Gadis yang selalu identik memakai dress putih itu memejamkan mata lentiknya kala semburat senja menerpa wajahnya. Semilir angin yang berhembus juga sukses membuatnya merasa tenang. Ia merasa terbebas dari segala hal menyesakkan, yang hampir membuatnya mati rasa. Setelah kejadian malam itu, Syifa memutuskan untuk menghapus aplikasi yang memungkinkan seseorang untuk menghubunginya. Bahkan, saking tidak maunya diganggu oleh siapapun, gadis itu bahkan rela mencopot SIM card-nya. Biarlah orang bilang berlebihan, yang penting dia merasa tenang sesaat. Syifa menatap senja yang perlahan menghilang di ujung mata. Ia sangat menyukai semua yang berbau langit. Dan senja adalah salah satu dari banyaknya hal indah yang ia kagumi berkali-kali. Jatuh hati pada senja itu sekaligus patah hati, karena ia hadir namun sudah diatur untuk pergi. Dan Syifa harap, ‘dia’ tidak begitu. “Harusnya dari awal gue nggak nerima dia,” tuturnya sembari menikmati deburan ombak yang saling menghantam. “Kalo udah kayak gini, siapa yang mau disalahin?” Berbicara tentang cinta, sebenarnya Syifa sendiri ragu untuk mendefinisikan apa arti dari 'cinta'. Karena bahkan dirinya sendiri tidak yakin ada orang yang benar-benar tulus mencintai dirinya di muka bumi ini. Dia tidak bertubuh ideal, kulitnya tak terlalu bersih, attitude-nya juga masih kurang. Dia tidak cantik. Tidak seperti wanita lain. Dia penuh dengan luka, duka dan masa lalu yang buruk. Kehidupannya sangat sederhana, dan tidak terlahir dari keluarga yang berada. Lantas, jiwa mana yang ingin memeluk raga itu dengan setulus hati? Dibenaknya sudah terlanjur tertanam sebuah kalimat, 'semua yang datang hanya penasaran'. Agar jika suatu hari ada yang menyakitinya, ia sudah tidak terlalu terkejut dan merasakan sakit yang amat sangat. Syifa menilik jam tangan mungil di pergelangan tangannya. Senja sudah tenggelam, dan digantikan dengan gelapnya langit malam. Gadis itu baru beranjak pulang setelah benar-benar puas menikmati harinya sendirian. *** Mika mengacak rambutnya frustasi saat entah yang ke berapa ratus kalinya ia menelpon, beratus-ratus kali pula tidak mendapat jawaban. Ia bingung, khawatir dan merasa bersalah sepanjang hari. Ya, Syifa hilang kabar selama tiga hari. Ia menduga mungkin gadis itu sengaja mengganti nomor teleponnya karena merasa kecewa atas kejadian kemarin. Tadi siang, Mika nekat mendatangi rumah gadis itu untuk menemuinya dan meminta maaf. Tapi, ternyata rumahnya kosong, tidak ada orang sama sekali. Tidak berhenti sampai disitu saja, ia mencoba menghubungi Zoya lewat Instagram, tapi jawaban yang diberikan gadis itu juga tidak membuatnya tenang. Belum sempat bertanya kemana perginya Syifa, gadis itu sudah memblokir akunnya lebih dulu. “Argh! Kenapa harus pake ngilang segala, sih!” Mika meninju dinding kamarnya. Ia benar-benar tidak tahu harus mencari gadis itu kemana lagi. Ia sudah kehilangan Jasmine, dan ia tidak mau jika harus kehilangan Syifa juga. Mika berjalan menuju balkon kamarnya. Langit tampak tak bahagia malam ini; tak satu pun bintang menampakkan diri. Bulan pun tertutup setengah oleh awan hitam yang perlahan kian menebal. Mika merasa, alam ikut merayakan kegundahan hatinya malam ini. Ia menatap lekat layar ponselnya yang menampilkan ruang obrolannya dengan Syifa, berharap ceklis satu berwarna abu-abu itu berubah menjadi dua ceklis yang membiru. Mika menghisap vape-nya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Ayo, kembali Anin. Gue bener-bener serius sekarang.” Drrtt... drrtt... Awalnya, Mika mengabaikan getaran yang