Hari demi hari dilewati oleh Fang An. Semuanya sama saja tidak ada yang berubah, kecuali kampung halamannya sudah hancur lebur sama rata dengan tanah. Ingin rasanya membasahi seluruh wajahnya dengan air mata, tetapi hati berkata lain. Sejak kecil Fang An diajarkan oleh kedua orang tuanya, kalau laki-laki tidak boleh menangis, ia harus tetap tegar berdiri tegak memimpin orang-orang menuju masa depan yang cerah,
Fang An sudah sembuh sejak seminggu yang lalu. Tubuhnya memang sama, tetapi keceriaannya sudah tak sama lagi. Bak direbut oleh langit, hampir setiap hari raut muka Fang An hanya datar tanpa ekspresi sama sekali. Setiap hari selain untuk menyembuhkan diri di kamar, dia hanya memandangi sebuah liotin hijau bergambar naga dekat jendela kamar. Liotin ini merupakan kenangan terakhir dari kedua orang tuanya.
Di sisi lain, selain Fang An yang selalu murung di kamar. Shui Hu setiap hari hanya bisa terbaring di kamar. Tubuhnya terasa berat, sulit sekali untuk bergerak. Sudah satu minggu Ming Lan berusaha luka Shui Hu, tetapi lukanya diluar prediksinya. Dirinya tak pernah menyangka luka Shui Hu ini cukup langka, tidak bisa sembuh hanya satu dua hari, melainkan butuh waktu tujuh hari agar benar-benar sembuh.
Gong Zhong dan Gong Shi setiap hari sibuk menyiapkan makanan dan obat untuk Fang An dan Shui Hu. Sedangkan Gong Sun selalu memantau lingkungan sekitar, sesekali membaur ke dalam kota-kota kecil untuk mencari tahu informasi tentang Li Jiangxi dan Le Yu He. Sebab menurut kabar dari Shui Hu dan Ming Lan, Jiangxi dan Yu He diam-diam melatih prajurit pribadi di dalam hutan. Entah apa tujuan mereka melatih banyak prajurit pribadi.
Hampir setiap hari Ming Lan selalu menghela nafasnya ketika keluar dari kamar Fang An dan Shui Hu. Dirinya sudah merasa lelah mengobati mereka berdua, tetapi rasa lelah ini tak seberapa dengan rasa lelah dirinya ketika masih kecil. Gong Zhong diam-diam membuat makanan Ming Lan agar membuatnya tetap bersemangat menyembuhkan kedua temannya.
“Bagaimana kondisi mereka berdua hari ini?” Tanya Gong Sun yang baru saja pulang.
Ming Lan yang baru saja keluar dari dapur tak langsung menjawab. Dirinya mengambil tempat duduk, lalu menerima segelas air dari Gong Zhong. Meneguk segelas air pelan-pelan, membuang nafasnya dengan pelan, barulah ia bersiap untuk menjawab pertanyaan Gong Sun.
“Perkembangan keduanya cukup bagus. Fang An sebenarnya sudah sembuh, tetapi kita harus mencari untuk mengembalikan senyumannya. Untuk Shui Hu, dia hanya perlu minum obat sekali lagi, tubuhnya kemungkinan sudah benar–benar sembuh,” jawabnya dengan tenang, kedua matanya terus melihat ke langit.
“Sekarang bagaimana? Apakah kami sudah boleh membicarakan balas dendam kampung dengan ketua?” Gong Zhong angkat bicara bertanya mewakili dua saudaranya.
Ming Lan merasa ragu, karena setengah tubuh Fang An sudah dikuasai oleh energi hawa iblis. Takutnya ketika membicarakan balas dendem kesadarannya kembali direngut. Sebab balas dendam bersifat negatif yang bisa memicu energi hawa iblis aktif.
Gong Zhong menepuk bahu Ming Lan. Bibirnya membentuk huruf tepat di depan wajah Ming Lan. “Tenang saja. Jika dia kehilangan kesadaran lagi, kami akan mengatasinya,” ucapnua dengan nada lembut, mencoba membujuk Ming Lan agar membolehkan mereka berbicara dengan Fang An.
Seketika Ming Lan sedikit terpesona oleh ketampanan Gong Zhong, tetapi buru-buru sadar dengan cepat. Ketampanan Gong Zhong berhasil membuat hatinya luluh, Ming Lan membolehkan mereka untuk berbicara dengan ketuanya setelah satu minggu lamanya.
