Drama

Second Choice: Matahari - Kedatangan Yang Tak Diinginkan - Bab 19

30 December 2025

Syakirah sedang menyirami bunga-bunga di halaman depan rumahnya. Biasanya tugas ini dilakukan oleh putrinya, tapi karena Syifa sedang izin jalan-jalan selama tiga hari, jadilah dia yang melakukannya sendiri hari ini. Senyumnya merekah melihat bunga-bunga mawar merah yang sedang mekar dan tumbuh dengan baik disana. Ternyata putrinya berbakat mengurus tanaman seperti ini. “Cantiknya mawar merah kesukaan Anin,” katanya memuji keindahan bunga yang sedang disiramnya. Tangannya bergerak menyentuh kelopaknya yang lebar-lebar. “Cantik kayak anakku, hihi.” Setelah selesai, ia segera menggulung selang air yang tadi digunakannya dan menaruh di dekat keran air yang ada di samping rumah. Namun, perhatiannya teralihkan ketika sebuah mobil sedan hitam memasuki pekarangan rumahnya. Syakirah buru-buru mencuci tangannya, lalu mengeringkannya menggunakan lap kain. Kemudian, perempuan berusia 40 tahun itu bergerak mendekati mobil itu, menunggu sang empunya keluar. “Selamat pagi, Bu,” pintu pemudi terbuka. Pria yang memakai setelah jas hitam dengan kacamata hitam yang bertengger di batang hidungnya itu, keluar dan menyapa Syakirah. Kemudian disusul oleh wanita cantik yang keluar dari kursi penumpang. Terlihat sangat cantik dan elegan dengan dress berwarna putih yang dipakainya. Wanita itu mengusung senyum begitu berkontak mata dengan Syakirah. “Halo, Bu Syakirah. Sudah lama tidak bertemu,” sapa wanita yang baru keluar dari mobil itu. “Maaf sebelumnya, bapak sama ibu ini, siapa ya?” tanya Syakirah hati-hati. Jika dilihat-lihat, pasangan ini seperti orang kalangan atas. Mana mungkin dia bisa mengenalnya. Pria itu menilik jam tangan yang nampak mahal melekat di lengannya. “Boleh saya masuk dulu? Kita bicara di dalam.” “O-oh, iya silahkan! Saya sampai lupa.” Syakirah tergugup dan langsung mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam rumahnya. Setelah mempersilakannya duduk di ruang tamu, Syakirah berjalan menuju dapur dengan gelisah. Ia tidak tahu siapa dan untuk apa pasangan itu datang mencarinya. Belakangan ini ia selalu merasa gelisah tanpa sebab. Dan ia rasa, hari yang tidak diinginkannya selama ini sudah tiba. Syakirah kembali ke ruang tamu dengan membawa dua cangkir teh panas untuk tamunya dan segelas air putih untuknya. Tentunya ia sudah mengganti pakaiannya yang lebih baik. “Silahkan diminum, Pak, Bu.” Pasangan itu mengangguk dan tersenyum. “Terimakasih, Bu.” Di tempatnya duduk, Syakirah sudah sangat gelisah. Ia berharap kedatangan pria asing ini adalah untuk memberinya uang, bukan mengambil kebahagiaannya. “Sekarang boleh dijawab, Bapak dan ibu ini siapa, ya? Dilihat-lihat, sepertinya kalian bukan orang biasa.” Rasa penasaran perempuan itu sudah tak terbendung. Ia memilih menanyakannya sekarang daripada membiarkan hatinya terus berdebar tanpa kepastian. Pria itu menyeruput teh yang disuguhkan padanya. Baru setelah itu, ia tersenyum penuh wibawa. “Sepertinya Ibu lupa sama kami. Apa wajah saya dan istri saya banyak berubah, bu?” Syakirah mengerutkan dahinya bingung. Ia kembali mengamati wajah tegas laki-laki ini yang sudah melepas kacamata hitamnya. Ia mencoba mengingat-ingat kapan ia pernah bertemu dengan pria ini. Hal itu pun ia lakukan terhadap wanita yang duduk di sebelah suaminya itu. Namun, berulangkali pula ia menggeleng kecil. Syakirah tidak ingat sama sekali. “Maaf, Pak. Tapi saya bener-bener nggak inget lho bapak ini siapa. Mungkin bapak bisa kenalan ulang aja biar saya langsung inget,” kata Syakirah. Ia ingin langsung pria itu mengatakan siapa identitasnya sebenarnya. “Saya Pandu, Pandu Arsawijaya dan ini istri saya, Sarah. Kami tetangga Ibu dulu yang menitipkan bayi perempuan bernama Syifa Adnin Arsawijaya, Bu.” Lalu perempuan di sebelahnya menambahkan. “Kedatangan kami tentunya untuk bertemu anak kami, Syifa. Apa dia ada di rumah, Bu? Saya udah nggak sabar lihat dia,” seru Sarah penuh antusias. Syakirah membulatkan matanya, tangannya yang gemetar menutup mulutnya yang terbuka spontan. “S-saya....” “Bu, Ibu kenapa?” Sarah terkejut atas perubahan raut wajah Syakirah tiba-tiba. Ia menyodorkan segelas air putih yang ada di hadapan Syakirah. “Ibu tenang