Setelah menerima instruksi dari Pak Jefri, mereka segera berkumpul dan masuk ke kelompok masing-masing yang telah ditentukan sebelumnya. Pertandingan pun dimulai, SMA Merah Putih melawan SMA Cakrawala. Prit... Priit! “Kelompok 1 putri SMA Merah Putih dan kelompok 2 putri SMA Cakrawala, maju kedepan!” perintahnya. Tepuk tangan dan siulan genit dari para murid laki-laki riuh memenuhi lapangan, hingga membuat anak-anak yang sedang belajar di kelas ikut mengintip kegiatan mereka dari balik jendela. Syifa maju bersama kelima temannya, Michie, Ayu, Feny, Siti, dan Rosy. Meski mereka tidak terlalu pandai bermain voli, menjaga harga diri jauh lebih penting. Sementara itu, di kubu lawan berdiri Layli sebagai kapten bersama lima anggota lainnya. Pandangan meremehkan mereka sangat jelas tertuju pada Syifa dan timnya. Mereka begitu yakin kemampuan lawan jauh di bawah mereka, mengingat timnya yang pernah meraih juara di turnamen tingkat kota. Setelah undian lempar koin, kelompok Syifa mendapat kesempatan servis. Ayu yang berada di posisi paling belakang segera bersiap melakukan pukulan pembuka. Peluit berbunyi. Ayu memantulkan bola ke lantai beberapa kali sebelum melancarkan servis dengan seluruh tenaganya. Sorak-sorai dari pendukung kedua kubu menggema, membuat jantung para pemain berdegup kencang karena grogi. Bola meluncur cepat melewati net menuju area lawan. Ifa, yang berdiri tepat di jalur bola, dengan sigap melangkah dan mengangkat kedua tangannya ke depan untuk menerima serangan. Duk! Bola melambung tinggi. Nindi sigap menyambutnya lalu mengoper ke tengah, tepat ke arah Layli sang smasher. Dari posisinya, Layli hanya tersenyum sinis sambil bergumam. “Makan nih bola.” Layli yang memang pintar memanfaatkan peluang dan pandai membaca situasi permainan, melompat tinggi lalu memukul bola dengan kuat ke daerah lawan. Bukannya menahan bola agar tak jatuh di area mereka, justru sebagian besar memilih menghindar karena takut. Sementara itu, sorak penonton semakin riuh, murid-murid dari kelas lain yang sedang kosong ikut berbondong-bondong menonton pertandingan itu. “Semangat, Syifa!” Syifa melirik ke arah rombongan kelasnya. Teriakan Zoya yang energik mampu membuat keberaniannya muncul sampai ubun-ubun. Ia dengan cepat berlari ke depan menahan agar bola tidak menyentuh lantai. “Siti, awas!” Syifa menggantikan Siti yang nampak ragu menerima bola dan menghadang bola yang datang. Dan... Brugh! Waktu seolah berhenti. Sorakan yang tadinya riuh mendadak lenyap, tak tersisa sedikit pun. Semua mata terbelalak, mulut terkatup menahan teriakan. Syifa terjungkal setelah berhasil menahan bola. Gadis itu terkapar tengkurap di lapangan, tampak begitu mengenaskan. Pak Jefri meniup peluitnya, menghentikan pertandingan. Guru berusia 35 tahun itu bergegas menghampiri Syifa yang tak kunjung mengangkat wajahnya. Begitu pula teman-teman sekelasnya, yang segera mengerumuni seperti kawanan lebah mendekati sarang. “Syifa, are you okey?” tanya Pak Jefri khawatir. Syifa sebenarnya tidak pingsan. Hanya saja, degup jantungnya terasa hampir copot, ditambah rasa malu yang jauh lebih mendominasi. Dalam hati, ia merasa lebih baik benar-benar pingsan sekalian, daripada harus mengangkat wajah dan menanggung malu dua kali lipat. Namun, karena pingsan tak kunjung datang, dan pertanyaan panik dari gurunya itu, terpaksa ia mengangkat wajahnya dan tersenyum paksa. ”I’m fine, Pak, hehe....” “Pak!” Zoya memekik keras saat melihat hidung Syifa yang berdarah. Belum