Tanpa menunggu lama, tiga bersaudara Gong bergegas masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Fang An. Namun, setelah di depan pintu tak ada yang berani melangkah terlebih dahulu, bahkan seorang Gong Sun yang merupakan tangan kanan Fang An.
“Masuklah!” Sebuah suara dari dalam kamar terdengar nyaring di luar tempat tiga bersaudara Gong berdiri.
Ketika sang ketua bicara, artinya ketua sudah sepenuhnya sadar. Tanpa ragu-ragu Gong Sun orang pertama yang masuk ke dalam kamar Fang An, disusul oleh Gong Zhong dan Gong Shi.
Ketiga bersaudara Gong kompak memberikan hormat dan mengucapkan selamat sudah sembuh pada Fang An. Namun Fang An hanya mengacuhkan mereka.
Gong Sun melirik ke arah Gong Zhong dan Gong Shi bergantian, Gong Zhong dan Gong Shi kompak menganggukkan kepalanya masing-masing, setuju untuk membicarakan balas dendam.
“Ketua … tentang kampung halaman kita. Sebaiknya apa yang har-.”
Fang An memotong ucapan Gong Sun dengan cepat. “Balas dendam! Walaupun orang tuaku mengajarkan untuk tidak menjadi orang yang suka balas dendam, tetapi jika menyangkut tanah air tempat kelahiran aku tidak akan ragu lagi,” ucapnya dengan tegas, kedua matanya menatap tajam liotin yang dipegang dengan erat.
“Bersiaplah, kita akan mencari keberadaan Klan Iblis, karena dalam surat itu tertulis nama Klan Iblis. Aku yakin mereka yang membakar kampung halaman kita,” sambungnya dengan sedikit tinggi, perlahan emosi nail, tetapi dia bisa menekan energi hawa iblis agar tak keluar.
Kompak ketiga bersaudara Gong menjawab, “Siap!” Dengan suara lantang dan tegas. Ketiganya langsung keluar kamar untuk mempersiapkan segala kebutuhan selama perjalanan.
Sebelum ketiga bersaudara Gong keluar, Fang An mengingatkan mereka untuk melakukannya diam-diam, karena dia tidak ingin melibatkan Shui Hu dan Ming Lan ke dalam rencana mereka.
Di sisi lain, Shui Hu perlahan mulai merasakan tubuhnya terasa ringan. Kedua tangan dan kakinya akhirnya bisa kembali bergerak bebas seperti semula. Rasa bahagia dan senang tak bisa ia sembunyikan dari pandangan Ming Lan.
Ming Lan baru saja datang masuk ke dalam kamar, ia membawa satu mangkuk obat untuk Shui Hu. “Ini minum obat terakhir,” ucapnya sembari memberikan semangkuk obat.
Shui Hu menerimanya, lalu meneguk obatnya hingga menyisakan semangkuk kosong tanpa air obat sama sekali.
“Selanjutnya apa rencanamu, Shui Hu?” Tanya Ming Lan tentang rencana Shui Hu ke depannya.
Shui Hu terdiam sejenak, memikirkan rencana selanjutnya. Tentu saja ia ingin membongkar semua kedok kebohongan ayah tirinya. Namun, dengan kemampuannya sekarang, dia sama sekali tak bisa melakukannya, kecuali meminta bantuan pamannya di Kota Lingyun.
“Kau yakin akan pergi ke sana?”
Shui Hu menganggukkan kepalanya. Tidak ada keraguan lagi. Walaupun ayah tirinya sudah berjasa, tetapi penjahat tetap penjahat tidak ada toleransi sama sekali.
“Lalu bagaimana dengan Fang An dan teman-temannya?”
“Aku akan mengajaknya untuk bekerja sama,” jawabnya sembari berdiri, lalu melangkah keluar kamar menuju kamar yang ditempati oleh Fang An.
Ming Lan hanya bisa mengikutinya dari belakang. Sejak awal sebenarnya ia ingin kembali ke kampung halaman. Namun, karena jarak yang lumayan jauh dia terpaksa mengikuti Shui Hu pelan-pelan menuju jalan pulang ke kampung halamannya.
Sebelum masuk ke dalam kamar, Shui Hu mengetuk pintunya, meminta kepada penghuni kamar untuk masuk ke dalam.
“Masuklah.”