terus menunduk menunggu kedatangan sang pemimpin serikat, master sekte Wu Xing.

Aula yang dipenuhi oleh warna emas serta ukiran berbagai macam hewan ini terasa begitu sesak, karena hanya ada suara percikan air yang terdengar. Semua terdiam fokus pada diri masing-masing menunggu kedatangan sang pemimpin serikat. Semuanya tak ada yang berani bicara sebelum ketua serikat muncul, aturan ini baru saja dibuat beberapa hari yang lalu ketika para sekte berkumpul membahas kebangkitan Bunga Xing Lin.

Raut kesal tampak terukir di wajah master sekte Xuan Men, Ming Xin. Kesal karena sudah berdiri selama satu jam penuh, ketiga master dari masing-masing sekte sama sekali tak memberinya kursi untuk duduk. Hal ini merupakan hukuman bagi master Ming Xin, karena selalu bertingkah seenaknya di bawah naungan Serikat Alam Spiritual.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki dengan pelan, menandakan kalau sang pemimpin serikat sudah memasuki aula. Kompak seluruh penghuni aula berdiri tegak, dan bersiap memberikan hormat.

Beberapa pengawal membantu Xing Yin, pemimpin Serikat Alam Spiritual untuk duduk di kursi bercorak naga dengan warna emas. Setelah itu, para penghuni aula kompak menyilangkan kedua tangannya masing-masing, lalu menempelkannya di dada, serta membungkuk selama beberapa detik sebagai penghormatan pada sang pemimpin serikat.

“Sudah, berdiri semuanya. Silahkan duduk,” perintah Xing Yin dengan nada serak.

Hanya para master yang duduk di kursi, sisanya berdiri menjaga masternya masing-masing di sisinya.

Xing Yin menyuruh Ming Xin untuk melaporkan hasil penyelidikannya selama beberapa minggu ini. “Bagaimana apakah kau sudah mendapatkan hasilnya?” ia bertanya dengan nada serak, tetapi terdengar wibawa dan bijaksana.

Ming Xin memberi hormat terlebih dahulu sebelum memaparkan penjelesan hasil penyelidikannya. Namun, Xing Yin menyuruhnya agar tak perlu melakukan hormat lagi, cukup satu kali saja. Ketiga master yang menyaksikan hanya tersenyum sinis tanpa mengeluarkan sepatah dua patah kata.

Tanpa menunggu lama, Ming Xin langsung menjelaskan hasil penyelidikannya. Hasilnya Bunga Xing Lin benar-benar bangkit, dan sekarang sudah menyatu dengan tubuh seseorang. Hingga saat ini, Ming Xin sama sekali tidak tahu siapa yang menjadi pemiliik kekuatan tak terbatas dari energi hawa iblis ini.

“Hamba hanya tahu, kalau orang yang memiliki Bunga Xing Lin ini berasal dari kampung Yunshan,” ucap Ming Xin sembari membungkuk.

Xing Yin menganggukkan kepalanya pelan-pelan, lalu bertanya, “Sekarang bagaimana? Apakah kau sudah mencarinya ke kampung Yunshan?”

Ming Xin langsung berlutut dan meminta maaf. “Maafkan hamba yang tidak becus dalam penyelidikan ini, Pemimpin. Silahkan hukum hamba.” Ia langsung bersujud memohon ampunan dan hukuman.

Ketiga master lainnya saling menatap satu sama lain. Mereka curiga kalau Ming Xin pasti berulah lagi di luar sana.

“Apa yang terjadi, Master Ming Xin? Coba beritahu kami.” Xing Yin tetap berusaha tenang untuk menilai situasi dan kondisi.

Sebelum menjawab, Ming Xin menghembuskan nafasnya pelan-pelan, lalu berkata, “Sebelum kami tiba, kampung Yunshan sudah dibumi hanguskan oleh Klan Iblis. Mereka tahu Serikat Alam Spiritual mengincar Bunga Xing Lin, oleh sebab itu mereka bergerak cepat melindungi sang pemilik Bunga Xing Lin.”

“Kau yakin Klan Iblis membumi hanguskan kampung milik manusia?”

Ming Xin menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.

Ketiga master lainnya kompak berdiri.

Xing Chen, sang master Sekte Tian Ji Pai menuduh Ming Xin dengan lantang. “Kau pasti berbohong!”

Ling Yun, master Sekte Ling Yun Hui menganggukkan kepalanya, setuju dengan tuduhan master Xing Chen pada master Ming Xin.

Sedangkan master Sekte Bai Yang Jie, Chun Yang hanya menatap dengan tajam ke arah Ming Xin. Memperhatikan raut mukanya, apakah Ming Xin berbohong atau tidak sembari mengelus-elus jenggot putihnya yang tebal.

