Malam merayap pelan di kamar kos yang sempit namun rapi itu. Lampu neon menyala redup, memantulkan bayangan tipis di dinding yang mulai kusam.
Arema rebahan di atas kasur tipis beralaskan sprei abu-abu. Kedua tangannya terlipat di dada, sementara matanya menatap langit-langit kamar tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya melayang ke mana-mana.
Tentang hidupnya yang berubah drastis dalam beberapa bulan terakhir. Tentang Rino. Tentang pengkhianatan. Tentang rasa sakit yang sampai sekarang masih sesekali mencengkeram dadanya tanpa permisi. Dan tentang rasa malu yang ia simpan sendiri. Dan tentang masa depan yang terasa kabur, seperti jalan berkabut tanpa penunjuk arah.
Ia menghela napas panjang. "Kalau begini terus, aku bisa gila," gumamnya lirih.
Kesunyian kamar membuat suara detak jam dinding terdengar jelas. Tik … tok … tik … tok .… seolah mengingatkan waktu yang terus berjalan, tak peduli seberapa berantakan hidup seseorang.
Tiba-tiba, sebuah gagasan melintas begitu saja di benaknya. Arema sedikit bangkit, bersandar di bantal, alisnya mengernyit pelan.
"Gimana kalau aku pagi sampai sore kerja, terus malamnya jualan martabak di depan terminal?" batinnya.
Matanya sedikit berbinar. "Buat tambah-tambah penghasilan. Biar uangku banyak. Biar aku punya kesibukan. Biar aku juga nggak mikirin hal-hal bodoh lagi."
Arema duduk tegak. Bayangan gerobak martabak, wajan panas, aroma mentega yang meleleh, suara desis adonan, dan pembeli yang lalu-lalang di depan terminal muncul di kepalanya.
Itu bukan hal asing baginya. Sejak kecil, Arema sudah terbiasa membantu orang tuanya jualan martabak. Tangannya sudah hafal gerakan menuang adonan, membalik martabak, menabur topping, hingga melipatnya rapi.
Perlahan, sudut bibirnya terangkat. "Kenapa nggak?" gumamnya.
Rasa lelah memang ada. Tapi dibandingkan dengan rasa hampa yang terus menghantuinya setiap malam, lelah fisik rasanya jauh lebih mudah ditoleransi.
"Aku pengin uangku banyak," batinnya lagi. "Biar aku nggak bergantung sama siapa pun. Biar aku nggak ngerasa kecil."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arema tertidur dengan pikiran yang sedikit lebih ringan.
**
Keesokan harinya, matahari sudah tinggi ketika Arema terbangun. Sinar pagi menyusup lewat celah gorden tipis kamarnya. Ia melirik ponsel di samping bantal. Hari itu adalah hari Minggu.
Hari di mana toko pakaian tempatnya bekerja libur. Arema bangkit, mandi, lalu berdiri di depan cermin kecil yang menempel di dinding. Rambutnya diikat sederhana.
Wajahnya masih terlihat pucat, tapi sorot matanya tak lagi sepenuhnya kosong.
"Hari ini aku akan pulang," gumamnya pada bayangannya sendiri.
Setelah bersiap, Arema keluar dari kos dan memesan ojek online. Perjalanan menuju rumah terasa berbeda. Jalanan yang dulu sering ia lewati kini menghadirkan perasaan campur aduk, rindu, cemas, dan sedikit takut.
Ketika motor berhenti di depan rumah sederhana itu, hatinya berdebar.
Rumah itu tak banyak berubah. Dindingnya masih sama, pot-pot bunga berjajar di teras, dan halaman depan terlihat bersih.
Di halaman, Salma sedang menyapu. Arema turun dari motor, membayar ongkos, lalu berdiri beberapa langkah dari pagar.
"Bunda!" serunya.
Salma menghentikan gerakan sapunya. Awalnya ia hanya menoleh sekilas, lalu tubuhnya membeku.
"Rema?" Suaranya bergetar.
Sapu itu jatuh ke tanah. "Rema!" Salma berlari kecil menghampiri putrinya, memeluknya erat tanpa sempat berkata apa-apa.
"Ya Allah, kamu dari mana saja, Nak?" Suara Salma bergetar di bahu Arema.
"Bunda sama ayah khawatir, takut kamu kenapa-kenapa."
