Second Choice: Matahari - Kecelakaan 2 - Bab 16

30 December 2025

“Gue udah putus.” “APA?!” pekik Aidan dan Kavi berbarengan. Mika sampai harus minta maaf kepada orang-orang yang ada di sekitar mereka yang merasa terganggu oleh suara melengking kedua temannya. Setelah itu, Mika melotot ke arah mereka. “Gila lo ya?! Ini rumah sakit, bukan kebon!” peringatnya dengan suara tertahan. “Y-ya, sorry. Tapi—” “Shuttt ...” potong Mika yang tidak ingin mendengar berbagai pertanyaan dari mereka. Mika tau sebentar lagi kedua temannya pasti bakal cosplay jadi wartawan. “Udah, ayok buruan tunjukin dimana ruangannya!” Mika mendorong Aidan dan Kavi agar tak banyak omong. Meminta keduanya menunjukkan letak ruangan Jasmine. “Mika, Mika,” panggil Kavi beruntun, tapi tetap berjalan di bawah paksaan Mika. “Paan?” jawab Mika malas. Kavi menggeleng kecil. “Ngga jadi, deh. Ntar aja kalo udah balik, nggak enak gue.” “Yeuh... sok-sokan nggak enakan lo sama gue,” cibir Mika sambil menoyor Kavi dari belakang. “STOP!” Kavi langsung berhenti begitu mendengar aba-aba dari Aidan. Sementara Mika yang tidak siap langsung menabrak bahu Kavi dan Aidan. Untung saja keseimbangannya baik, kalau tidak pasti sudah tersungkur di lantai. “Sialan, lo!” umpat Mika dengan wajah memerah. Sementara Aidan hanya cekikikan tanpa merasa bersalah. “Ini ruangannya Jasmine,” Aidan menunjuk ke salah satu pintu ruangan VIP bercat putih yang didalamnya sudah ada Jasmine. Tanpa banyak tanya, Mika bergegas masuk ke dalam dan mendapati Jasmine yang masih menutup matanya. Mungkin tertidur, pikir Mika. Cowok itu mendekati brankar dan duduk di sampingnya. Sementara itu, Kavi dan Aidan memilih duduk di sofa dan menyalakan televisi di pojok ruangan. “Jasmine, bangun. Ini gue, Mika.” Mika itu mengelus rambut Jasmine lembut, tidak ingin gadis itu terbangun dari tidurnya. Tapi ternyata, Jasmine tidak benar-benar tertidur karena memang tidak bisa. Ia juga penasaran siapa yang membawanya kemari, karena waktu itu ia setengah sadar. Jasmine mengerjap, perlahan menyelaraskan pandangannya dengan cahaya lampu di ruangan serba putih itu. “Uh, Halo...” bisiknya lemah. Mika langsung menegakkan tubuhnya dan menatap khawatir gadis yang sedang terbaring di hadapannya. “Jasmine... ini aku, mana yang sakit?” tidak munafik, Ia memang sedikit tidak nyaman sekarang karena memang status mereka sekarang. Gadis itu menggeleng kecil. Mulutnya tersenyum dengan wajah yang sendu. “Nggak ada. Makasih.” “Makasih udah datang.” Gadis itu memperjelas ucapannya. Jasmine melihat tidak hanya ada Mika di ruangan ini. Tetapi ada juga dua orang lain yang ia kenal sebagai sahabat mantannya itu. “Kak Kavi, boleh pinjem handphone, nggak? Aku mau nelpon ayah,” pinta Jasmine saat melihat Kavi diujung rungan. “Eh?” Kavi mendekat ke brankar dengan wajah bingung. Begitu pula dengan Mika dan Aidan. Bagaimana tidak, posisinya Mika lebih bahkan sangat dekat dengannya. Tapi Jasmine malah minta tolong pada Kavi yang bahkan sejak tadi tidak menyapanya. “Kenapa nggak pake handphone Mika aja?” tanya Kavi penasaran. Mika mendelik memberi kode agar tidak usah bicara macam-macam. Tapi sepertinya rasa kepo Kavi sudah mencapai tahap tidak masuk akal sejak Mika memberi tahu bahwa hubungan mereka sudah kandas. “Oh, nggak boleh, ya. Kalo Kak Aidan, boleh nggak?” Terlihat jelas jika gadis itu menghindari pembahasan yang merujuk kepada hubungannya dengan Mika. Mendengar namanya disebut, Aidan bergerak mendekat dengan dada yang dibusungkan. “Boleh, dong! Apasih yang enggak buat cewek gemes kek lo,” ujar Aidan seraya melirik Mika dengan tatapan jahil. Jasmine tersenyum melihatnya, senyum yang dipaksakan. Sementara Mika membuang wajahnya malas, dan hanya bisa mengumpat dalam hati. “Makasih, Kak.” Jasmine menerima handphone pinjaman dari Aidan dan mulai menekan nomor tujuan. Gadis itu menempelkan benda pipih itu di telinganya begitu panggilan tersambung. “Halo, Ayah? Jasmine ada di rumah sakit, ayah boleh kesini sebentar, nggak?” ucapnya saat telepon tersambung. Terdengar hembusan napas panjang dari