Drama

Second Choice: Matahari - Acara Kelas - Bab 28

30 December 2025

“Piwitt! Semangat Mikaa!” Tim futsal dari SMA Cakrawala tengah berlatih di rumput hijau yang mewarnai lapangan sekolah. Mereka adalah tim lama yang akan mengikuti turnamen antar sekolah bulan depan. Tim lama terdiri dari kelas dua belas dari berbagai jurusan, sementara tim baru terdiri dari kelas sebelas dan sepuluh. Prittt! Pak Dion yang mengambil alih posisi wasit meniup peluitnya. Mereka sudah menghabiskan waktu latihan hari ini. Dan sekarang saatnya istirahat. “Keren lo, Ka! Cewek-cewek bisa gila ngeliat skill luar biasa lo!” Kavi datang menepuk pundak sahabatnya. “Mereka tuh teriak karena Mika ganteng. Kayak nggak tau aja lo, Kav!” timpal Aidan menyangkal ucapan Kavi. Mika hanya cengengesan dibuatnya. Mereka bertiga berjalan beriringan menuju loker untuk mengambil seragam. Setelah beres ganti, barulah menuju kantin untuk mengisi tenaga. “Nasi goreng, kan? Biar gue pesenin,” tawar Aidan. Entah jin mana yang merasukinya kali ini. Padahal biasanya, Aidan yang paling malas jika di suruh mengantri membeli makanan. “Tumbenan tuh anak,” komentar Kavi. Ia hanya perlu mengekori Mika untuk mendapatkan tempat duduk. “Nanti juga gue yang suruh bayar,” balas Mika seperti sudah hapal kelakuan Aidan. Dari meja di pojok kantin, Layli melambaikan tangannya kepada mereka berdua. Sebenarnya pada Mika, tapi karena Kavi mengekor, ya jadinya berdua. “Udah beres latihannya, Ka?” sapa Layli dengan senyum mengembang di wajah ayunya. Mika mengangguk. “Udah.” Disana tidak hanya ada Layli, Nindhi dan Tari pun tak ketinggalan. Mereka memang sering bertengkar, tapi setelah itu langsung saja berbaikan. Solidaritas mereka tinggi. Tak ada canggung untuk berbaur satu sama lain. “Kita jadi makan-makan nggak, Li?” Kavi membuka suara karena tidak ada yang menyambutnya. Padahal dirinya juga tak kalah tampan dari Mika. Tapi yang di sambut hanya Mika saja. “Jadi. Lo udah bayar iyuran ‘kan kemaren?” Mika mengerutkan dahinya. Perasaan tidak ada informasi yang didengarnya kemarin, kenapa tiba-tiba ada agenda hari ini? “Kok gue gak di ajak?” “Lo udah gue bayarin, Ka.” Aidan datang bergabung bersama makanan pesanan mereka. “Kok gak bilang, sih!” tukas Mika merasa tak senang. Bukan karena tidak mau dibayarkan iyuran, tapi kalau mendadak seperti ini kan, jadi ketumpuk dengan rencana lainnya. “Biasanya nggak diajak juga lo tetep ngintil,” ledek Tari. Mengingat tidak pernah satu pun momen kebersamaan kelas mereka dilewati oleh Mika yang suka ngeksis di kelas. Ya, kalau di luar bersama orang yang belum dikenal, Mika memang berlagak pendiam seperti orang benar. Tapi kalau di kelas, sangat jahil dan tentunya ingin selalu ada di setiap jepretan kamera siswa kelas. Kavi menyesap es teh manis nya dengan nikmat. Jika sedang makan, Kavi memang lebih memilih diam ketimbang sambil mengobrol. Nanti diam-diam habis duluan. “Iya, tuh! Kayak orang sibuk aja lo, Ka,” ujar Kavi menambahi. Mika menghembuskan napasnya. Ia bimbang. Tadi malam dirinya sudah berjanji pada Syifa untuk membawanya pergi jalan-jalan sepulang sekolah. Tapi ternyata ada informasi yang tidak ia ketahui tentang hari ini. “Gue udah ada janji masalahnya,” Mika memilih jujur kepada teman-temannya agar mereka bisa mengerti posisinya. Ia tetap tidak mau ketinggalan momen, tapi tidak mau mengingkari janji juga. “Besok aja napa, sih! Gue besok free.” “Widihh, janji sama siapa lo?” Aidan memicing curiga pada Mika. Setahu mereka, Mika kan sudah jomblo sekarang. “Lo kan, jones.” “Pacar