“Gue diem karena laper, Joy. Seblak pesenan gue nggak dateng-dateng.” Syifa membuka matanya. Matanya bergerilya menatap seluruh penjuru rumah sakit untuk mencari keberadaan seseorang. Mulut zoya terbuka sempurna. Syifa yang di sampingnya ini sangat berbanding terbalik dengan Syifa yang tadi menangis terisak di ruang rawat inap. Sampai-sampai terpikirkan di kepalanya kalau sahabatnya itu mungkin kesurupan hantu rumah sakit. “Kesurupan ya, lo!” Zoya menjauhkan dirinya dari Syifa. Mengambil ancang-ancang jika sewaktu-waktu setan dalam tubuh Syifa menyerang, maka Ia sudah siap melawannya. “Pergi! Jangan rasukin sahabat gue lo, setan!” Syifa ikutan panik. Bukan karena benar-benar kesurupan seperti apa kata Zoya. Melainkan karena ada banyaknya pasang mata yang melihat ke arah mereka dengan tatapan aneh. Ia hanya ingin menghilang untuk saat ini. “Ngaco, lo! Gue baik-baik aja!” Syifa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Gue tau lo nggak punya malu, tapi gue yang malu, Joy!” Zoya mengamati Syifa dari wajah sampai kaki dengan seksama. Memastikan bahwa sahabatnya baik-baik saja seperti yang diucapkannya barusan. “Jawab cepet pertanyaan gue. Nama lo siapa?” Zoya memberi pertanyaan untuk meyakinkan dirinya sekali lagi. “Syifa Adnin Ivana!” “Mie kuah, mie goreng?” “Mie goreng!” “Cowo ganteng, cowo kaya?” “Cowo kaya!” “Upin Ipin, Doraemon?” “Upin ipin!” “Sip! Lo terverifikasi sebagai besti gue!” Zoya mengelus dadanya lega. Setidaknya semua jawaban Syifa sudah tepat di telinganya. “Gila,” desis Syifa dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ia rasa sahabatnya ini kehabisan obat warasnya. “Biar apa coba nanyain kayak gitu?” Zoya mengedikkan bahunya acuh. “Biar gue yakin, lah, kalo lo nggak kesurupan,” jawab Zoya seakan tanpa dosa. Syifa hanya geleng-geleng kepala. Disaat ia sudah cukup gila, kenapa sahabatnya yang paling pintar dan cool ini justru ikutan gila? “Eh gue penasaran banget deh, Fa. Lo jangan tersinggung tapi,” lanjut Zoya. Ia memutar tubuhnya menghadap Syifa penuh. “Apa?” “Perasaan lo gimana setelah tau kalo lo bukan anak kandung tante Sya?” Zoya tidak melepas perhatiannya sedikitpun dari wajah sahabatnya. Syifa terdiam sejenak. Pandangannya lurus menatap manusia yang tersebar di seluruh penjuru rumah sakit. “Jujur sih, gue sebenernya syok banget pas dikasih tau tadi. Tapi nggak mau munafik juga kalo sebenernya gue seneng.” Zoya sempat syok mendengar jawaban dari Syifa. Ia sampai geleng-geleng kepala. “Harusnya lo sedih, dodol! Kok malah seneng sih, padahal mau pisah sama tante Sya.” “Gimana gue nggak seneng coba?” Syifa menyahut cepat. “Emak bapak kandung gue orang kaya, Coy!” “Walaupun dulu lo dibuang?” sindir Zoya. Dirinya yang menonton drama keluarga Syifa pagi ini tentu tidak akan melupakan poin pentingnya. “Bukan dibuang, ya! Mereka nggak mampu ngidupin gue dulu,” tukas Syifa. Ia tentu tidak akan membenci orang tua kandungnya walaupun ada sedikit kekesalan dalam hatinya. “Nggak usah nyinyir deh, lo! Ntar gue jadi orkay juga idup lo ikut makmur.” “Widiih, serius?!” Zoya langsung berubah semangat. “Gue dukung lo deh, sekarang. Biar gue lebih ngirit pengeluaran,” ucapnya tanpa beban. Syifa berdecak malas. Ia harus pandai-pandai meredam emosi karena kondisinya belum memungkinkan untuk berduel satu lawan satu dengan sahabatnya itu. “Anin!” Syifa maupun Zoya menoleh ke arah sumber suara yang terdengar menggema ke seluruh penjuru rumah sakit. Bahkan sepertinya orang tuli saja bisa mendengar teriakan yang super melengking itu. Mika berlari tergesa-gesa ke arah tempat mereka berdua duduk. Zoya mengucek matanya, siapa tau matanya sedang kelilipan dan salah melihat. “Mika, Fa?” tanya Zoya tak percaya. Syifa mengangguk tanpa menoleh. Pandangannya tidak lepas dari Mika yang semakin mendekat ke arahnya. “Maaf, Sayang, aku telat!” Mika mengatur nafasnya yang memburu karena jantungnya yang