Janji Yang Disaksikan Oleh Langit

Penulis MrBroken
30 December 2025

“Tapi An An kita tak bisa pisah begitu saja!” Shui Hu tak setuju saat Fang An mengatakan akan meninggalkan mereka berdua malam ini.

Fang An yang sudah kehilangan ekspresi senyumannya, kini hanya bisa menghela nafasnya. “Bagaimanapun, aku tak bisa melibatkan kalian berdua dalam rencanaku!” Ucapnya dengan ekspresi datar.

Awalnya Fang An ingin pergi diam-diam meninggalkan paviliun malam ini tanpa sepengtahuan Shui Hu. Namun, Shui Hu berhasil memaksanya untuk mengatakan kalau mereka akan pergi malam ini.

“Memangnya setelah pergi dari sini, rencana kalian apa?” tanya Shui Hu mencoba menekan Fang An agar menyerah pergi sendiri dan tak meninggalkan mereka berdua.

Fang An berdecak kesal. “Sudah kubilang kau tak perlu tahu.” Lagi-lagi ia menjawab dengan datar.

“An An kita sudah melewati hidup mati bersama-sama. Memangnya kau tega meninggalkan kami berdua di sini? Bagaimana kalau orang utusan ayah tiriku menemukan keberadaanku? Kau tega membiarkanku kembali masuk ke kandang harimau?” Shui Hu menyerang Fang An dengan pertanyaan berdubi-dubi.

Namun, Fang An sudah kebal terhadap tekanan seperti itu. Kehilangan orang tua, kampung halaman, teman, dan sahabatnya dalam satu waktu, membuat mentalnya jadi kuat. Walaupun hal ini membuatnya melupakan bagaimana caranya tersenyum. Kini hidupnya hanya untuk satu tujuan, balas dendam.

Fang An terus diam mengacuhkan pertanyaan Shui Hu. Menocba menutup kedua telinganya, agar tak mendengar ocehannya. Menutup kedua matanya, agar tak melihat wajahnya yang sedang mengomel.

Ming Lan yang terdiam di depan pintu ingin melangkah maju membantu Shui Hu, tetapi hati berkata lain. Rasanya seperti ada magnet yang membuatnya agar tak mengganggu mereka berdua. Tiba-tiba seseorang meraih tangan kanannya, lalu mengajak untuk pergi keluar.

“Gong Zhong?” Ming Lan sedikit syok saat Gong Zhong tiba-tiba menarik tangannya.

“Berikan mereka waktu berdua untuk menyelesaikan masalah,” jawabnya meminta Ming Lan agar tak ikut campur urusan Shui Hu dan Fang An.

Ming Lan menganggukkan kepalanya, kedua kakinya melangkah mengikuti Gong Zhong dari belakang.

“An An jawab pertanyaanku!” Shui Hu meminta dengan tegas pada Fang An agar menjawab pertanyaannya.

Fang An tetap acuh dengan wajah datarnya. Kini pandangannya hanya melihat sebuah liotin yang dikeluarkan dari dalam pakaiannya.

Tak ada cara lain, Shui Hu terpaksa melakukan cara kasar agar membuat Fang An, ia mengambil liotin yang digenggam Fang An dengan cepat, lalu berlari keluar kamar meninggalkannya. Fang An agak terkejut dengan tindakan Shui Hu, dia segera berdiri lalu berlari mengejarnya untuk mengambil liotinnya kembali.

Shui Hu berlari keluar meninggalkan paviliun menuju tengah hutan. Beruntung Fang An berhasil menghentikan Shui Hu tepat di depan gerbang pintu paviliun.

“Shui Hu! kembalikan barang milikku, itu liotin kenangan dari orang tuaku!” ucapnya dengan nada tinggi tetapi wajahnya tetap terlihat datar, tak ada raut muka emosi atau marah.

“Bisa saja aku mengembalikannya, tetapi syaratnya tetap kau tak boleh meninggalkan kami dan harus berjuang bersama sekali lagi. Bagaimana apakah kau setuju?” Sebuah senyuman licik terukir di wajah Shui Hu.

Ming Lan dan tiga bersaudara Gong keluar melihat pertengkaran suami istri, eh bukan, pertengkaran antar teman yang memiliki hubungan ambigu.

Fang An mengepalkan tangan kanannya, meluapkan semua emosinya ke dalam genggamannya. Kepalanya menengadah ke atas, melihat langit yang berwarna merah kuning dengan puluhan burung berterbangan di atasnya.

