Drama

Second Choice: Matahari - Kepo Level Maksimal - Bab 22

30 December 2025

“Makasih, Bu.” Mika tersenyum ramah setelah menyerahkan lembar dua sepuluh ribuan. Kemudian ia berlari menyebrangi jalan sembari menenteng dua porsi seblak pesanan Syifa. Cowok itu tidak berhenti menyunggingkan senyuman saat di kepalanya terbayang ekspresi menyenangkan dari pacarnya saat ia datang nanti. Syifa itu termasuk pemuja seblak garis keras. Maka sebisa mungkin Mika akan mengimbanginya dengan cara ikut-ikutan suka makan seblak. Biarlah, sakit perut asalkan pujaan hati bahagia. Namun, langkahnya justru terhenti ketika ponselnya terus bergetar dalam saku. Sekarang posisinya ada di lobi rumah sakit. Cowok itu menepi sedikit agar tidak mengganggu orang-orang yang sibuk berlalu lalang disana. “Apaan, Kav?” tanyanya tanpa basa-basi. Napas yang memburu terdengar dari telepon. Mika menjauhkan sebentar ponsel dari telinganya karena begitu berisik saat di tempelkan ditelinga. ”Lo bisa kesini sekarang ga, Ka?” Cowok itu terkekeh kecil. Ia tidak begitu menanggapi kepanikan Kavi dari seberang sana. “Lo kenapa? Di kejar rentenir?” “Bacot, buruan ke RS! Jasmine mau bundir!” Plastik yang membungkus seblak terlepas dari tangannya. ”Ow, Sh*t!” umpat Mika tertahan. “Gue kesana sekarang!” Mika langsung memutus sambungan teleponnya sepihak. Ia bergerak cepat menuju parkiran untuk mengambil motornya, dan berlalu pergi dari sana tanpa tahu apa yang sedang terjadi di ruangan Syifa. *** Mika melajukan motornya ugal-ugalan. Teriakan bapak-bapak yang tidak terima disalip diabaikannya. Klakson yang menegurnya berkali-kali tidak ia pedulikan. Tujuannya sekarang hanya satu, yaitu cepat sampai di rumah sakit Medistra secepatnya. Perjalanan motor yang seharusnya di tempuh lebih dari 25 menit, Mika dapat menyingkatnya menjadi kurang dari 20 menit. Memasuki pelataran rumah sakit, Mika mengarahkan motornya menuju parkiran. Melepas helm lalu menaruhnya di jok, lantas berlari-lari kecil menuju lobby. Ia berlarian di sepanjang koridor rumah sakit demi cepat sampai di ruangan Jasmine. Tidak peduli tatapan aneh dan risih dari orang-orang. Yang penting cepat sampai. Cowok itu membuka pintu ruangan, lalu menutupnya dari dalam. Tampak gadis yang sedang ia khawatirkan menangis di pelukan sahabatnya dengan ruangan yang sangat berantakan. Aidan memberi ruang pada Mika. Bagaimanapun, Mika sudah lama mengenal dan bersama Jasmine, pastinya juga lebih mengerti dengan keadaannya. Mika menggantikan posisi Aidan. Ia mengusap-usap belakang punggung gadis yang sedang menangis itu supaya cepat lega. “Udah, selesai?” Mika melepas pelukannya saat dirasa Jasmine sudah cukup tenang. Jasmine mengusap jejak air mata di pipinya, lalu mengangguk kecil. Mika membawa gadis itu untuk duduk di sofa. Setelahnya, ia mengambil segelas air putih. “Ini, minum dulu.” Jasmine menerimanya, lantas meminumnya sedikit. “Makasih.” Gadis itu meletakkan gelasnya di meja. Mata sembabnya tidak sengaja melirik Mika yang ternyata lekat menatapnya. “K-kenapa?” “Harusnya gue yang tanya itu ke lo, Jasmine. Lo kenapa?” Jasmine kembali menunduk. Tangannya saling meremas, berharap kesedihan cepat enyah dari dirinya. “Gue baik-baik aja.” “Baik?” tanya Mika tidak percaya. “Yang kaya tadi lo bilang baik?” Jasmine tetap diam. Gadis itu tidak berniat memberitahu Mika dan kedua temannya itu hal yang sebenarnya. Ia hanya tidak mau menjelekkan nama ayahnya didepan mereka semua. “Jasmine lo—” “Jangan maksa gue buat jawab, Kak!” sergah Jasmine tiba-tiba. Sorot matanya berubah tajam menatap Mika. “Lagian lo bukan siapa-siapa gue lagi. Nggak penting,” Kavi menutup mulutnya yang terbuka dengan cepat. Aidan geleng-geleng kepala mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulut Jasmine untuk