Pagi datang begitu cepat seolah malam tak mau bertahan sedikit lebih lama. Cahaya pagi dari sang mentari masuk ke dalam kamar melalui fentilasi udara. Syifa mengerjap perlahan, menyelaraskan cahaya yang menghantam retina matanya. Tangannya bergerak mencari ponselnya yang terletak di pengisian daya tanpa kabel atau wireless charger. 06.15 Matanya langsung terbuka begitu melihat waktu di layar ponsel. Ia bangun kesiangan karena tadi malam Retha mengajaknya maraton drakor di TV besar. Baginya menonton di TV besar itu seperti nonton bioskop. Maklumlah, di rumahnya hanya ada TV tabung 21 inchi. Selesai melamun selama lima menit guna mengumpulkan nyawa, Syifa langsung turun ke bawah. Ia melihat Sarah sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi di dapur. Sementara Pandu, asyik minum kopi sambil scroll beranda media sosial di ponselnya. “Ma, kok nggak bangunin Syifa,” ucapnya sambil beberapa kali mengucek matanya yang masih lengket. “Eh, Syifa, udah bangun, Nak?” sambut Sarah riang. Begitu pula dengan Pandu yang langsung menurunkan ponselnya. “Udah, Ma.” Syifa mencoba mengambil alih kerjaan Sarah di dapur. Gadis itu akan selalu mengingat pesan ibunya untuk selalu rajin dimana pun dirinya berada. “Gimana tidurnya? Nyaman?” tambah Pandu. Pria itu ingin sekali putrinya merasa nyaman di rumah ini. Gadis itu adalah tanggung jawabnya sekarang. Syifa menghentikan kegiatannya menata piring sejenak. Seumur-umur dirinya hidup, baru kali ini ada yang menanyakan kenyamanannya. Padahal tanpa di tanya, siapapun pasti tau kalau mulai saat ini hidupnya mulai membaik. “Nyaman banget, Pa. Makannya Syifa kesiangan sekarang.” Kekehan ringan mengiringi kalimatnya. Sarah ikut tersenyum senang. Wanita itu lekas menyiapkan semuanya karena waktu semakin beranjak siang. “Ya udah, sekarang Syifa mandi aja. Ini biar Mama yang beresin.” “Nggak apa-apa, Ma. Syifa bantuin.” Gadis itu menolak dengan sopan. “Udah nggak apa-apa. Sekalian bangunin Retha, ya? Anak itu selalu kesiangan kalo nggak dibangunin.” Jiwa emak-emak wanita itu keluar ketika teringat putri bungsunya yang manja. Syifa hanya tertawa kecil. Untuk masalah Retha, ia akan menjaga ucapannya sebisa mungkin karena takut salah bicara. Lagi pula dia baru datang disini, takutnya adiknya itu malah merasa di nomor duakan karena adanya Syifa di rumah ini. *** “Berhenti disini aja, Pa!” seru Syifa begitu mobil Pandu mulai mendekati gerbang sekolah. “Loh, kenapa?” tanya Pandu heran. Tapi ia tetap saja menuruti kemauan putrinya. Mobil menepi di sisi kanan jalan. Di seberang sana, tepatnya di gerbang utama, sudah ada pak satpam yang beberapa kali mengecek jam di tangannya membuat banyak siswa siswi berlarian mengejar waktu. Wajar saja, sebentar lagi bel masuk sudah akan berbunyi. “Nggak apa-apa, Pa. Ya udah Syifa masuk dulu,” pmit gadis itu yang kemudian mengambil tangan Pandu lalu menciumnya. “Assalamualaikum.” Syifa bergegas keluar dari mobil, lantas menyeberang jalan. Sampai di seberang, ternyata mobil Pandu masih ada disana dengan kaca mobil yang terbuka. Syifa tersenyum, lalu melambaikan tangannya sebelum kemudian ia berlari karena pak satpam sudah koar-koar di post jaga. Ini adalah kali pertama Syifa berangkat sekolah dari rumah baru. Saking