Murid kelas XII IPS 1 bersorak sorai ketika bel sekolah berbunyi keras sebagai pertanda selesainya kegiatan belajar mengajar hari itu. Dan bukan hanya kelas XII, melainkan semua kelas di SMA Merah Putih turut berhamburan dari dalam kelas. Natha segera membereskan buku-bukunya, menggendong ransel di pundak kanannya dan bergegas keluar dari kelas mengikuti arus siswa-siswi yang juga hendak cepat-cepat mengganti suasana sekolahnya ini dengan bersantai di luar. Natha melajukan motornya keluar gerbang, berbaur dengan banyaknya pengendara lain di tengah ramainya jalanan. Mendekati komplek perumahannya, ia mendapati ada penjual buket bunga yang tampak sedang beristirahat di pinggir jalan. Natha melambatkan laju motornya dan menepi kearah penjual bunga. “Pak, saya mau buket mawarnya satu, ya,” ucapnya setelah turun dari motornya. Bapak penjual buket itu nampak sedikit terkejut dengan kedatangannya, lalu sedetik kemudian tersenyum sumringah karena pada akhirnya ada yang mau mampir membeli dagangannya setelah seharian berkeliling. “Alhamdulillah, mau yang kecil atau yang besar, Mas?” Cowok itu berpikir sejenak sembari mengamati buket-buket cantik itu. Tidak lama ia menjatuhkan pilihannya dengan menunjuk salah satu buket berukuran sedang. “Yang itu aja, Pak. Kalo begitu saya beli dua, ya.” Bapak penjual bunga mengangguk dengan semangat, lalu mulai menyiapkan pesanan pembeli pertamanya di hari itu. Karena memag jarang sekali ada yang mau membeli buket di hari-hari biasa seperti ini. Natha duduk di sebelah dagangan bapak itu. Ia mengamati bapak penjual buket itu yang menurutnya sudah tidak boleh bekerja lagi karena usianya. Seharusnya di usia tua, mereka hanya tinggal menikmati hasil kerjanya di waktu muda atau paling tidak di nafkahi oleh anak-anaknya. Tapi bapak ini malah masih menjajakan dagangan di usia senjanya. “Bapak berangkat kerja jam berapa?” tanyanya sambil menunggu bapak itu menyiapkan buket pesanannya. “Oh, saya mulai keliling itu jam setengah delapan, Mas. Alhamdulillah, Mas-nya mampir beli dagangan saya, jadi setidaknya, saya pulang nggak bawa tangan kosong,” jelas bapak itu dengan aksen medoknya. Natha mematung beberapa saat setelah mendengar penjelasan bapak itu. Setelah seharian berkeliling, baru dirinya yang membeli buket nya? Pantas saja buket bawaannya masih banyak padahal hari sudah mulai sore, batinnya. Setelah beberapa saat, bapak penjual bunga menyerahkan plastik yang berisikan buket-buket yang Natha pesan sebelumnya. “Ini, Mas, silakan.” “Eh, iya, makasih, Pak. Jadi berapa semuanya, Pak?” “Itu biasanya saya jual dua puluh ribuan, Mas. Berhubung sudah sore saya jual lima belas ribuan aja,” jawab bapak penjual bunnga. Nampak sekali gurat bahagia di wajahnya yang keriput karena barang dagangannya berkurang. “Ini uangnya, Pak. Makasih, ya,” Natha mengeluarkan dua lembar ratusan ribu dari dompetnya dan menyerahkannya pada bapak penjual seraya berdiri dan naik keatas motornya. “Loh, Mas, ini kebanyakan, Mas! Orang harganya cuma tiga puluh ribu, kok, dua buket itu,” seru penjual bunga. Natha yang sudah berada diatas motornya dan siap meluncur mengabaikan seruan penjual bunga dan menyalakan motornya. “Ah, nggak apa-apa, Pak, buat bapak aja. Kebetulan uang jajan saya sisa hari ini,” sahut Natha santai. “Tapi ini kebanyakan lho, Mas.” “Iya, nggak apa-apa, Pak, saya duluan, ya!” Natha langsung saja melajukan kembali motornya meninggalkan penjual bunga dibelakangnya. Mungkin terkesan kurang sopan, tetapi dia tidak tahu bagaimana menjawabnya jika bapak itu menolak