Ditengah teriknya sinar matahari, angin berhembus dengan kencang, membuat beberapa orang yang beraktivitas merasa segar seperti terlahir kembali ke dunia. Namun, hal ini tidak berlaku bagi orang-orang yang berada di dalam Aula Kekaisaran. Selain karena panasnya sinar matahari, mereka juga terkena panasnya emosi sang kaisar.
Hui Ming melirik satu persatu para menterinya dengan tatapan tajam. Wibawa para menteri seketika jatuh dalam sekali tatapan sang kaisar. Tak ada yang berani menatap sang kaisar ketika ia sedang murka. Sebab derajat kaisar sama dengan utusan langit, yang memberikan petunjuk dan berkah.
Daiyu Yibin, seoran kasim yang selalu berada di sisi kaisar setiap waktu, mencoba menasehati sang kaisar agar tak emosional. “Kaisar tolong kendalikan emosi anda demi kesehatan. Jangan terprovokasi oleh mereka,” ucapnya dengan suara pelan di samping telinga kanan kaisar.
Setelah sang kasim mengingatkan dirinya, Hui Ming menurunkan emosinya, lalu kembali berkata dengan suara lembutnya. “Kalau begitu, menurut para menteri sekalian, alangkah bagusnya bagaimana?” tanyanya dibarengi dengan sebuah senyuman.
Hampir semua menteri menelan ludahnya masing-masing, tak ada yang berani membuka mulutnya, bahkan tak ada yang berani menatap sang kaisar.
“Kalian ku gaji untuk membantu meringankan kaisar, untuk membantu pemerintahan, terutama untuk membuat rakyat hidup damai, aman, dan sejahtera. Apakah kalian hari ini ingin malas-malasan, Hah?!” Kaisar sedikit menggertak dengan nada tinggi, tetapi kembali bersikap tenang.
Para menteri segera berlutut dan memohon maaf, serta meminta kaisar agar tidak marah.
Kaisar tidak ingin mendengarkan ocehan tak berguna sama sekali, ia kembali berkata, “Kalau begitu. Coba katakan alangkah bagusnya harus seperti apa pengangkatan Putra Mahkota?”
Seorang menteri dari kalangan cendikiawan melangkah ke depan, lalu memberikan hormat. Kaisar menyuruh sang menteri kembali berdiri, dan mengatakan isi hatinya.
“Menurut hamba, Putra Mahkota merupakan fondasi negara untuk masa depan. Jadi, kita harus berhati-hati dalam memilih putra mahkota. Sebaiknya, Kaisar mengumpulkan seluruh raja dan pangeran untuk melaksanakan ujian pengangkatan Putra Mahkota,” ucapnya menjelaskan sistem seperti apa untuk pengangkatan putra mahkota.
Seorang menteri dari kalangan militer segera melangkah ke depan, lalu memberikan hormat dengan cepat, kemudian berkata, “Tapi Yang Mulia, Putra Mahkota tidak hanya harus pintar dalam ujian. Putra Mahkota juga harus seorang pemberani dan pandai berstrategi perang. Layaknya seperti Yang Mulia saat ini. Dulu Yang Mulia selain pintar, juga pemberani dan cerdas dalam strategi perang, sehingga bisa menaklukan musuh berkali-kali.”
Hui Ming mengelus-elus jenggotnya, seseskali menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju dengan ucapan menterinya.
Menteri lain dari kalangan bangsawan melangkah untuk membantu temannya bicara, ia berkata. “Namun Yang Mulia, hamba merasa kalau begini, rasanya seperti sedang ujian masuk pemerintahan saja. Mengapa tidak memakai jalan lain? Seperti ditunjuk langsung oleh Yang Mulia Kaisar sendiri?”
Hui Ming tertawa setelah mendengarkan perkataan menterinya. “DItunjuk olehku langsung? Kalau begitu buat kita setiap hari mengadakan rapat, hah? Kalau ditunjuk olehku langsung, artinya kita tidak menghargai demokrasi yang sudah dibangun oleh kaisar terdahulu. Paham, kau?!”
Sang menteri segera meminta maaf, karena kecerobohannya dalam berpikir. Kemudian para menteri kompak meminta kaisar agar tak emosi. Kaisar kembali menenangkan dirinya sendiri, lalu meminta para untuk kembali memberikan saran yang masuk akal.
Seorang menteri dari tingkatan pejabat rendah melangkah maju ke depan. Ia merupakan satu-satunya menteri yang sangat vokal terhadap masalah pemerintahan dari kalangan pejabat rendah. Kaisar menyuruh sang menteri agar tak perlu melakukan hormat. “Langsung katakan saja,” ucapnya dengan nada tenang.