lagi dahinya yang lecet karena bergesekan dengan lantai lapangan. “Darah Pak, darah itu! Cepetan bawa Syifa ke UKS!” seru Zoya khawatir. Kerumunan siswa-siswi di sekitar Syifa semakin padat setelah teriakan Zoya. Bahkan, beberapa murid dari SMA Cakrawala pun ikut berkerumun, penasaran dengan kondisi siswi yang masih tengkurap menahan malu itu. “Tolong salah satu bawa Syifa ke UKS!” perintah Pak Jefri setelah memastikan luka Syifa. Salah satu siswa yang berseragam sama dengan Syifa ikut mendekat, berniat membawanya ke UKS sesuai perintah gurunya. Namun, langkahnya terhenti karena sudah didahului oleh siswa lain dari SMA Cakrawala. “Saya aja, Pak!” Semua yang disana terheran-heran karena siswa tampan dari SMA sebelah repot-repot menawarkan diri untuk membawa Syifa ke UKS. Terlebih lagi Layli, cewek itu mendengus kesal karenanya. *** “Tahan,” ucap Mika yang sedang mengobati luka Syifa. Syifa meringis ngilu saat kapas yang ditetesi alkohol itu menyeka lukanya. “Pelan-pelan dong, Ka! Kamu niat nggak, sih?!” Mika memutar bola matanya jengah. Dari tadi Syifa memang tidak bisa diam. Mengomel tidak jelas bahkan sesekali Syifa memukulnya karena katanya terlalu kasar saat mengobatinya. “Sebelumnya kamu udah pernah main Voli belum?” tanya Mika sembari menempelkan plaster di atas kain kasa yang menutup luka. “Belum...,” jawab Syifa kikuk. Mika mengambil bangku di samping ranjang dan duduk tepat didepan Syifa, menahannya agar tidak kemana-mana. Sementara Syifa yang tak berkutik, hanya bisa terduduk tegang di ranjang UKS, sambil berusaha menghindari tatapan tajam Mika. “Terus kenapa tadi sok-sokan begitu?” lanjut cowok itu mengintrogasi. Syifa meneguk ludahnya dengan kasar. Mengerikan rasanya harus berbicara dengan Mika, yang tiba-tiba menjadi mengintimidasi itu. “Itu bukan sok-sokan tau! Namanya orang main Voli ‘kan emang gitu!” sanggahnya sedikit ragu. Mika menaikkan satu alisnya. “Masa?” “Hmm....” Syifa mengangguk ragu. Suasana kembali hening. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Mika yang sebenarnya tidak pandai memulai percakapan, dihadapkan pada Syifa yang enggan bicara kecuali ditanya terlebih dahulu. Kombinasi sempurna untuk menciptakan rasa canggung. Tak tahan dengan suasana seperti itu, Mika memutar otak mencari topik yang mungkin bisa dibicarakan dengan Syifa. “Kamu beneran sayang sama aku ‘kan, Nin?” Syifa mengangguk pelan. Ia balas menatap Mika dalam. Tapi, baru beberapa detik saja, Syifa lebih memilih membuang pandangannya karena tak bisa bertatapan lebih lama. “Lihat aku, Nin, aku lagi ngomong sama kamu,” Mika kembali mengarahkan wajah Syifa agar menghadapnya. Sedangkan Syifa, tak perlu ditanyakan bagaimana keadaannya, wajahnya yang memerah dengan jelas memperlihatkan jantungnya yang tak baik-baik saja. Ruang UKS yang dingin tidak membuat Syifa kedinginan, karena nampak jelas bulir-bulir keringat bermunculan di pelipisnya, gugup karena tatapan dalam yang Mika tujukan padanya. “K-kamu ngapain, sih?” Syifa tidak tahan lagi. Ingin rasanya ia berlari keluar dari pada harus berada di satu ruangan bersama Mika. Bukannya menjawab, cowok itu malah semakin mendekatkan wajahnya ke Syifa, lalu mengunci pandangan padanya. Matanya menatap lekat mata indah itu. Iris coklat miliknya seolah menampakkan isi dunia mereka yang indah. Ya, Mika begitu menyukai siswi pecinta mawar putih itu. Paling tidak untuk saat ini. Tatapannya menelusuri setiap garis wajah cantik Syifa yang tercetak indah. Seolah