Second Choice: Matahari - Terabaikan - Bab 29

30 December 2025

Syifa segera mengemasi buku-bukunya begitu pelajaran terakhir usai. Hari ini Ia begitu semangat menunggu jam sekolah berakhir. Ya, biasanya juga begitu sih, hanya saja kali ini berbeda. Ia menepuk pundak Zoya pelan. Tubuhnya condong ke samping lalu berbisik di telinga sahabatnya. “Gue duluan ya, Joy. Ada agenda spesial hari ini,” “Agenda apaan?” Syifa hanya membalas pertanyaan sahabatnya dengan cengiran. Gadis itu lekas berjalan riang meninggalkan kelasnya. Langkah kakinya membawa ke luar gerbang sekolah. Sambil bersenandung kecil, Syifa berjalan mendekati halte yang berada tidak jauh dari gerbang. Ia terlampau senang sampai tidak memperhatikan langkah kakinya yang tidak sengaja menginjak tali sepatunya yang lepas. Brughh! Syifa meringis kesakitan kala tersungkur keras di trotoar. Dirinya menjada bahan tertawaan siswa siswi yang berlalu lalang hendak meninggalkan sekolahan. Sialan memang, ia sangat malu sekarang. Andai saja punya kekuatan super, gadis itu akan menghilang detik ini juga. “Ceroboh banget jadi cewek,” satu tangan terulur di depan wajahnya. Syifa mendongak dan mendapati Natha dengan wajah wajah datar tanpa ekspresi. Menyambut uluran tangan itu, Syifa segera membersihkan pakaiannya dari debu yang menempel. Sambil sesekali matanya melotot pada murid laki-laki yang lewat seraya menertawainya terang-terangan. “Namanya juga musibah, Nath. Gue kalo di suruh milih juga nggak mau kali nyungsep disini kali,” gerutu gadis itu tidak terima di katai ceroboh. Walaupun perkataan Natha ada benarnya juga. “Ya lo jalannya nggak pake mata! Liat tuh, lututnya lecet, kan!” Syifa mengerutkan dahinya. “Lah, ngapain lo yang ngegas?” “Y-ya, itu....” Natha menggaruk tengkuknya kikuk. Ia sendiri tidak tahu mengapa bisa memberi respon demikian. “Udahlah, sini, duduk dulu.” Tangannya digenggam untuk kemudian ditarik ke depan. Natha menyuruhnya untuk duduk di halte. Lalu, cowok itu mengeluarkan plester luka dari dalam tasnya. Saat hendak menempelkan benda tersebut di lutut Syifa, tangannya di cekal kuat oleh Syifa. Entah apa yang gadis itu inginkan, tapi Natha hanya melihat mata itu menatapnya terkejut. “Lo bawain plester motif begini, Nath?” Syifa mengambil alih plester luka berwarna pink dengan motif Hello Kitty dari tangan cowok itu. “Punya adek gue,” sela Natha cepat. Ia kembali merebut benda itu dari tangan Syifa. “Lo tuh, tinggal diem, anteng. Riweuh banget cuma karena plester gue warna pink.” “Aneh aja sih, gue liatnya.” Menyilangkan kedua tangannya di bawah dada, Syifa sedikit menggeser tubuhnya ke samping. “Sini duduk. Makasih.” “Sama-sama. Tapi gue harus balik sekarang. Lo mau bareng?” tawar Natha. Lalu matanya menilik jam yang melingkar di lengannya. “Bus-nya sebentar lagi dateng.” Syifa menggelengkan kepalanya tanda menolak ajakan pulang bersama. “Nggak bawa motor lo, Nath? Tumben naik bus,” tanya Syifa menyelidik. “Motor gue di bengkel.” Bersamaan dengan itu, bus yang ditunggunya tiba. Pintu terbuka tepat di hadapan cowok itu. “Gue duluan, Syif!” Syifa mengangguk sembari mengusung senyum manis. Tangannya melambai melepas cowok itu. “Daah.” Natha balas tersenyum setelah dirinya duduk di salah satu bangku yang terletak tepat di pinggir jendela. Lalu setelahnya, laju bus membawa tubuhnya menghilang dari pandangan gadis itu. Natha terpaku melihat senyuman dan lambaian tangan Syifa yang melepas kepergiannya. Hingga tanpa sadar ia memuji sosok Syifa yang terlihat bergitu manis