“Joy, temenin gue mau nggak?” Lepas bel pulang sekolah berbunyi, keduanya berjalan santai di koridor. Kawasan sekolah masih ramai oleh siswa-siswi yang sedang menunggu jemputan atau yang hanya sekedar mengulur waktu agar tak cepat pulang ke rumah. Tapi Syifa kali ini, punya agenda. “Kemana?” tanya Zoya sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Harusnya, ia sudah bisa pulang dua puluh menit yang lalu. Tapi karena Syifa terus merengek meminta salinan jawaban darinya dengan iming-iming jajan gratis hari besok, akhirnya hatinya yang mungil mengikhlaskan waktu berharganya. “Temenin ke makam bapak gue. Abis itu... kita beli es krim!” jawab Syifa dengan senyum lebar di ujung kalimatnya. Ia yakin tawarannya tidak bisa ditolak sahabatnya. “Es krim doang?” Zoya menaikkan sebelah alisnya. “Seblak?” Syifa menaikkan tawarannya. Zoya melipat tangan kirinya di depan dada. Sementara yang sebelah kanan mengetuk-ngetuk dagunya. “Kayaknya gue kemaren liat ada tukang sempol yang mangkal deket gerbang samping, deh,” usul Zoya. Syifa merotasikan bola matanya. Kebiasaan sahabatnya ini di beri hati malah minta ginjal. “Oke, deh. Terserah lo mau beli apa, yang penting jangan kebanyakan. Duit gue dikit!” “Oke, gaskan!” Tanpa ba-bi-bu, Zoya langsung berjalan dengan semangat berkobar. Meninggalkan Syifa yang sedikit kesal padanya. Sesuai perjanjian, kini keduanya tengah menikmati seblak seafood yang masih mengepulkan asap. Zoya mengajak sahabatnya untuk makan di tempat lesehan yang biasa mereka kunjungi dulu waktu masih duduk di bangku SMP. Karena alasan jarak, jadi mereka sudah tidak sesering dulu mampir di tempat ini. “Hoahh... ini nih, favorit gue banget!” ucap Zoya di tengah kunyahannya. Menurutnya, jika di bandingkan dengan makanan di manapun, seblak tetap nomor satu. Syifa mengusap-usap perutnya yang membuncit akibat kekenyangan. “Gue nyerah, Joy. Ga kuat lagi,” ucap Syifa seraya menggeser mangkuknya ke tengah meja. “Ih, sayang banget, tau. Mubazir udah di beli,” komentar Zoya. Syifa menggeleng kecil. Wajahnya berkeringat. Ia berhasil menghabiskan dua gelas es teh untuk meredakan pedas yang membakar lidahnya. “Lo aja yang abisin sana, seafood-nya nggak gue gigit, kok.” Zoya menatap sahabatnya sebentar. Syifa ini sering tidak menghabiskan makanan yang dibelinya. Selalu saja tersisa. Tapi meskipun begitu, ada dirinya yang siap menampung. “Kebiasaan lo, ga pernah diabisin. Makan tuh yang banyak, biar ga kerempeng!” “Gue kalo di rumah juga makan banyak kali,” Syifa merotasikan bola matanya. “Tapi ga tau kenapa, kalo makan diluar tuh, selalu kenyang sebelum habis.” Mengambil alih mangkuk milik Syifa, Zoya menyingkirkan mangkuk miliknya yang sudah kosong. “Untung gue ga kayak cewek-cewek alay yang ga mau makan bekas orang.” Setelah beberapa saat, mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah hampir gelap. Sepanjang perjalanan diisi dengan candaan yang tak ada habisnya. Mereka tidak bisa jika harus saling berdiam diri, padahal sedang bersama. “Makasih, Pak!” teriak Syifa setelah keluar dari dalam taxi. Sebelumnya, Zoya sudah diantar lebih dulu ke kostnya. Ia masuk ke pekarangan rumahnya yang luas, setelah sebelumnya dibukakan gerbang oleh satpam. Lampu di taman kecil sudah menyala, menambah kesan aesthetic di sana. Untuk yang kedua kalinya, ia benar-benar dibuat terkagum oleh pemandangan rumahnya yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. “Assalamualaikum.” Syifa membuka pintu utama pelan-pelan. Ia mengintip keadaan di dalam sebentar. Dirasa cukup sepi, ia melangkah ke dalam dengan tenang. “Dari mana, Kak?” Syifa mengehentikan langkahnya. Jantungnya berdebar kencang seperti maling ketahuan mencuri. Ia menoleh ke arah dapur. Ada Retha yang sedang menikmati segelas jus buah buah naga di sana. “Ngagetin aja sih, Reth!” Syifa mengusap dadanya. Ia memutuskan untuk menghampiri adiknya. “Ngapain disini sendiri? Mama sama Papa kemana?” Retha mengangkat gelasnya tepat di depan wajah Syifa. “Minum jus biar sehat.” Ia