Arema memejamkan mata, membalas pelukan itu. "Maaf, Bun," lirihnya.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Salma tak henti menatap wajah putrinya, seolah memastikan Arema benar-benar ada di hadapannya, bukan sekadar bayangan.
Mereka duduk berhadapan. Arema pun mulai bercerita. Tentang pekerjaannya di toko pakaian. Tentang kos kecil dekat terminal. Tentang hidupnya sekarang yang sederhana tapi perlahan tertata.
"Ya ampun, kenapa kamu nggak cerita sama kita?" Salma mengusap dada. "Bunda nggak bakal ngelarang kamu kerja, Nak."
Arema menunduk. Bibirnya terkatup rapat. Ia tak ingin mengungkit lagi pertengkaran malam itu. Ia lelah.
"Bun." Akhirnya Arema membuka suara, "aku punya rencana."
Salma menatapnya penuh perhatian ....
"Pagi sampai sore aku kerja di toko. Malemnya, aku mau jualan martabak di dekat terminal. Biar ada tambahan pemasukan. Jadi aku mau bawa gerobak martabak ke kos."
Salma terdiam sejenak. "Apa kamu nggak capek?" nada cemas langsung terdengar. "Nanti kamu sakit kalau tenagamu terlalu diporsir."
Arema tersenyum kecil. "Kalau capek kan bisa libur jualannya. Cuma buat kesibukan aja, Bun. Kadang aku nggak bisa tidur cepat. Daripada bengong, mikir yang nggak-nggak, mending cari uang."
Ia menatap ibunya mantap. "Aku pengin mandiri." Salma menghela napas panjang. Ada bangga, ada cemas, ada pasrah.
"Ya sudah," katanya akhirnya. "Kalau itu keputusan kamu, bunda cuma bisa doain. Tapi ingat, jaga kesehatan."
Arema mengangguk dalam senyumnya.
Sore harinya, suara motor Wawan terdengar memasuki halaman. Pria itu baru pulang dari kerja, tubuhnya lelah, bajunya masih berdebu semen.
"Lho, Rema?" Wawan tertegun melihat putrinya duduk di ruang tengah.
"Iya, Yah," Arema tersenyum kecil.
Salma pun menceritakan semuanya kepada suaminya itu.
O, jadi sekarang kamu kerja di toko baju?" Wawan tersenyum ramah.
"Bagus. Ayah senang kamu mau usaha." Wawan menepuk bahu Arema pelan.
"Kalau malam mau jualan martabak, ayah dukung. Yang penting kamu jujur sama diri sendiri dan nggak nyusahin orang."
Salma hanya diam. Dalam hatinya ada rahasia besar yang ia simpan. Tentang kejadian malam itu. Tentang tamparan. Tentang pengakuan Arema. Namun melihat putrinya kini berdiri lebih tegak dan punya tujuan, Salma memilih diam.
Ia tak ingin membuka luka lama. Keesokan harinya, Wawan menyewa mobil bak kecil. Gerobak martabak dimuat dengan hati-hati. Salma ikut menemani.
Perjalanan menuju kos terasa sunyi, tapi hangat. Sesampainya di kos, mereka menurunkan gerobak.
"Rema," kata Salma pelan, "kalau toko libur atau hari Minggu, pulang ya. Biar kita nggak kayak orang asing."
Arema mengangguk. "Iya, Bun. Kemarin aku takut bunda marah."
Salma tersenyum tipis. "Bunda cuma khawatir kamu kenapa-kenapa."
Wawan ikut bicara, suaranya tegas namun hangat. "Kamu sekarang fokus kerja. Kumpulin uang. Urus hidup kamu sendiri. Dan satu lagi … untuk sementara, jangan mikirin cowok dulu."
Arema menunduk.
"Nanti kerjaan kamu kacau. Hidup kamu juga ikut kacau," lanjut Wawan.
Arema hanya mengangguk. Dalam hatinya, ia tahu, saran itu benar.
Saat mobil kembali melaju meninggalkan kos, Arema berdiri sendirian di depan gerobak martabak miliknya. Ia mengusap besi dingin itu pelan.
"Ini awal baruku," batinnya.
"Entah berat atau tidak, aku harus kuat."
