Perawan Mahal sang Penggoda - Informasi Tentang Queen - Bab 31

01 January 2026

Seperti biasa, Queen terbangun tanpa Gar di sampingnya. Peristiwa semalam terlintas kembali di kepalanya, membuatnya menghela napas pelan. Ia mengakui, semalam dirinya bertindak bodoh. Untung saja Gar masih berpikir jernih dan tidak melanggar batas kontrak mereka. Perutnya terasa mules. Queen bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi, tak lupa membawa ponselnya. Sekilas ia melirik layar. Pukul sepuluh pagi. “Dih, udah kayak rumah sendiri aja,” gumamnya kesal pada diri sendiri. “Dua kali bangun kesiangan.” Di sela kegiatannya, Queen melihat pesan dari abangnya. Seperti biasa, sang abang menanyakan keadaannya. Meski Queen kini bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, abangnya tetap rutin mengirim uangdan pagi itu pun sama. Di kamar mandi, Queen membalas pesan tersebut. Ia meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Ia bahkan mengirim bukti transfer dari Gar seratus juta sehari tanpa menyebutkan siapa Gar sebenarnya. Queen tak ingin menimbulkan pertanyaan yang berujung masalah. Abang tenang aja, aku di sini baik-baik aja. Cuma sebulan doang. Setelah mengirim pesan itu, Queen merasa sedikit lega. Namun, sambil duduk di kamar mandi, pikirannya kembali melayang pada sosok Gar. Rasa penasaran perlahan menyelinap.

