Drama

Second Choice: Matahari - Minta Maaf - Bab 30

30 December 2025

“Arsawijaya's Familly” Syifa: “Ma, Pa, Syifa pulang ke rumah ibu, ya? Lagi kangen, hehe.” Mama: “Nggak pulang kesini dulu, Nak? Mama udah masak banyak dirumah.” Retha: “Sini dulu, Kak, makan dulu, nanti kesananya sekalian bawa makanan buat ibu. Retha juga mau ikut, hehehe.” Syifa: “Emm, yaudah deh, Syifa pulang kerumah dulu.” Kira-kira begitulah isi chat di grup keluarganya beberapa puluh menit yang lalu. Hingga kini sang mama menyiapkan berbagai macam masakan yang telah di siapkan untuk dibawa ke rumah Syakirah. Syifa memandangi Sarah yang sibuk menata makanan di wadah. Gadis itu sudah siap, tinggal menunggu Retha yang sedang ganti pakaian di kamarnya. Ntah karena apa adiknya itu sangat ingin ikut dengannya. “Udah, Ma, jangan banyak-banyak.” Sarah tersenyum sambil tidak berhenti memasukan apapun yang ia masak hari ini. Berbagi makanan dengan orang yang membesarkan putrinya selama ini tidak akan membuatnya kekurangan makanan. “Nggak apa-apa, lah. Nanti bilangin ke ibu, ya?” Sarah meletakkan wadah makanan di hadapan Syifa. “Maaf, Mama belum sempet main ke sana lagi.” “Nggak apa-apa kali, Ma. Lagian Mama Sarah ‘kan orang sibuk,” kekeh Syifa sambil bangkit berdiri. Dilihatnya Retha sudah turun dari kamar sambil menggendong tas punggung. “Iya tuh, Mama ‘kan orang sibuk, sampe gak punya waktu buat liburan!” timpal Retha yang sudah datang mendekat. Ternyata gadis itu mendengar obrolannya bersama sang mama. “Heh, bocil! Kamu itu kalo ngajakin liburan ya nyari waktu libur!” semprot Sarah sambil menyilangkan kedua tangannya di bawah dada. Retha yang mendengar itu hanya memutar bola matanya sambil misuh-misuh kecil dalam hati. Lalu bergegas keluar dan masuk ke mobil yang akan mereka bawa. “Cepetan, Kak Syif! Jangan lama-lama ngobrol sama orang tua!” Syifa terkikik geli menyaksikan pemandangan di hadapannya. Sehangat itu hubungan keluarga ini. Walau yang terlihat hanya percekcokan, tapi sebenarnya mereka itu saling mengerti. Hanya cara penyampaiannya saja yang berbeda. “Ooh.. jadi tuh anak mau ikut karena lagi ngambek sama mama?” Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Ada-ada aja emang anak Mama Sarah ini.” Sarah yang tadi menekuk wajah langsung merubah ekspresinya. Kembali tersenyum hangat untuknya. “Kamu juga anak gadis Mama, Sayang.” Tangan wanita itu naik mengusap sisi kepala putrinya lembut. “Hati-hati ya, di jalan. Bilang sama Retha jangan ngebut-ngebut nyetirnya, oke?” “Iya, Ma.” Syifa mengangguk kecil, lalu memeluk singkat wanita cantik itu. Pemandangan itu tertangkap oleh sepasang retina gadis yang hendak kembali keluar dari mobil karena kakaknya itu sangat lama sekali. Perlahan, sudut bibirnya terangkat, menciptakan senyum indah di wajah cantiknya. “Makasih, udah bikin Mama senyum lagi, Kak.” *** Tidak memakan waktu yang begitu lama, mobil merah mewah itu masuk ke pekarangan rumah sederhana yang terletak di gang sempit. Sempit bukan berarti tidak masuk, mobil juga masih bisa masuk untuk satu arah. “Ayo, Reth, turun,” ajak Syifa setelah mesin mobil di matikan. Gadis itu turun mendahului adiknya, sambil membawa wadah yang berisi macam-macam masakan mamanya. Retha menyusul, berlari kecil menghampiri kakaknya yang sudah berdiri di teras rumah. Retha mengusap lengannya yang terbalut sweater dengan cepat. “Kenapa, Reth?” tanya Syifa menyadari adiknya berdiri dekat-dekat dengannya sambil mengusap lengan. “Nggak apa-apa, Kak. Udah buruan ketuk pintunya,” ucap gadis tersebut seraya mendorong tubuh Syifa pelan, memaksanya untuk segera mengetuk pintu. Syifa hanya geleng-geleng kecil. Mungkin gadis kota itu tidak terbiasa berada di rumah yang sebelahnya masih kebun tersebut, pikirnya. Lagi pula, ini kali pertama Retha menginjakkan kakinya kemari, malam-malam pula. Jadi wajar saja. Baru saja tangannya terangkat, tiba-tiba pintu sudah terbuka dari dalam. Menampilkan sosok anak kecil yang tersenyum lebar di hadapannya. “Kakak Anin pulang!” “Halo Adek, kakak pulang!” Syifa juga tak kalah antusias saat kembali melihat wajah lugu itu. Walaupun dulu sering membuatnya kesal, tak dapat dipungkiri bahwa adik kecilnya itu lah yang paling ia rindukan. Ya, walaupun kini dia sudah tau bahwa mereka tidak dari rahim yang sama. Keduanya berpelukan hangat. Saling melepas rindu yang menggebu. Syifa melepas pelukannya, lalu duduk berjongkok menyetarakan tingginya dengan Ibnu—adiknya. “Ibu dimana?” Tangan mungil menunjuk ke dalam. “Itu, di depan TV sama ayah.” Lalu matanya menangkap