“Aku mau serius sama kamu,” ucap Mika tanpa keraguan. “Kenapa?” tanya Syifa. Mika mengangkat wajahnya, tangan kekarnya merangkum wajah Syifa. “Karena aku mau kamu. Aku suka kamu, aku mau bareng kamu, mau sama kamu lagi, mau bareng kamu lagi sampai selama-lamanya.” Syifa berusaha menahan ekspresinya agar tetap datar. Namun, sifatnya yang mudah gugup membuat reaksinya tetap terbaca oleh Mika. “Salting, ya? Cie pipinya merah-merah tomat.” Mika menoel pipi kiri Syifa diiringi kekehan ringan. “Iih, apaan sih! Enggak!” Syifa berusaha menjauhkan tangan Mika dari wajahnya tapi tidak berhasil, tangannya masih sulit digerakkan. “Shutt! Jangan keras-keras ngomongnya,” ujar Mika di sela-sela kekehannya. “Ntar dikiranya aku ngap-ngapain kamu lagi.” “Biarin, biar di usir satpam! Hus hus!” balas Syifa sewot. Namun sedetik kemudian gadis itu ikut tertawa bersama Mika. “Tante Sya udah tau, Nin?” tanya Mika setelah tawa keduanya mereda. Gadis itu menggeleng kecil. “Ntah, si Joy. Kayaknya dia cuma nyolong nomor kamu doang,” balas gadis itu. “Besok aja ngomongnya, udah malem juga. Kasian takut kaget, padahal gue nya nggak kenapa-kenapa.” “Nggak kenapa-kenapa gimana?” Mika melotot ke arah Syifa. “Orang badan sampe muka lecet-lecet begini kok dibilang nggak papa, aneh,” sungut Mika kesal. “Dih, kok malah situ yang marah?” Kini giliran Syifa yang meledeknya. Baginya, luka-luka ini tidak terlalu serius hingga harus dirawat di rumah sakit. Biasanya, kalau nyungsep dari motor, cukup ditetesi betadine saja. “Bodo amat, aku ngambek!” Syifa kembali tertawa karena tingkah Mika yang menurutnya seperti anak kecil. Lucu sekali. Tapi Syifa tidak akan berterus terang juga mengatakan pria itu lucu sekarang. Bisa-bisa plafon rumah sakit ini jebol sampai genteng karena pria itu salting sampai terbang. “Ututu... anak kecil ngambek, sini-sini peluk,” Syifa membuka tangannya lebar. Mempersilahkan Mika masuk kedalamnya. Agak geli sebenarnya berbicara dengan nada lebay seperti itu. Tapi, tidak apalah. Sekali-kali. Tentu saja Mika tidak akan menyiakan kesempatan langka ini. Tidak tanggung-tanggung, pria itu malah ikut merebahkan tubuhnya di samping Syifa. Lalu memeluknya dengan erat. “Emm... Mika.” Syifa merasakan jantungnya berdegup kencang, seolah sedang berdisko. Padahal, maksudnya bukan seperti itu. Huh, sepertinya ia salah bicara. “M-maksud gue bukan kayak gin—” “Nyaman,” potong cowok itu sebelum Syifa menyelesaikan kalimatnya. “Kalo lukanya kenaan, bilang ya. Jangan diem aja.” “Emang kenapa?” tanya Syifa. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, bahkan untuk bernapas saja kali ini ia sangat berhati-hati. “Aku mau tidur disini. Good night, sayang,” Mika mengangkat wajahnya, memandangi Syifa yang tampak tidak nyaman. Namun, ia tak peduli. Salah siapa tadi menawarkan hal seperti itu? Jadi, menurutnya, ia sama sekali tidak bersalah. “Kamu sekarang jadi pacar aku, ya?” “H-hah?” Syifa mempertanyakan apa yang Mika baru saja katakan. Mika terkekeh geli. Ekspresi lugu Syifa tampak begitu menggemaskan di matanya. Ia kembali merebahkan kepalanya, mencari kenyamanan di ceruk leher gadis itu. “Aku nggak butuh persetujuan dari kamu, Nin. Karena tanpa kamu jawab pun aku udah tau kalo sebenernya kamu juga cinta sama aku. Kamu mau kan?” Mika merasakan Syifa mengangguk dalam diamnya. Seketika, rasa bahagia yang begitu besar memenuhi dadanya. “Makasih, Anin. Makasih banyak. Ayo kita mulai lagi semuanya. Semoga kita selalu bahagia, selalu.” “ALLAHU AKBAR!” Zoya memekik keras mendapati Mika tidur di brankar memeluk sahabatnya. Mungkin Zoya akan biasa saja jika keduanya tidur dengan normal. Tapi ini tidak, satu kaki Mika menindih perut Syifa. Sementara tangan Syifa yang tidak diinfus menindih wajah Mika. Untung