Second Choice: Matahari - Tak Sengaja - Bab 13

30 December 2025

Bagi dua gadis SMA itu, kegiatan yang paling menyenangkan adalah menghabiskan waktu di antara deretan buku yang mampu menenangkan hati mereka. Namun tentu saja, yang mereka maksud hanyalah buku-buku novel. Sebab, jika yang terlihat adalah buku pelajaran, jangankan membacanya, melihat sampulnya saja sudah cukup membuat kepala mereka terasa pening. Syifa sengaja ingin menginap di kost-an Zoya malam ini, dan sudah mendapat izin dari ibunya. Itulah mengapa mereka sangat santai menikmati suasana menenangkan di toko buku langganan mereka. “Joy, lo tau nggak, hal apa yang paling bikin gue seneng selain makan enak?” tanya Syifa sementara matanya tidak bisa berhenti melihat sinopsis berbagai novel di depannya. “Tidur, maybe?” tebak Zoya. Aslinya cewek itu malas saat ditanya hal-hal tidak penting, tapi karena yang bertanya adalah Syifa yang notabene sahabatnya, makannya ia berusaha untuk menjawab sedapatnya. “Salah!” sahut Syifa cepat. Air mukanya jelas sekali seperti meledek Zoya karena tebakannya salah. Baru saja Zoya hendak membuka mulut, tapi sudah keduluan sahabatnya. “Kelamaan, gue tuh selain suka makan, gue juga suka aroma novel-novel ini,” Syifa menunjuk jejeran novel di rak-rak buku. “Menurut gue nih ya, bau novel itu punya aroma khas sendiri. Makanya gue jadi kecanduan,” lanjut Syifa menambahkan opininya. Bahkan, gadis itu sampai menciumi novel yang sedang dipegangnya. Zoya yang melihatnya reflek memukul kecil tangan Syifa. “Jangan keliatan banget katroknya, ish,” bisik cewek itu. Bukannya berhenti, Syifa justru tertawa kecil sembari terus melanjutkan kebiasaannya ketika melihat novel baru. “Biarin, ibaratnya gue kayak pecandu alkohol yang ketergantungan, mau apa lo?” tantang Syifa setengah meledek. “Gaya lo,” cibir cewek yang penampilannya lebih feminim dari sahabatnya itu. “Kayak tau aja ketergantungannya pecandu alkohol itu gimana,” lanjutnya. “Gue, mah, apa sih yang nggak tau?” balas Syifa sembari terkekeh jenaka. “Dia sering bareng cewek aja gue tau.” “Mulai, deh, pembahasannya kesana-sana.” Zoya memutar bola matanya. Biasanya kalau sudah keluar kalimat seperti itu dari mulut sahabatnya, itu pertanda bahwa sesi curhat akan segera dimulai. “Hehe, maklum lah, Joy, namanya juga korban.” Baru saja Syifa akan melanjutkan aktivitas yang hanya sekedar berputar-putar di deretan rak yang berjejer, matanya tidak sengaja menangkap kegiatan seseorang yang hampir sama dengan mereka di toko buku itu. “Joy,” panggil Syifa lirih sembari menyenggol siku Zoya. “Hm,” sahut Zoya malas. “Joy,” panggil Syifa lagi, tetapi matanya tidak berhenti melihat pergerakan seseorang yang menurutnya sangat tidak mungkin berada di tempat itu sendirian. Zoya menghela napas panjang, lalu ia memutar tubuh untuk bisa menghadap sahabatnya agar lebih mudah berbicara. “Ada apa Syifa Adnin Ivana, ada apa gua tanya?” “Itu....” Zoya mengikuti arah pandang Syifa tertuju, dan di detik selanjutnya ia pun melakukan hal yang sama dengan Syifa, bersembunyi di balik rak agar tak kelihatan cowok yang sedang mereka intip itu. “Iya, Fa, gue liat. Nggak mungkin sih, kalo tuh monyet di toko buku malem-malem kalo nggak diajak orang,” bisik Zoya agar suaranya tidak didengar orang yang mereka awasi. “Iya, bener banget lagi, Mika tuh bukan tipe cowok yang suka baca