gue, lah!” sahut Mika sengit. Sepertinya mereka semua akan tahu jika dirinya sudah berpacaran dengan Syifa sekarang. “Ck.” Layli berdecak mendengar kalimat itu keluar dari mulut Mika. “Kita tuh udah mau lulus, Ka. Bikinlah momen sebanyak mungkin, karena setelah lulus nanti mungkin bakal gak ketemu dalam waktu yang lama. Lagian, wali kelas juga ikut, kok.” “Jalan sama cewek cuma ngabisin duit doang, Ka. Mending sama kita yang udah jelas rencananya,” tambah Nindhi membuat Mika sedikit tersinggung. “Duit gue banyak! Lo gak tau apa-apa mending diem, deh!” Mika beranjak pergi dari kantin. Ia harus memikirkan ulang rencananya hari ini. *** Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, cowok itu memutuskan untuk ikut agenda kelasnya. Setelah dipikir-pikir, waktu sekolah ini tidak dapat diulang lagi nantinya. Sedangkan pacar, bisa di ajak bersenang-senang kapan saja. Mika kembali ke kelas setelah jam pulang sekolah. Para murid sudah berbondong-bondong keluar sekolah, sementara kelasnya masih sibuk membicarakan acara mereka nanti. “Ikutan, Ka?” Layli menyambut kedatangan Mika sumringah. Di antara yang lain, Layli memang menjadi orang yang paling bersemangat dengan Mika. “Ikut. Sayang udah dibayarin,” jawab Mika sembari mengusung senyum manis. Langkah kakinya membawa cowok itu mendekati kedua sahabatnya yang sedang sibuk mengobrol dengan yang lain. “Oy, Ka! Lo jadi ikut kita gak? Kalo nggak, balikin duit gue yang buat bayar iyuran, lo!” Mika berdecak malas. Temannya satu itu memang sangat perhitungan pasal uang. “Sini gue bayarin harga diri lo!” “Boleh, tuh! Jual aja ke tante-tante di lampu merah,” tambah Kavi bersemangat menggoda kawan seperbobrok-annya. “Enak aja! Lo pikir gue cowok apaan,” balas Aidan sewot. Ia tidak terima atas perkataan kedua temannya. Sedang sibuk mengobrol, Layli maju ke depan kelas. Jabatannya sebagai sekretaris OSIS dan merangkap sebagai sekretaris kelas, membuatnya sedikit di segani teman sekelasnya. “Guys, dengerin gue!” Layli berujar lantang untuk mendapatkan perhatian teman-temannya. “Mending kita berangkat aja sekarang. Dari pada nanti kesorean.” Kelas yang semula senyap mendadak riuh kembali. Semuanya setuju untuk segera berangkat sekarang. Semuanya bersiap dan bergegas pergi untuk berkumpul di kediaman Layli. Aidan memilih menumpang pada Kavi. Alasannya karena sedang malas menyetir sendiri. Padahal cuma ingin kelihatan keren karena naik mobil mewahnya Kavi. “Lo mau bareng kita atau sendiri, Ka?” tanya Kavi. Mereka sudah berada di lapangan parkir sekolah. Mika menunjuk motornya dengan dagu. “Gue bawa motor. Kalian duluan aja.” Selepas itu, mobil yang ditumpangi Kavi dan Aidan perlahan bergerak keluar dari kawasan sekolah. Masih banyak murid disana, Mika segera mendekati kendaraannya. “Mika,” panggil seseorang dari arah belakang. Cowok itu menoleh ke belakang lantaran ada yang memanggil namanya. Ternyata itu adalah Layli. “Ya, kenapa, Li?” Layli menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Tatapannya menurun dengan kedua tangan memegang tali tas punggungnya. “Gue boleh bareng, gak? Soalnya tadi—” “Boleh,” putus Mika sebelum lawan bicaranya menyelesaikan kalimatnya. Lagi pula acaranya di rumah Layli, berangkat bersama tidak apa-apa bukan? Layli mengumbar senyum manisnya. “Makasih!” Mika dengan segera membagi salah satu helm pada Layli. Begitu juga dengannya yang langsung memakai helm dan memutar motornya agar lebih mudah untuk keluar dari parkiran. Mesin motor sudah menderu-deru, tapi Layli tak kunjung naik ke atas