berasal dari ponselnya. Namun, getaran yang tak kunjung berhenti akhirnya memancing rasa penasarannya untuk mengecek siapa yang meneleponnya malam-malam begini. Mika mengembuskan napas kasar saat melihat nama penelepon itu. Ia berniat mengabaikannya, tetapi takut jika urusannya penting. Mau diangkat, malas. Jadilah serba salah. Getaran itu berhenti, begitu pula nama kontak yang sempat muncul di layar. Namun, beberapa detik kemudian ponselnya kembali bergetar dengan nama yang sama. Mika terdiam sesaat. Ya, ia harus mengangkatnya. Pasti penting, karena menelepon sampai dua kali. “Anying sia, sue nemen!” umpat seseorang yang meneleponnya. Sontak Mika menjauhkan ponsel dari telinganya karena terkejut. “Biasa aja, Anj***! Ngapain lo nelpon gue malem-malem?” sahut Mika tak kalah nyolot. “Sekarang juga lo dateng ke RS Medistra. Buruan, nggak pake lama!” perintah orang dalam telponnya tanpa basa-basi. Mika mengerutkan dahinya. “Ngapain lo nyuruh gue ke sana? Kambing lo lahiran?” kekeh Mika bercanda. Mengingat kambing milik Aidan sedang bunting baru-baru ini. “Udahlah buruan! Ini si Kampret juga lagi OTW kesini,” paksa Aidan dengan logat sundanya. Tapi kadang-kadang cowok itu juga pakai bahasa gaul ala-ala anak muda jaman sekarang juga. Apalagi posisinya yang tinggal di ibukota. Mika mendudukkan dirinya di kursi yang ada di balkonnya, lalu menyilangkan salah satu kakinya ke atas lutut. “Gue nggak akan gerak sebelum lo kasih tau alesannya apa.” Terdengar hembusan napas panjang dari seberang. Sebelum kemudian dua kata yang di ucapkan oleh Aidan mampu membuatnya terkesiap. “Jasmine kecelakaan.” *** Motor sport berwarna hitam itu melaju kencang ditengah keramaian jalanan malam. Sekalipun tengah malam, pasti tetap banyak saja kendaraan yang lewat disana. Berulang kali Mika mendapat klakson dari pengendara lain, tak jarang juga ada bapak-bapak yang meneriakinya karena menyalip kendaraan mereka tiba-tiba. Cowok itu tidak peduli. Tujuannya sekarang hanya satu, yaitu cepat sampai di rumah sakit. Tidak lama, mungkin hanya sekitar 30 menit, dirinya mulai memasuki area rumah sakit. Mika memarkirkan motornya terlebih dahulu, lalu bergegas memasuki lobi yang disana sudah ada Aidan dan Kavi yang menunggunya. “Gimana?” tanya Mika begitu dirinya tiba dihadapan kedua temannya. “Lagi ditanganin dokter,” sahut Aidan. Ia bisa melihat kecemasan pada wajah sahabatnya. Saat itu dia belum tahu kalau Mika sudah memutuskan hubungannya dengan Jasmine. “Gue mau liat.” Mika bangkit dari duduknya, membuat Kavi harus menahan teman keras kepala itu untuk tetap diam dan menunggu. “Di IGD nggak ada yang boleh liat, lo tunggu aja disini sampe tuh dokter keluar dan Jasmine dibawa ke ruang inap.” Kavi memberikan penjelasan. Mika kembali duduk di antara kedua sahabatnya. Kali ini, fokusnya tertuju pada Aidan untuk meminta penjelasan mengenai kejadian tersebut. “Kejadiannya gimana, Dan? Dan kenapa lo bisa tau?” Mika sungguh ingin tahu. Apakah ini murni kecelakaan atau mungkin mantan pacarnya itu mencelakakan dirinya sendiri. Aidan menarik napas berat. Ia juga sebenarnya masih terkejut sampai sekarang karena menyaksikan kecelakaan itu dengan mata kepalanya sendiri. Kavi pun ikut merapat karena cowok itu juga penasaran tentang kejadian ini. “Tadi gue balik dari rumah Kavi mampir dulu di warung pinggir jalan, nyari sate buat adek gue. Terus, nggak lama gue liat Jasmine di ujung jalan mau nyebrang.” “Terus ketabrak?” serobot Kavi mengundang lirikan tajam dari Mika dan Aidan. Cowok itu nyengir kecil sambil kembali mempersilahkan