Jasmine tersadar akan sesuatu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok yang tadi datang bersamanya. Terlalu larut dalam kegiatannya sendiri membuatnya tak lagi memperhatikan sekitar. Gadis itu membawa beberapa novel untuk dihitung di meja kasir. Sambil menunggu, matanya sesekali bergerilya mengamati setiap sudut ruangan, meski tak semuanya dapat terlihat jelas karena padatnya jajaran rak buku yang menjulang tinggi. “Totalnya tujuh ratus sepuluh ribu, Kak.” Jasmine mengangsurkan delapan lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya, lalu menerima kembaliannya. Ia kemudian mengambil paper bag berisi novel-novel yang akan menjadi koleksi bacanya di rumah. Namun, gadis itu tidak langsung pergi setelah transaksi selesai. Ia memutuskan menuju kamar mandi yang tersedia untuk mencoba menghubungi Mika, yang tiba-tiba saja menghilang tanpa berpamitan dengannya. Namun, langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok yang tak asing keluar dari kamar mandi yang hendak ia singgahi. Mengurungkan niatnya, Jasmine pun mengikuti orang itu, yang ternyata melangkah menuju kafe di lantai dua. “Ngapain tu orang disini?” monolognya sambil tetap diam-diam mengikuti Syifa dari jarak jauh. Sampai di ujung tangga, Jasmine berhenti. Disana ia melihat orang yang diikutinya melangkah lurus menaiki tangga. “Eh, kenapa gue jadi kepo sama dia? Lagian gue lagi sendiri, nggak boleh cari masalah,” batin Jasmine. Ia sempat berniat berbalik arah dan memutuskan menunggu di mobil saja. Namun, niat itu ia urungkan begitu mendengar suara langkah kaki yang hendak menuruni tangga. Dengan tergesa, ia menepi dan mencari tempat bersembunyi apa pun yang bisa menutupi dirinya. Kebetulan, di bawah tangga terdapat beberapa tumpukan kardus berukuran besar. “Kamu pulang sama aku, ya? Aku yang anter.” Jasmine menajamkan telinganya. Suara itu terdengar tidak asing ditelinga. Karena penasaran, ia pun mengintip untuk melihat siapa yang berbicara barusan. Gadis itu membekap mulutnya sendiri karena terkejut. Matanya melebar karena tidak menyangka melihat laki-laki yang sedari tadi dicarinya ternyata sedang bersama gadis lain yang ia kenal sebagai mantannya. Ia tak sanggup lagi menahannya. Tangannya terasa gatal, seolah ingin mencakar wajah perempuan tak tahu malu itu. Bagaimana bisa wanita itu dengan santainya bertemu lelaki yang jelas-jelas sudah punya pacar? Lebih parah lagi, pacar lelaki itu datang bersama dirinya tadi. Lalu mengapa justru ia yang harus menelan amarah ini sendirian? “Ow, ow, so sweet-nya para peselingkuh ini,” ujar Jasmine sambil keluar dari persembunyiannya dengan senyum sinis. “Jadi pacarku ngilang cuma karena ketemuan sama….” Jasmine menjeda ucapannya. Ia beralih menatap Syifa yang saat ini juga ada disana. ”... pelakor?” “Jaga mulut lo!” sentak Zoya dengan emosi. Ia sendiri sebenarnya belum sepenuhnya memahami situasi yang terjadi. Namun setidaknya, ia masih mampu memberikan perlawanan agar gadis sok cantik itu berhati-hati dalam berbicara. “Ups, gue salah, ya? Im so sorry,” tambah Jasmine dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat. Syifa menatap Mika penuh intimidasi, meminta penjelasan tanpa perlu mengucapkan apa pun. “Begini,” Mika membuka suara. Membuat ketiga gadis disana menatap dirinya. “Jasmine, sorry banget. Aku nggak selingkuh, oke?” Syifa kebingungan, Zoya mendengus malas, sementara Jasmine berusaha menanyakan apa yang sebenarnya Mika lakukan bersama dua gadis lainnya, bahkan sampai rela meninggalkannya sendirian di lantai bawah. “Kamu ketemuan sama dia, dan ninggalin aku di sana sendirian, Kak? Hebat banget, ya?” Jasmine bertepuk tangan kecil, lalu tertawa, tawa yang sengaja ia ciptakan untuk menutupi luka yang kian menganga. “Enggak gitu, Jasmine. Aku cuma nggak sengaja ketemu mereka, jadi nggak ada salahnya ‘kan kalo aku ngobrol sebentar sama mereka berdua?” jelas Mika beralasan. “Cih, nggak sengaja ketemu karena lo bohongin temen gue. Pinter dikit kek kalo ngeles,” itu bukan suara Jasmine, melainkan Zoya yang sudah gemas dan ingin meninju mulut tidak berguna milik Mika. “Diem lo!” “Jadi lo dateng kesini sama dia?” sela Syifa yang dari tadi diam, mencerna keadaan. Gadis itu merubah panggilannya yang langsung mendapat tatapan tanda tanya dari Mika. “Nin?” Syifa beralih menatap Jasmine karena Mika tidak menjawab pertanyaannya. “Lo kesini sama Mika?” “Iya, mau apa lo?” balas Jasmine sambil itu mengibaskan rambutnya. “Rambut bau nggak usah digituin!” Zoya menutup hidungnya. “Ck, lo siapa sih?! Nggak usah ikut campur!” sahut