beranjak dari duduknya. Membuka kulkas dua pintu, dan mengambil satu gelas jus lainnya untuk diberikan pada Syifa. “Mama-Papa belum pulang. Kakak udah makan belum?” Yang ditanya mengangguk setelah meneguk jus nya. “Udah. Emangnya Mama sama Papa pergi kemana?” Retha mengedikkan bahunya. “Tadi bilangnya sih mau ada rapat sama klien besar. Tau deh, sampe jam berapa baliknya.” “Tapi nggak bilang sama aku, kok,” celetuk Syifa polos. Sepanjang hari, ponsel tidak pernah lepas dari genggamannya. Dan tidak ada satu pun pesan dari orang tuanya. “Oh iya, aku lupa!” Retha menepuk dahinya. “Tadi pagi mama suruh aku masukin nomor Kakak ke grup keluarga, tapi aku kelupaan. Bentar deh, Retha masukin dulu.” Ting! Syifa melihat beranda WhatsApp yang menampilkan Chat Group baru disana. Ia tersenyum memandangi layar ponselnya. Arsawijaya's Familly Aretha menambahkan anda *** Syifa merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah selesai membersihkan diri. Penatnya hilang seketika saat punggungnya bersentuhan dengan kasur empuk yang baru semalam dia tiduri. Gadis itu membuka room chat-nya dengan Mika. Pesan terakhirnya tadi siang masih menunjukkan centang dua abu-abu, yang berarti pesan itu belum di buka apalagi di baca oleh pacarnya itu. Gadis itu mendesah panjang. Belakangan ini, Mika selalu sibuk mengurusi kegiatan sekolahnya. Katanya. Ia sudah mencoba berpikir positif, namun hatinya menolak dan otaknya selalu mengajaknya overthinking. Sungguh melelahkan. Ia keluar dari aplikasi hijau tersebut. Lantas bangkit dan duduk di meja belajarnya untuk mengulas pelajaran esok. Walaupun ujungnya bakal mencontek Zoya, tapi setidaknya dia sudah membuka buku paketnya malam ini. Beberapa menit berlalu. Matanya mulai lelah menatap lembaran putih yang hanya berisi tulisan mengenai sejarah Indonesia pada masa demokrasi terpimpin. Sekalinya muncul gambar, ternyata gambar pahlawan nasional. Sangat tidak menarik untuk dibaca. Syifa menutup bukunya kasar. Jemarinya meraih ponsel yang nampak tenang sejak tadi. Dan benar saja, pesannya belum di balas oleh cowok itu. Karena lelah menunggu, Syifa lantas menekan tombol panggilan di pojok kanan atas room chatnya dengan Mika. “Berdering. Artinya Mika masih belum tidur kan?” batin Syifa menerka-nerka. Dua panggilan tidak terjawab. Overthinking-nya semakin menjadi-jadi saat ini. Tapi tetap saja, gengsi harus dipelihara. Syifa menelpon sekali lagi. Ia berjanji jika kali ini panggilannya tak di angkat lagi, ia akan langsung mematikan data dan tidur dengan ribuan pertanyaan bersarang di benaknya. Namun niatnya ia urungkan kala panggilannya tersambung, disusul suara serak dari seberang. “Halo, Ay?” Gadis itu diam saja tanpa berniat menjawab. Biarkan Mika tahu kalau dirinya kesal saat ini. “Maaf, aku ketiduran dari habis magrib. Capek banget tadi di sekolah habis latihan futsal,” lanjut Mika. “Ya udah, tidur lagi aja. Aku juga mau tidur.” Meskipun dongkol, gadis itu berusaha memendamnya. Hening beberapa saat, tidak ada yang bersuara. Sampai di detik ke sepuluh, terdengar suara grasak-grusuk dari lawan bicaranya. “Kamu marah?” Syifa menggeleng walaupun Mika tidak bisa melihatnya. “Enggak. Ngapain marah, ‘kan kamu capek.” “Iya deh, maaf, ya. Besok pulang sekolah sama aku aja. Kita keliling sambil jajan, okey?” Kesalnya langsung hilang entah kemana. Kesempatan berduaan seperti itu tidak boleh disia-siakan. Mengingat, kesibukan Mika akhir-akhir ini yang selalu membuatnya uring-uringan. “Okey. Ya udah, good night!” “Good night to, sayang. Love you.” Sambungan segera di putus. Jarinya lincah menari-nari diatas keyboard. Mood-nya kembali baik. Permintaan maaf dan ajakan bertemu dari Mika dapat membuatnya tersenyum sebelum tidur. Setidaknya, ia tidak tidur dengan isi kepala yang berkecamuk. Mematikan data ponselnya, lalu menaruhnya di charger portabel di atas nakas. Syifa menarik selimutnya sampai sebatas dada. Matanya mulai terpejam, bersamaan dengan munculnya banyak skenario kehidupan dalam kepalanya. ***