“Kami udah siap, Tante!” Bukan Syifa, melainkan Zoya yang menjawab dengan semangat empat lima. Syifa melirik Zoya jengah. Kemudian gadis itu mengangguk dan tersenyum kecil untuk menyapa kedua orang tuanya. Sebenarnya Syifa masih terlalu canggung untuk berinteraksi dengan mereka. Apalagi mereka baru bertemu beberapa waktu lalu setelah belasan tahun. “Eh, Zoya ada disini juga?” Sarah tersenyum senang karena mengetahui putrinya mempunyai teman perhatian seperti Zoya. Zoya tersenyum malu-malu. “Hehe, iya, Tante. Zoya ditelpon Syifa semalem suruh bantuin.” Syifa menyikut lengan Zoya sambil melotot. Padahal Syifa tidak ada minta tolong sama sekali. Memang mulutnya Zoya saja yang pandai membuat alasan. “Wah, Zoya baik banget ya, Ma! Beruntung Syifa punya teman seperti kamu,” timpal Pandu. Lalu mereka tertawa bersama kecuali Syifa yang tahu kebenarannya. “Saya emang baik dari lahir, Om,” timpal Zoya tambah berbangga diri. “Oh iya, ini barangnya ditaro mana ya, Om? Ini Zoya bawain kardus isi buku udah kayak tukang rongsok aja.” Pandu maupun Sarah terdiam sejenak. Agak aneh rasanya melihat Zoya yang eksentrik seperti itu, tetapi mereka tidak ingin terlalu memikirkannya, karena Zoya memang aneh dari sananya. “Oh, itu ditaruh bagasi aja. Ayok kita berangkat aja kalau udah siap semua,” ujar Pandu yang kemudian berdiri dan membantu Zoya membawa barang-barang Syifa ke mobil. Sedangkan Syifa mendekati Syakirah yang sejak tadi hanya diam saja. Ia mengambil tangan ibunya, membuat Syakirah mengalihkan perhatian padanya. “Anin berangkat ya, Bu. Ibu sehat-sehat disini,” ucap Syifa lembut, kemudian mencium tangan ibunya. Syakirah menyelipkan sejumput rambut panjang Syifa. Wanita itu sudah tidak menangis, tapi sorot matanya jelas sekali sarat akan kesedihan. “Anin juga baik-baik, ya? Harus nurut sama orang tua kamu. Nggak boleh males-malesan,” pesan Syakirah seraya mengelus pucuk kepala Syifa. Matanya Syifa memerah menahan air mata. Ia sebenarnya tidak ingin berpisah dengan ibunya, tetapi disisi lain ia juga ingin hidup bersama orang tua kandungnya. Sarah yang sedari tadi menyaksikan ibu anak itu saling berpelukan, lantas ikut mendekat. Ikut larut kedalam pelukan dan hanyut dalam kesedihan. *** Mobil yang mereka tumpangi memasuki area perumahan yang tampak lenggang pagi ini. Biasanya kalau hari libur para penghuni rumah akan berlibur supaya tidak merasa suntuk di rumah. Biasa lah orang kaya. “Wahh... disini penghuninya orang kaya semua ya, Tan?” Zoya berdecak kagum sambil melihat ke luar jendela. Sepertinya jika Zoya di kurung sebulan tanpa keluar rumah juga akan betah-betah saja asal WiFi lancar dan stok makanan melimpah. Sarah tertawa jenaka mendengar celetukan teman anaknya. Wanita itu menoleh ke belakang, tepat ke arah Syifa dan Zoya duduk. “Nanti Zoya sering main ke rumah Syifa juga boleh, kok.” “Wahh... beneran, Tan?” Raut wajahnya berbinar. Lalu atensinya berpindah pada Syifa di sebelahnya yang masih sibuk memandang keluar kaca jendela. “Ntar gue nginep di rumah lo seminggu dua kali ya, Fa!” Syifa melirik sinis ke arah Zoya. Entah karena apa sahabatnya itu berubah menjadi cerewet sekali akhir-akhir ini. “Suka-suka lo, dah, Joy. Yang penting nggak ngerepotin emak gue.” “Parah, Tan. Masa Tante Sarah yang cantik membahana ini di panggil emak sama Syifa!” Zoya speechless mendengar Syifa memanggil Sarah dengan sebutan emak. Biasanya, orang kaya memiliki panggilan yang terdengar aneh. Namun, Zoya memakluminya, mengingat Syifa baru berada di ambang kehidupan berkecukupan. Dahulu, mereka berasal dari latar belakang yang sama, hidup sederhana seperti dirinya. Sarah dan Pandu hanya tertawa menanggapi Zoya yang berbicara tidak ada habisnya. Mobil berhenti setelah memasuki gerbang yang amat tinggi. Lantas, mereka semua turun dari mobil. Syifa menatap rumah barunya terkagum. Rumah mewah dengan taman yang terawat dan pintu masuk yang megah