Second Choice: Matahari - Anak Pungut - Bab 21

30 December 2025

Bram berhenti di ambang pintu ruangan yang didalamnya terbujur tubuh seseorang yang sangat dicintainya. Ia bersyukur karena Tuhan masih memberi istrinya kekuatan untuk bertahan sampai detik ini, tapi juga bersedih karena istrinya tak kunjung bangun. Lelaki itu membuka pintunya pelan-pelan supaya tidak menimbulkan suara, lalu menutupnya kembali dari dalam. Dalam jarak sedekat ini, Bram bisa melihat wajah pucat istrinya yang terpejam dan bernafas damai. Entah apa yang perempuan itu temui dalam tidur panjangnya sampai betah berlama-lama di ruangan ini. “Sayang, pulang, yuk. Kamar kita lebih nyaman dari pada ruangan ini,” ucap Bram sementara tangannya mengusap lembut sisi wajah istrinya. Seperti biasa, di hari libur pria itu akan datang ke rumah sakit untuk duduk memandangi wajah istrinya selama berjam-jam. Tak jarang juga ia sampai tidak pulang ke rumah. Tidak pernah bosan, juga tidak pernah lelah. Semuanya rela ia lakukan untuk istri tersayangnya. “Tolong, buka mata kamu. Mas udah nggak bisa hidup kaya gini.” Bibir tebalnya bergetar menahan tangis. Andai waktu itu ia tidak mengizinkan istrinya pergi menjemput putrinya ke sekolah, mungkin kejadian itu tidak akan pernah ada. Mengingat hal itu hanya membuatnya sesak sekaligus marah. Ada rasa tidak terima dalam hatinya yang perlahan membentuk gumpalan dendam dalam hati yang terus membesar. Ya, Bram tidak membenci putrinya karena hal itu saja. Namun ada alasan lain yang ia sembunyikan, yang menjadi alasan terbesar kebenciannya terhadap putri bungsunya. Benda pipih dalam sakunya bergetar. Itu membuat lamunannya buyar dan segera mengeceknya. Jagoan Ayah: “Ayah tolong datang ke RS Medistra buat jagain adek, ya? Niel ada perlu keluar sebentar.” Medistra? Pria itu memutar ingatannya. Semalam Jasmine memang menelponnya dan berkata sedang berada di rumah sakit. Tapi tidak memberitahu sedang apa dan di rumah sakit mana karena dirinya malas mendengar suara anak itu lama-lama. Setelah menimbang-nimbang cukup lama, ia memutuskan untuk datang sesuai permintaan anak sulungnya. Ia harus mencari tahu apa yang terjadi kepada putrinya, walaupun sebenarnya ia tidak terlalu peduli. Tapi karena Niel yang meminta, ia akan menuruti kali ini. Mematikan ponselnya, ia beralih pada istrinya. Bram mengecup singkat bibir Nilam, istrinya. “Sayang, Mas pergi dulu, ya? Nanti malam Mas kesini lagi.” *** Sadewa Abraham, pengusaha tekstil ternama. Siapa sangka kehidupan pribadinya tak secerah karirnya. Pria tua itu sama sekali tidak bahagia saat ini. Langkah kakinya yang sudah tidak setegas dulu menyusuri lobi rumah sakit yang membawanya langsung ke meja resepsionis. Seperti ucapannya pada Niel, ia akan menjenguk anak perempuannya di pagi menjelang siang ini. “Kamar pasien atas nama Jasmine Alisha Maharani, dimana Mbak?” Sang resepsionis cantik itu tersenyum ramah tangannya lincah memeriksa nama pasien dan ruangan mana yang ditempatinya. Setelah ketemu, ia kembali tersenyum kepada Bram. “Pasien ada di kamar VVIP nomor 103, Pak. Silakan.” Bram mengangguk, lalu bergegas menuju ruangan yang sudah diberitahukan padanya. Langkahnya berhenti tepat didepan pintu yang sedikit terbuka. Mengecek nomornya, ternyata benar. Langsung saja pria itu membuka pintunya dan melangkah masuk, lalu menutupnya dari dalam. Ia berbalik badan, melihat seorang gadis yang sedang sibuk melamun. Ia berdeham. Bermaksud menyadarkan putrinya dari lamunan. Pria itu terlalu gengsi untuk menyapa putrinya terlebih dahulu. “Ayah?” Jasmine tersadar dan langsung tersenyum cerah menyambut kedatangan Abraham yang tak terduga. “Sini, Yah! Jasmine nggak nyangka banget Ayah datang kesini jengukin.” Bukannya duduk mendekat, pria tua itu lebih memilih