memandangnya adalah hobi baru yang baru saja ia temukan. Di dalam hatinya, sudah berjuta-juta kali ia mengulang satu kata yang sama: “Cantik.” Menurutnya, Syifa adalah definisi cantik yang sesungguhnya. Bukan hanya wajahnya, tetapi sifat dan sikapnya pun menunjukkan bahwa ia adalah perempuan yang baik, meski terkadang tampak kesurupan reog di situasi tertentu. Mau sebanyak apa pun orang lain menjelekkan Syifa dihadapannya, ia tak akan peduli. Jika ia mau, maka ia akan. Mika pun ingin mencintai Syifa dan menjadikannya tempat pulang paling nyaman, setelah neneknya. “Aku suka sama kamu, amat sangat. Kalo kamu?” tanya Mika lembut. Jarak yang hanya belasan senti darinya membuat Syifa bingung harus berbuat apa dalam situasi itu. Berakhir membuat Syifa menahan diri agar tak salah tingkah di hadapannya. “Aku juga suka sama kamu, Ka,” jawab Syifa dengan senyum tipis dibibirnya. Namun, senyum itu tidak bertahan lama dan raut wajah sedih yang menggantikannya. “Aku mau kamu, cuma kamu, dan akan terus kamu....” Syifa menundukkan kepalanya, membuat Mika bertanya-tanya. Ia menggerakkan tangan untuk membuat gadis itu menatapnya kembali. “Kalau gitu, kenapa kamu sedih? Aku udah sama kamu ‘kan sekarang?” Syifa kembali menaikkan pandangannya, menatap lekat iris hitam itu. “Kamu mau tau kenapa aku sedih?” Mika hanya mengangguk tidak menjawab. Menunggu gadis itu meneruskan kalimatnya. “Itu karena kamu undang aku di waktu yang nggak tepat, Mika,” lanjut Syifa serius. “Maksud kamu?” Mika mengerutkan dahinya, merasa bingung dengan kalimat gadis di hadapannya. Syifa menghembuskan napas panjang. Gadis itu mendorong pelan bahu Mika agar tidak terlalu dekat dengannya. “Kamu nggak mungkin nggak ngerti, Ka. Cuma kamu yang paling tau, apa yang aku mau sekarang....” Mika memutar otaknya cepat. Berusaha memahami apa yang Syifa ingin dia pahami dari kata-katanya. Sementara Syifa, merebahkan tubuhnya di kasur UKS yang lumayan empuk itu. “Kamu boleh ngomong lagi kalo udah ngerti maksud aku, Ka. Sekarang kamu boleh keluar.” Syifa memalingkan tubuhnya. “Kamu ngusir aku?” sahut Mika cepat. Syifa mengangguk. “Iya, udah sana keluar. Takut ada setan,” usir Syifa setengah bercanda. Setan yang dimaksudnya adalah niatan yang tidak-tidak, yang mungkin saja ditujukan Mika kepadanya, mengingat hanya ada mereka berdua di sana. “Nggak mau,” Mika bersedekap dada, lalu membuang wajahnya seolah merajuk. “Udah sana keluar, aku mau istirahat!” Syifa berbalik dan menendang-nendang Mika pelan agar menjauh dari tepi ranjang UKS. “Iya, iya, ini mau keluar.” Mika berdiri, meletakan kembali bangku pada tempatnya. Untuk terakhir kalinya, ia melihat Syifa yang berbaring di ranjang UKS, menerka-nerka apa yang ada di pikirannya. Setelah beberapa saat, Mika berpaling dan berjalan kearah pintu, meninggalkan Syifa yang sudah lebih dulu memalingkan wajahnya. *** Di tempat lain, anak manusia yang dari tadi tidak bisa tenang itu segera berlari ke kantin setelah Pak Jefri menutup latihan tanding. Ia berniat untuk membeli air mineral dan beberapa buah roti untuk di bawanya menuju UKS. Setahunya, Syifa jarang sekali sarapan pagi. Jadi ia membawakan roti saat menjenguk sahabatnya itu. Zoya berlari kecil di koridor yang menuju ke UKS. Sebenarnya sebelumnya aa sudah meminta izin untuk menemani Syifa di UKS, tetapi ia tidak mendapatkan izinnya. Terpaksa ia menurut dan menunggu waktu istirahat tiba. Gadis itu mulai melambatkan langkahnya saat sudah berada didepan ruang UKS. Terasa