buku, apalagi novel yang isinya cuma tulisan doang,” tambah Syifa. Ia jadi makin curiga dengan mantannya yang saat ini kembali mendekatinya itu. “Coba lo kontak si monyet, Fa, takutnya ‘kan itu orang cuma mirip, kesian disuudzonin orang nggak di kenal.” Mengikuti saran Zoya kali ini memang sepertinya adalah keputusan yang tepat. Tanpa membuang waktu lagi, Syifa langsung mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi hijau untuk menelpon orang yang ada di ujung sana. Syifa menekan kontak dengan nama Mika di layar ponselnya dan melakukan panggilan suara. Satu detik kemudian, layar ponselnya menunjukan bahwa ponsel yang dituju sedang berdering, menunjukan bahwa panggilan suara terhubung. Dan si saat yang bersamaan, orang yang mereka kira hanya mirip dengan Mika itu nampak merogoh saku di celananya dan memeriksa layar ponselnya. Sontak Syifa membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara, sementara Zoya bertugas terus memata-matai cowok itu. “Gimana ini, Joy? Berdering tau,” tanya Syifa panik. Zoya tidak langsung menjawab. Namun, beberapa detik kemudian, gadis itu justru heboh sendiri dan mengangguk-angguk cepat. Syifa dan Zoya pun mendadak merasa jantung mereka berdegup lebih kencang, menunggu telepon itu diangkat. *** Mika menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, termasuk Jasmine yang saat itu tengah larut dalam kegiatannya sendiri. Tadi, ia sempat merasakan ponselnya bergetar. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati nama gadis yang selama ini sedang ia perjuangkan tertera di layar. Setelah ragu sejenak, akhirnya ia memilih untuk mengangkat panggilan itu sambil sesekali mengawasi sekitar. Ia takut jika Jasmine tiba-tiba datang karena situasinya bisa jadi gawat. “Halo, Sayang?” sapanya begitu detik pertama telepon tersambung. “Halo, kamu lagi ngapain?” tanya Syifa dari ujung telepon. Gawat. Jika ia tidak pandai beralasan, semuanya bisa terbongkar. Ia sama sekali tidak ingin gadis itu mengetahui bahwa dirinya sedang berada di luar bersama Jasmine. “Eee… aku lagi nongkrong sama teman-teman di luar. Tumben kamu yang nelepon duluan,” ujarnya cepat, lalu menambahkan dengan nada bercanda, “kangen, ya?” “Hehe, iya nih, lagi kangen. Bye the way, kamu nongkrongnya dimana? Aku pengen samperin, soalnya aku gabut banget.” Mika sekali lagi mengumpat dalam hati, tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi ia ingin menemani pacarnya malam ini tapi di sisi lain ada gadis yang sedang ia usahakan untuk kembali ke pelukannya. Tidak mungkin kalau ia menolak keinginan gadis itu tanpa alasan yang jelas. Yang ada malah ketauan nantinya. “Jangan, Sayang! Ini udah malem, besok ‘kan sekolah. Lagian ini bukan weekend, nanti dimarahin ibu, loh.” Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Tampaknya jawaban itu tidak cukup meyakinkan, hingga membuat gadis di seberang sana memilih diam. “Halo?” panggil Mika karena tak kunjung ada jawaban dari Syifa. “Ya udah, video call aja,” cetus Syifa tiba tiba. Belum sempat ia beralasan, layar ponselnya sudah berganti menjadi panggilan video, dan ia tak lagi memiliki alasan untuk tidak mengangkatnya. Tangannya pun menggeser ikon biru bergambar kamera, lalu wajahnya sendiri muncul di layar ponsel. Namun, keterkejutannya tak berhenti di situ. Ketika ia menyentuh kotak layar yang seharusnya menampilkan wajah gadis cantik yang tengah berbincang dengannya, justru terlihat bayangan seseorang yang tampak sangat dikenalnya, sosok yang membelakangi sang penelepon, dan itu terasa seperti dirinya sendiri. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, ia segera membalikkan badan untuk memastikan apa yang dilihatnya bukan sekadar kesalahan sudut kamera. Sayangnya, dugaan buruk itu terkonfirmasi. Masalah besar tampaknya benar-benar datang menghampirinya saat ia mendapati gadis yang seharusnya tidak berada di tempat itu kini berdiri di sana, tersenyum sambil mengarahkan kamera ponselnya tepat ke arahnya. “Eh, ketemu Monyet.” *** “Jadi, kamu ngapain disini?” Saat ini, Syifa, Zoya, dan Mika sedang duduk di sebuah kafe yang masih berada dalam satu bangunan dengan toko buku tadi. Toko buku itu menempati lantai satu, sementara kafe berada di lantai dua. Mika menggaruk tengkuknya. Kepalanya terasa sangat pusing karena harus bertemu Syifa di waktu yang tidak tepat. Bahkan, ia sampai rela meninggalkan Jasmine yang masih sibuk di lantai satu demi mengejar Syifa dan memberinya penjelasan. “A-aku... lagi cari novel aja, soalnya aku liat banyak temen sekelas ku bawain novel ke sekolah, kayaknya seru juga jadi aku juga mau beli, begitu.” Mika menjelaskan dengan sedikit terbata. Zoya berdecih mendengar kalimat yang kemungkinan benarnya sangatlah kecil. “Heh, Monyet! Lo itu lagi ngomong sama cewek SMA, jadi nggak usah ngasih penjelasan yang belibet gitu, bikin pusing aja,” ujar Zoya kesal. Mika melirik sinis, dari banyaknya perempuan yang ditemuinya, sepertinya Zoya masuk kedalam daftar manusia paling menyebalkan di muka bumi menurutnya. “Duh, yang ngomong barusan siapa, ya? Oh, mungkin setan, soalnya panas banget hawanya disini,” sahut Mika seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar, seolah mencari sumber suara yang jelas-jelas ada di hadapannya. “Sini mata lo gue tusuk pake garpu!” Zoya menggebrak meja, lalu mengambil garpu yang tadi digunakannya untuk makan dan mengarahkannya ke wajah Mika. Seolah tak mau kalah, Mika pun melakukan hal yang sama dengan perempuan gila di depannya. Melihat pemandangan itu, Syifa spontan menepuk jidatnya. Tampaknya Zoya dan Mika memang dua manusia yang seharusnya tidak berada dalam satu situasi yang sama. “Udah-udah. Zoya, Mika, udah!” Zoya dan Mika segera menghentikan aksi mereka begitu mendengar teguran dari Syifa. Namun, seolah masih belum puas, keduanya justru saling melempar pandangan tajam yang sarat dengan kebencian. “Lo nggak boleh dengerin alesan klasik kayak gitu, Fa! Nggak mungkin banget ‘kan cowok doyan baca novel sampe ke toko buku sendirian? Apalagi bentukannya kayak monyet bekantan gini,” kompor Zoya selagi Syifa masih terdiam. “Apaan sih, lo!” sentak Mika kesal karena Zoya sengaja mengompori Syifa. Perhatiannya kemudian beralih ke arah Syifa. “Sayang, kamu percaya, kan, sama aku?” Syifa berdiri, membuat Zoya dan Mika kompak menatap cewek itu. “Mau kemana, Sayang?” Mika yang melihat wajah masam itu dengan sigap juga ikut berdiri, bermaksud menghalangi gadis itu pergi. “Joy, lo tunggu di sini dulu. Gue mau ke kamar mandi bentar,” ujar Syifa sebelum benar-benar melangkah pergi. “Anin,” panggil Mika karena tak kunjung direspon oleh Syifa. Syifa berhenti dan memutar tubuhnya, menatap Mika dalam-dalam. “Kamu juga di sini aja.” ***