saja ruangan elit itu kedap suara, jadi teriakan Zoya tadi tidak sampai menganggu pasien di kamar lain. “Woy, Monyet, bangun, lo! Bisa-bisanya ngide tidur berduaan begini,” gerutu Zoya seraya menurunkan kaki Mika dari perut sahabatnya. “Ini, juga! Bisa-bisa lo nggak sesek napas ditindih setan begini!” Mika mengerjap. Menyadari dirinya masih berada di atas brankar, ia buru-buru turun takut ada yang melihat. Tapi ternyata Zoya sudah berkacak pinggang memelototinya. “Astaga! Lo kayak setan tau nggak melotot gitu! Mana masih gelap lagi.” Cowok itu menguap lebar sambil mengucek matanya. Dengan mata tertutup dan nyawa yang belum terkumpul, cowok itu berjalan menuju sofa untuk melanjutkan tidurnya, karena kebetulan hari ini adalah hari Minggu. Jadi dia free tidak ada kegiatan apapun. “Gelap nenek lo ngesot! Melek makanya!” bentak Zoya sembari berjalan ke tepi jendela menyibak gorden. Matahari belum keluar benar, tapi waktu menunjukan sudah pagi. Zoya menghampiri Syifa yang masih tertidur. Ia melihat infus yang di pasang sudah mau habis. Dengan segera ia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang. “Halo, Sayang?” sapanya begitu panggilan tersambung. “Kamu baru bangun, ya?” Terdengar lenguhan panjang dari telpon. Sepertinya Brian baru saja membuka matanya. ”Iya, nih. Kenapa, Yang?” Zoya tersenyum meskipun Brian tak melihatnya. Mendengar suaranya yang serak-serak basah saat bangun tidur saja sudah cukup membuat gadis itu meleleh. “Tolong ke sini, ya? Infusnya Syifa udah mau habis, nih.” Brian memang kerap tidur di asrama rumah sakit karena sedang menjalani program internship kedokterannya. “Oh, oke, Yang! Aku cuci muka dulu abis itu kesana.” Setelah panggilan tertutup, ia beralih mendekati sahabatnya yang ternyata sudah bangun karena mendengar suara Zoya yang tengah bercakap dengan pacarnya dalam telpon. “Pagi, Joy,” sapanya setelah Zoya duduk di kursi sebelah brankar. “Ngapain lo senyum-senyum gitu?” Syifa menatap ngeri pada sahabatnya yang tidak berhenti senyum sejak menutup panggilannya. Ia khawatir jangan-jangan Zoya kumat gilanya. “Enak ya, Fa?” Zoya menaik turunkan alisnya bermaksud menggoda. “Hah?” Syifa bertanya-tanya apa yang Zoya maksud. Zoya masih sabar. Ia mencoba mengulang kembali dengan bahasa yang lebih jelas. “Enak, ya, tidur pelukan. Gue pengen, deh!” ulang Zoya, kali ini dengan nada mengejek yang sangat kentara. Syifa mendelik. Bisa-bisanya semalam a tidak terpikirkan bahwa di ruangan ini ada orang lain selain mereka berdua. Kalau sudah ketahuan begini sepertinya tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menahan malu. “A-apaan sih, lo!” “Yeuuhh... pipinya merah gitu! Besok kasih tau dong kalo mau pelukan, biar gue bisa nonton, hehe.” Zoya semakin gencar meledeknya. “Brisik lo! Ngomong aja lo iri ‘kan, ga dipeluk pacar lo?” Mika ikut menyahut karena mendengar obrolan mereka. Zoya memutar bola matanya dengan malas. Ia paling tidak suka jika Mika ikut menyela percakapan. Meski baru beberapa kali bertemu, sikap menyebalkan itu sudah tampak nyata. “Gue nggak ngomong sama monyet,” balas Zoya enteng. Perang mulut belum sempat dimulai, Brian dan seorang suster yang membawa perlengkapan untuk mengecek kondisi Syifa sudah mendorong pintu dan masuk kedalam ruangan. “Pagi, kita cek kondisi Syifa dulu ya,” sapa Brian seraya berjalan masuk, sementara suster dibelakang menutup pintu untuknya. Zoya memberi ruang untuk dokter magang itu yang tak lain adalah pacarnya sendiri untuk mengecek kondisi sahabatnya. Dalam mode serius seperti ini, ketampanan Brian seperti bertambah berkali-kali lipat saja di mata Zoya. “Ganteng banget sih, calon suami gue.” ***
Second Choice: Matahari - Seperti Ini Selamanya - Bab 18
Penulis
Hanamy_Yummy
30 December 2025