“Jadi apa mau kamu, Niel?” tanya Ayah Natha, kali ini dengan emosi sedikit mengendur. Mendengar perubahan suara yang kentara sekali dari ayahnya, Jasmine tertawa hambar. Ternyata memang sehina itu dirinya di mata ayahnya. “Please, stop doing stupid things, stop making reckless choice like dringking, smoking or even abusing your own daughter... itu nggak bakal membuat bunda sembuh lebih cepat, Justru bunda akan sedih kalau tau Ayah melakukan semua ini karena bunda,” pinta Natha penuh pengharapan. Ia melepaskan dekapannya dan berdiri di hadapan ayahnya. “Dan satu lagi, Yah, kalau Ayah memang nggak suka sama Jasmine, cukup diam, jangan menyiksa Jasmine seperti ini... itu aja cukup,” tegas Natha penuh dengan penekanan. Merah padam wajah ayahnya perlahan memudar, tatapannya kosong, menatap lurus lantai kamar Jasmine yang jauh dari kata rapi. Termangu, tertampar oleh kata-kata putranya sendiri. Bram yang masih menggenggam ikat pinggang ditangannya menggeram kasar dan membanting alat penyiksaan anaknya itu. Laki-laki itu berbalik dan berlalu pergi, meninggalkan kamar Jasmine yang porak-poranda begiru saja. Setelah memastikan ayahnya menghilang dari pandangan, Natha berpaling dan berlutut mendekap adiknya yang masih terisak di lantai kamar. “Kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit?” Natha mengusap sisa air mata diwajah adiknya, kemudian kembali mendekapnya dalam-dalam. “Udah, ya, sekarang udah nggak apa-apa, Kakak disini.” *** Jasmine menatap dirinya yang penuh luka di cermin wastafel. Lukisan-lukisan yang tercipta dari ikat pinggang ayahnya terlihat memenuhi tubuhnya yang ringkih. Rasanya sangat perih, tapi itu tidak ada apa-apanya jika di banding dengan perih yang ada di hatinya. Matanya kembali memanas saat teringat perubahan sikap ayahnya akhir-akhir ini. Padahal apa yang terjadi waktu itu sama sekali tidak ada unsur kesengajaan atau apapun itu. Pada saat itu dirinya juga terluka. Ia juga harus menerima perawatan di rumah sakit selama beberapa minggu sampai akhirnya diperbolehkan pulang lima minggu yang lalu. Sedangkan bundanya, sampai sekarang masih terus bertahan dalam kondisi vegetatif dibantu oleh alat-alat rumah sakit yang dia sendiri tidak tahu apa namanya itu. Jasmine tersadar dari lamunan panjangnya kala pintu kamar mandi di ketuk dari luar. Ia memang sedang berada dalam kamar mandi di kamarnya. Dan di luar sana, lebih tepatnya di kamarnya ada Natha yang sedang membereskan kekacauan yang di buat ayahnya beberapa saat yang lalu. “Kalo udah selesai langsung keluar, Dek, lukanya harus diobatin,” ucap Natha dari balik pintu. “Kakak keluar aja, Jasmine bisa sendiri,” sahutnya kemudian. Beberapa menit setelahnya ia sudah tidak mendengar suara apapun disana, yang menandakan bahwa kakaknya juga sudah keluar dari kamarnya. Setelah memastikan beberapa saat, ia memutuskan untuk membuka pintu perlahan, memastikan tidak ada siapapun di kamarnya. Setelah dirasa aman, ia baru melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Ia memutuskan untuk mengambil ponselnya yang sejak tadi tergeletak di nakas meja, mengetuknya dua kali dan benda pipih itu pun menyala. Ia melihat ada dua pesan dari nomor yang sama disana. Buru-buru ia buka pesan itu. Kak Mikaa: “Sayang?” “Tumben HP aku ada notif dari kamu.” “Are you okay?” Jasmine: “I’m fine, Sayang.” “Maaf ya, hari ini nggak sempet ngabarin kamu.” Kak Mikaa: “Nggak apa-apa, Sayangkuu.” “Keluar yuk, aku jemput, ya?” Jasmine: “Beneran, nih?” “Tumben banget kamu yang ngajak keluar duluan.” Kak Mikaa: “Jadi mau nggak, nih?” Jasmine: “Mauu! Mau banget!” Kak Mikaa: “Okay, buruan