seberang. Dan jawaban ayahnya membuat ekspresi Jasmine berubah drastis. ”Saya lagi sibuk. Lagian ngapain sih, malam-malam di rumah sakit?! Kurang kerjaan aja!” jawab ayah Jasmine di ujung sana. Gadis itu berusaha tersenyum meskipun itu sangat sulit sekali ia lakukan sekarang. “Ya udah, Yah, maaf ganggu. Jasmine matiin telponnya.” Panggilan langsung diputus sepihak. Lagi-lagi ia mendapat penolakan dari ayahnya sendiri, bahkan di situasi seperti sekarang. “Ini, Kak. Makasih,” ucap Jasmine seraya menyerahkan ponselnya kepada pemiliknya. Aidan menerima benda itu dari tangan Jasmine. “Gimana bokap lo? Mau dateng jam berapa?” “Bokap gue lagi sibuk, malem ini gue sendiri nggak apa-apa, kalian boleh pulang.” Jasmine menggeleng kecil, lalu tersenyum setelahnya. Hal itu tidak luput dari perhatian Mika sejak tadi. “’Kan lo punya abang, kenapa nggak nelpon dia juga?” Kavi ikut nimbrung. Ia ingat gadis ini pernah membicarakan tentang saudara laki-lakinya itu. Baru saja selesai bertanya, tulang keringnya serasa mau patah karena di tendang Mika. Entah apa salahnya, padahal ‘kan ia cuma bertanya. “Kaki gue mau patah, sialan!” “Jangan dengerin dia, ya.” Mika mengalihkan perhatiannya pada Jasmine. “Biar gue yang nemenin Jasmine malam ini. Kalian berdua balik aja.” Sontak Kavi dan Aidan menatapnya dengan pandangan aneh. “Beneran? Katanya udah putus,” ledek Kavi disambut cekikan geli dari Aidan. Mika berdiri dari duduknya, ingin menampol kedua temannya yang mengejek dirinya. Namun, niatnya terhenti kala ponselnya bergetar panjang di dalam saku. Ternyata ada panggilan dari nomor asing. “Halo?” Mika mengangkat telpon itu dengan ragu. Sesekali Ia melempar lirikan pada Kavi dan Aidan yang nampak penasaran sekali dengan isi percakapannya dengan nomor asing ini. “Halo, ini Mika, kan?” balas seseorang dari seberang sana. Mika mengerutkan dahinya merasa tidak asing dengan suara penelpon itu, hanya saja sedikit lebih cempreng dari yang dia tahu. ”Maaf ya, gue terpaksa ambil nomor lo. Gue rasa lo perlu tau ini,” lanjutnya. “Sorry, ini siapa, ya? Dan, lo ambil nomor gue dari mana? Kenapa terpaksa?” tanya Mika beruntun. Feeling-nya merasa buruk atas panggilan malam-malam buta seperti ini. “Gue Zoya, lo pasti nggak lupa. Dan gue ambil nomor lo dari Syifa atau yang biasa lo panggil Anin,” jawabnya lagi. Mendengar satu nama yang beberapa hari kebelakang ini selalu memenuhi kepalanya disebut, Mika langsung mengambil posisi sedikit menjauh dari Jasmine. Lebih dekat dengan jendela besar yang menampilkan kelap-kelip cahaya kendaraan di jalan raya. “Zoya?! L-lo lagi sama Anin? Dia dimana sekarang?” Terdapat jeda beberapa detik di antara panggilan yang masih tersambung itu. Mika sampai memastikan berulang kali kalau panggilannya masih tersambung atau sudah diputus. “Halo? Lo denger gue, kan?” “Syifa kecelakaan, sekarang dia ada di rumah sakit Bagaskara's Group.” Mika memandangi ponselnya sejenak setelah telpon terputus. Lalu beralih menatap Aidan dan Kavi. “Kalian jangan pulang, ya. Temenin Jasmine. Gue ada urusan mendadak.” “Lah, gabisa gitu dong, Ka! Emak gue udah nungguin sate yang gue beli, noh!” Aidan menunjuk satu kresek berisi sate yang ia beli dipinggir jalan tadi. Cowok itu tidak peduli. Ia meraih jaket yang tersampir di sofa, lalu mengenakannya dengan gerakan cepat. “Gue nggak mau tau, lo berdua harus tetep disini,” ujar Mika yang langsung melenggang keluar dari ruang rawat. “Woy, Nyet!” seru Kavi dari arah belakang yang ikut keluar menyusul Mika. Mika menghentikan langkahnya. Ia memutar badan melihat Kavi yang hendak mengatakan sesuatu padanya. “Sebenernya gue nggak enak ngomong disini, tapi gue terpaksa. Itu tadi Aidan ngutang dulu ke gue buat bayar biaya rumah sakit, ntar lo ganti, ya? Kasian Aidan, ‘kan lo tau ekonomi keluarganya,” ujar Kavi, memamerkan giginya lebar-lebar supaya Mika tidak marah. Ia tahu betul bagaimana sahabatnya satu itu ketika marah. Mika memutar bola matanya malas. Ia Kira akan berkata apa sahabatnya satu itu. “Gampang, yang penting lo berdua disini dulu.” “Oke, siap!” ***