motornya. Lagi-lagi Mika menoleh dan mendapati gadis itu yang nampak kesusahan mengaitkan pengaman helm nya. “Sini gue pasangin,” Syifa berinisiatif membantu gadis itu. Dari pada kelamaan dan membuat yang lain menunggu, lebih baik ia bantu Layli memakai helm dan cepat berangkat. Layli menahan senyumnya. Wajahnya merona karena jarak Mika sedekat itu dengannya. Ternyata, rencananya berhasil. “Eum... makasih, ya, Ka.” Mika melepas jaketnya, lalu menyerahkannya pada Layli. “Tutupin paha lo pake ini. Nggak enak kalo jadi tontonan di jalan.” Oh Tuhan! Layli tidak bisa menahan kesaltingannya kali ini. Perlakuan Mika benar-benar membuatnya seperti sangat dilindungi dan dijaga. Andai saja waktu bisa diulang, akan Ia kejar cowok itu dari awal sampai benar-benar menjadi miliknya. Sudah duduk di atas jok motor, Layli memegang kedua bahu Mika. ”Yuk, jalan.” *** “Kecap, woy! Kecap mana kecap!” Vano berteriak nyaring di depan bara api. Mereka memilih membakar ayam dengan cara manual supaya rasanya lebih nikmat. Yang laki-laki disibukkan mengurusi ayam bakar, yang perempuan sibuk membuat sambal, membuat minuman, menyiapkan tempat dan masih banyak yang mereka kerjakan. Sementara wali kelas mereka yang sengaja diundang di acara makan-makan ini, diminta menunggu di dalam rumah sambil mengobrol dengan ibu Layli. Mika membawa mangkok berisi kecap yang dicampuri sedikit minyak untuk mengolesi ayam bakarnya ke pekarangan samping rumah Layli. Tempat mereka membakar ayam memang sengaja di sana, supaya tidak mengotori halaman depan rumah. “Nih, kecap. Urat leher lo bisa putus kalo apa-apa teriak,” Mika menyerahkan kecap tersebut pada Vano yang tugasnya mengipasi ayam bakar. “Tengkyu beybeh.” Mika bergidik geli mendengar Vano berbicara aneh. “Dih, najis!” Lalu setelahnya, cowok itu bergerak menghampiri Kavi yang tengah memotong-motong ayam yang sudah matang agar nantinya tidak berebut. Tangan dan wajahnya belepotan arang hitam. Entah apa yang anak itu lakukan. “Shhttt!” Kavi meremas perutnya yang tak berhenti keroncongan sejak tadi. Tadi di sekolah, ia sengaja tidak jajan banyak-banyak karena tahu akan makan-makan sepulang sekolah. Tapi ternyata cacing-cacing di perutnya sangat tidak sabaran. Menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mengecek keadaan, semua temannya terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ia mengangguk mantap, posisinya sangat mendukung untuknya mendapatkan sepotong ayam bakar untuk mengganjal perutnya. Baru saja mulutnya terbuka, sebuah flash kamera mengejutkannya. “Woy! Kavi makan duluan!” Mika berteriak dan menjauh sembari melihat hasil jepretannya. Kavi yang panik, buru-buru mengembalikan secuil ayam yang belum sempat masuk ke dalam mulutnya. “Woy, nggak ya Bab*! Parah lo fitnah gue!” Kavi mengelak. “Siapa itu yang ngomong kasar?!” Seketika Kavi membekap mulutnya sendiri ketika mendengar suara Bu Ratmi berseru dari dalam rumah Layli. Cowok itu buru-buru kabur dari tempatnya, mengikhlaskan secuil ayam bakar yang tidak jadi masuk ke dalam perut. Tidak ada yang marah. Semuanya malah merasa terhibur oleh tingkah dua bocah yang dikenal sangat akrab di sekolah itu. Malahan ada yang berkata mereka ini mirip. Mika tersenyum dengan bangga melihat gambar yang ia ambil barusan. Sebuah pose yang sangat unik dengan Kavi yang mangap dan tangannya memegang ayam bakar. Menghidupkan data ponselnya, seketika banyak pesan-pesan masuk dan beberapa panggilan tak terjawab. Mika abaikan pesan itu sejenak, untuk kemudian memposting foto tersebut di story WhatsApp-nya. ***