KONTRAK PERASAAN

Penulis Arunaa
02 January 2026

“Nay!” Suara Diva kembali menggema di kamar. Tangannya kini bertolak pinggang, menatap Nayara yang masih meringkuk di bawah selimut seperti anak kecil yang menolak bangun sekolah. “Kamu nggak bisa kabur terus,” ucap Diva lebih lembut, namun tegas. “Mbak Laras nelpon bukan buat marah. Dia cuma mau ngomong.” Nayara menghela napas panjang sebelum akhirnya duduk. Rambutnya kusut, matanya sembab. Nayara tahu kemana arah pembicaan Laras, dan dia belum siap untuk memberikan jawaban perihal itu. “Aku capek, Div. Semuanya keburu terlalu jauh.” Belum sempat Diva menjawab, ponsel Nayara kembali bergetar. Kali ini, namanya tertera jelas di layar. Laras. Diva meraih ponsel itu dan menyodorkannya ke Nayara. “Angkat. Kalau kamu terus lari, kamu bakal makin tenggelam.” Dengan tangan sedikit gemetar, Nayara menggeser layar. “Assalamualaikum, Nay,” suara Laras terdengar tenang, nyaris keibuan. “Waalaikumsalam, mbak,” jawab Nayara pelan. “Mbak tahu kamu lagi berat,” lanjut Laras tanpa basa-basi. “Makanya mbak yang nelpon langsung.” Nayara terdiam. “Nay,” Laras menarik napas pelan. “Makan malam ini penting. Bukan cuma buat Elvano, tapi juga buat kamu.” “Aku takut salah langkah, mbak,” ucap Nayara akhirnya, jujur. “Aku bukan siapa-siapa di keluarganya.” “Justru itu,” sahut Laras cepat. “Belinda bukan tipe ibu yang menilai dari status. Dia menilai dari sikap.” Nayara menelan ludah. “Dan satu hal yang harus kamu tahu,” lanjut Laras lebih serius, “Belinda sudah menganggap hubungan kalian serius. Kalau kamu menolak, itu akan jadi tanda yang… tidak baik.” “Untuk Elvano?” tanya Nayara lirih. “Untuk kalian berdua,” jawab Laras tegas. “Publik sudah terlanjur percaya. Sekarang tugas kita memastikan cerita itu terlihat utuh.” Kata tugas membuat dada Nayara sesak. Nafasnya tersekat, tak bisa bebas bergerak. Bahkan menelan saliva pun terasa berat. “Mbak nggak akan biarin kamu sendirian,” Laras menambahkan. “Elvano akan melindungimu. Ikuti arahannya. Percaya.” Keheningan menggantung beberapa detik. “Aku… datang,” ucap Nayara akhirnya, nyaris berbisik. “Terima kasih, Nay,” suara Laras terdengar lega. “Kamu nggak salah pilih.” Namun Nayara tak sepenuhnya yakin akan hal itu. Malam itu, Nayara berdiri di depan cermin sekali lagi. Gaun yang ia kenakan sangatlah indah, memperlihatkan lekuk tubuh mungilnya. Elvano mengirimkan gaun berwarna hitam yang senada dengan kemejanya untuk Nayara. Pilihannya tepat, sangat sesuai dengan Nayara, memperlihatkan warna kulitnya yang cerah, dan wajahnya yang cantik nan rupawan. Saat mobil Elvano berhenti di depan rumah, Nayara menghela napas panjang. “Apapun yang terjadi,” gumamnya, “aku harus kuat.” Diva mengusap pundak Nayara. “Aku yakin kamu bisa, Nay!” Nayara mengangguk pelan, dan memperlihatkan senyuman tipisnya pada Diva. “Aku berangkat dulu ya!” Ucapnya, dan diangguki oleh Diva. Supir pribadi Elvano membukakan pintu mobil untuk Nayara. “Terimakasih, Pak!” Ucapnya lirih. Jantung Nayara berdegup dengan kencang, melihat Elvano yang duduk didalam mobil. Terlebih kemeja batik yang dikenakan Elvano senada dengan gaun yang dikenakan Nayara. “Kamu cantik!” Ucap levano pelan, dengan tatapan sendu yang membuat Nayara salah tingkah. “Hah? Hmmm aku pikir kamu nggak ikut jemput kak.” Nayara berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Malam itu, Nayara melangkah masuk ke rumah Belinda dengan perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan gugup karena kamera, bukan tegang karena publik, melainkan karena satu perempuan yang berdiri di depan pintu rumah menyambut kehadiran mereka Belinda. Perempuan itu mengenakan gaun sederhana berwarna krem, rambutnya disanggul rapi, wajahnya lembut namun sorot matanya tajam. Ia tersenyum saat melihat Nayara, namun senyum itu bukan senyum basa-basi. “Nayara,” sapanya pelan. Nayara membungkuk sopan. “Selamat