Shui Hu melangkah dengan pelan mendekati Fang An. Selagi Fang An terus menatap langit, ia terus melangkah hingga jaraknya dengan Fang An hanya lima senti. Kedua tangannya meraih tangan kanan Fang An yang mengepal. Membuka kepalan Fang An secara perlahan, lalu mengembalikan liotinnya ke dalam genggaman tangannya kembali.

“Aku mohon An An, kita jangan berpisah. Kita sama-sama menyelesaikan masalah ini.” Suara lirih dengan mata berkaca-kaca keluar dari dua bibir Shui Hu. “Kau mencari keberadaan orang yang membakar kampung halamanmu, aku mencari tahu siapa ayah dan ibu kandungku. Kita cari bersama-sama, kita pegang dendam ini bersama-sama, kita balas bersama-sama. Bisa kan, An An?” sambungnya dengan kedua kelopak matanya sudah mengeluarkan air mata.

Fang An tak kuasa menahan air matanya. Walaupun sudah lupa bagaimana caranya tersenyum, hatinya tetap luluh dengan perkataan Shui Hu. Bahkan air matanya tetap mengalir membasahi wajahnya.

“Baiklah kalau begitu. Kita bersama-sama memegang dendam ini. Dana sama-sama menyelesaikannya,” ucapnya berjanji pada Shui Hu dengan tegas.

Langit merah kuning hari ini menjadi saksi, bagaimana kedua manusia ini saling mengatakan janjinya masing-masing. Takdir keduanya dipertemukan berawal dari salah paham, menderita bersama, hingga saling mengerti satu sama lain. Angin yang berhembus serta suara jangkrik yang mulai terdengar menambah rasa suasana menjadi hangat. Hangat hingga langit menyaksikan kedua manusia ini saling berpelukan.

Ming Lan, Gong Zhong, Gong Shi, dan Gong Sun saling memegang tangannya masing-masing. Selain langit, mereka menjadi saksi bagaimana benih-benih cinta perlahan mulai tumbuh diantara Fang An dan Shui Hu.

Suara jangkrik yang begitu nyaring mengantarkan matahari menuju tempat peristirahatan, lalu menyambut kedatangan sang bulan.

Di malam hari, di bawah atap paviliun Kedamaian Milik Dunia, dua wanita dan empat laki-laki berkumpul di ruangan tengah paviliun. Mereka berdiskusi membicarakan rencana selanjutnya ke depan.

Namun, sebelum memulai diskusi. Ming Lan membuat pengakuan mengejutkan. Siapa yang menyangka, Ming Lan ternyata merupakan seorang putri Kerajaan Zhou. Ia merupakan sepupu jauh permaisuri Kerajaan Zhou saat ini.

Ming Lan sebenarnya kabur dari istana karena dirinya akan dinikahkan dengan seorang laki-laki dari kalangan bangsawan. Sebab dia tahu orang yang akan dinikahi, bukanlah laki-laki baik, dia merupakan laki-laki manja dari keluarga bangsawan yang suka berjudi dan main ke rumah bordil.

“Kenapa kau baru bilang sekarang, Ming Lan?” Fang An bertanya karena rasa penasarannya yang tinggi.

“Karena kita sudah melewati hidup mati bersama. Setidaknya aku tak boleh menyembunyikan identitas asliku lagi,” jawabnya dibarengi dengan senyuman manis. “Dan kalian juga yang menolong aku dari kejaran siluman kabut yang diutus oleh orang. Jadi, aku sekali lagi ingin meminta kalian untuk mengantarku pulang ke istana Kerajaan Zhou,” sambungnya meminta permohonan bantuan pada Fang An dan teman-temannya.

Fang An melirik ke arah teman-temannya, kompak ketiga bersaudara Gong menyetujuinya. “Oke. Tidak masalah,” jawabnya dengan nada datar.

Shui Hu tiba-tiba memikirkan sebuah ide, “Kalau begitu kenapa kita tidak meminta bantuan pada pamanmu saja Ming Lan, kan pamanmu seorang Raja,” ucapnya kegirangan.

Ming Lan menelan ludahnya sendiri, merasa malu dan tidak tahu apakah pamannya bersedia membantunya atau tidak.

Namun, Fang An segera memotong pembicaraan. Ia meminta Shui Hu jangan memikirkan ide tersebut lagi. “Sedikit orang yang tahu lebih baik, daripada banyak orang yang tahu tentang masalah ini.”

“Untuk raja Kerajaan Zhou. Mungkin kita bisa mengekspos kejahatan ayah tirimu padanya. Dan biarkan pamannya Ming Lan yang memberikan hukuman. Bagaimana apakah kalian setuju?”