sahabatnya. Sedangkan Mika, cowok itu kehilangan kata-kata dari kepalanya. “Jadi gue minta, lo semua nggak usah ikut campur urusan gue lagi,” lanjut Jasmine. Gadis itu lekas berdiri dari sofa, berjalan meninggalkan Mika, Kavi dan Aidan di ruangan itu. “Nggak tau diri lo, ya, udah gue tolongin!” teriak Aidan begitu gadis itu keluar ruangan. “Kalo nggak di tolongin bebeb gue, udah mati di jalan lo, nek lampir!” tambah Kavi sama emosinya. Aidan menoleh cepat ke arah sahabatnya. “Siapa yang lo kata bebeb?” “Lo, lah! Siapa lagi,” kekeh Kavi seraya menghindari serangan maut dari Aidan. Sehari saja tidak membuat keributan, itu seperti ada yang kurang diantara mereka. Sementara Mika masih terdiam ditempatnya. Di kepalanya kembali terputar ucapan Jasmine padanya beberapa menit lalu. Apakah itu isyarat Jasmine sudah tidak mau berhubungan dengannya lagi setelah putus? Mika menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak bisa menebak isi kepala gadis itu. Dia terlalu misterius untuk sekedar dimengerti. Bahkan, selama berpacaran dengannya saja, Mika sama sekali tidak diperbolehkan datang ke rumahnya. Ada apa? “Udah, Ka, nggak usah mikirin nenek lampir. Kalo gue tau lo udah putus sama dia, gue nggak akan sepeduli itu ke cewe songong itu!” Aidan menepuk bahu Mika pelan. Ia sedikit menyesal telah menolong Jasmine yang selalu terlihat menyebalkan dimatanya. Mika tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum kecil pada kedua sahabatnya. “Siapa juga yang mikirin tuh cewe.” “Oh iya, Mik. Lo semalem bilang ada urusan, kan? Kasih tau dong, lo ada urusan apa sampe maksa kita tinggal disini?” Kavi ikutan duduk di sebelahnya Mika. Ia sudah memendam pertanyaan ini semalaman karena penasaran. “Astaga!” Mika memukul kepalanya sendiri dengan keras. Ia spontan melotot pada Kavi. “Kok lo baru bilang, sih!” Ia teringat akan dua porsi seblak yang ditelantarkan di lobby rumah sakit. Mika tidak sesadar tadi. Ia terlalu khawatir dengan keadaan Jasmine sampai rela jauh-jauh kemari tanpa memikirkan tujuan awalnya membeli makanan itu. “Gue harus cabut.” “Kenapa dah, kayak mau kiamat aja,” tegur Aidan karena cowok itu terlihat sangat panik. “Tau tuh, ditanyain malah melotot ke gue kayak orang kesurupan,” timpal Kavi sadis. Padahal dirinya tidak akan bisa tidur nyenyak sebelum rasa penasarannya tuntas terjawab. “Lo berdua pantau Jasmine aja. Nggak usah kepo sama urusan gue yang ini,” kata Mika lagi. Cowok itu bergegas meninggalkan keduanya dengan tingkat kepanikan level maksimal. Aidan merotasikan bola matanya. “Ogah amat gue ngurusin nenek lampir. Mending makan ‘kan, Kav?” Kavi tidak menjawab. Ia justru ikut bersiap pergi. “Mendingan sekarang kita buntutin tuh, bocah.” “Ah males! Yang ada ditonjok lagi gue ketauan ngintilin dia,” tolak Aidan mentah-mentah. Pasalnya, ia dulu pernah kedapatan ngintipin Mika dan Jasmine sedang berpacaran. Jadilah dirinya di kejar sampai keluar sekolah oleh Mika. Kavi menatap tajam sahabat miskinnya itu. Wajahnya yang serius malah seperti sedang menahan buang air besar menurut Aidan “Ngapain lo ketawa! Pokoknya kita harus ikutin Mika, biar ntar malem gue bisa tidur nyenyak!” seru Kavi ngotot. *** Syifa memejamkan matanya perlahan. Angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya terasa menyejukkan. Disini, dibawah pohon rindang yang tumbuh di taman rumah sakit gadis itu berada, ditemani kicauan burung-burung yang banyak berterbangan kesana kemari. “Fa, are you okay?” Syifa mendengus kasar. Telinganya sudah bosan mendengar kalimat itu sedari tadi. “Lo nanya itu udah berapa kali, Joy?” “Ya ‘kan, gue khawatir sama lo, Fa.” Zoya memutar bola matanya malas. “Lagian lo dari tadi diem aja, sih.” “Gue diem karena laper, Joy. Seblak pesenan gue nggak dateng-dateng.” ***