“Buka mulutnya yang lebar, aaaa....” Mika saat ini tengah membujuk pacarnya yang setia menutup rapat mulutnya karena tidak mau makan makanan rumah sakit. Hambar katanya. “Aku maunya seblak, Mika! Bukan bubur,” tolak Syifa entah yang ke berapa kalinya. Menurut Syifa bubur rumah sakit itu rasanya seperti makanan ayam. Tidak ada rasanya sama sekali. Mika tersenyum sabar menghadapi cobaan kali ini. Menaruh mangkuknya di meja nakas, lalu kembali memberi pengertian pada kekasihnya. “Kamu ‘kan lagi sakit, Sayang. Orang kalo dirawat di rumah sakit pasti makannya bubur, bukan seblak,” ucap Mika seraya mengusap-usap rambut gadis itu. “Aku kan lagi ngomong sama kamu. Mukanya ngadep sini, dong.” Diminta dengan lembut seperti itu, siapa yang tidak luluh. Meskipun demikian, Syifa tetap mempertahankan wajah ditekuknya. “Apa?!” Mulutnya mencebik. Antara kesal dan senang di perlakukan seperti itu oleh Mika. Mika terkekeh kecil melihat tingkah pacarnya. Ada-ada saja memang. “Lucu banget sih, pacar aku. Sini peluk.” Syifa kaget karena pergerakan tiba-tiba dari Mika yang langsung memeluknya erat. Ia berusaha untuk melepaskan diri namun tidak bisa. “Mika lepasin! Kamu bau tau!” “Biarin, yang penting ganteng,” balas cowok itu. Ia tidak memberi celah sama sekali untuk Syifa berontak. “Awas Mikaa... aku ga bisa napas,” rengek gadis itu pasrah. Ia hanya takut mati di dekapan pacar semalamnya ini. Mika melepaskan dirinya sambil tertawa kecil. “Udah nih, aku lepasin. Tapi makan, ya?” “Hm, iya deh. Terpaksa.” “Yeeuh... gaya-gayaan makan terpaksa. Kelaperan mampus ntar jadi ubi!” sarkas Mika tak tanggung-tanggung. “Kalo aku jadi ubi nanti kamu jomblo, mampus!” Syifa tak mau kalah. Mika mengarahkan sendokan pertamanya yang langsung disambut cepat oleh gadisnya. “Cewek ‘kan banyak di dunia ini.” Syifa memelankan kunyahan di mulutnya. Ia melirik Mika dengan tajam. “Ya udah, sana sama cewek lain yang ada di dunia ini aja!” “Dih, kok jadi baperan sih, kamu,” Mika tertawa kecil karena pacarnya menjadi lebih sensitif. Ia mengaduk-ngaduk bubur dalam mangkok sebelum menyuapkan kembali pada Syifa. “Bodo amat!” Syifa mengambil alih mangkok bubur dari tangan Mika. “Sini, aku bisa sendiri!” “Katanya mau seblak, tapi malah marah-marah ke aku,” pancing cowok itu, mengingatkan gadisnya tentang makanan yang memang sedang diinginkan. Syifa menyuapkan bubur ke dalam mulutnya. “Emang mau beliin?” ujarnya tanpa sama sekali menatap Mika. Syifa masih terlalu kesal dengan cowok itu. “Emm... kayaknya mau, deh. Kayaknya ada tukang seblak di seberang rumah sakit.” Sudah tidak mempedulikan gengsinya lagi, Syifa langsung tersenyum girang sambil menatap Mika. Ia melupakan sejenak kekesalannya demi seblak tercinta. “Beneran?!' Rambut Mika bergerak-gerak lucu karena cowok itu mengangguk dua kali. Syifa hampir saja berteriak senang kalau ia tidak ingat ada orang lain disana. “Yes! Ya udah, sana Mika beli. Buruan!” “Giliran seblak aja semangat,” gerutu cowok itu. Tapi tetap saja ia akan pergi untuk membelinya. “Pokoknya aku balik lagi kesini, buburnya harus sudah habis. Kalo nggak abis, nggak bakal dikasih makan seblak.” “Iya, Sayangku!” balas Syifa manja. Seperti biasa, ia hanya akan manja kalau ada maunya. *** Syakirah dan Zoya memutuskan untuk pergi bersama Pandu dan Sarah. Mereka berdua duduk berdampingan di kursi belakang. Sementara dibangku depan, ada sepasang pemilik