Bab 1 : Writer’s Block Paling Menyebalkan
Laptop Rani sudah terbuka sejak pukul tujuh pagi. Jam meja kerjanya menunjukkan pukul sepuluh lewat empat belas. Artinya sudah lebih dari tiga jam ia duduk di kursi kerja tanpa menulis satu pun kalimat yang terdengar waras.
Tiga jam. Dua mug kopi. Satu ikat rambut yang berakhir di atas kepala seperti antena panci presto dan nol ide.
“Ya ampun, kenapa sih, otakku kayak kipas angin rusak begini? Muter nggak, bunyi iya,” desah Rani sambil menyandarkan wajah ke meja kerja. Poni depannya menempel di permukaan kayu dingin, sementara layar laptop menampilkan dokumen kosong yang memadatkan seluruh kesialan pagi ini.
Judul yang seharusnya ia tulis. 'Konsep Video Promosi TMII Untuk Generasi Muda'.
Sedang deadlinenya, sudah satu minggu yang lalu, tapi atasannya memberi tambahan waktu maksimal hingga dua minggu berikutnya. Artinya, lima hari dari sekarang dan Rani masih saja seperti ini. Kosong. Buntu. Urat kreativitasnya seperti kabel headset yang kusut.
Setiap kali mencoba memulai, hasilnya selalu terasa aneh dan tidak punya jiwa.
“TMII tempat wisata edukatif penuh nilai budaya, bukan, itu terlalu textbook.” “TMII tempat yang oke buat foto aesthetic ya, ampun ini kayak caption selebgram bayaran.” “TMII tempat wisata keluarga yang ah, sudahlah!”
Rani memukul dadanya sendiri dengan kedua tangan, seperti gorila stres. Ia berputar di kursi, mendorong pakai kaki, berputar tiga kali sampai kursinya bersuara protes.
Ia berhenti putar ketika ponselnya berbunyi. Dari pak Dimas. Atasannya langsung yang kejam sekaligus sering pakai batik kuning norak.
Pesan masuk. "Rani, konsep videonya mana? Cuma butuh dua menit, tapi kamu bisa telat dua minggu. Ini rekor terburuk baru, ya? Jangan bikin saya ngejar kamu terus."
Rani menutup wajah dengan kedua telapak tangan. “Aduh Pak, kalau saya bisa bikin konsep tanpa mikir, saya bikin. Kalau saya bisa muter otak, saya muter. Ini otak saya aja udah haus, Pak!”
Lalu pesan kedua masuk. "Hari ini kirim draft. Mau jelek atau enggak, kirim. Kalau sampai sore ini kosong, kita bahas opsi kamu diganti."
Rani hampir pingsan. Hampir. Dia menggigit bibir bawah dan melotot pada laptop seolah laptop itu yang bikin semua masalah ini terjadi.
“Aku bahkan belum tahu mau mulai dari mana, Pak! Saya butuh inspirasi! Saya butuh pencerahan dari langit! Saya butuh,” ia berhenti, melirik jendela apartemennya. Awan Jakarta tampak sangat tidak inspiratif.
Lalu tiba-tiba sebuah ide melintas, walau bukan ide kreatif soal video, tapi ide penyelamatan diri.
Ke TMII langsung. Sekarang juga. Observasi lapangan. Mencari inspirasi atau lebih tepatnya, kabur dari tekanan kantor dengan alasan noble.
Rani berdiri, memasukkan laptop, kamera, botol minum dan permen jahe ke dalam tas. Ia meraih jaket jeans dan menutup pintu apartemennya dengan semangat seorang prajurit yang baru sadar bahwa perang sebenarnya baru akan dimulai.
Saat menunggu lift, ia menatap ponselnya lagi. Satu pesan belum dibaca muncul dari grup kantor.
"Video TMII harus lucu, ringan, dan viral-friendly. Nggak usah terlalu rumit, Rani! Yang penting gampang dicerna!"
Rani refleks mengetuk dahinya ke dinding lorong.
“Lucu, ringan, viral dan friendly, ya tuhan, aku kerja bikin konten atau bikin mie instan?”
Lift berbunyi. Rani masuk, menekan tombol lantai dasar, dan bersandar. Ia menarik napas panjang.
“Kita mulai dari observasi. Mungkin ini hanya perkara lihat langsung suasana TMII. Menyerap energi budaya. Mendengarkan suara alam. Mencium aroma nostalgia masa kecil,” gumamnya.
Pintu lift terbuka.
“Dan semoga nggak ketemu turis rese atau petugas galak,” tambahnya cepat sambil berjalan keluar.
Perjalanan menuju TMII tidak panjang, tapi cukup untuk membuat Rani membaca ulang brief pekerjaannya sambil menahan pening di kepala. Taksi online yang ia naiki menyetel lagu dangdut remix yang entah kenapa makin membuat suasana hati Rani seperti ingin memukul sesuatu.
Begitu ia turun di gerbang TMII, udara yang lebih sejuk dari area pepohonan menyapanya. Tidak sepanas pusat Jakarta. Lebih adem. Lebih tenang.
Di sekelilingnya, keluarga berjalan dengan anak-anak kecil yang tertawa, beberapa pasangan muda berfoto dan rombongan ibu-ibu arisan sibuk mengatur pose dengan gaya yang terlalu dramatis untuk kamera handphone jadul mereka.
Rani memegang kamera dan tersenyum kecil. “Akhirnya tempat bernapas.”
Ia mulai berjalan memasuki area besar yang membuatnya teringat masa kecil. Terakhir kali ia ke TMII adalah saat SMA. Sudah lama sekali.
Ini tempat yang tidak banyak berubah, tapi terasa lebih hidup.