sangat sepi. Mungkin sedang tidak ada yang di UKS selain sahabatnya itu, pikirnya. Ia meraih handle pintu UKS yang dingin, lalu memutarnya sampai pintu berderit saat terbuka. Dan pemandangan pertama saat pintu benar-benar terbuka adalah Syifa yang menatap terkejut padanya, sementara ada seorang murid laki-laki yang tak kalah terkejutnya di dalam ruang UKS. Entah apa yang terjadi, tapi dilihat dari wajahnya, Syifa begitu panik dengan kedatangannya. “K-kalian, ngapain berduaan disini?” tanya Zoya menyelidik. Syifa yang masih terkejut balas menatap sahabatnya yang masih berdiri mematung di ambang pintu. “Ng-nggak! Orang nggak ngapa-ngapain juga!” sahut Syifa cepat. Zoya mendekat, dengan tatapan curiga ke arah cowok yang pernah dia lihat dari aplikasi Instagram itu. “Lo Mika, ya? Mantannya Syifa, kan? Ngapain lo disini?!” Mika yang di beri pertanyaan beruntun itu mendengus malas. “Gue pacarnya, sembarangan lo ngomong gue mantan,” jawabnya penuh percaya diri. Tanpa keraguan dan penuh percaya diri Mika mendekat dan mengulurkan tangannya kearah Zoya. “Kenalin, gue Mika, pacarnya Syifa.” “Cihh.” Zoya berdecih malas. Kemudian menaruh plastik makanan yang ia bawa dan berjalan mendekati Mika. “Putusin dulu jamet yang ono, baru boleh pacarin sahabat gue!” Mika menarik lagi tangannya karena tidak disambut oleh Zoya. Ia melirik Syifa yang sedang memijit kepala sambil menunduk. Kalau sudah kepalang malu begini, mau bagaimana lagi selain pura-pura tidak ngerti arah pembahasan? “Apapun yang mau lo omongin, mending simpen aja di kepala. Mind your own business!” ucapnya penuh penekanan karena ia tidak suka urusannya di campuri orang lain. Mau bagaimanapun, kedepannya hanya akan ada dirinya dan Syifa. Tidak ada Zoya maupun yang lainnya. “Nanti pulangnya gue jemput.” Setelah mengatakan kalimat yang terakhir, Mika beranjak keluar dari UKS. Setelah pintu tertutup sempurna sehingga tidak siapapun bisa melihat dari luar, Zoya cepat-cepat mendekati Syifa yang sedang santai memakan roti yang di bawanya. “Fa, lo abis ngapain sama tuh kecombrang?” “Nggak ngapa-ngapain,” jawab Syifa singkat, dan kemudian melanjutkan mengunyah roti dimulutnya. “Ngaku, lo!” Zoya merebut roti dari tangan Syifa, sehingga membuat dengusan malas terdengar dari mulut sahabatnya. “Heh, Monyet! Lo kan liat sendiri tadi Mika yang gendong gue kesini, ya berarti dia disini karena ngobatin gue, lah!” Syifa menegak air mineralnya sampai setengah. “Otak lo aja yang konslet, pasti lo mikir aneh-aneh, kan?” Bukan Zoya rasanya kalau percaya begitu saja dengan apa yang Syifa katakan, matanya masih tajam menyorot wajah Syifa, mencari tanda-tanda kebohongan disana. “Eee... tadi gimana latihan tandingnya?” Syifa segera memutar otak dan mengalihkan pembicaraan secepat mungkin. “Emh, lancar, nggak ada masalah,” Zoya terdiam beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu tidak lama setelahnya kembali menatap sahabatnya dengan lekat. “Tapi gue mau nanya sama lo, deh,” tanya Zoya menyelidik, yang sekali lagi membuat Syifa keringat dingin dibuatnya. “Apa?” sahut Syifa cepat. “Di tempat sepi kaya gini, terus berduaan sama cowok, kalian nggak berpikiran ke sana, kan?” Syifa yang tahu arah pembicaraan sahabatnya itu refelek menoyor wajah Zoya menjauh darinya sembari berkata, “Sembarangan tu mulut! Gini-gini gue masih bisa mikir ya!” “Yeee, siapa tahu, ‘kan? Lagi ada setan lewat gitu.” ***
Second Choice: Matahari - Insiden - Bab 10
Penulis
Hanamy_Yummy
30 December 2025