Jasmine sinis. Syifa menyentuh lengan Zoya, mengisyaratkan agar sahabatnya itu diam saja untuk saat ini. Ini adalah masalahnya, biarlah dirinya saja yang terlibat. “Mika? Tolong, jelasin,” pinta Syifa dengan nada yang tenang, tetapi penuh dengan penekanan. Mika menarik napasnya dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sepertinya malam ini akan menjadi malam paling kacau dalam sejarah percintaannya. “Nanti ya, Nin? Nanti aku jelasin semuanya. Kamu tolong tunggu aku dulu sebentar disini, aku nganter Jasmine sebentar.” Tanpa menunggu persetujuan Jasmine ataupun yang lain, Mika menarik tangan pacarnya hingga ke parkiran. Ia memaksa Jasmine masuk ke dalam mobil, lalu menyusul masuk setelahnya. “Kak, kamu apa-apaan, sih?! Kamu ada hubungan apa sama dia?” protes Jasmine tidak terima. Ia merasa diselingkuhi disini. Melupakan pergelangan tangannya yang perih karena cengkeraman Mika yang lumayan kencang. Mika tidak menjawab. Cowok itu buru-buru menyalakan mesin mobilnya, kemudian menginjak pedal gas, membawa pergi dirinya dan Jasmine dari tempat itu. “Kak! Kamu denger nggah, sih?!” bentak Jasmine yang sudah terlanjur emosi. Suaranya naik beberapa oktaf membuat Mika meliriknya sebentar, tapi tetap tidak mempedulikannya. Jasmine mendengus kesal karena dirinya diabaikan begitu saja oleh Mika. Sebenarnya bisa saja ia membuat masalah dengan mantan Mika di toko buku tadi, tapi melihat tidak adanya orang yang mendukungnya, jadi ia urungkan niat itu. Keduanya tetap diam hingga mobil berhenti di depan sebuah gerbang besar yang sama sekali tidak memberi celah bagi siapa pun untuk mengintip ke dalam. “Buka,” pinta Jasmine tanpa berniat menatap Mika sedikitpun. Pintu mobil masih terkunci, sehingga ia tidak bisa langsung keluar begitu saja. Mika meraih sebelah tangan Jasmine untuk digenggamnya. Ia melihat adanya pemberontakan dari gadis itu, tapi dia menahannya. Ia ingin menikmati momen ini, untuk terakhir kalinya. “Jasmine, aku minta maaf.” Jasmine terdiam. Ia rasa Mika ingin berbicara serius kali ini, bukan hanya basa-basi seperti biasanya. “Buat apa?” Mika mencium singkat tangan Jasmine yang masih dalam genggamannya. “Kamu baik-baik ya, setelah ini?” ucapnya lembut. “Aku selalu baik-baik aja,” sahut Jasmine cuek. Bukannya selama ini juga Mika jarang memberinya perhatian lebih? Walaupun pernah, tapi hanya sesekali saja, jadi tidak seharusnya Mika mencemaskan keadaannya. “Kita sampe sini aja,” putus Mika singkat. Kalimat terakhir Mika membuat Jasmine tercekat. Ia bahkan sampai susah menelan salivanya saking terkejutnya dia. “M-maksud kamu?” Jasmine tergagap. Mika membuang wajahnya ke arah jendela. Ia tak sanggup melihat wajah kecewa dari gadis itu. Selama ini Jasmine selalu baik padanya. Bahkan bisa dikatakan, dalam hubungan mereka yang singkat ini, Jasmine yang lebih berusaha ketimbang dia. Namun, karena ketidak seriusannya memperjuangkan hubungannya bersama Jasmine, ditambah lagi dengan keterbukaan mantan kekasihnya terhadap dirinya, membuat Mika dengan cepat berpindah haluan walau dirinya masih menyimpan sedikit rasa pada Jasmine. “Maaf, Jasmine. Aku mau kita putus,” ulang cowok itu dengan kalimat yang lebih menyakitkan untuk di dengar. Air mata gadis itu meluncur turun ke pipinya. Setelah semua yang ia lakukan untuk membahagiakannya, inikah yang pantas didapatkannya? “Karena cewek itu?” tebak Jasmine sambil mengusap kasar air matanya. “Apa yang aku nggak punya sampe kamu milih balik ke dia, Kak? Aku kurang apa?” Dia tidak terisak. Tapi kata-katanya cukup menjelaskan kalau gadis itu sangat tersakiti karena ulah Mika. “Nggak ada, Jasmine. Sekali lagi aku minta maaf. Maaf karena malam ini menjadi malam terakhir kita menjalin hubungan.” Mika membuka kunci pintu mobilnya. “Sekarang kamu boleh keluar. Istirahat yang cukup, jangan mikirin apapun.” Jasmine menatap Mika dengan tak percaya. Bisa-bisanya cowok itu dengan enteng menyuruhnya untuk tidak memikirkan apa pun, setelah semua yang terjadi, setelah semua yang telah ia lakukan. “Terimakasih waktunya, Kak. Makasih juga buat lukanya. Kamu berhasil bikin luka aku makin parah.” Setelah mengatakan itu, Jasmine langsung keluar dari dalam mobil. Tanpa sedikitpun melihat kebelakang. Mika terus memperhatikan sampai gadis itu menghilang di balik gerbang. Ada sedikit rasa sesal dihatinya, tetapi perasaannya pada Jasmine memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perasaannya pada Syifa. “Maafin gue, Jasmine.” ***
Second Choice: Matahari - Sampai Disini - Bab 14
Penulis
Hanamy_Yummy
30 December 2025