malam, Tante.” Belinda mengangguk, matanya menelusuri Nayara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bukan menilai penampilan, melainkan sikap. “Terima kasih sudah datang,” ucap Belinda. Elvano berdiri di sisi Nayara. Tanpa banyak bicara, ia meletakkan tangannya di punggung Nayara, sentuhan ringan namun protektif. Gestur kecil itu tak luput dari perhatian Belinda. Namun, hal itu membuat Nayara yang semula gugup menghadapi Belinda, kini semakin tak menentu. Makan malam dimulai dalam suasana kaku. Sendok dan garpu sesekali beradu dengan piring. Percakapan ringan tentang makanan dan cuaca terasa dipaksakan. Nayara duduk tegak, mencoba menjaga napas tetap stabil. “Kalian terlihat sangat dekat,” ujar Belinda akhirnya, memecah keheningan. Nayara tercekat. Elvano langsung merespons. “Karena Nayara membuatku nyaman, Ma.” Nada suaranya tenang, mantap. Belinda menatap anaknya lama, lalu mengalihkan pandangan ke Nayara. “Kamu tahu, Nayara, hidup Elvano tidak sederhana.” Nayara mengangguk. “Saya tahu, Tante.” “Dan berada di sampingnya berarti kamu juga harus siap,” lanjut Belinda. “Sorotan, tekanan, dan penilaian.” Elvano hendak menyela, namun Nayara lebih dulu bicara. “Saya tidak pernah berniat mengambil apa pun dari Elvano,” ucap Nayara pelan, jujur. “Saya hanya… ingin berjalan bersamanya.” Jawaban itu membuat Belinda terdiam. Untuk pertama kalinya, ketegangan di udara mereda. Belinda tersenyum kecil. “Kamu berani.” Elvano melirik Nayara, matanya penuh penghargaan. Tanpa breafing terlebih dahulu, namun Nayara bisa mengimbangi perannya. “Kalau hubungan ini serius,” lanjut Belinda, “aku ingin kalian lebih dekat. Tidak hanya di balik kamera.” Nayara terkejut, bahkan terpaksa harus menelan makanan yang belum habis dikunyahhnya. Demikian juga dengan Elvano. “Publik perlu kepastian,” kata Belinda lugas. “Dan aku ingin memastikan Elvano bersama orang yang tepat.” Elvano menggenggam tangan Nayara di bawah meja. Jemarinya hangat, menenangkan. “Kami akan jalani perlahan,” ujar Elvano. “Dengan caraku! Aku ingin hubungan ini tidak menjadi konsumsi publik, biar kami menjalaninya terlebih dahulu Ma.” Belinda mengangguk. “Baik.” Suasana berubah. Makan malam yang tadinya kaku perlahan mencair. Belinda mulai bertanya tentang keluarga Nayara, masa kecilnya, impiannya. Nayara menjawab dengan jujur, tanpa dibuat-buat. Sesekali, Elvano menyelipkan perhatian kecil, menarikkan kursi Nayara, menuangkan air minum, menyelipkan tisu saat Nayara hampir menumpahkan minuman. Semua sesuai arahan Laras, dan semuanya terlihat… nyata. Belinda memperhatikan setiap detail itu. “Kamu menjaga dia dengan baik,” ujar Belinda pada Elvano. Elvano tersenyum. “Karena dia berharga.” Kata itu membuat jantung Nayara berdetak lebih cepat. Saat makan malam usai, Belinda berdiri. “Aku akan bicara pada media besok.” Elvano terkejut. “Ma?” “Aku akan menegaskan bahwa hubungan kalian serius,” ujar Belinda mantap. “Itu akan menghentikan spekulasi.” Nayara membeku. Elvano menatap Nayara sejenak, lalu kembali ke ibunya. “Aku bertanggung jawab.” Belinda menepuk bahu anaknya. “Pastikan.” Saat Nayara dan Elvano berjalan menuju mobil, udara malam terasa dingin. Nayara memeluk dirinya sendiri tanpa sadar. Elvano membuka pintu mobil, lalu menahan Nayara sebelum masuk. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya pelan. Nayara mengangguk, meski matanya berkaca-kaca. “Aku cuma… takut.” Elvano mendekat, cukup dekat hingga dunia terasa menyempit. “Selama kamu di samping aku,” ucapnya pelan, “Aku nggak akan biarin siapa pun menyakitimu.” Nayara menatapnya lama. “Ini makin jauh dari kontrak,” bisiknya. Elvano terdiam, dan di situlah Nayara tahu, kontrak itu masih ada, tapi perasaan mereka sudah melangkah terlalu jauh. Malam itu, Nayara pulang dengan satu kesadaran yang menakutkan: ia tak lagi tahu mana yang sandiwara, dan mana yang telah menjadi kenyataan.