di situasi itu. *** Pukul lima sore. Matahari sudah hampir kembali ke peraduannya. Terhitung sudah tiga jam lamanya gadis ini duduk termangu di halte. Banyak bus datang dan pergi sejak tadi, tidak membuat dirinya mengangkat bokongnya dan pergi dari sini. Syifa ingat ia ada janji. Namun entah apa yang terjadi pada orang yang ditunggunya saat ini, hingga tega tidak memunculkan batang hidungnya sampai sekarang. “Huftt!” Syifa menghembuskan napasnya kasar. Gadis itu merogoh ponselnya dari dalam saku. Kembali memandangi pesan terakhirnya satu jam lalu yang masih setia menampilkan ceklis satu berwarna abu. “Masa sih, Mika lupa kalo hari ini ada janji?” Monolognya pada diri sendiri. Ia mulai bimbang sekarang. Haruskah ia pulang karena waktu yang terus berjalan, ataukah harus menunggu lagi sedikit lebih lama? Lama berdebat dengan banyak suara di kepalanya, Syifa memutuskan untuk tinggal sebentar lagi. Ia yakin cowok itu akan datang menjemputnya. Ia yakin cowok itu tidak akan mengingkari janjinya. “Loh, Nduk, belum pulang?” Lamunannya ditarik kembali kala suara bapak-bapak penjual cilok yang sering mangkal di dekat sekolahnya menegur. Syifa mengangkat wajahnya seraya tersenyum kecil. “Belum, Pakde. Saya lagi nunggu pacar, hehe.” “Awas loh, Nduk! Jangan kelamaan disini, udah makin sore.” Ujung kumis Pakde Karto—bapak penjual cilok—bergetar-getar. “Takut ada begal.” Kalimat terakhir Pakde Karto cukup membuat Syifa bergidik ngeri. Tapi sebisa mungkin ia menanggapi beliau dengan sopan. “Iya, Pakde. Ini sebentar lagi dia dateng, kok.” Beliau mengangguk-angguk. Lantas kembali bersiap pulang karena dagangannya sudah habis. “Ya sudah kalo gitu, Pakde tak pulang dulu, ya!” Usai kepergian pedagang tua itu, Syifa kembali di buat bingung oleh pilihan yang ada. Di satu sisi ia cukup mengkhawatirkan dirinya seperti yang disampaikan pakde Karto, tapi di sisi lain, Syifa sangat ingin menunggu Mika datang. Gadis itu kembali memandangi chat terakhirnya yang masih setia berwarna abu-abu dengan perasaan tak menentu. Namun tak berselang lama, status di bawah nama sang pacar berubah menjadi online dan semua chatnya mendadak ceklis dua. Syifa memekik girang, jari-jarinya langsung lincah mengetikkan pesan di papan keyboard selagi cowok itu mengaktifkan data ponselnya. Ya, walaupun belum ceklis biru, tapi tak apa. Syifa: “Mika?” “Mika kamu udah dimana? Aku masih nunggu di halte deket sekolah.” Ia lantas berselfie pose dua jari untuk kemudian dikirimkan masih kepada orang yang sama. Syifa: “Liat nih, rambutku sampe lepek bau matahari tau.” Perasaannya mendadak senang karena berpikir Mika sebentar lagi akan membalas chatnya dan menjemputnya di sini seperti janjinya semalam. Lima menit berlalu, pesannya tak kunjung mendapat balasan. Padahal status cowok itu masih online. Tapi tunggu, ada yang berbeda di sana. Lingkaran hijau cerah mengelilingi foto profil cowok itu. Ya, Mika meng-upload story WhatsApp-nya. Tanpa pikir panjang, ia langsung melihat unggahan cowok itu, yang mungkin akan menjadi penonton story yang paling pertama. Senyum yang tadinya menghiasi wajah ayu itu mendadak lenyap. Wajah penuh ekspresi gembira itu berubah menjadi datar seketika. Syifa terkekeh miris setelah mengetahui bahwa cowok itu memang sengaja tidak datang. Bukan karena ada halangan atau apapun yang masuk di pikirannya. Gadis itu tertawa, menertawakan kebodohannya. “Goblok banget sih, Syifa. Mika tuh lagi seneng-seneng. Mau ditungguin sampe matahari terbit lagi juga gak akan dateng.” ***