Drama

Second Choice: Matahari - Adik Ketemu Gede - Bab 25

30 December 2025

Syifa, Zoya dan Retha kini tengah disibukkan dengan menata ulang kamar yang akan di tempati Syifa. Kata Sarah, kamar ini sengaja di kosongkan sejak pertama kali keluarga kecil mereka pindah ke rumah ini. Alasannya, tentu saja karena kamar ini akan di tempati oleh putri sulung keluarga Arsawijaya. “Reth, lemarinya dimana, dah! Perasaan dari tadi gue nyari lemari kaga nemu.” Zoya menggaruk-garuk kepalanya sambil celingukan mencari lemari baju. “Lemari segede gitu masa nggak kelihatan,” sahut Retha sambil tetap melanjutkan kegiatannya memasang seprei. “Mana? Lo tunjukin yang bener, napa!” Sudah habis kesabaran Zoya yang tinggal setipis tisu toilet. Yang ia lihat dari tadi di ruangan besar ini hanyalah banyaknya cermin besar berjejer di sisi kanan pintu. Selebihnya hanya barang yang memang harus ada di sebuah kamar, kecuali lemari. “Kak Syifa, tolong bantu Retha pasang seprei ini? Retha gregetan banget sama teman kakak yang nggak bisa berhenti ngoceh dari tadi.” Syifa terkekeh kecil melihat sahabat cantiknya itu misuh-misuh sendiri karena di katai oleh Retha. Tapi apa yang di bicarakan oleh gadis yang mendadak jadi adiknya itu memang ada benarnya sih. Dari sejak mengetahui Syifa akan pindah rumah sampai detik ini, Zoya memang lebih mendominasi pembicaraan. Mulutnya tidak berhenti membicarakan apa yang membuatnya penasaran sampai-sampai orang yang mendengarnya jadi lelah sendiri. Untungnya Syifa sudah kebal. Retha segera turu dari kasur dan berjalan mendekati jejeran cermin besar di depan Zoya. Ya, bukannya lanjut mencari lemari baju yang katanya tidak ada di kamar ini, Zoya malah asyik berkaca sambil pose-pose seperti model. Ada sekitar lima buah cermin yang saling menghubungkan satu sama lain. Retha menggeser ke lima buah cermin ke samping yang ternyata adalah pintu lemari. Lemari yang pintunya sengaja di desain sedemikian rupa itu yang membuat Zoya melongo sampai koper di tangannya terguling. “Ini lemari,” ujar Retha menunjuknya menggunakan tangannya. “Dari tadi Kak Zoya udah berdiri di depan lemari, tapi masih tanya lemari dimana.” “Makannya melek, Joy,” ledek Syifa yang kini sedang menggantikan Retha memasang seprai. Dilihatnya Zoya mendekati lemari besar itu lalu masuk ke dalamnya. “Ngapain, kocak, masuk-masuk kesitu?” seru Syifa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Ini cocok banget buat ngumpet tau,” Zoya masuk ke salah satu bilik lemari khusus untuk baju yang di gantung. “Kayak di film-film gitu, deh!” Retha menggelengkan kepalanya. “Lo mikirnya kejauhan, Kak. Pake segala bandingin sama film segala.” “Abisnya gue baru pertama kali liat secara langsung nih lemari gede. Sampe-sampe gue nggak sadar kalo ini lemari, karena pintunya pake kaca.” Zoya mengakhiri kalimatnya dengan kekehan ringan. Lebih ke menertawakan nasibnya kali ini. “Tapi jujur, gue juga sama kayak Zoya, loh, Reth. Gue kayak mimpi banget tiba-tiba tinggal di rumah sebesar ini di keluarga yang utuh,” Syifa merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang baru saja ia pasangi seprei. Zoya sudah selesai menata baju Syifa yang hanya seuprit di lemari yang sebesar itu. Bahkan di satu bilik lemari saja, baju Syifa hanya menempati pojoknya saja. Ia lantas menghampiri sahabatnya dan ikutan rebahan di sana. “Gue juga nggak nyangka bakal punya temen yang kaya raya.” Retha tertawa kecil mendengar pengakuan jujur dari kedua orang yang akan sering terlibat di hidupnya mulai sekarang ini. Sebenarnya ia juga lumayan kaget ketika orang tuanya bercerita bahwa dirinya mempunyai seorang kakak perempuan. Sejak saat itu, dirinya terus merengek ingin bertemu dengan kakaknya, dan sekarang inilah keinginannya sudah terwujud. Dan mungkin ini juga yang diinginkan kedua orangtuanya. “Gue no komen, deh,” ujar Retha mengangkat tangannya ke atas, lalu kembali tertawa. Syifa lalu