berdegup kencang setelah diajak lari sprint olehnya. Peluh membasahi pelipisnya. Bahkan rambutnya basah oleh keringat. Syifa mengernyitkan dahinya. “Dari mana?” “Aku habis dar—” “Ceweknya sakit malah ditinggalin!” Zoya tidak dapat menahan kejulidan mulutnya. Ia bisa menahannya untuk siapa saja, asal bukan Mika orangnya. “Gue habis beli seblak tadi!” sahut Mika ngegas. “Terus seblaknya mana?” tanya Zoya mengintimidasi. Matanya tajam menyelidik. “Gue nggak lihat lo bawa seblak, tuh!” “Iya mana?” tambah Syifa. Ia yang sejak tadi galau menunggu seblak yang dijanjikan, tentu saja ia tidak terima jika yang ditunggu kembali tanpa seblak pesanannya. Sudahlah lama, tidak dapat apa-apa pula. “Tadi aku keliling, tapi nggak ada yang buka, Sayang. Lain kali aja ya makan seblaknya.” Saat Mika masih memutar otak mencari alasan untuk meyakinkan Syifa, dua orang yang sejak tadi mengikuti Mika itu tampak fokus dengan kegiatan mengintipnya. Bahkan mereka rela sembunyi di rerimbunan tanaman yang tumbuh subur tidak jauh dari tempat Mika berdiri. Kedua laki-laki itu mengangguk-angguk kecil. Rasa penasarannya semalam seolah terjawab tuntas setelah mereka bersembunyi di semak-semak dan menjadi bahan gibahan gratis bagi orang-orang yang tak sengaja melihat mereka. “Jadi urusan pentingnya Mika berhubungan sama calon cewek gue,” ujar Kavi seraya mengelus dagunya yang halus belum tumbuh janggut. Aidan menepuk keras belakang kepala Kavi yang bicara melantur. “Kenal aja enggak, ngaku-ngaku segala!” *** Seminggu setelah keluar dari rumah sakit, Syifa memenuhi kemauan orang tua kandungnya untuk bisa pindah dan tinggal di rumah mereka. Tentu ia tidak akan menolak, malahan ia selalu menunggu-nunggu hari ini tiba. Syifa sudah tidak sabar menjadi orang kaya. “Apalagi ya, Bu, yang perlu dibawa?” Syifa sedang mengemasi barang-barangnya dibantu oleh Syakirah. Tentu saja ada Zoya yang modus ingin membantu sahabatnya pindahan, padahal cuma ingin lihat rumah baru Syifa saja. “Coba kamu inget-inget dulu. Kalau baju emangnya mau dibawa semua?” tanya Syakirah sembari terus merapikan barang-barang Syifa kedalam koper. Padahal dalam hatinya wanita itu ingin sekali menahan Syifa agar tidak pergi dari rumahnya. Mendengar ada nada ketidakrelaan dari ibunya, Syifa lantas berpindah duduk menjadi lebih dekat dengan ibunya. “Anin bakal sering main ke sini, Ibu. Jangan sedih, ya?” ucapnya lalu memeluknya erat sembari menepuk-nepuk pelan punggung Syakirah. Syakirah mengangguk dalam dekapan putrinya. Dan lagi, air matanya turun membasahi pipi. Entah sudah berapa kali dirinya menangis hari ini, sampai matanya sembab dan sedikit bengkak. Zoya yang sedang menata buku-buku sekolahnya Syifa, diam-diam mengusap sudut matanya yang basah. Apapun jika tentang ibu, gadis itu pasti cengeng dan akan menangis. Mengurai pelukannya, Syifa menyeka buliran air mata dari pipi ibunya. “Udah dong, Ibu jangan nangis. Ntar Anin jadi ikutan nangis.” Waktu mereka sudah tidak banyak. Dari depan rumah terdengar suara klakson mobil yang mereka tahu betul kalau itu adalah orang tua kangdung Syifa yang datang menjemput. “Eh, itu mereka sudah datang. Ayo cepet Anin bawa barangnya ke depan. Zoya tolong bantu, ya?” perintah Syakirah. Syakirah lantas keluar dari kamar Syifa menuju ke depan untuk mempersilahkan tamunya masuk. Sementara itu, dua orang yang menjemput Syifa sudah berdiri di teras. “Selamat datang, Bu Sarah, Pak Pandu. Silahkan masuk dulu,” sambut Syakirah, membuka pintunya lebar-lebar. “Terimakasih, Bu,” Sarah tersenyum ramah. Wanita itu menggandeng suaminya dan bergerak masuk ke dalam rumah. “Syifa-nya udah siap belum, ya?” Syakirah tidak menjawab, karena dari dalam rumah Syifa sudah muncul dengan menyeret koper yang tidak terlalu besar. Lalu di belakangnya, menyusul Zoya dengan tas gendong dan kardus berisi buku-bukunya Syifa dan barang-barang lainnya. “Kami udah siap, Tante!” ***