duduk di sofa yang ada disana. “Bukan karena kamu. Saya datang karena Niel yang suruh.” Jasmine tertegun. Ia sudah salah mengira. Harusnya ia sadar diri bahwa Bram memang tidak pernah menganggapnya sebagai anaknya. Hanya kakaknyalah yang bisa mendapat kasih sayang dan perhatian darinya. “Maaf, Ayah.” Jasmine merendahkan suaranya. Kepalanya menunduk untuk menyamarkan air matanya yang hampir saja menetes. Bram berdecih melihat gadis itu yang hendak menangis. Ia datang kesini bukan karena tulus ingin menemani Jasmine. Tapi murni hanya karena anak laki-lakinya yang meminta tolong dan juga penasaran. “Nggak usah nangis-nangis di depan saya,” peringat Bram tegas, “saya itu nggak butuh anak perempuan bodoh dan tidak berguna seperti kamu! Yang hanya bisa menangis dan menyusahkan!” Sebulir air mata jatuh dari kelopak matanya. Jasmine buru-buru mengusapnya kasar agar tidak terlihat oleh ayahnya. “Kenapa Ayah nggak pernah sayang sama Jasmine, sih? Jasmine ada salah apa?” “Salah apa?” sahut Bram cepat. Air mukanya berubah cepat menjadi menyeramkan. “Salah kamu banyak, Jasmine! Bahkan kelahiran kamu di dunia ini juga sudah termasuk kesalahan!” Jasmine meremat dadanya. Rasa sesak dan nyeri itu semakin menghujam saat mendengar kalimat menyakitkan dari Bram. Sungguh ia tidak mengerti, mengapa ayahnya menjadi seperti itu. Bukan keinginan dia juga kan, lahir dan hadir ditengah keluarga ini? “Jasmine nggak pernah minta dilahirkan, Ayah...,” lirihnya menyakitkan. Ia sudah tidak ingin menangis, tapi air matanya justru semakin deras mengalir di pipi nya. “K-kenapa... cuma Kak Niel yang Ayah sayang? Kenapa Jasmine enggak?” Bram tertawa lepas. Ia berjalan mendekati Jasmine dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak. “Kamu mau tau alasannya?” Jasmine memutus tatapannya dari Bram. Ia tidak mau melihat wajah marah itu lebih dekat. Itu menyeramkan. “Itu karena Niel anak laki-laki, anak kandung saya, Jasmine!” pekiknya keras tepat di depan wajah gadis itu. Jasmine sangat kaget dengan suara keras itu. Tapi lebih kaget dengan isi kalimat yang diucapkannya. “Terus, kalo Jasmine perempuan, itu artinya bukan anak Ayah?” tanyanya berani. Ia mulai menaikkan pandangannya untuk balas menatap wajah Bram. “Jasmine enggak bisa pilih gender, Yah!” “Haah, Jasmine, Jasmine. Otak kamu itu bisa dipake mikir nggak, sih?” Telunjuk pria itu mendorong-dorong dahi Jasmine dengan keras. “Itulah kenapa saya nggak suka sama anak bodoh kayak kamu, karena kamu nggak bisa mikir!” Entah sudah berapa puluh kali Bram menyakitinya. Entah sudah berapa kali Jasmine begitu tersiksa karenanya. Gadis itu terus memakai topeng keceriaannya diluar rumah. Tapi begitu sangat rapuh didalam. Ia pandai menyembunyikan rahasia. Sampai-sampai sahabatnya di sekolah pun tidak bisa menembus kehidupan pribadinya. Jika Jasmine boleh memilih, Ia akan lebih memilih dipukuli seperti biasa dari pada di maki-maki dengan kalimat menyakitkan. Karena luka fisik akan cepat membaik jika diobati, beda dengan luka batin yang semakin lama semakin berdarah-darah. “Nggak usah bertele-tele, Yah. Langsung aja ngomong sama Jasmine yang bodoh ini!” Bram melirik gadis cantik itu yang sudah berhenti terisak. Tapi air matanya tetap saja membanjiri pipinya. “Kamu apa nggak pernah mikir, jarak usia kamu sama Niel itu nggak begitu jauh. Niel lahir di pertengahan tahun 2005, sementara kamu lahir di akhir tahunnya.” Jasmine terdiam. Otaknya mulai berjalan setelah diberitahu fakta sejelas itu. Selama ini ia biarkan hidupnya mengalir begitu saja. Toh, Niel juga nggak permasalahin apapun darinya. “Kamu pikir istri saya bisa hamil sesingkat itu?!” bentak Bram lagi. Kali ini suaranya sedikit bergetar karena menyangkut istrinya. “Kamu itu anak pungut Jasmine! Sadar diri!” ***