Ia sempat mencari-cari informasi lagi, meski hasilnya tetap sama seperti dugaan Gar. “Beh… dia beneran jomblo,” bisiknya heran. “Tapi kenapa, ya? Padahal ganteng dan kaya banget.” Queen terdiam. Ia memikirkan makna semua yang sedang ia jalani. Tentang kontrak. Tentang perhatian Gar. Tentang rasa yang pelan-pelan tumbuh, entah ia sadari atau tidak. “Kalau cinta itu ada,” pikirnya, “ini karena apa? Karena uang? Atau karena dia?” Sebuah pikiran tiba-tiba terlintas, membuat dadanya menghangat sekaligus sesak. Sebenarnya aku bakal sangat beruntung kalau jadi istri Gar. Namun Queen buru-buru menepisnya. “Jangan mimpi, de,” katanya pada bayangannya sendiri. “Dia itu dunia atas. Orang tuanya pasti kaya, keluarganya lengkap. Sedangkan aku, cuma perempuan yang disewa.” Ia tersenyum miris. “Udah paling bener kerja begini. Habis sebulan, pensiun.” Queen lalu berdiri, membersihkan diri, dan mandi. Setelah berdandan rapi, sebelum memulai hari, ia menghubungi Deko. “Minta nasi Padang satu, yang komplit ya,” pintanya singkat. Hari baru dimulai, dengan isi kepala yang masih penuh oleh satu nama: Gar. Deko mengetuk pintu. Dari dalam, ia mendengar suara Queen mempersilakan masuk. Deko pun membuka pintu sambil membawa sebungkus nasi Padang. Melihat Queen yang masih mengenakan baju tidur piyama kelinci lengkap dengan telinganya Deko sempat tertegun beberapa detik. Apalagi saat Queen dengan wajah ceria berjalan cepat menghampirinya dan hampir merebut bungkus nasi dari tangannya. “Wah, mantap nih. Sesuai pesanan, kan?” tanya Queen antusias. Deko hanya bisa mengangguk kagum. Queen memang cantik siapa yang tidak akan terpikat? Namun ia cepat mengingatkan dirinya sendiri: Queen adalah milik tuannya. “Sesuai pesanan, Nyonya,” jawab Deko cepat dan sopan. “Ayam bagian dada dengan sayap, sambal ijo lebih, dendeng, rendang, dan perkedel dua.” “Mantap banget,” ucap Queen sumringah. “Oh iya, jam berapa Gar eh, Tuan Gar pulang?” tanyanya sambil berjalan ke arah meja. “Tidak sampai setengah jam, sepertinya, Nyonya. Saya pamit dulu.” “Oh, oke. Makasih ya. Jangan lupa makan juga,” ujar Queen tulus. “Baik, Nyonya.” Deko pun keluar. Sementara itu, Queen dengan wajah bahagia sudah tak sabar melahap nasi bungkus pesanannya. Begitu berada di luar, Deko mengeluarkan ponselnya. Ada panggilan masuk. “Ya, Tuan. Untuk informasi tentang Nyonya, saya sudah mendapatkan sedikit data.” “Oke. Aku baru selesai meeting.” Panggilan ditutup. Gar melangkah keluar dari ruang rapat. Seorang wanita pembawa berkas mengikuti di belakangnya. “Aku kembali ke ruanganku,” ucap Gar sambil menghentikan langkah. Ia menoleh ke arah asistennya. “Ingat, jangan sampai ada yang salah. Minggu depan kita ke Australia.” “Baik, Tuan.” Gar masuk ke lift khusus miliknya, menuju lantai 107 tempat Queen berada. Saat pintu lift terbuka, Deko sudah menunggu. “Tuan, ada informasi mengenai Nyonya Queen.” “Katakan.” “Nama abang Nyonya adalah Supardi. Untuk melacaknya cukup sulit. Yang saya temukan, ia sering keluar masuk penjara. Identitas orang tua mereka tidak diketahui. Namun, mereka tercatat dalam satu Kartu Keluarga, meski datanya tidak lengkap. Diduga, mereka dulunya anak jalanan.” “Anak jalanan?” Gar terkejut. Berarti semua yang Queen ceritakan memang benar. Namun satu pertanyaan terlintas di benaknya bagaimana mungkin Queen secantik itu? Apa ia melakukan operasi plastik? pikir Gar dalam hati. “Benar, Tuan,” lanjut Deko. “Sebelum satu Kartu Keluarga dengan Nyonya Queen, Supardi sempat terdaftar dalam Kartu Keluarga lain bersama seorang pria. Pria tersebut telah meninggal dunia di penjara karena kasus penculikan anak.” Gar mengangguk pelan. Kini ia semakin yakin bahwa masa lalu Queen jauh dari kata mudah. “Kau tidak bisa melacak siapa orang tua Queen?” tanya Gar. “Mungkin cukup sulit, Tuan. Tapi akan saya upayakan.” Gar membuka pintu. Matanya langsung tertuju pada Queen yang sedang makan dengan lahap sambil menonton sesuatu di ponselnya. “Fokus makan atau fokus nonton?” tanya Gar sambil menghampiri. Queen tersadar, lalu tersenyum kecil. “Eh, maaf. Aku lanjut makan dulu ya.” “Kau tidak ajak aku makan?” Gar menggoda. “Ih, aku belinya cuma sebungkus,” ucap Queen sambil sedikit memeluk nasi bungkusnya, seolah takut direbut. Gar tertawa. “Hahaha, pelit juga ternyata.” “Biarin.” Gar tersenyum lalu duduk di sofa. “Kau lagi makan aja sudah cantik.” Queen langsung tersipu. “Ih…” “Apa rahasianya?” tanya Gar santai. Queen yang sedang hendak menyuap berhenti, menatap Gar bingung. “Rahasia apa?” “Bisa secantik ini. Apa kau operasi plastik, Nur?” “Hahaha!” Queen tertawa lepas. “Kok kepikiran ke situ sih?” “Terus?” “Ini asli, ya,” jelas Queen sambil tersenyum bangga. “Dari kecil aku memang sudah cantik banget. Ya… karena abangku juga, karena duit hasil kerjaku juga aku makin terawat. Aku perawatan, tapi bukan operasi plastik.” “Kau punya foto waktu kecil?” tanya Gar penasaran. “Ada.” “Aku mau lihat.” “Di kontrakanku. Sekalian aku mau ambil sesuatu juga,” jawab Queen sambil melanjutkan makannya. Gar mengangguk. “Oke. Habis kamu makan, kita ke sana.”