adalah lambang gaya hidup ekslusif yang tidak akan pernah mampu ia beli. Jangankan beli, bahkan hanya untuk membayangkannya saja Syifa tidak bisa. “Seriusan jadi kaum botol aqua sekali minum langsung buang ternyata gue, Joy,” bisik Syifa tepat di telinga Zoya. “Iya, Fa. Gue sekarang mengabdikan hidup dan jiwa raga ke lo, Fa. Sumpah, dah!” Mereka berdua sudah seperti anak jalanan yang dipungut keluarga kerajaan yang baik hati. Dua gadis itu dibuat terkagum-kagum sejak tadi, apalagi setelah melihat rumah mewah yang mewah banget di hadapannya. “Kalian mau sampai kapan berdiri di situ?” Syifa dan Zoya seolah ditarik kembali ke alam sadar setelah teguran Pandu menyapa telinganya. Syifa lihat ayahnya itu sudah menenteng kardus yang berisi buku-bukunya. Sementara koper berada di tangan Sarah. “Eh, iya Pak, eh— Pa...” Syifa menjawab kaku. Sepanjang perjalanan tadi, Sarah sudah mengatakan bahwa Syifa harus memanggil mereka dengan sebutan Mama dan Papa. Namun, karena belum terbiasa, hal itu terasa sulit baginya. Melihat anaknya yang masih canggung, Sarah menghampirinya dan merangkul pundaknya. Terlebih dahulu ia serahkan koper berisi baju-baju kepada suaminya. “Ayok, Sayang, kita masuk. Nanti Mama tunjukin kamar kamu dimana.” Syifa menurut. Ia mengikuti keduanya memasuki rumah yang menurutnya seperti istana itu. Belum habis dengan kekagumannya melihat betapa luas dan besarnya rumah yang akan ia tinggali, Syifa kembali dibuat melongo melihat bagian dalam rumahnya. Arsitektur rumah besar yang rumit, lampu gantung yang elegan, dan perabotan yang penuh hiasan memancarkan suasana kecanggihan yang membuatnya terkagum-kagum. “Ma, Pa, udah pulang?” Sarah dan semua yang ada disana menoleh ke arah tangga. Seorang gadis berpakaian rumahan turun dari sana seraya menguap beberapa kali. “Mana Kakak? “Syifa,” Sarah memanggil Syifa yang nampak kebingungan itu lembut. “Sini, Nak, deketan sama Mama.” Syifa menurut dan langsung mendekat. Bahunya di rangkul oleh wanita yang kini harus ia panggil “mama” itu. “Retha, ini kakak kamu, Syifa,” ucap Sarah memperkenalkan Syifa pada gadis yang masih berdiri di ujung tangga. “Syifa, dia adik kamu, Aretha.” “A-adik?” Syifa menatap gadis itu sedikit ragu karena dia terlihat sangat cantik bahkan hanya dengan memakai kaos oblong dan celana pendek. Berbanding jauh dengan dirinya. Bahkan menurutnya wajah mereka sangat berbeda jauh. “Hai, Kak! Semoga kita bisa akur,” Aretha mendekat, lalu memeluknya singkat dengan senyum mengembang di wajahnya. Sepertinya dia tipe gadis yang ceria. Syifa balas tersenyum kaku. Dia masih belum bisa mencerna, bagaimana bisa bisa mempunyai adik yang hampir seumuran ini. Cantik lagi. “Maaf ya, Sayang, Papa nggak kasih tau kamu dulu. Jadi kamu kaget gini.” Pandu mengusap punggung putrinya, berusaha mencairkan suasana. “Enggak apa-apa, Pa. Syifa santai gini, kok.” Sadar diperhatikan, Syifa buru-buru tersenyum lebar ke semua yang ada di sana. Bahkan gadis itu beberapa kali menepuk-nepuk pundak Aretha sok akrab. “Tapi muka lo keliatan kaget banget, Fa,” celetuk Zoya ikutan memperhatikan wajah sahabatnya. “Papa sama Mama tenang aja, ya? Retha bakalan baik ke Kak Syifa. Kami bakal akur,” ujar gadis itu, menatap bergantian pada orang tuanya untuk meyakinkan mereka. Lalu tangannya bergerak turun menggandeng Syifa. “Retha anter Kakak ke kamar ya, Ma, Pa.” Gadis itu langsung saja berjalan naik ke atas dengan Syifa yang berada di gandengannya. Sadar akan sesuatu, Ia berhenti dan menoleh ke belakang. “Kakak yang itu ayok ikut naik! Tolong bawain barangnya Kakakku, ya! Makasih!” Zoya yang awalnya senang karena merasa diajak, berubah kesal dalam sekejap. Gadis itu melirik tajam pada Aretha yang masih menampilkan senyum di wajahnya. Senyum yang menyebalkan menurut Zoya. Setelah berhasil menurunkan gengsinya, Zoya menghembuskan nafasnya kasar. “Oke. Biar gue yang bawa barangnya Syifa!” ***