asyiknya berjalan sambil membayangkan betapa menyenangkannya hari-harinya setelah ini, Ia sampai tidak sadar jika ada seseorang yang kini menyamai langkah kecilnya di sepanjang koridor. “Udah sembuh?” “Eh?” Gadis itu menoleh tepat ke arah cowok di sampingnya yang tetap berjalan lurus ke depan. “Lo ngomong sama gue?” “Menurut lo?” tanya Natha balik. Ya, cowok itu adalah Nathaniel. Syifa mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Memang benar banyak orang di sekeliling mereka, tapi semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. “Kemaren nggak masuk seminggu, katanya lo sakit,” tambah cowok itu. Kali ini Ia sedikit melirik ke arah Syifa yang dari tadi nampak sibuk dengan pikirannya. Gadis yang di ajak bicara itu mengangguk asal. Ia balas menatap Natha dengan wajah penasaran. “Kok lo tau? Lo kepoin gue ya?” “Disimpen dulu ge er nya. Gue ga sengaja liat surat izin dari dokter di meja Bu Yuli,” ujar Natha menyangkal kecurigaan Syifa. Cowok itu membuang wajahnya ke arah lain karena gadis itu tidak melepas tatapannya. “Oh ya?” Kali ini, Syifa berjalan mundur di depan Natha. Membuat cowok itu mendengus datar karena banyak di lirik siswa-siswi di sepanjang koridor menuju kelas mereka. “Hm,” Natha berdeham tidak minat. Sepertinya ia kesulitan mempertahankan wajah datarnya jika berdekatan dengan gadis itu. “Kenapa si?” tanya Syifa sambil mesem-mesem melihat wajah tampan itu merasa tidak nyaman di pandangi terus-terusan. Natha memilih bergeser ke sisi kanan dan mempercepat langkahnya agar lekas sampai di kelas. Bisa gawat kalau dia lama-lama dekat dengan Syifa. “NATHA! AILOPYU!” Teriakan super cempreng terdengar menggema di sepanjang koridor kelas dua belas. Natha menghentikan langkahnya lalu mendongak ke depan. Disana, tepat di depan pintu kelasnya, berdiri seorang gadis dengan tampilan sedikit mencolok dari gadis lainnya. Natha mendengus kesal. Cowok itu otomatis balik badan menghampiri Syifa yang tertawa kencang, seolah sangat bahagia melihatnya tertekan. For your information, Natha sebagai cowok cool yang tampan memang sudah menjadi idola akhir-akhir ini. Popularitasnya disekolah dapat mengalahkan ketua OSIS baru yang sudah banyak menyumbang piagam penghargaan dari berbagai perlombaan yang diikutinya. Tanpa basa-basi, Natha langsung menggandeng lengan Syifa dan membawanya berjalan bersama agar dirinya tidak di ganggu gadis-gadis itu. Sampai keduanya berdiri tepat di hadapan gadis yang tadi berteriak kencang padanya, Natha menatapnya dengan sorot tajam. “Minggir.” Tiga gadis di hadapannya, otomatis membuka jalan dan membiarkan idolanya masuk ke dalam. Barulah setelah Natha dan Syifa masuk, mereka seolah tersadar dan saling tatap satu sama lain. Gila! Mereka semua seolah terhipnotis oleh visual mengagumkan dari seorang Nathaniel sampai tidak sadar sedang diperhatikan seorang guru piket yang berkeliling mengecek setiap kelas. “Ngapain kalian disini? Kelas udah mau mulai, cepat masuk!” *** “Weits! Ketinggalan apa nih, gue!” Jaya, manusia paling random di kelas IPS 1 berseru melihat keributan kecil di depan kelas mereka. Cowok itu mendekati Natha yang sudah duduk ditempatnya. “Udah official nih, Nath?” Natha hanya melirik sekilas. Ia sedang malas meladeni Jaya yang