Walaupun begitu, sang menteri tetap melakukan hormat. Mau bagaimanapun Kaisar merupakan orang nomor satu di dunia. Jadi, dalam keadaan apapun harus melakukan hormat.
“Kaisar menurut hamba. Alangkah lebih baiknya ditunjuk Yang Mulia sendiri, tetapi dipilih dengan bijak. Yang Mulia Kaisar memilih para raja dan pangeran, siapa saja yang menurut Yang Mulia cocok, kemudian melibatkan mereka dalam pemerintahan sekarang untuk memecahkan masalah bersama-sama. Setelah itu, kita lihat yang paling bijak dan cerdas dalam menyelesaikan suatu masalah. Akan tetapi, Yang Mulia Kaisar tak boleh memberitahu mereka, kalau mereka sedang diuji menjadi Putra Mahkota,” ucapnya dengan sedikit panjang lebar.
Kaisar merasa ide pejabat tingkat rendah ini sangat menarik. “Mengapa tidak boleh memberitahu mereka?”
“Tanpa rasa hormat, hamba hanya merasa, kalau mereka diberitahu, mereka pasti akan meminta bantuan pada para menteri di sini.”
Sontak pernyataan ini membuat beberapa pejabat tinggi dari kalangan bangsawan dan cendikiawan merasa tersinggung. Raut muka dengan tatapan sinis terukir di wajah mereka.
Sedangkan pejabat dari kalangan militer merasa ide ini sangat luar biasa, mereka kompak menyetujui ide dari pejabat dari tingkat rendah ini.
Kaisar tiba-tiba bertepuk tangan, merasa senang karena di zaman sekarang masih ada pejabat yang berpikir secara luas dan detail tanpa merendahkan siapa pun. Ia kemudian menghargai ide sang pejabat dengan kenaikan pangkat tiga tingkat dan seribu tael emas.
Setelah itu, sang kaisar berdiri dari singgasana tahta kerajaan, lalu mengeluarkan dekret lisan. “Hari ini aku mengeluarkan dekret lisan. Siapa pun yang berada di Aula Kekaisaran hari ini, dilarang membicarakan hasil rapat sekecil apa pun. Bagi yang melanggar akan dicopot jabatannya dan diturunkan statusnya menjadi rakyat jelata.”
Kompak para menteri berterima kasih, memuji, dan mendoakan Kaisar setelah mengucapkan dekret lisannya.
Kemudian Kaisar melangkahkan kakinya keluar dari Aula Kekaisaran. Para menteri tetap berdiri di tempatnya sembari tetap melakukan hormat, menunggu sang kaisar benar-benar pulang. Beberapa menit kemudian, Kasim mengumumkan kalau rapat dibubarkan dan mempersilahkan para menteri untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Sebelumnya langit terlihat cerah, tetapi setelah para menteri keluar, ia terlihat mendung dengan beberapa awan hitam, menandakan sebentar lagi akan turun air dari langit. Angin pun berhembus semakin kencang, membuat aktivitas beberapa orang berhenti demi keselamatan masing-masing.
Langit terlihat sangat sedih saat melihat beberapa menteri berkelompok membicarakan pejabat tingkat rendah, yang mendapatkan pengakuan dari sang kaisar. Bahkan beberapa diantara mereka berencana untuk membunuhnya, sebelum akhirnya diingatkan oleh seorang pejabat besar, agar jangan bertindak secara gegabah.
Hal ini, membuat langit tak kuasa menahan air matanya. Air pun ia turunkan dengan deras disertai angin yang berhembus dengan kencang. Semua orang berlarian menyelamatkan diri dari air mata langit yang mengguyur mereka.
Seorang pejabat tingkat rendah yang sebelumnya memberikan ide brilian, ternyata ia berasal dari Klan Iblis. Ia menuliskan sebuah surat untuk dikirim ke klannya, memberitahu mereka kalau dia sudah mendapatkan uang seribu tael emas untuk kebutuhan selama beberapa bulan.
Ia segera mengganti pakaian dengan cepat, kemudian segera bekerja sebagai kusir kuda untuk mengantarkan para pejabat bangsawan ke rumah bordil. Tak lupa, dia juga menyamarkan wajahnya, agar tak dikenali oleh siapa pun. Secara tak sengaja dalam pekerjaannya ini, dia mendengar sebuah percakapan yang membicarakan tentang dirinya. Ingin rasanya melampiaskan emosi, ia berusaha tetap tenang sadar sekarang dirinya bukan seorang pejabat pemerintahan, ia akan membuat perhitungan padanya pada rapat minggu depan nanti.