Xing Yin terpaksa menghentakan tongkatnya ke lantai. Dalam sekejap aula bergetar bak diserang gempa bumi. Seluruh penghuni dalam sekejap terdiam tak bisa bergerak sama sekali. Ia lakukan demi meredakan emosi para master. Kemudian meminta Ming Xin untuk menceritakan lebih detail lagi.

Ming Xin menyanggupi permintaan sang pemimpin serikat untuk menjelaskan lebih detail hasil penyelidikannya.

…

Di sisi lain, lebih tepatnya di Aula Mo Wu, aula tempat para prajurit elite Klan Iblis berkumpul, seseorang yang sudah berusia lebih dari 100 tahun berdiri di depan ribuan orang dari Klan Iblis. Dirinya dengan lantang memberitahu semuanya, kalau kebangkitan Sang Penguasa Iblis semakin dekat. Sebab semuanya sudah merasakan kehadiran aura energi Hawa Iblis dari Bunga Xing Lin.

Sorak-sorai seketika bergemuruh di dalam Aula Mo Wu. Rasa bahagia yang tak terbantahkan dirasakan oleh orang-orang dari Klan Iblis. Mereka akhirnya akan memiliki Sang Penguasa Iblis lagi setelah kekosongan selama seratus tahun lebih.

“Namun sayangnya, kampung pemilik Bunga Xing Lin di bakar begitu saja oleh orang-orang hina dari Serikat Alam Spriritual,” ucap Hao Zheng, sang pelayan Penguasa Iblis sebelumnya dengan lesu, tetapi tiba-tiba berbicara dengan lantang. “Namun kita tak akan menyerah begitu saja. Kita yakin kalau pemilik Bunga Xing Lin masih hidup. Kita akan mencari sampai menemukannya!”

Sorak-sorai kembali bergemuruh di dalam Aula Mo Wu. Kali ini, mereka memberikan semangat pada prajurit untuk menemukan keberadaan pemilik Bunga Xing Lin. Sebab pemilik Bunga Xing Lin sama dengan calon Penguasa Iblis. Mereka hanya perlu menunggu sang pemilik Bunga Xing Lin benar-benar mengendalika energi Hawa Iblis tak terbatas untuk menjadi Penguasa Iblis.

Sebelum membubarkan masa, Hao Zheng mengingatkan semua orang agar berhati-hati ketika bertemu dengan manusia dan siluman, apalagi orang-orang hina dari Serikat Alam Spiritual. Setelah itu, masa dibubarkan dan para prajurit Klan Iblis kembali berkumpul. Kali ini, dia sendiri yang memimpin pasukan untuk mencari keberadaan pemilik Bunga Xing Lin.

“Kita jangan sia-siakan kesempatan di depan mata!” ucap tegas Hao Zheng di depan ratusan prajurit Klan Iblis.

…

Di istana kekaisaran Dinasti Da Han …

Dibawah langit yang cerah, para menteri kekaisaran berkumpul di Aula Kekaisaran. Semuanya kompak memakai pakaian sesuai tingkatan jabatannya masing-masing. Warna merah merupakan pejabat tinggi dari kalangan bangsawan, sedangkan warna ungu merupakan pejabat tinggi dari kalangan militer, dan warna abu-abu merupakan pejabat tingkat rendah. Para menteri berdiri tegak menunggu kedatangan sang kaisar menaiki tahta dinasti.

Tak lama kemudian, sang kasim dengan lantang memberitahu semuanya kalau sang kaisar sudah tiba dan akan memasuki Aula Kekaisaran. Kompak para menteri bersiap melakukan hormat.

Kaisar berjalan dengan tegak, penuh wibawa dan bijaksana di hadapan puluhan menteri. Walaupun umurnya sudah memasuki kepala delapan, tetapi kondisi fisiknya terlihat seperti masih muda, ia bahkan masih sanggup untuk mengayunkan pedangnya di depan prajurit musuh.

Kaisar duduk di kursi singgasana dengan penuh hati-hati. Sebelum duduk, para menteri kompak melakukan hormat, menyambut sang kaisar, dan mendoakan sang kaisar. Setelah itu, barulah sang kaisar duduk di kursinya.

Ketika Kaisar sudah duduk di kursinya dengan nyaman. Tiba-tiba seorang menteri melangkah ke depan, maju untuk melapor. Namun, sang Kaisar menghentikannya, menyuruhnya kembali ke tempatnya.

“Hari ini … Aku tidak ingin mendengarkan laporan. Hari ini … Kita akan membahas pengangkatan Putra Mahkota.”