dulu, ya” Syakirah mencoba menenangkan dirinya. Walaupun dari jauh-jauh hari ia sudah mempersiapkan dirinya dengan segala kemungkinan yang terjadi, namun tetap saja ia tidak bisa. Rasanya ada ribuan ton batu yang menimpa dadanya. Sakit dan sesak. Setelah beberapa lama ia terdiam sejenak, Syakirah memberanikan diri bersuara walau matanya berair. “J-jadi, Bapak dan Ibu, mau mengambil anak s-saya? M-maksudnya—,” ada sebuah ketidak relaan untuk dia melanjutkan kalimatnya. “—Syifa?” Pandu menghembuskan napasnya. Ia tahu benar bagaimana perasaan Syakirah. Tujuh belas tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk mengurus seorang bayi sampai menjadi gadis cantik. Tapi kembali lagi, mereka—Pandu, Sarah dan Syakirah—sudah melakukan perjanjian dulu. Perjanjian bahwa Syakirah hanya akan mengurus sampai anaknya berumur tujuh belas tahun. “Saya nggak akan langsung bawa Syifa, Bu. Saya akan kasih waktu buat Ibu dan Syifa untuk bersama. Dan kembali lagi, tujuan saya kesini tentu karena perjanjian kita dulu,” Pandu berusaha memilih kata yang tidak terkesan memaksa, karena mau tidak mau ia berhutang jasa pada Syakirah. Wanita itu menyeka air matanya dengan ujung lengannya. Memorinya berputar-putar di kepala seperti kaset rusak. Tentang bagaimana dirinya dan Syifa melewati hari-hari yang penuh dengan suka duka bersama keluarga kecilnya dulu. Walau tak jarang ia juga memarahi Syifa, tapi sebenarnya, marahnya adalah bentuk sayangnya untuk mendidik sang anak. “S-saya nggak bisa halangi niat kalian untuk bertemu Syifa. Tapi saya mohon, Pak, Bu, biarkan Syifa tetap tinggal disini bersama saya,” isakannya semakin menjadi. Wanita itu rela memohon agar anak gadisnya tidak di ambil. Walaupun mereka berdua adalah orang tua kandungnya, tetap saja, dirinyalah yang mengasuh selama belasan tahun. Dirinyalah yang paling mengerti dan paling dekat dengan anaknya. Ia tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya. “Bu Syakirah, saya akan tetap membawa Syifa untuk tinggal bersama kami. Kami tidak akan menghalangi kalian untuk bertemu, kapan saja. Kami bisa janji itu,” ujar Sarah memberi pengertian. Sebagai wanita ia juga mengerti bagaimana perasaan Syakirah yang akan dipisahkan setelah belasan tahun bersama. “Assalamualaikum, Tante Sya! Zoya dataang!” Sebuah suara nyaring terdengar dari halaman rumah. Spontan Syakirah, Pandu dan Sarah menoleh ke arah sumber suara. Ada gadis cantik yang sedang mematung begitu sadar di dalam rumah itu ada tamu. “Eh? Maaf tante, Zoya nggak tau!” Zoya membungkuk minta maaf. Lalu dengan cepat ia memutar tubuhnya untuk segera kabur dari sana. “Eh, Nak! Nggak apa-apa sini, masuk!” Syakirah berdiri dan menyuruh sahabat anaknya masuk. Tak lupa juga memberitahu pada tamunya siapa gadis yang baru datang itu. Zoya mengumpat dalam hati. Rasa malu menyeruak di dada Zoya. Meski enggan, ia tetap berbalik dan menyunggingkan senyum tipis ke arah tamu yang ada disana dan Syakirah. “Halo Om, Tante.” Zoya bergerak menyalimi keduanya. Setelah itu, ia mengambil tempat di sisi Syakirah. “Saya biasa main disini, hehe, tante Sya biasa kasih saya makan ayam goreng soalnya, hehehe,” celetuk Zoya bergurau. Pandu dan Sarah mengangguk-angguk mengerti. Mereka ikut tersenyum mendengar penuturan Zoya yang ceplas-ceplos. “Kamu temannya Syifa, Nak?” Sarah bertanya dengan lembut penuh keibuan pada Zoya. Gadis itu mengangguk. “Iya, Tan. Joy besti-nya anak tante Sya.” Zoya mencomot biskuit yang ada di meja. Hanya satu, kalau tidak ada orang sudah ia bawa dengan piring-piringnya. “Oh iya, Joy mau ngomong sampe lupa,” gadis itu memutar sedikit tubuhnya, sampai posisinya menjadi sedikit menghadap Syakirah kemudian berkata, “Jadi, sebenernya Syifa kecelakaan semalem, Tan. Ini Joy baru balik dari RS buat ngasih tau tante.” “APA?!” Zoya melongo, melihat bergantian kepada tiga orang dewasa yang melotot padanya. Padahal ‘kan sudah dikasih tau, malah melotot gitu. “Tenang dulu, Tan, Syifa sekarang udah aman di RS, jadi kalem aja ya, Tan, Om. Lagian, Om sama Tante yang ini kenapa ikut-ikutan kaget, sih? Emangnya kenal sama Syifa?” Syakirah memegang kedua bahu Zoya, matanya menatap lekat gadis itu. “Nggak usah ngomong terus, Joy. Sekarang juga tunjukin dimana Syifa di rawat.” ***