mobil itu. Hening menyelimuti sepanjang perjalanan mereka. Tidak satupun yang ingin membangun obrolan diantara mereka. Rasanya terlalu kaku untuk mengobrol disaat perasaan sama kacaunya dengan keadaan. Menempuh jarak sekitar 30 menit, mobil mereka akhirnya berbelok memasuki area rumah sakit besar yang dimilki oleh keluarga Bagaskara. Zoya memimpin para orang tua yang ingin menjenguk sahabatnya. Padahal niatnya tadi setelah mampir untuk memberitahu Syakirah, Ia akan pulang untuk mandi. Tapi malah akhirnya diseret ke Rumah Sakit lagi. Zoya membuka pintu perlahan, lalu masuk kedalamnya diikuti Syakirah, Pandu dan Sarah. Terlihat sahabatnya itu sedang menulis dibuku diary yang selalu menemani hari-harinya. “Hey!” Syifa mendongak dan melihat sahabatnya membawa ibunya. Ia tersenyum cerah seketika itu juga. “Ibu!” Syakirah menghambur kedalam pelukan putrinya. Air mata yang sejak tadi dibendung sudah tak dapat ditahan lagi. Ia menangis sesenggukan sampai Syifa kebingungan karenanya. “Kamu baik-baik aja ‘kan, Nak?” Syakirah menarik dirinya. Tangannya menyentuh lembut sisi wajah putrinya. “Kenapa bisa kayak gini, hm?” “Syifa baik-baik aja, Bu. Udah jangan nangis, ya? Anin jadi pengen nangis juga nih,” Syifa menyeka air mata ibunya dengan ibu jarinya. Syifa tidak sadar bahwa ada orang lain yang sejak tadi ada disana. Fokusnya hanya pada ibunya, bukan yang lain. “S-Syifa...,” panggilan itu lolos dari mulut Sarah disertai rasa bersalah. Anaknya sudah sampai sebesar ini dan dia baru ingin menjemputnya. Syifa menoleh pada wanita yang memanggil namanya. Ia bingung, tapi tetap memaksakan sesungging senyuman hadir di wajahnya. “Iya, aku Syifa. Tante temennya ibu, ya?” Tiba-tiba saja, Sarah mendekat dan memeluknya sambil menangis. Ia begitu tidak percaya pertemuannya dengan anaknya setelah yang terakhir kalinya berakhir di rumah sakit ini. “Eh?” Syifa tidak membalas pelukan Sarah. Ia melirik pada ibunya meminta penjelasan. Tapi ibunya itu tetap saja menangis tak henti-henti. Ia juga melemparkan tanda tanya pada Zoya. Siapa tahu sahabatnya itu mengerti sesuatu. Namun, Zoya hanya mengedikkan bahunya. Karena memang ia belum mengerti situasinya sejak tadi saat dia bertemu pasangan itu di rumah Syifa. “T-tante kenapa?” Syifa berusaha melepaskan pelukan. Ia ingin melihat dengan jelas wajah wanita dihadapannya. Suasana semakin hening saja. Hanya terdengar suara isakan dari Syakirah dan Sarah yang mengudara. Bahkan laki-laki yang datang bersama ibunya tadi juga terlihat menahan air matanya. “A-anakku,” lirih Sarah sambil membelai lembut ujung kepala putrinya yang sedikit berantakan. “Anakku....” Isakan dari wanita itu semakin menjadi. Syifa sedikit terkejut, ia tidak tahu mau melakukan apa. Penyebab wanita asing yang tiba-tiba memeluknya dan menangis hebat seperti ini pun ia juga tidak tahu. Padahal baru pertama kali ini mereka bertemu. Tapi dalam hatinya mengatakan seperti tidak asing dengan dua sosok ini. Satu-satunya pria yang ada disana mendekat untuk menenangkan istrinya. Ia membawa Sarah sedikit menjauh agar bisa lebih tenang. Sementara itu, ia menatap sejenak Syakirah, memberinya kepercayaan untuk memberitahukan kebenarannya. “Ibu?” Syifa menegur ibunya yang diam saja. Pandangannya pun terlihat kosong. Tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. “Mereka siapa, Bu? Kenapa tante itu bilang aku anaknya?” Untuk saat