siap-siap, 15 menit lagi aku sampe.” Jasmine: “Siap, laksanakan!” Jasmine bergegas untuk bersiap setelah pesan terakhirnya terkirim. Setelah membuat banyak pertimbangan, gadis itu memilih menggunakan hoodie over size dengan hot pants dari lemarinya. Selang beberapa waktu, orang yang ditunggu pun datang. Jasmine langsung saja keluar rumah karena ia tidak harus berpamitan pada siapapun karena memang tidak ada siapa-siapa. Kalau dengan Natha, ia bisa berkirim kabar lewat WhatsApp nanti. “Kita mau kemana, Kak?” Jasmine membuka obrolan setelah dirinya duduk dengan nyaman di samping Mika. Mika diam sebentar seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. “Kamu maunya kemana?” tanya cowok itu pada akhirnya. Yang sebenarnya dari tadi ia memang belum merencanakan mau pergi kemana. “Emm... aku kemana aja oke, asal sama kamu, hehe,” jawab Jasmine di akhiri dengan kekehan ringan. Mika juga ikut tersenyum kecil. “Sa ae pacar.” Melewati perempatan jalan yang ramai, mobil yang mereka tumpangi berhenti karena lampu merah. Mika memanfaatkan sedikit waktunya untuk mengobrol. “Mau es krim?” tanyanya dengan satu tangan mengelus pucuk kepala kekasihnya itu. Jasmine terlihat lebih imut dengan memakai hoodie kebesaran ini. “Kamu ‘kan suka es krim,” lanjutnya. Mika menghentikan aktifitas mengelus rambut pacarnya saat Jasmine nampak mengerutkan dahi setelah kalimat terakhirnya. Ia merasa tidak ada yang salah dengan apa yang dia katakan. “Kenapa, Sayang?” tanyanya santai. “Kamu lupa? Aku ‘kan alergi sama produk susu,” ketus Jasmine membuat Mika seketika tersadar akan kesalahannya. “Sial, gue lupa lagi, yang suka es krim ‘kan Anin, bukan Jasmine, mati gue,” maki Mika dalam hati. “E-eh, iya juga, maaf ya, Sayang. Aku lupa, hehe.” Mika menggaruk tengkuknya, mencoba membuat otaknya berpikir lebih keras. Apa yang harus Ia katakan supaya Jasmine tidak curiga padanya. “Mungkin karena tadi aku lihat ada toko es krim, jadi kepikiran aja. Maaf ya, Sayang.” Jasmine memasang ekspresi masam di wajahnya. Sebenarnya moodnya memburuk, tapi karena Mika langsung meminta maaf dengan lembut, hatinya juga ikutan menghangat. “Hm... iya, nggak apa-apa.” Lampu sudah kembali hijau, Mika kembali menginjak pedal gas mobilnya, melanjutkan perjalanan yang entah mau kemana. Situasi berubah canggung diantara mereka berdua, apalagi setelah kebodohan yang terucap dari mulutnya sebelumnya. Natha memutar otaknya, apa yang harus dia katakan untuk memulai pembicaraan setelah salah ucap sebelumnya. Atau paling tidak topik pembicaraan yang mungkin bisa mencairkan suasana ditengah mereka. Dan secara kebetulan, ada satu tempat yang sering didatanginya dulu terpikirkan di otak mungilnya. “Kalo ke toko buku gimana? Aku pernah lihat ada aplikasi baca di handphone kamu,” tanya Mika menawarkan. Tanpa pikir panjang Jasmine langsung mengangguk menyetujui begitu ia mengusulkan tempat itu. “Ayok, Kak, kebetulan banget aku lagi pengen beli novel yang baru aja terbit.” Mika menghembuskan napas lega, seolah beban yang sejak tadi menekan dadanya akhirnya sedikit terangkat. Setidaknya, untuk saat ini, ia masih mampu mengamankan hubungannya dengan Jasmine, menjaga agar semuanya tidak runtuh lebih cepat dari yang ia takuti. Meski hanya sementara, waktu tambahan itu terasa begitu berharga baginya. Paling tidak, ia masih memiliki kesempatan untuk menata ulang keadaan, menenangkan kekacauan yang ada di kepalanya, dan berharap agar situasinya dengan Syifa dapat membaik sebelum segalanya menjadi benar-benar rumit untuknya. ***
Second Choice: Matahari - Penawar Palsu -Bab 12
Penulis
Hanamy_Yummy
30 December 2025