ada sosok lain yang diam mematung di belakang kakaknya. Anak kecil itu bertanya penuh penasaran, “Itu, temen Kak Anin, ya?” Syifa hampir lupa bahwa dirinya tidak datang sendirian kesana. Gadis itu gegas berdiri, merangkul pundak Retha dengan sebelah tangannya. “Nunu, kenalin, ini namanya Kak Retha. Ini kakaknya kamu juga,” ucap Syifa dengan pembawaan nya yang ceria. Retha menggaruk tengkuknya kikuk. Anak kecil itu terus saja menatapnya tanpa berkata sepatah kata pun. Dengan jiwa anti sosialnya, gadis itu melambaikan tangannya dengan sedikit tersenyum. “H-halo....” “Nu?” Syifa menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajah Ibnu yang diam mengamati. “Itu kakaknya di sapa balik, dong.” Bukannya menuruti ucapan Syifa, Ibnu malah langsung berlari masuk ke dalam. Retha mendadak tidak enak hati karena merasa keberadaannya tidak di terima. Tapi hal itu segera di tepis Syifa sambil menarik tangannya untuk ikut masuk ke dalam. “Nggak apa-apa ya, Reth. Wajar anak kecil.” Retha mengangguk menanggapi. Keduanya masuk dan langsung menuju ruang tengah, dimana di ruangan kecil itu biasa digunakan untuk duduk bersantai sekeluarga. Syakirah nampak terkejut dengan kehadiran putri asuhnya yang tiba-tiba. Sepertinya Ibnu tidak memberitahu wanita itu. “Loh, Anin kapan datang?” Syakirah buru-buru berdiri, menyambut putrinya. “Barusan aja, Bu,” Menyalami Syakirah, gadis itu menunjuk ke arah belakangnya. “Ini Aretha, Bu. Aku dapet adek yang udah gede di sana,” kelakar Syifa sambil mengenalkan adiknya. Senyum di wajah wanita paruh baya itu tidak luntur, ia juga menyalami gadis tersebut, kemudian memeluknya singkat. “Wah, kamu cantik banget, Nak. Bener-bener mirip Bu Sarah!” Retha tersenyum malu-malu. “Hehe, Ibu bisa aja.” “Iya, loh. Beda banget sama Anin,” balas Syakirah seraya tertawa lepas. “Maksud Ibu, Anin jelek gitu?” sewot Syifa yang merasa sedang dibandingkan. Syakirah mengernyitkan keningnya. “Ya nggak gitu juga, sih. Cuma kalo dibandingin sama Retha jelas bedanya.” “Gimana nggak beda, uang skincare sedikit, tiap hari panas-panasan, pulang-pergi sekolah naik motor lagi!” Syifa berusaha membela dirinya sendiri. “Udah-udah!” Retha bersuara menengahi perdebatan. “Ayo sekarang makan aja, tadi Mama bawain makanan banyak.” Retha mengambil alih wadah makanan yang berada di tangan kakaknya, lalu membawanya ke atas tikar yang digelar di depan TV. Malam itu Aretha baru merasakan yang namanya makan lesehan. *** “Ngapain, Reth?” Setelah selesai membantu mencuci piring bekas makan bersama tadi, Syifa menyusul adiknya yang masuk kamar lebih dulu. Kondisi kamar masih sama rapihnya dengan yang terakhir kali ia lihat. Mungkin ibunya sering membersihkan, pikirnya. Retha mengangkat pandangannya dari laptop yang berada di pangkuannya. Ia sedang melanjutkan maraton drakornya semalam. “Nonton. Bingung juga sih, mau ngapain.” Syifa ikut mendudukkan dirinya di ranjang. Memutuskan untuk memainkan ponselnya. Sejak tadi data ponselnya mati, ia penasaran adakah yang mengiriminya pesan malam ini. Sederet pesan langsung masuk berturut-turut ke dalam ponselnya. Ternyata Zoya mengirimi sangat banyak chat padanya satu jam yang lalu. Dan hanya ada tiga pesan saja dari orang yang sangat-sangat ia harapkan pesannya. Mika: “Maaf ya, Sayang, aku tadi nggak jadi jemput kamu. Soalnya mendadak ada acara kelas.” “Aku udah pulang, Ay. Aku ke rumahmu, ya?” “Ay, kamu lagi dimana?” Syifa: “Aku dirumah Ibu.” Setelah mengirimkan balasan, ia kembali mematikan data ponselnya. Memutuskan untuk mengabaikan pesan chat dari Zoya yang memang biasa spam chat padanya. Tidak lama kemudian, terdengar suara knalpot motor menderu-deru di halaman depan rumah. Sudah bisa di pastikan pelakunya siapa. “Bentar ya, Reth,” pesannya pada Retha yang sedang fokus menonton. Lalu, dia buru-buru keluar kamar, tapi tidak langsung keluar. Gadis itu malah mengintip lebih dulu mengintip keadaan di luar lewat jendela. Terlihat olehnya Mika masih berada di atas motor, dengan jemari yang sibuk mengetuk layar ponselnya. Entah apa yang cowok itu lakukan. Memutuskan untuk membuka pintu, ia berdiam diri di bibir pintu menunggu Mika menghampirinya. “Hai, Sayang. Maaf ya, buat yang tadi.” Mika berjalan mendekat, mengusap sisi kepalanya, lalu menyodorkan buket mawar merah. “Ini buat cantikku. Maafin Mika ya, Cantik?” Lihatlah betapa lemah hatinya. Hanya dengan perlakuan kecil laki-laki itu, mampu merontokkan kekesalannya tadi. Syifa tidak dapat menahan senyumnya, ia menerima bunga itu dan mempersilahkan Mika masuk ke dalam. ***