mengubah posisinya menjadi duduk. Ia memusatkan perhatiannya pada adik mendadaknya itu. “Lo sekolah dimana, Reth?” “Cakrawala,” jawab Retha singkat. Gadis itu memilih duduk di meja rias menghadap ranjang. “Selain sekolahnya bagus, Cakrawala juga lebih deket dari rumah. Lo sekolah dimana, Kak?” “Serius?” Kali ini malah Zoya yang memberi respon terkejut. “Berarti lo kenal sama Mi— bfffttt.” Syifa dengan cepat membekap mulut sahabatnya yang memang tidak bisa mengontrol ucapannya. Zoya mendelik tidak terima, tapi Syifa jauh lebih menyeramkan jika melotot. “Kenal siapa tadi, Kak?” tanya Retha penasaran. “Ah, enggak, hehehe.” Syifa tertawa kecil setelah tangannya berhasil di hempaskan oleh Zoya. Syifa melirik-lirik Zoya agar gadis itu bisa mengalihkan pembicaraan ini secepatnya tanpa membuat Retha curiga. “Itu,” Suara Zoya membuat Retha mengalihkan pandangan padanya “Maksud gue, lo kenal Miya? Kenal nggak?” lanjut Zoya. Tentu saja Zoya itu tidak mengenal Miya itu siapa. Jangankan kenal dengan Miya yang beda sekolah dengannya, orang teman seangkatan di sekolahnya saja Zoya tidak kenal. Retha menggeleng sebagai jawabannya. Di hatinya masih penasaran karena Syifa yang tiba-tiba menghentikan kalimat Zoya, tapi ia tidak mau bertanya lebih jauh lagi. Biarlah mungkin mereka tidak mau urusannya di ketahui orang lain. Panggilan dari lantai bawah mengakhiri kegiatan mereka dikamar ini. Sarah memerintahkan mereka semua untuk makan siang bersama. *** Setelah makan siang bersama, Syifa berinisiatif untuk membereskan bekas makanan dan mencuci piring di dapur. Walaupun Sarah sudah melarangnya dengan keras, tapi gadis itu seolah tutup telinga. Matanya tidak bisa melihat bekas piring makan menumpuk begitu saja tanpa langsung di cuci. “Sayang, kamu ke istirahat aja ya, di kamar. Ini kan kerjaan Mama, biar nanti Mama yang beresin, ya,” bujuk Sarah entah yang ke berapa kali nya. Syifa lagi-lagi menggeleng. Sesuai pesan ibunya yang di sampaikan tadi malam, Syifa itu harus jadi anak rajin dan penurut. Tapi kalau nurut di suruh meninggalkan cucian piring seperti ini, ya, Syifa tidak mau juga. Karena menurutnya ini pekerjaan wajib yang harus dilakukan setelah selesai makan. “Syifa sebentar lagi selesai, Ma. Mending Mama aja yang istirahat.” Sejak tadi, mereka berdua itu cuma saling menyuruh istirahat saja sambil membereskan dapur dan meja makan bersama tanpa sadar. Termasuk cuci piring juga. Sarah yang dari tadi tidak berhenti membujuk Syifa agar meninggalkan kerjaan rumah ini pun, tidak hanya sekedar berbicara saja. Wanita paruh baya itu mengelapi meja makan yang berminyak, menyapu bagian dapur dan lainnya. Sementara Syifa, fokus cuci piring dan peralatan dapur yang kotor setelah di pakai Mama nya masak. Tanpa terasa, semua pekerjaan itu selesai bersamaan. Terakhir, Syifa meletakkan sarung tangan cuci piringnya di pinggiran wastafel. “Nah, udah selesai semua ‘kan, Ma? Kerjaan kalo dikerjain bareng-bareng jadi nggak kerasa gitu capeknya.” “Lah, kok iya, ya? Mama kok malah baru sadar?” ujar wanita itu setelah meletakkan sapu di tempatnya. Sarah sengaja tidak menyewa pembantu rumah tangga untuk kenyamanan bersama. Lagi pula, ia masih merasa mampu untuk mengurus rumah itu. Syifa terkekeh kecil melihat wajah bingung Sarah. Setelah bertahun-tahun lamanya mereka tidak bertemu, bahkan Syifa tidak mengenalnya, ternyata tidak membuat kecanggungan di antara mereka bertahan lama. Sifat Sarah yang bisa mengimbangi anak muda, membuat Syifa merasa keputusannya pindah dan tinggal di keluarga ini adalah benar. “Ya udah, kita ke depan aja yuk, Ma. Katanya tadi Zoya mau nonton TV yang gede banget di ruang keluarga.” Syifa bergerak menggandeng tangan Mama nya dan berjalan beriringan menuju ruang keluarga yang letaknya tidak jauh dari dapur. Sarah tidak menolak. Wanita itu justru merasa sangat senang karena putrinya dapat menerima keluarga mereka dengan cepat. ***