pemberiannya. Tadi saja sudah jelas bapak itu akan menolak, jadi ia memutuskan untuk segera pergi dan menghindarinya. *** Mobil Ferrari F8 Tributo merah terparkir apik di garasi sebuah rumah mewah yang mentereng dan luas. Natha mengerutkan dahinya, seingatnya ia belum pernah memiliki mobil ini di garasinya. Jasmine? Tidak mungkin juga. Adik perempuannya yang super manja itu tidak bisa menyetir mobil. Terakhir kali mobilnya rusak parah karena di pakai Jasmine yang katanya hanya berputar-putar di sekitar komplek. Tanpa terpikirkan olehnya akan menabrak sebuah pohon pada akhirnya. Natha menajamkan telinganya saat sayup-sayup terdengar jeritan perempuan dari dalam rumahnya. Ia buru-buru berlari masuk ke dalam, takut terjadi apa-apa pada adiknya. Ruang tamu kosong menyambut kedatangannya, Natha langsung bergegas naik ke lantai dua dimana kamarnya dan kamar adiknya berada. Dari ujung tangga ia melihat pintu kamar Jasmine yang sedikit terbuka, menandakan adanya seseorang disana. Belum sempat kakinya melangkah, suara seperti kaca yang berhamburan ke lantai terdengar nyaring memekakkan telinganya, di susul suara berat seorang laki-laki yang berbicara dengan intonasi tinggi dari arah yang sama. “Jasmine!” Natha terkejut sejadi-jadinya melihat keadaan kamar Jasmine yang jauh dari kata rapih. Pecahan kaca berserakan di lantai, dan yang paling membuatnya ingin mengumpat adalah tubuh adiknya yang penuh dengan luka sabetan ikat pinggang yang ada ditangan ayahnya. Jasmine yang melihat kedatangan kakaknya lantas menggeleng pelan. Seakan memberitahukan bahwa dia baik-baik saja disana. “Saya menyesal punya anak perempuan bodoh seperti kamu!” teriak laki-laki itu. Natha tidak bodoh dengan hanya berdiam diri menyaksikan adiknya disiksa oleh ayahnya sendiri. Ia langsung berlari merengkuh Jasmine dengan tubuhnya, membawanya ke dalam pelukannya supaya terhindar dari sabetan ayahnya. “Sshtt...!” Natha memejamkan matanya sembari menahan perih saat ujung ikat pinggang itu menyabet punggungnya tanpa ragu. Tidak bisa ia bayangkan rasa rakit yang Jasmine rasakan, menerima siksaan itu berkali-kali. “Niel!” teriak laki-laki paruh itu, dengan aroma alkohol yang menyengat darinya. “Sudah berani kamu menghalangi saya, ha?!” teriak laki-laki itu seraya terus mengayunkan ikat pinggangnya tanpa ragu. Natha mengatupkan gerahamnya, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya luruh juga. Ia tidak mengerti, mengapa ayahnya harus sampai sebegitunya semenjak bundanya koma enam bulan yang lalu. “Udah, Yah, Ayah nggak kasihan sama Jasmine? Dia perempuan, tubuhnya nggak sekuat itu buat menerima siksaan Ayah yang terus menerus, sadar, Yah!” ucap Natha akhirnya. Ia sudah tidak tahan lagi melihat kekacauan di rumahnya akhir-akhir ini. Seperti, bukan keluarga. Hidup masing-masing, tetapi masih ingin mengatur dan mencampuri hidup yang lainnya. “Ngapain saya harus kasihan sama anak bodoh yang menyebabkan istri saya hampir kehilangan nyawa?!” bentak laki-laki itu, terdengar jelas bahwa laki-laki itu berdecih menghinakan. “Itu bukan karena disengaja, Yah!” sergah Natha lantang. Ia sudah muak sekali dengan jawaban ayahnya yang tidak masuk akal itu. Lagi pula sejak kapan kecelakaan bersama menjadi tolak ukur kesalahan? Jasmine juga sama-sama terluka pada kecelakaan itu, hanya saja tidak separah bundanya. Laki-laki yang di panggil ayah oleh dua anak itu terdiam. Ia cukup mengerti untuk memahami semuanya, hanya saja ia butuh seseorang untuk di salahkan sampai setidaknya keadaan istrinya membaik. “Jadi apa mau kamu, Niel?” ***