Aidan melanjutkan ceritanya. “Gue nggak tau tuh cewek kenapa, tapi dia nyebrang waktu pemotor lagi rame-ramenya,” Aidan menjeda ucapannya. Ia melihat ke arah Mika yang menunjukkan raut wajah kusut. “Lanjutin nggak, Ka? Kalo lo nggak bisa, nggak bakal gue lanjutin.” Mika menganggukkan kepalanya. Walaupun ia rasa tidak sanggup mendengar kelanjutan dari ceritanya Aidan, tapi Mika rasa harus tau keseluruhan ceritanya bagaimana. “Lanjutin aja. Gue mau tau semuanya,” Aidan mengangguk, lalu ia mulai melanjutkan lagi ceritanya. “Ada satu pemotor, itu orang hampir nabrak Jasmine sebelum akhirnya dia banting setir dan malah ditabrak sama pemotor lainnya. Sementara Jasmine, gue pikir dia bakalan sadar dan cepet-cepet balik arah buat nyelametin diri, ternyata gue salah, dia tetep lanjut jalan dan berakhir keseret motor yang mental karena kecelakaan sebelumnya.” “Tunggu, deh,” sela Kavi. Cowok itu seperti berpikir keras padahal otaknya jarang sekali digunakan untuk berpikir. “Pemotor yang hampir nabrak Jasmine dan berakhir banting setir terus ketabrak sama yang lainnya itu, cewek atau cowok?” “Setau gue cewek. Karena sebelum di bawa ke rumah sakit, gue sempet liat dia pakai dress putih yang udah nggak tau bentukannya gimana karena robek-robek plus banyak darah,” jelas Aidan setahunya. Mika yang diam-diam menyimak merasa tertarik tentang pertanyaan yang di lontarkan Kavi dan dijawab dengan jelas oleh Aidan. “Lo liat mukanya nggak, Dan?” tanya Mika ikut penasaran. Aidan menggeleng kecil. Ia memang tidak sempat lihat-lihat korban yang lainnya, karena Ia hanya mengenal Jasmine dan berniat membawa cewek itu ke rumah sakit terdekat secepatnya. “Nggak, gue ngerasa nggak perlu karena udah banyak orang yang nolongin juga. Gue juga liat ada mobil yang berhenti dan nyamperin tuh cewek,jadinya gue langsung aja bawa Jasmine cepet-cepet kesini,” jawab Aidan. “Eh, Dan, tuh cewek di rumah sakit ini juga, nggak?” lanjut Kavi penasaran. Pasalnya sejak tadi ia tidak melihat ada pasien yang baru datang karena kecelakaan. Hanya Jasmine saja yang ada disana. “Entah,” Aidan mengedikkan bahunya. “Orang gue tadi langsung sat-set bawa Jasmine kesini. Mana sempet gue nanya tuh cewek mau dibawa kemana.” Benar juga yang dikatakan Aidan. Kalaupun Mika berada di posisi itu, sudah pasti ia akan melakukan hal yang sama. “Keluarga pasien atas nama Jasmine Alisha Maharani?” Ketiga cowok yang tadinya serius mengobrol kompak mendongak kala seorang dokter dan asistennya berdiri di depan mereka. “Kami temannya, Dok, keluarganya belum datang. Gimana keadaannya temen saya?” Mika sigap berdiri dan langsung menanyakan keadaan Jasmine. Namun kalimatnya barusan malah mengundang perhatian kedua sahabatnya yang merasa aneh dengannya. “Alhamdulillah, pasien tidak mengalami luka yang cukup serius. Namun masih memerlukan perawatan untuk beberapa hari kedepan,” jelas dokter yang memakai pakaian serba putih itu. “Pasien boleh dijenguk setelah dipindahkan ke ruangan rawat inap VVIP yang sudah kami sediakan,” lanjut dokter itu. Mika dan ke dua temannya mengangguk meng-iyakan. Tak lupa juga mengucapkan terimakasih. Dan setelahnya dokter dan asistennya pergi meninggalkan mereka bertiga. “Punya pacar tapi nggak dianggep, ilang baru tau rasa,” sindir Kavi seraya melirik Mika yang nampak acuh. “Biarin gue tikung ntar, liat aja,” timpal Aidan semakin ngawur. Jangankan mau nikung, melihat tingkahnya di sekolah saja sudah membuat Aidan enek. “Gue udah putus.” ***
Second Choice: Matahari - Kecelakaan - Bab 15
Penulis
Hanamy_Yummy
30 December 2025