KONTRAK PERASAAN

Penulis Arunaa
02 January 2026

Nama mereka memenuhi linimasa sejak pagi. Nayara Ayuna Iyara dan Elvano Aryavindra. Dua nama itu berdampingan di hampir setiap unggahan media sosial, dari akun gosip dengan jutaan pengikut hingga portal berita daring yang biasanya membahas isu politik dan ekonomi. Foto-foto kebersamaan mereka tertawa di playground, potongan video memasak di rumah Elvano, hingga momen kecil saat Elvano merapikan rambut Nayara menjadi bahan bakar bagi imajinasi publik. Komentar netizen membanjiri tanpa ampun. “YA AMPUN MEREKA GEMES BANGET” “INI BUKAN SETTINGAN SIH, KELIATAN TULUS!” “ELVANO SENYUMNYA BEDA KALAU SAMA NAYARA.” “KAPAN NIKAH???” Nayara membaca semuanya dengan perasaan campur aduk. Ia duduk di sofa ruang tamunya, ponsel di tangan, layar terus bergulir tanpa ia sadari. Satu per satu komentar membuat dadanya menghangat, lalu tiba-tiba terasa sesak. Kata-kata manis itu terasa seperti pelukan, namun juga seperti jerat yang perlahan mengikat. Ada yang pro dan ada yang kontra, bahkan beberapa akun fanbase mulai bermunculan. “Ini gila…” gumamnya lirih. Diva, yang sejak tadi berdiri di dekat jendela sambil mengintip ke luar, menoleh cepat. “Nay, kamu belum lihat depan rumah.” “Ada apa?” “Wartawan.” Satu kata itu cukup membuat jantung Nayara berdegup keras. Ia bangkit, melangkah pelan mendekati jendela, lalu mengintip di balik tirai. Benar saja. Beberapa mobil berlogo stasiun televisi terparkir di seberang jalan. Kamera besar, mikrofon dengan busa warna-warni, dan orang-orang yang tampak sibuk saling memberi aba-aba. “Mereka tahu alamatku?” suara Nayara bergetar. Diva menghela napas. “Alamat rumahmu kan udah lama bocor. Tapi biasanya mereka nggak seagresif ini.” “Sekarang beda,” bisik Nayara. “Sekarang aku… kita…” Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Di televisi yang menyala tanpa suara, wajah Nayara dan Elvano terpampang besar. Running text di bagian bawah layar bergerak cepat. KEDERATAN INFLUENCER NAYARA IYARA AYUNA DAN PEJABAT MUDA ELVANO ARYAVINDRA JADI SOROTAN PUBLIK Nayara menelan ludah. Hubungan yang seharusnya hanya berjalan di balik layar kini berdiri telanjang di hadapan dunia. Di tempat lain, situasi tak kalah kacau. Elvano baru saja keluar dari gedung pertemuan ketika kilatan kamera menyambutnya tanpa ampun. Wartawan mengerubung, suara pertanyaan saling tumpang tindih. “Pak Elvano! Benarkah Anda dan Nayara menjalin hubungan spesial?” “Apakah ini akan berpengaruh pada karier politik Anda?” “Apakah Nayara akan menjadi first lady masa depan?” Elvano menghentikan langkahnya. Wajahnya tetap tenang, senyum politik yang telah ia latih bertahun-tahun terpasang sempurna. “Terima kasih atas perhatiannya,” ujarnya singkat. “Saya harap publik bisa menghargai ruang pribadi.” Jawaban normatif. Aman. Tidak mengiyakan, tidak menolak. Namun justru itulah yang membuat spekulasi semakin liar. Sore itu, hampir semua stasiun televisi menyiarkan berita yang sama. Potongan video Nayara dan Elvano diputar berulang-ulang, dianalisis dari sudut mana pun, seolah cinta bisa diukur dari durasi tatapan dan jarak bahu, dan di tengah semua itu, seseorang tersenyum puas. Ketua partai Elvano duduk nyaman di ruangannya yang luas, menatap layar televisi dengan mata berbinar. Ia menautkan jari, lalu menoleh pada asistennya. “Lihat?” katanya puas. “Ini yang saya maksud.” Asistennya mengangguk. “Respons publik luar biasa, Pak.” “Anak muda suka cerita cinta,” lanjut sang ketua partai. “Apalagi kalau tokohnya tampan, berkuasa, dan pasangannya dicintai rakyat.” “Bagaimana dengan Nayara?” tanya asisten itu hati-hati. Sang ketua partai tersenyum tipis. “Selama dia bersinar, Elvano ikut bersinar! dan selama