Malam mulai turun, dan untuk pertama kalinya sejak lama, Arema merasa, ia tidak sendirian menghadapi hidup.Malam merayap pelan di kamar kos yang sempit namun rapi itu. Lampu neon menyala redup, memantulkan bayangan tipis di dinding yang mulai kusam.
Arema rebahan di atas kasur tipis beralaskan sprei abu-abu. Kedua tangannya terlipat di dada, sementara matanya menatap langit-langit kamar tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya melayang ke mana-mana.
Tentang hidupnya yang berubah drastis dalam beberapa bulan terakhir. Tentang Rino. Tentang pengkhianatan. Tentang rasa sakit yang sampai sekarang masih sesekali mencengkeram dadanya tanpa permisi. Dan tentang rasa malu yang ia simpan sendiri. Dan tentang masa depan yang terasa kabur, seperti jalan berkabut tanpa penunjuk arah.
Ia menghela napas panjang. "Kalau begini terus, aku bisa gila," gumamnya lirih.
Kesunyian kamar membuat suara detak jam dinding terdengar jelas. Tik … tok … tik … tok .… seolah mengingatkan waktu yang terus berjalan, tak peduli seberapa berantakan hidup seseorang.
Tiba-tiba, sebuah gagasan melintas begitu saja di benaknya. Arema sedikit bangkit, bersandar di bantal, alisnya mengernyit pelan.
"Gimana kalau aku pagi sampai sore kerja, terus malamnya jualan martabak di depan terminal?" batinnya.
Matanya sedikit berbinar. "Buat tambah-tambah penghasilan. Biar uangku banyak. Biar aku punya kesibukan. Biar aku juga nggak mikirin hal-hal bodoh lagi."
Arema duduk tegak. Bayangan gerobak martabak, wajan panas, aroma mentega yang meleleh, suara desis adonan, dan pembeli yang lalu-lalang di depan terminal muncul di kepalanya.
Itu bukan hal asing baginya. Sejak kecil, Arema sudah terbiasa membantu orang tuanya jualan martabak. Tangannya sudah hafal gerakan menuang adonan, membalik martabak, menabur topping, hingga melipatnya rapi.
Perlahan, sudut bibirnya terangkat. "Kenapa nggak?" gumamnya.
Rasa lelah memang ada. Tapi dibandingkan dengan rasa hampa yang terus menghantuinya setiap malam, lelah fisik rasanya jauh lebih mudah ditoleransi.
"Aku pengin uangku banyak," batinnya lagi. "Biar aku nggak bergantung sama siapa pun. Biar aku nggak ngerasa kecil."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arema tertidur dengan pikiran yang sedikit lebih ringan.
**
Keesokan harinya, matahari sudah tinggi ketika Arema terbangun. Sinar pagi menyusup lewat celah gorden tipis kamarnya. Ia melirik ponsel di samping bantal. Hari itu adalah hari Minggu.
Hari di mana toko pakaian tempatnya bekerja libur. Arema bangkit, mandi, lalu berdiri di depan cermin kecil yang menempel di dinding. Rambutnya diikat sederhana.
Wajahnya masih terlihat pucat, tapi sorot matanya tak lagi sepenuhnya kosong.
"Hari ini aku akan pulang," gumamnya pada bayangannya sendiri.
Setelah bersiap, Arema keluar dari kos dan memesan ojek online. Perjalanan menuju rumah terasa berbeda. Jalanan yang dulu sering ia lewati kini menghadirkan perasaan campur aduk, rindu, cemas, dan sedikit takut.
Ketika motor berhenti di depan rumah sederhana itu, hatinya berdebar.
Rumah itu tak banyak berubah. Dindingnya masih sama, pot-pot bunga berjajar di teras, dan halaman depan terlihat bersih.
Di halaman, Salma sedang menyapu. Arema turun dari motor, membayar ongkos, lalu berdiri beberapa langkah dari pagar.
"Bunda!" serunya.
Salma menghentikan gerakan sapunya. Awalnya ia hanya menoleh sekilas, lalu tubuhnya membeku.
"Rema?" Suaranya bergetar.
Sapu itu jatuh ke tanah. "Rema!" Salma berlari kecil menghampiri putrinya, memeluknya erat tanpa sempat berkata apa-apa.
"Ya Allah, kamu dari mana saja, Nak?" Suara Salma bergetar di bahu Arema.
"Bunda sama ayah khawatir, takut kamu kenapa-kenapa."
