Beberapa jam sebelum kecelakaan.... Setelah tiga hari menenangkan diri dari hiruk-pikuk kehidupan, Syifa berniat pulang malam ini. Waktu terus berjalan, dan kehidupan tak bisa dijeda. Bagaimanapun beratnya, ia harus tetap melangkah maju dan menjalani semuanya dengan badan tegap. Setelah beberapa menit melewati gang-gang sempit, Syifa mulai memasuki jalanan kota yang ramai. Meski waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, jalanan seolah tak pernah sepi dari pengendara roda dua maupun roda empat. Syifa membaur di antara ratusan pengendara lainnya. “Kira-kira Mika nyariin gue nggak, ya?” tanyanya dalam hati. “Kalo dia beneran serius, sih, harusnya nyariin ‘kan, ya?” Pikirannya benar-benar tidak fokus karena terus memikirkan orang itu. Niatnya menghilang sejenak bukan semata-mata untuk mencari perhatian agar dicari oleh orang-orang terdekatnya. Namun tetap saja, jika mereka benar-benar peduli, seharusnya mereka berusaha mencari tahu keberadaannya, bukan? Saat tiba di sebuah penyeberangan jalan, Syifa tidak menyadari rambu yang mengharuskan pengendara berhenti dan memberi jalan bagi pejalan kaki. Ia pun melaju santai tanpa curiga. Namun tiba-tiba, seorang gadis nekat menyeberang di tengah kondisi lalu lintas yang masih ramai. Syifa terkejut. Kecepatannya cukup tinggi, begitu pula dengan beberapa pengendara lain. Ia berusaha menghindar agar tidak menabrak gadis itu dengan membanting setir. Sayangnya, dari arah berlawanan, sebuah kendaraan melaju cepat dan menyambar tubuhnya dalam sekejap. Syifa memejamkan mata ketika tubuhnya terpental cukup jauh akibat benturan dengan motor yang menabraknya. Rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya sebelum detik berikutnya pandangannya menggelap total. Setelah itu, ia tak lagi mengetahui apa pun yang terjadi di sekitarnya. Situasi jalanan berubah kacau. Banyak orang menghentikan perjalanan demi menolong korban, dibantu petugas polisi yang tengah berpatroli. Dari kejauhan, sebuah mobil hitam mendekat lalu ikut menghentikan lajunya. Di dalamnya ada Zoya dan Brian. “Kayaknya ada kecelakaan deh, Sayang. Aku coba turun dulu ya.” Brian turun dari mobilnya untuk melihat situasi. Siapa tahu ada yang butuh bantuannya. “Oke.” Zoya tetap berada dalam mobil karena dia tidak bisa melihat darah. Bisa-bisa malah muntah karenanya, ‘kan malah merepotkan jadinya. Brian mendekat ke arah kerumunan untuk melihat. Padatnya kerumunan membuatnya harus berdesak-desakan agar bisa mencapai baris paling depan untuk melihat jelas sang korban. Brian mengernyit, seperti mengenali gadis yang tergeletak di trotoar itu. Ia mendekat dan menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya. “Astaga, Syifa!” Tanpa menunggu lama, ia langsung menggendong gadis itu untuk dibawanya ke rumah sakit. Ia geram sekali kepada orang-orang yang sejak tadi berkerumun tapi tidak bertindak cepat. Sebenarnya apa yang mereka tunggu sementara korban sudah pingsan? “Permisi, Pak, ini teman saya, biar saya bawa ke rumah sakit,” pamitnya. Buru-buru ia berjalan kembali ke mobil. “Sayang! Buka pintu belakang cepat!” seru Brian kepada Zoya yang masih ada didalam mobilnya. Zoya belum tau kalau itu sahabatnya, makannya ia bingung ketika Brian kembali dengan menggendong seorang gadis. Cewek itu langsung keluar untuk melakukan perintah pacarnya. “Siapa in— ASTAGA, SYIFA!” Mengetahui yang dibawa pacarnya adalah Syifa, Zoya panik bukan main. Ia langsung membuka pintu belakang dan ikut masuk untuk menjaganya. Sementara Brian kembali ke kursi pengemudi. “Ke rumah sakit keluarga aku ya, Sayang,” ujar Brian buru-buru. “Iya, Kak! Buruan!” pinta Zoya dengan suara bergetar. Gadis itu menangis melihat banyaknya luka di tubuh sahabatnya. Bahkan ia sudah melupakan tentang tidak bisanya ia melihat darah. Semua seolah lenyap begitu melihat Syifa memejamkan matanya tak berdaya. *** Syifa membuka matanya perlahan. Ruangan bercat putih menyambut penglihatannya. Ia tidak tahu ini dimana, yang