KONTRAK PERASAAN

Penulis Arunaa
02 January 2026

Nayara sadar, langkahnya malam itu bukanlah sekadar menghadiri makan malam melainkan melangkah lebih dalam ke kebohongan yang terasa seperti rumah. Sebuah kebohongan yang, entah bagaimana, mulai ia harapkan tak pernah terbongkar. Tidak ada yang memperkirakan pagi itu akan menjadi sedahsyat ini. Belinda Sudibyo awalnya hanya berniat menghadiri acara sosial sederhana, peresmian galeri seni milik sahabat lamanya. Tidak ada konferensi pers, tidak ada rencana berbicara di depan kamera. Ia datang sebagai seorang ibu, bukan tokoh publik. Namun dunia tidak pernah memberi ruang bagi orang-orang yang berada terlalu dekat dengan kekuasaan. Begitu mobilnya berhenti di pelataran gedung, suara teriakan langsung menyambut. “Bu Belinda! Bu Belinda, sebentar saja!” “Kami dari akun gosip terpanas, boleh minta komentar?” “Komentar soal Elvano dan Nayara, Bu!” Belinda berhenti melangkah. Ia menoleh, menatap deretan kamera dan ponsel yang teracung, lampu flash berkedip tanpa ampun. Di wajahnya tidak ada kepanikan. Tidak ada pula keterkejutan. Ia hanya menghela napas kecil seolah sudah menduga momen ini akan datang, cepat atau lambat. Lagi pula ini adalah kesempatan emas yang bisa digunakan untuk menapik hubungan Nayara dengan pria menyebalkan yang selalu berusaha tampil di media. Ya, ternyata Belinda mengikuti berita itu. Hal itu juga yang menjadi dasar bagi dirinya untuk meyakinkan publik jika Nayara merupakan kekasih anaknya. “Baik,” katanya akhirnya. “Sebentar saja.” Kerumunan langsung mendekat. Mikrofon diarahkan. Live streaming dimulai. “Bu Belinda,” suara seorang pewawancara terdengar antusias, “hubungan putra Anda, Pak Elvano Aryavindra, dengan Nayara Ayuna Iyara sedang menjadi sorotan besar. Bolehkah kami tahu bagaimana tanggapan Anda sebagai seorang ibu?” Belinda tersenyum. Senyum seorang perempuan yang telah melewati terlalu banyak badai untuk gentar oleh sorotan kamera. “Saya mengenal Nayara,” katanya tenang. “Vano bahkan sudah mengajak kami makan malam bersama, dan saya melihat kedekatan mereka.” Kata itu, ‘kedekatan’ langsung meledak di linimasa. Komentar bermunculan cepat, berlapis-lapis. “BUKANNYA NAFIK LAGI NIH” “IBUNYA UDAH NGAKU” “INI FIX BUKAN SETTINGAN” Belinda melanjutkan, suaranya tetap stabil. “Sebagai ibu, tentu saya mendukung hubungan anak saya selama itu membawa hal positif.” Seorang reporter lain menyela cepat, “Apakah ini berarti hubungan mereka serius, Bu?” Belinda tertawa kecil, ringan, namun sarat makna. “Saya seorang ibu, dan seperti kebanyakan ibu lainnya, saya tentu ingin melihat anak saya menikah. Apalagi usia Vano saat ini sudah sangat matang untuk menikah, karirnya juga bagus.” Hening sepersekian detik. Lalu gemuruh. “Dan jujur saja,” lanjut Belinda tanpa ragu, “saya sudah tidak sabar ingin menimang cucu.” Kalimat itu menjadi pemicu ledakan. Potongan video itu menyebar lebih cepat dari api. Dalam hitungan menit, nama Belinda, Elvano, dan Nayara kembali memenuhi trending topik. Media televisi memutarnya berulang-ulang, portal berita memasang judul sensasional. IBU ELVANO DUKUNG HUBUNGAN DENGAN NAYARA, SINGGUNG PERNIKAHAN DAN CUCU Publik terbelah. Pendukung Nayara membanjiri kolom komentar dengan air mata haru. “YA ALLAH BAPER PARAH” “IBU RESTU ADALAH SEGALANYA” “INI KAYAK DRAMA KOREA” Namun di sisi lain, para haters Nayara semakin lantang. “IBU-IBU TYPICAL MAU CUCU CEPAT” “NAYARA PASTI MANFAATIN POSISI” “GAK COCOK, ELVANO TERLALU TINGGI” “APAAN SIH, CANTIKAN JUGA MANTANNYA ELVANO”