kerap kali merecoki hari-harinya di sekolah. Tapi sejauh ini, hanya Jaya yang berhasil menembus tembok es yang dibangunnya. Merasa mustahil mendapat jawaban dari Natha, Jaya beralih mendatangi tempat duduk Syifa. Cowok itu menarik bangku dari barisan sebelahnya, lalu duduk tepat menghadap Syifa. “Ngapain, lo?” tanya Syifa heran. Ia merasa aneh dengan sikap Jaya yang tiba-tiba kalem seraya tersenyum manis kepadanya. Jaya menggelengkan kepalanya. Rambutnya yang mengambil potongan middle-parted hair atau rambut belah tengah, bergerak-gerak lucu mengikuti irama. “Pajak jadiannya dong, Neng!” Syifa dan Zoya spontan saling pandang. Apakah hubungan Syifa dengan siswa di luar sekolah ini diketahui Jaya? Kalaupun iya, dari mana cowok itu mengetahuinya? Sementara Syifa tak pernah sekalipun membahas kekasihnya dengan siapapun kecuali Zoya. “Lo tau Syifa udah jadian, Jay?” Zoya menyahut lebih cepat dari sahabatnya. “Tau, lah!” balas Jaya sambil terkekeh. “Siapapun pasti bakal tau kalo mereka punya hubungan. Apalagi udah berangkat bareng.” Jaya menaik turunkan alisnya untuk menggoda Syifa. Bukannya merasa malu karena di goda, Syifa justru tertawa lepas karena Jaya sudah salah sangka. Tadinya, ia sedikit khawatir karena cowok itu mengetahui hubungan spesialnya dengan seseorang. Ternyata Jaya menyangka dirinya pacaran dengan Natha yang notabenenya sebagai murid pindahan yang belum lama bergaul dengannya. “Jadi lo ngira gue pacaran sama Natha karena tadi masuk kelas barengan?” Syifa kembali memastikan asumsi yang cowok itu lontarkan dengan sisa-sisa tawanya. “Astaga Jaya, lo lucu juga ya.” Jaya menggaruk tengkuknya bingung. Apakah ia salah bicara? Padahal kan matanya melihat dengan jelas Natha menggandeng tangan Syifa saat masuk kelas. Berarti mereka punya hubungan, kan? “Lo gandengan tadi sama besti gue.” “Emang kalo gandengan berarti pacaran?” Zoya mengerlingkan alisnya. Di pikir-pikir, lucu juga meladeni Jaya si buaya darat yang dengan mudahnya menyimpulkan sesuatu berdasarkan apa yang dilihatnya. “Y-ya... enggak juga, sih. Tapi kan—” “Tapi apa, hah?” Syifa memotong kalimat Jaya cepat karena banyak siswa-siswi yang berseliweran di dekat mereka. “Udah, lah! Sana jauhan, hus hus!” “Ck, ngeselin, lo!” Jaya mendengus sebal karena kalah argumen dengan dua gadis itu. “Kalo lo bukan satu-satunya cewek yang bisa bikin Natha meleleh, gue tampol lo, Fa!” “Gaya lo, Jay! Di teriakin Devina aja ciut,” ledek Syifa sambil menikmati perubahan raut wajah Jaya. “Ah, curang lo bawa-bawa banteng merah!” rajuk Jaya sembari lirik-lirik ngeri ke arah tempat duduk Devina. Walaupun gadis itu tidak menyadarinya, tetap saja ia harus siap siaga. “Wah, parah,” ujar Zoya sambil tertawa kecil. Ia mengatur volume suaranya agar bisa di ajak kompromi. Otak cerdasnya berniat untuk mengerjai Jaya kali ini. “Dev!” Devina yang awalnya sedang sibuk menghafal materi untuk presentasi Sejarah, menoleh sambil menaikkan alisnya seolah bertanya “Ada apa?”. “Kata Jaya lo itu jelmaan banteng merah, Dev!” lanjut gadis itu yang langsung membuat Jaya ketar-ketir hanya dengan mendapat pelototan tajam dari Devina. “APA?!” pekik Devina sangat totalitas. Zoya dan Syifa hanya cengengesan menonton drama pagi sebelum kelasnya dimulai. ***