Rani membuka catatan di handphone dan mulai merekam beberapa klip. “Oke, mungkin kalau bikin video pembuka pakai footage dari gerbang utama bagus juga.”
Ia lanjut berjalan, matanya menangkap beberapa pemandu berseragam, petugas yang mengecat pagar dan beberapa musisi jalanan yang tampil di titik-titik tertentu.
Lalu ia melihatnya.
Bukan 'dia' cinta pertama. Bukan. Bukan pria tampan jatuh dari langit. Bukan scene drama Korea.
Yang ia lihat adalah kabel. Sebuah kabel panjang melintang di lantai dekat area depan, seperti jebakan yang menunggu korban, tapi sebelum ia sempat menghindar.
“Awas, Non!”
Terlambat.
Kakinya tersangkut. Badannya oleng ke depan. Kameranya terlempar dari pegangan dan Rani jatuh dengan gaya tidak elegan sama sekali.
BRAK!
“Uwah!”
Nging! Ngong!
Suara dentingan logam terdengar sangat keras. Bergema. Memalukan. Menghantam reputasi yang tidak pernah bagus sejak awal.
Rani meringis sambil membuka mata. Di hadapannya, sebuah gong kecil menggelinding pelan dan berhenti setelah menabrak kotak kain.
Seorang pria jongkok di depannya, memegang gong tersebut sambil menatapnya, bukan dengan marah, tapi dengan ekspresi yang tidak wajar untuk keadaan seburuk ini.
Ia tampak menahan tawa.
“Saya, maaf, sumpah nggak bermaksud.” Rani mencoba bangun sambil menepuk-nepuk tanah dari bajunya.
Pria itu justru tertawa. Bukan mengejek, tapi seperti sangat terhibur.
“Nggak apa-apa, nggak apa-apa, serius.” Ia mengangkat gong itu dengan dua tangan, “tapi suara gong jatuhnya barusan, aduh, itu merdu banget.”
Rani memandangnya dengan alis mengernyit. “Merdu?”
Pria itu mengangguk penuh keyakinan.
“Itu nada dasar cinta pertama.”
Rani membeku. “Hah?!"
“Suaranya, ngoooong gitu, ya kan? Ya itu. Nada cinta pertama. Soalnya bikin deg-degan, tapi kocak juga.”
Rani ingin tersinggung. Sangat ingin, tapi bibirnya justru berkedut menahan tawa. “Kamu serius?”
“Serius dong.” Ia tersenyum lebar, mata coklat tuanya berbinar. “Saya Bagas. Ini gong kesayangan saya, tapi kayaknya gongnya justru suka kamu.”
Rani menyipitkan mata. “Gong suka manusia? Logikanya di mana?”
“TMII itu tempat ajaib, Mbak. Banyak yang nggak masuk logika.” Bagas mengedipkan mata santai.
Aduh. Nyebelin. Nyebelin tapi lucu.
Rani benci kenyataan bahwa pria ini tampan. Tampan dengan cara sederhana. Rambut agak acak-acakan, kulit sawo matang, kaos putih yang dilapisi kemeja flanel merah, dan kalung kecil dari kayu tergantung di lehernya.
Ia membawa botol semprot pembersih dan kain microfiber. Sepertinya ia sedang bersih-bersih alat musik tradisional kecil di area itu.
Rani berdeham, berusaha mengumpulkan sisa harga dirinya. “Maaf soal gongnya.”
“Gongnya baik-baik aja, tapi kamu gimana? Luka? Pegal? Ego tercabik?” Bagas bertanya sambil mengulurkan tangan.
“Aku baik-baik aja,” jawab Rani, menolak tangan itu dengan sopan, tapi canggung.
“Yakin? Soalnya jatuhmu tadi, yah, lumayan dramatis.”
“Jatuh itu nggak dramatis,” bantah Rani.
“Tergantung sudut pandang,” jawab Bagas. “Kalau aku sih, melihatnya slow motion, gitu.”
Rani mengembuskan napas lelah sambil memasukkan kamera ke tas. Hari ini niatnya mencari inspirasi, bukan menjadi tontonan.
Namun, sebelum ia melangkah pergi, Bagas bertanya. “Kamu lagi ambil footage, ya? Untuk apa?”
Rani menelan saliva. “Kerjaan. Video TMII.”
“Oh!” Mata Bagas berbinar. “Kalau mau bikin konten bagus, kamu harus lihat TMII dari sisi yang nggak semua orang tahu.”
Rani mengangkat alis. “Sisi apa?”
Bagas menatapnya dengan senyum misterius.
“Sisi yang bikin kamu jatuh cinta.”
Rani mendengus. “Aku ke sini buat kerja, bukan buat jatuh cinta.”
Bagas tertawa pelan. “Kerja bisa dikejar, cinta kadang-kadang justru jatuh tanpa dijadwalkan.”
Rani meraih tas dan berbalik. “Aku pergi dulu, ya.”
“Hati-hati sama kabel,” jawab Bagas sambil menunjuk lantai. “Nanti jatuh lagi, terus gongnya makin cinta.”
Rani mempercepat langkah, tapi setelah lima langkah. Ia menoleh sebentar. Bagas masih memperhatikan gong itu sambil tersenyum dan entah kenapa, Rani merasa suasana pagi ini tidak seburuk tadi.
Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, ponselnya berbunyi lagi. Notifikasi dari Pak Dimas.
"Rani, saya tunggu draft sore ini."
Rani mendesah panjang. Ia memandang sekeliling TMII.
“Hari ini aku harus dapat inspirasi. Kalau nggak.”
Ia menggigit bibir.
“Aku resign.”
Rani belum tahu, langkah kecil berikutnya justru akan membawa ke insiden terburuk kedua hari itu yang tanpa sengaja mempertemukannya lagi dengan Bagas.