Serangan personal kembali mengarah pada Nayara. Penampilannya, masa lalunya, bahkan keluarganya mulai diseret ke ruang publik tanpa ampun. Sementara itu, di sebuah ruang kantor megah, Ketua Partai Elvano duduk dengan wajah sumringah. “Ini luar biasa,” katanya puas, menepuk meja ringan. “Efek domino.” Asistennya mengangguk. “Popularitas Elvano naik signifikan, Pak. Elektabilitasnya ikut terdongkrak.” “Cinta adalah senjata paling ampuh, ibarat kata anak-anak sekarang lebih suka dihidangkan asmara dari pada sepiring nasi.” ujar sang ketua sambil tersenyum licik. “Dan publik memakan narasi ini dengan lahap.” Tawanya terdengar lantang memenuhi ruangann kerja yang megah, sambil sesekali terlihat asap mengepul keluar dari dalam mulutnya. Tak butuh waktu lama sebelum ia sendiri dikejar wartawan. Namun bukan Hasan Basri namanya jika tak menyiapkan amunisi sebelum perang, bahkan dirinya tak sabar ingin menanti saat itu tiba. “Pak Ketua!” teriak seorang reporter saat ia keluar dari gedung partai. “Apakah benar hubungan Pak Elvano dan Nayara akan dibawa ke arah serius?” Sang ketua tertawa ringan, memainkan perannya dengan sempurna. “Kita doakan saja yang terbaik. Kalau dua anak muda saling mendukung, kenapa tidak?” “Apakah ini berarti akan ada lamaran dalam waktu dekat?” Ia tidak menjawab secara langsung. Hanya memberi senyum penuh arti. “Kita lihat saja,” katanya. “Hal baik tidak perlu tergesa, tapi juga tidak perlu disembunyikan.” Kode itu cukup. Berita kembali meledak, dan di tengah badai itu, Nayara duduk membeku di ruang tamu rumahnya. Televisi menyala. Ponsel di tangannya bergetar tanpa henti. Pesan masuk seperti hujan deras yang tak memberi jeda. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. “Apa yang mereka lakukan…?” bisiknya nyaris tak terdengar. Elvano menelepon. Berkali-kali. Namun Nayara belum sanggup mengangkatnya. Diva duduk di sampingnya, ikut menatap layar televisi. “Ini udah keterlaluan, Nay.” “Aku bahkan nggak ada di sana,” suara Nayara pecah. “Aku nggak bilang apa-apa. Tapi namaku… terus disebut.” Bel berbunyi. Sekali. Dua kali. Diva bangkit. Saat pintu dibuka, dua sosok berdiri di ambang pintu. Ayah dan ibu Nayara. “Nayara,” suara ibunya lembut, namun serius. “Kita perlu bicara.” Dunia Nayara runtuh seketika. Ia duduk berhadapan dengan orang tuanya di ruang keluarga. Tidak ada kemarahan di wajah mereka. Tidak ada teriakan. Justru itulah yang membuat dadanya semakin sesak. “Kami lihat berita,” ujar ayahnya pelan. “Kami dengar semuanya.” Ibu Nayara menggenggam tangan putrinya. “Kami tidak menentang kamu dekat dengan siapa pun.” Nayara menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. “Tapi,” lanjut sang ibu, “kami tidak ingin kamu main-main.” Kalimat itu menghantam lebih keras dari teriakan mana pun. “Kalau namamu sudah disebut-sebut soal pernikahan, soal cucu,” ujar ayahnya tegas namun penuh kasih, “itu bukan hal sepele.” Nayara menunduk. Air mata jatuh satu per satu. “Apakah pria itu serius?” tanya ibunya lembut. “Atau ini hanya… keadaan?” Nayara tak mampu menjawab. “Kalau dia serius,” lanjut ayahnya, “kami ingin dia datang. Menemui kami. Bicara sebagai laki-laki.” Sunyi. Permintaan itu sederhana. Namun bagi Nayara, terasa seperti gunung yang runtuh tepat di hadapannya. Karena ia tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun di ruangan itu. Tidak oleh publik. Tidak oleh partai. Tidak oleh Belinda. Bahwa di balik semua sorotan, ada sebuah kontrak dokumen dingin yang kini menertawakan mereka dari kejauhan. Malam itu, Nayara akhirnya mengangkat telepon Elvano. “Kak,” suaranya bergetar, “orang tuaku ingin bertemu.” Di ujung sana, Elvano terdiam lama. Dan di sanalah mereka sama-sama sadar bahwa sandiwara ini telah melangkah terlalu jauh untuk dihentikan tanpa korban.