Arema memejamkan mata, membalas pelukan itu. "Maaf, Bun," lirihnya.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Salma tak henti menatap wajah putrinya, seolah memastikan Arema benar-benar ada di hadapannya, bukan sekadar bayangan.
Mereka duduk berhadapan. Arema pun mulai bercerita. Tentang pekerjaannya di toko pakaian. Tentang kos kecil dekat terminal. Tentang hidupnya sekarang yang sederhana tapi perlahan tertata.
"Ya ampun, kenapa kamu nggak cerita sama kita?" Salma mengusap dada. "Bunda nggak bakal ngelarang kamu kerja, Nak."
Arema menunduk. Bibirnya terkatup rapat. Ia tak ingin mengungkit lagi pertengkaran malam itu. Ia lelah.
"Bun." Akhirnya Arema membuka suara, "aku punya rencana."
Salma menatapnya penuh perhatian ....
"Pagi sampai sore aku kerja di toko. Malemnya, aku mau jualan martabak di dekat terminal. Biar ada tambahan pemasukan. Jadi aku mau bawa gerobak martabak ke kos."
Salma terdiam sejenak. "Apa kamu nggak capek?" nada cemas langsung terdengar. "Nanti kamu sakit kalau tenagamu terlalu diporsir."
Arema tersenyum kecil. "Kalau capek kan bisa libur jualannya. Cuma buat kesibukan aja, Bun. Kadang aku nggak bisa tidur cepat. Daripada bengong, mikir yang nggak-nggak, mending cari uang."
Ia menatap ibunya mantap. "Aku pengin mandiri." Salma menghela napas panjang. Ada bangga, ada cemas, ada pasrah.
"Ya sudah," katanya akhirnya. "Kalau itu keputusan kamu, bunda cuma bisa doain. Tapi ingat, jaga kesehatan."
Arema mengangguk dalam senyumnya.
Sore harinya, suara motor Wawan terdengar memasuki halaman. Pria itu baru pulang dari kerja, tubuhnya lelah, bajunya masih berdebu semen.
"Lho, Rema?" Wawan tertegun melihat putrinya duduk di ruang tengah.
"Iya, Yah," Arema tersenyum kecil.
Salma pun menceritakan semuanya kepada suaminya itu.
O, jadi sekarang kamu kerja di toko baju?" Wawan tersenyum ramah.
"Bagus. Ayah senang kamu mau usaha." Wawan menepuk bahu Arema pelan.
"Kalau malam mau jualan martabak, ayah dukung. Yang penting kamu jujur sama diri sendiri dan nggak nyusahin orang."
Salma hanya diam. Dalam hatinya ada rahasia besar yang ia simpan. Tentang kejadian malam itu. Tentang tamparan. Tentang pengakuan Arema. Namun melihat putrinya kini berdiri lebih tegak dan punya tujuan, Salma memilih diam.
Ia tak ingin membuka luka lama. Keesokan harinya, Wawan menyewa mobil bak kecil. Gerobak martabak dimuat dengan hati-hati. Salma ikut menemani.
Perjalanan menuju kos terasa sunyi, tapi hangat. Sesampainya di kos, mereka menurunkan gerobak.
"Rema," kata Salma pelan, "kalau toko libur atau hari Minggu, pulang ya. Biar kita nggak kayak orang asing."
Arema mengangguk. "Iya, Bun. Kemarin aku takut bunda marah."
Salma tersenyum tipis. "Bunda cuma khawatir kamu kenapa-kenapa."
Wawan ikut bicara, suaranya tegas namun hangat. "Kamu sekarang fokus kerja. Kumpulin uang. Urus hidup kamu sendiri. Dan satu lagi … untuk sementara, jangan mikirin cowok dulu."
Arema menunduk.
"Nanti kerjaan kamu kacau. Hidup kamu juga ikut kacau," lanjut Wawan.
Arema hanya mengangguk. Dalam hatinya, ia tahu, saran itu benar.
Saat mobil kembali melaju meninggalkan kos, Arema berdiri sendirian di depan gerobak martabak miliknya. Ia mengusap besi dingin itu pelan.
"Ini awal baruku," batinnya.
"Entah berat atau tidak, aku harus kuat."
Malam mulai turun, dan untuk pertama kalinya sejak lama, Arema merasa, ia tidak sendirian menghadapi hidup.