ini, Syakirah hanya ingin menghindar dari pertanyaan Syifa yang jika ia menjawabnya hanya akan menambah sesak yang memenuhi rongga dadanya. Tetapi ia tidak bisa. Ia tidak bisa terus menutupi rahasia terbesarnya dari Syifa. Dia sudah besar, dan orang tuanya juga sudah datang mencarinya. Sebisa mungkin Syakirah menyusun kalimatnya agar tidak membuat Syifa salah paham kepada Pandu dan Sarah yang notabenenya adalah orang tua kandungnya. “Nak,” Syakirah mengambil tangan putrinya dan menggenggamnya erat. “Kamu sudah besar sekarang. Kamu sudah bukan anak kecil lagi yang akan dengan mudahnya melupakan semua yang terjadi hari ini. Mau bagaimanapun, kamu tetap akan menjadi putri kecil Ibu yang sangat Ibu sayangi.” Syifa menggeleng kecil. Ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan ibunya. Tapi dari kalimat yang diucapkan ibunya, jelas sekali banyak menyiratkan kesedihan yang masih tanda tanya dibenaknya. Tadi malam ia kecelakaan, lalu dibawa ke rumah sakit. Pagi ini ibunya datang menjenguk dengan dua orang asing yang mengikuti dibelakangnya. Lalu, dengan alasan apa Syakirah menangis sampai sebegitunya? Kalau hanya karena Syifa masuk rumah sakit itu pasti tidak sampai sebegininya bukan? “Ibu, Anin nggak ngerti.” “Anin, ibu minta maaf, ya? Ibu minta maaf kalau selama ini, kamu selalu tertekan karena Ibu yang nggak berhenti marahin kamu,” lanjut Syakirah. Matanya yang tidak berhenti mengeluarkan air mata semakin menambah kesedihannya. Syifa menggeleng. “Enggak, Bu. Syifa tau, Ibu marah karena Anin ada salah, Ibu marah karena Ibu sayang sama Anin. Ibu nggak salah. Justru Anin yang udah banyak salah ke Ibu.” Gadis itu tak kuasa menahan haru. Jika sudah berbicara sedalam ini dengan Ibunya, sudah bisa dipastikan akan banyak air mata yang keluar menyertainya. “Ibu kenapa ngomong kayak gitu?” lanjutnya. Bukannya menjawab, Syakirah malah mendongak ke arah pasangan yang sedang duduk berdampingan di sofa. Ia mengisyaratkan agar mereka berdua mendekat. Syifa juga mengikuti arah pandang ibunya. Dalam hatinya sejak tadi, tidak bisa berhenti bertanya tentang kedua orang itu. Apa hubungan pasangan itu dengan keluarganya. “Anin, lihat ke arah mereka berdua,” titah Syakirah setelah keduanya mendekat. Kini ia berusaha untuk menghentikan air matanya. “Mereka berdua itu, adalah orang tua kandung kamu.” .... “Orang tua kandung kamu.” Kalimat terakhir ibunya menggema di telinganya. Merasuk kedalam pikirannya. Syifa terdiam, membeku setelah mendengar kalimat itu muncul dari bibir orang yang selama ini mengasuhnya. Ia sampai tidak bisa berfikir untuk beberapa saat. Tidak hanya Syifa, Zoya yang awalnya hanya duduk diam tidak ingin ikut campur sampai berdiri dari duduknya, mulutnya menganga lebar, tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Matanya melotot sempurna mendengar kenyataan tidak terduga dari keluarga sahabatnya sendiri. “I-ibu ngomong apa, sih?” Syifa mencoba menolak keinginan untuk percaya pada ucapan Syakirah barusan. “Joy, ambilin gue minum, dong. Kayaknya gue dehidrasi sampe halu gini,” pinta Syifa pasa sahabatnya. “Ibu nggak bercanda, Anin. Mereka adalah orang tua kamu, orang tua kandung kamu,” tukas Syakirah cepat. Syifa menatap lekat wajah ibunya. Terlihat wanita itu dengan wajah yang begitu meyakinkannya juga ikut menatap dirinya. “Bu, ulang tahunnya Anin udah lewat. Kenapa baru hari ini ngasih kejutannya?” ***