Elvano bersinar, partai kita diuntungkan.” Baginya, semuanya hanyalah angka dan citra. Perasaan tidak pernah masuk perhitungan. Malam itu, Elvano duduk di ruang makan rumahnya, ditemani Belinda ibunya. Perempuan itu mengaduk teh hangat di cangkirnya, matanya sesekali melirik layar ponsel. “Kamu dan Nayara jadi berita di mana-mana,” ujar Belinda pada akhirnya. Elvano sudah bisa menebak alasan dibalik kehadiran Belinda yang tiba-tiba datang menyiapkan hidangan makan malam. Elvano menghela napas pelan. “Iya, Ma. Aku tahu.” Belinda menatap anaknya lama, sorot matanya tajam namun lembut. “Mama jarang lihat kamu kelihatan… hidup seperti ini.” Elvano hanya diam, menyimak sejauh mana pembahasan yang disuguhkan Belinda kali ini. “Kamu senyum beda,” lanjut Belinda pelan. “Nggak kaku.” Elvano menunduk. Ia tahu ibunya terlalu peka untuk dibohongi. “Undang Nayara makan malam,” ucap Belinda tiba-tiba. Elvano mengangkat kepala. “Apa?” “Makan malam di rumah,” ulang Belindaa. “Mama ingin mengenalnya.” Kalimat itu terdengar sederhana, namun bagi Elvano, beratnya seperti batu besar yang jatuh tepat di dadanya. “Ma…” Elvano ragu. “Kalau dia memang penting buatmu,” ujar Belinda lembut, “Mama berhak tahu.” Elvano memejamkan mata sejenak. Ia tahu, makan malam itu bukan sekadar pertemuan keluarga. Itu adalah langkah. Pernyataan. Dan di balik semua itu, ada sebuah rahasia yang tidak boleh ikut duduk di meja makan. Kontrak perasaan. Dokumen yang mengikatnya pada sebuah kebohongan manis. Sementara itu, Nayara menerima pesan yang membuat napasnya tercekat. Elvano: Mama minta kamu makan malam di rumah. Kalau kamu keberatan, bilang aja. Nayara membaca pesan itu berulang kali. Makan malam. Bersama ibu kandung Elvano. Itu bukan bagian dari kontrak. Tidak tertulis di agenda. Tidak ada klausul tentang bertemu orang tua. Dadanya berdebar keras. Nayara: Ini… perlu? Apa mbak Laras tau? Balasan datang tak lama kemudian. Elvano: Aku nggak mau maksa. Tapi, mama bukan orang yang mudah untuk diajak kompromi, soal mbak Laras nanti aku yang bicarakan sama dia. Apakah kamu bisa Nay? Kejujuran itu justru membuat Nayara semakin goyah. Ia menutup ponsel, menyandarkan punggung di sofa, menatap langit-langit dengan mata berkaca-kaca. Dunia telah menyeret mereka terlalu jauh. Publik menuntut cerita. Media menunggu kelanjutan. Politik mengendus peluang. Dan di tengah semua itu, Nayara hanya seorang perempuan yang mulai kehilangan pijakan. Ia teringat kontrak yang pernah ia tanda tangani dengan tangan mantap, tanpa ragu, tanpa perasaan. Saat itu, semuanya terasa jelas. Hitam dan putih. Profesional. Kini, garis itu memudar. “Apa aku siap duduk di meja yang sama dengan kebohongan?” bisiknya. Di luar, kamera masih berjaga. Media sosial masih riuh. Dunia masih menyorot. Dan tanpa Nayara sadari, langkah menuju kehancuran atau kebahagiaan sedang menunggunya, tepat di balik pintu rumah Elvano, di bawah tatapan seorang ibu yang belum tahu apa-apa. Babak sandiwara mereka belum berakhir. Justru baru saja memasuki panggung paling berbahaya: tempat di mana perasaan tak lagi bisa disembunyikan. Drrrrt Drrrrttt Suara gawai bergetar diatas meja, Nayara enggan melihatnya. Ia bahkan membalikkan badan menarik selimut untuk menutup kepalanya. Perasaan Nayara campur aduk, kebimbangan membuatnya gelisah, pikirannya tak tenang. Bukan penyesalan yang bertahta, namun tentang pijakan yang harus dipilihnya setelah ini. “Nay!” Diva berteriak sambil melangkah masuk kedalam kamar. “Kamu gimana sih? Mbak Laras dari tadi nelpon nggak kamu angkat?” Tangannya bergerak menarik selimut yang menutupi kepala Nayara. “Aku lagi nggak mau ngomong Div!” Rengek Nayara dengan rambut acak-acakan, Ia terlihat frustasi.