ia ingat tadi dirinya kecelakaan, lalu semuanya gelap. Menoleh ke samping, ternyata ada Zoya yang tertidur sambil duduk dan menggenggam sebelah tangannya. Syifa tersenyum, berusaha melepaskan tangannya pelan-pelan namun Zoya justru terbangun. “Syifa? Lo udah bangun?” tanyanya dengan mata penuh khawatir. Jelas sekali matanya mengantuk, tapi ia masih terbangun karena sahabatnya itu sadar. “Lo butuh sesuatu?” Syifa mengangguk. “Gue haus, Joy. Tolong ambilin minum, dong.” Zoya segera berdiri, mengambil segelas air dari dispenser di dekat bed cover mini di pojok ruangan, lalu kembali. “Ini, pelan-pelan.” Dibantu Zoya, Syifa berusaha duduk. Setelah minum, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang cukup luas. “Kita dimana, Joy?” Zoya tersenyum. Dia ikut duduk di brankar berhadapan dengan Syifa. “Kita ada di rumah sakit.” Syifa mengerutkan dahinya, tapi itu justru membuat luka yang ada disana berdenyut nyeri. Zoya terkekeh kecil melihatnya. Mungkinkah Syifa tidak sadar kalau luka di tubuhnya cukup banyak. “Ini ruangan khusus, karena lo di rawat di rumah sakit keluarga pacar gue,” jelas Zoya seolah menjawab pertanyaan yang hendak ditanyakan Syifa. “Nggak mungkin ‘kan, gue biarin lo berada di ruangan yang satu kamar isinya empat orang?” lanjut gadis itu kembali tertawa, berusaha menghibur sahabatnya. “Tapi… pasti mahal banget, ya? Gue orang miskin, Joy. Ntar kalo nggak bisa bayar, disuruh ngepel setahun gimana coba?” wajah Syifa mendadak cemas. Baginya, ruangan itu lebih mirip kamar hotel daripada ruang rawat inap. Ada sofa, bed cover mini, bahkan televisi layar besar di sudut ruangan. Ia tidak berani membayangkan biayanya. “Lo nggak usah mikirin biaya,” ujar Zoya lembut. “Semua udah diberesin sama Brian.” Zoya tentu tau bagaimana keluarga Syifa. Karena mereka berada di satu kalangan yang sama. “Utang dong, gue?! Gue mau balik sekarang aja deh, Joy. Kali aja bayarannya nggak terlalu gede, jadi gue bisa nyicil,” balas gadis itu semakin ngawur. “Ngadi-ngadi lo, monyet! Ngilang tiga hari bikin otak lo tambah geser aja, gemes gue pengen cubit ginjal lo!” sungut Zoya merasa kesal dan lucu di satu waktu. Ya, sebenarnya dia juga maklum dengan apa yang sahabatnya pikirkan, kalau saja sekarang bukan di rumah sakit pacarnya, mungkin dirinya juga akan sama pusingnya dengan Syifa. “Udah, lo tuh tinggal rebahan sambil pemulihan apa susahnya, sih? Kalo nggak nurut gue lempar lo keluar jendela,” ancam Zoya gemas. Syifa menatap horor ke arah sahabatnya itu. Tidak ada yang tahu ‘kan, siapa tahu kalau sebenarnya Zoya itu kesal karena diconteki terus olehnya? Baru saja hendak lanjut mendebat, pintu berdecit menandakan ada seseorang yang masuk. Seorang suster mempersilahkan orang yang sangat Syifa kenal masuk ke dalam ruang rawat. Mika menatap penuh rindu padanya. Sementara Syifa balik menatap Zoya meminta penjelasan. “Gue yang nelpon Mika, Fa. Kasian udah mau gila nyariin lo,” kata Zoya sambil mengacungkan dua jarinya. *** Waktu terus berputar tanpa henti. Suasana malam yang dingin kian sunyi. Di ruangan itu, masih ada dua anak manusia yang belum memejamkan mata. Jam dinding menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Zoya pun pamit untuk tidur lebih dulu di bed cover mini yang sengaja disediakan. “Aku kangen banget sama kamu, Nin. Jangan ngilang lagi,” suara Mika memecahkan keheningan malam itu. Suara cowok itu bergetar, hampir menangis. “Aku panik banget begitu denger kabar kamu kayak gini. Cepet sembuh ya, Sayang.” Syifa memejamkan matanya saat Mika merebahkan kepalanya di brankar tempatnya tidur. Tangannya memeluk perut rata cewek itu sembari mengusap-usap lengannya. Syifa merasa geli sekaligus... nyaman. “Aku udah putus sama Jasmine, Nin,” lanjut cowok itu masih dengan posisi yang sama. Kali ini sambil memejamkan mata. Tapi Syifa yang terkejut justru membuka matanya. “Aku mau serius sama kamu.” ***
Second Choice: Matahari - Jadian - Bab 17
Penulis
Hanamy_Yummy
30 December 2025